
Rei turun dari mobil. "Hei Rei, apa kau tidak ingin mengucapkan sampai jumpa kepada Ayah?" tanya Asahi pada Rei.
"Eh' aku lupa, sampai jumpa Ayah." Rei mengucapkan sampai jumpa pada Ayahnya tanpa perasaan di matanya.
Setelah mengucapkan sampai jumpa Rei pergi meninggalkan Ayahnya di mobil.
"Haih … ya ampun bagaimana ini putraku saja sudah menjauhiku. Ck! aku harus memikirkan suatu cara, mereka berdua harta berharga ku dan aku tak ingin kehilangan mereka." Batin Asahi.
Asahi menjalankan mobilnya meninggalkan sekolah Rei and Ren.
****************
Beralih ke Rei yang sudah sampai di kelasnya.
"Oi Rei, jadi bagaimana? apakah ayah terlihat cemas?" tanya Ren pada Rei.
"Sepertinya begitu, aku rasa dia akan memikirkan cara untuk membuat kita memaafkannya." Jelas Rei.
"Bagus kalau begitu."
"Tapi … sepertinya ini akan sedikit rumit, ayah sudah mengetahui kalau kita sedang berpura-pura."
"Tidak perlu kau pikirkan, kita mempunyai jalan pintas untuk itu. Selagi kita adalah harta pusakanya dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti apa yang kita inginkan."
"Kau licik Ren, kau sangat licik."
"Jika tidak licik maka aku tidak akan mendapatkan gelar seorang monster."
Mereka berdua tertawa dengan senangnya tetapi kebahagiaan itu hanya sementara, tiba-tiba saja ada beberapa ibu-ibu yang datang memarahi mereka.
"Hei! apakah kalian yang memukul putraku! tegas Ibu¹.
Rei and Ren tidak menjawab, mereka hanya menatap dingin semua Ibu-Ibu yang memarahi mereka.
"Ibu! merekalah yang memukul ku, mereka yang merampas uang jajan ku." Timpal Kakak kelasnya menunjuk Rei and Ren.
"Dasar masih kecil sudah berani mengambil uang orang lain."
Ibu yang memarahi mereka itupun ingin melayangkan satu pukulan kepada Ren, tetapi belum sempat pukulan itu menyentuh wajah Ren, Rei mengatakan sesuatu hingga membuat Ibu itu tidak jadi memukul Ren.
"Hei Nyonya, kau memukul saudara ku sekali tetapi anggota keluarga ku akan membuat keluargamu hancur hanya dalam waktu sehari." Tegas Rei dingin.
Ibu itu terdiam. "Hei Rei! kenapa kau menghentikan Ibu ini, seharusnya kau membiarkannya memukul ku agar dia tau bagaimana rasanya kehancuran." Timpal Ren menyeringai.
"Huhh … sudahlah Ren, mereka tidak akan sanggup. Lagipula mereka tidak melihat kenyataannya, siapa yang merampas dan siapa yang terampas. Sebaiknya kalian pergi, aku tidak ingin ada yang tersakiti lagipula ini kesalahan anak kalian."
"Dan lagi, jika kalian ingin bermain maka cari dulu permainan yang ingin kalian mainkan."
Mendengar semua perkataan dari Rei and Ren membuat Ibu-Ibu itu keluar dari dalam kelas sembari memegang tangan anak mereka masing-masing.
"Hemph … permainannya sudah selesai." Ren menghela napas pelan.
Tak berapa lama Guru masuk ke dalam kelas dan menanyakan kepada anak-anak murid di kelas itu kenapa para ibu-ibu masuk ke dalam kelas mereka.
Semua murid mengatakan kalau ibu-ibu datang untuk menemui Rei and Ren.
Guru lantas menanyakan perihal itu pada Rei and Ren. "Rei, Ren sebenarnya apa yang kalian lakukan hingga membuat ibu dari kakak kelas kalian datang menemui kalian."
"Tidak ada, hanya saja mereka mengadu pada ibunya kalau aku dan Ren mengambil uang jajan mereka." Jawab Rei.
"Jadi?"
"Jadi aku mengatakan yang sebenarnya kalau aku tidak mengambil uang jajan mereka, lagipula aku dan Ren tidak kekurangan uang jajan, jadi untuk apa aku merampas uang jajan orang lain."
Pelajaran pun dimulai hingga jam istirahat tiba. Seluruh murid pergi ke kantin untuk membeli makanan, tetapi Rei and Ren seperti biasa tetap berada di dalam kelas.
Disaat itu kakak kelas mereka mendatangi kelas mereka. "Hei monster! berani sekali kalian mengancam keluarga kami."
Rei and Ren tidak menggubris perkataan Kakak kelasnya, karna merasa diacuhkan oleh Rei and Ren Kakak kelasnya memukul meja dengan keras.
*Bbrrakk
"Kalian mendengarkan aku!!" teriaknya.
"Apa kau ingin beradu kekuatan lagi? aku takut yang berdarah nanti bukan hidungmu lagi tetapi seluruh wajahmu." Timpal Ren.
"Tenangkan dirimu Ren, kau harus menahan emosimu," ucap Rei menenangkan Ren yang mulai emosi.
"Orang seperti mereka tidak pantas untuk dikasihani."
"Haih … sebaiknya kalian pergi, suasana hati kami hari ini sedang tidak bagus jadi jangan mengganggu." Rei menatap Kakak kelasnya dengan pupil mata mengecil menahan emosi.
Melihat ekspresi Rei membuat para Kakak kelasnya pergi dari situ.
"Berhentilah menatap mereka seperti itu, jangankan mereka hantu pun akan pergi melihat tatapan mu itu," ujar Ren.
"Sudahlah mari kita kembali ke pembahasan awal."
Rei and Ren membahas tentang bagaimana caranya agar membuat ayahnya mau memaafkan bibinya. Hingga jam istirahat berakhir, pelajaran di mulai kembali sampai bel pulang sekolah tiba.
Rei and Ren bergegas keluar dari dalam kelas, di jalan mereka sempat bercerita tentang rencana yang akan mereka jalankan.
Di depan gerbang sekolah terlihat Miho yang sedang menunggu mereka dengan wajahnya yang ditutupi oleh masker.
"Hei lihat, itu bibi Miho. Kau sudah mengerti rencana kita kan?" tanya Rei pada Ren.
"Ya tentu saja, jangan khawatir semuanya sudah dalam kendali." Jawab Ren mengajungkan jempolnya pada Rei.
Rei and Ren berlari menuju ke arah Miho, Miho menyambut kedatangan mereka.
"Bagaimana hari ini di sekolah? apa pelajarannya sangat sulit?" tanya Miho.
"Tidak, karna Bibi sudah mengajari kami," ucap Rei.
"Baguslah kalau begitu."
"Bibi, hari ini aku ingin makan masakan kesukaan ku dan Rei. Apakah tidak apa-apa Bibi?" tanya Ren.
"Tentu, apa makanan kesukaan kalian? Bibi akan membuatkannya."
"Bibi Emi yang tau, tapi bahan masakan itu sudah tidak ada di rumah jadi harus pergi membelinya terlebih dahulu."
Miho mengelus lembut kepala Rei and Ren. "Kalau begitu Bibi akan pergi bersama bibi Emi untuk membelinya, kalian akan Bibi tinggal bersama Paman Hisao ya."
Mereka mengangguk dan melirik ke arah Hisao yang berdiri di belakang Miho.
"E' kedua bocah ini apa yang sedang mereka rencanakan. Ku harap ini tidak ada sangkut pautnya denganku, aku memiliki firasat buruk tentang ini." Batin Hisao menatap Rei and Ren.
Miho lalu meminta Rei and Ren untuk masuk ke dalam mobil. Setelah masuk mobil di jalankan dan mereka pun pulang.
Di perjalanan Rei and Ren terus menatap Hisao yang sedang menyetir dengan tatapan di penuhi rencana licik, Hisao yang menyetir berusaha tidak peduli dengan tatapan itu, ia hanya fokus untuk menyetir.
Tak berapa lama mereka akhirnya sampai di rumah. Ternyata di rumah tidak ada orang, Osamu dan Asami pergi jalan-jalan menikmati hari tua sedangkan Asahi entah pergi kemana.
Miho yang mengetahui itu lantas berpikir. "Jika tidak ada paman dan bibi siapa lagi yang akan membela ku." Gumam Miho.