
"Dia hari ini tidak datang, lagipula dia sudah di pecat dari pekerjaannya," ujar Rei.
"Dia tidak merawat kami dengan baik selagi Ibu kami tidak ada di rumah." Sambung Ren.
"Sudahlah. Rei, Ren Ayah ingin memberikan kalian hadiah yang kalian minta waktu itu." Timpal Asahi membuka mobil dan mengambil sebuah tas belanja lalu memberikannya kepada Rei and Ren.
"Jaga baik-baik."
"Emm' terimakasih Ayah." (Ren).
"Baiklah, belajar yang rajin ya." Miho tersenyum lembut.
"Tentu saja." (Rei).
Seperti biasanya Rei and Ren pasti meminta ciuman selamat tinggal dari Miho, tetapi hari itu berbeda Rei and Ren meminta Miho mencium pipi mereka yang sebelah kiri dan Asahi sebelah kanan.
"Hehe' Rei, Ren tidak boleh melakukan hal seperti itu di depan umum." (Miho)
"Tapi kata Ayah tadi pagi Ibu itu adalah-"
Sebelum Ren selesai berbicara Asahi berjongkok lalu menarik tangan Ren mendekatkan nya ke wajahnya.
Miho yang melihat itu hanya bisa terdiam, Asahi melihat ke arah Miho dan memberikannya sebuah isyarat untuk mencium pipi Ren bersamaan. Sambil menahan malu Miho melakukannya.
"Hore!" (Ren).
"Apakah hanya Ren saja? Rei tidak dapat?" (Rei).
"Tentu saja, Rei pasti dapat. Kalian berdua anak Ayah dan Ayah tidak pernah pilih-pilih kasih." (Asahi).
Rei mendekatkan wajahnya dan Asahi serta Miho melakukannya sekali lagi.
"S'Sudah bukan, kalau begitu pergilah kalian masuk dan belajarlah dengan rajin." (Miho).
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam kelas sembari melambaikan tangan ke arah Asahi dan Miho, yang ikut membalas lambaikan tangan ke arah mereka.
Setelah memastikan Rei and Ren masuk ke dalam kelas Asahi membuka pintu mobil dan meminta Miho untuk masuk.
"Tapi aku tidak mau duduk-"
"Masuk atau tidak." Sela Asahi.
Mau tidak mau Miho terpaksa masuk di kursi depan mobil bersampingan dengan Asahi.
Ketika Miho sudah masuk Asahi menutup pintu mobilnya dan berjalan menuju kursi mengemudi, mobil pun di jalankan.
Di perjalanan Asahi berbicara pada Miho.
"Jika aku tidak memaksamu duduk di sampingku, maka kau akan memilih duduk di belakang bukan?"
"Tentu saja, lagipula aku tak pernah ingin merusak rumah tangga orang lain!" tegas Miho melihat keluar kaca mobil di sampingnya.
"Kau mengatakan kau tidak ingin merusaknya, tetapi tanpa kau sadari kau merusak hubungan keluarga itu."
"Aku tak bermaksud merusak hanya saja dari awal hubungan itu terjadi karena sebuah kesalahan, dan sudah pasti hubungan itu sudah salah sedari awal."
"Kau memang berbeda dari Narumi."
"Aku memang berbeda tapi kaulah yang menganggapnya selalu sama."
"Itu karna penilaian ku."
"Menilai seseorang hanya dengan sekali tatap itu berbeda Asahi! dari awal kau memang sudah tidak menyukai kehadiranku dan aku tau tentang itu."
"Ternyata kau mengetahuinya juga, aku pikir hanya Narumi saja yang tau."
"Orang sepertimu mudah ditebak Asahi, bahkan kelemahanmu pun sangat mudah diketahui orang lain." Miho menatap lekat mata Asahi.
"Kau benar, itu waktu aku bertemu dengan Narumi."
"Walaupun kau tidak bertemu dengan kakak ku, dari awalnya kau adalah orang yang mudah ditebak. Kau menganggap kakak ku sebagai cahaya dan dirimu adalah kegelapan."
"Tidak perlu kau katakan aku kegelapan atau bukan, diriku adalah diriku."
"Aku hanya mengisyaratkan nya. Kau menganggap kakak ku seperti orang yang bisa mengubah hidupmu dan kau menikahinya, hingga melahirkan putra kembar."
"Kenapa kau beranggapan seperti itu?"
"Dia tidak salah yang dia katakan benar, tapi aku ingin mengelak dari perkataan seperti itu karna aku benar-benar mencintai Narumi." Batin Asahi.
"Dirimu Asahi, dirimu mengatakan kalau kau sangat mencintai kakak ku tetapi pemikiran mu bingung dengan jurang yang ingin kau lewati, penuh dengan keraguan."
"Jangan terlalu menilai seseorang. Miho, kau tidak mengenalku sepenuhnya."
"Aku tidak mengenalmu sebaik kakak ku, aku cukup mengenalmu dari kriteria yang kau tunjukkan padaku."
Obrolan itu berhenti karna mereka sudah sampai di rumah, Miho langsung turun dari mobil dan meninggalkan Asahi.
Sebelum Miho pergi menjauh Asahi menanyakan sesuatu padanya. "Jika aku dan kakakmu adalah kegelapan dan cahaya, lalu kau apa?"
Miho menghentikan langkah kakinya, tanpa membalikkan badannya dia menjawab pertanyaan Asahi. "Kakak ku orang yang lemah lembut dan penyayang, dan kau adalah orang yang egois tetapi kuat. Maka aku adalah campuran dari kalian berdua, hitam putih."
"Tapi kenapa Narumi mengatakan kau sangat lemah dan mudah rapuh?"
"Kakak ku tidak salah, dia benar. Ketika aku berada di lingkaran hitam dan putih, maka disitu terlihatlah diriku yang sebenar-benarnya."
"Bukan lemah lembut ataupun kuat melainkan orang yang sangat lemah dan tak berdaya, suatu hari kau akan melihat diriku yang seperti itu." Miho berbalik dan menatap mata Asahi.
"Aku tak ingin melihatnya, kalau begitu aku berangkat kerja dulu. Oh' iya Hisao, Sora dan Soma tidak ada di rumah, mereka ada di markas sedang mengurus sesuatu."
"Tidak perlu kau katakan lagipula aku tidak mencari mereka."
Seusai mengatakan hal itu Miho kembali berjalan masuk ke rumah, sedangkan Asahi pergi bekerja.
★★★
Beralih ke Rei and Ren yang berada di ruang kelas saat jam istirahat sedang berlangsung. Mereka mengeluarkan hadiah yang di berikan oleh ayahnya.
"Yap! sesuai keinginan. Ponsel inilah yang kuinginkan," ucap Rei menyeringai.
Sedangkan Ren, ia langsung membuka ponsel itu dan mengeluarkan salah satu bukunya untuk menyalin sesuatu. Rei yang melihat tingkah laku aneh Ren pun kebingungan.
"Ren kau sedang apa?"
"Menelpon Tatsuya." Jawab Ren.
"Ha? bukankah kau tidak mempunyai nomornya?"
"Siapa yang mengatakan itu, aku punya." Ren menunjukkan nomor Tatsuya yang sedang di telponnya.
Tak butuh waktu lama sambungan telepon itu langsung di angkat oleh Tatsuya.
📲"Siapa?"
📲"Hei orang yang paling ditakuti di seluruh dunia!"
📲"Cih! ternyata kau. Dari mana kau mendapatkan nomor ku? dan dengan ponsel siapa kau menelpon ku?"
📲"Tidak perlu banyak bertanya ya. Datanglah kemari."
Dengan panik Rei lantas berteriak. "Jangan!! aku tidak mengizinkan mu datang kemari. Jika kau datang kemari maka kau tidak akan pulang dengan selamat!"
📲"Ha' cuih! menghadapi diri kalian dengan telpon saja sudah merepotkan apalagi bertemu dengan kalian. Aku sibuk jadi tidak ada waktu untuk pergi kesana."
📲"Yasudah kalau begitu! kan aku cuma bilang loh." Ketus Ren.
📲"Oi! bisa kau menyalakan lokasi mu? aku ingin melihat dimana tempatmu sekarang berada."
📲"Tidak mau, ya sudah kalau begitu aku akan tutup telponnya."
Ren langsung menutup sambungan telepon tersebut.
"Untuk apa kau menyuruhnya datang kemari!" panik Rei.
"Hanya ingin menyuruhnya berkunjung, apakah itu tidak boleh?"
"Belum saatnya dia datang kemari, kalau begitu taruh saja lagi ponselmu dan jangan hidupkan lokasinya."
"Baiklah baiklah."
Ren memasukkan ponselnya di dalam tas, tetapi tanpa sepengetahuan dari Rei, Ren menyalakan lokasi dirinya.