The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Perdebatan Ren



"Apa! hanya seperti itu saja, apakah kalian tidak punya waktu untuk bermain. Jika terus seperti itu kehidupan kalian tidak mempunyai seni apapun." Jelas Asahi.


"Emangnya Ayah tau seni?" tanya Ren.


"Sedikit. Sudahlah, ketika pulang sekolah nanti Ayah akan membawa kalian pergi bermain."


"Hari minggu saja Ayah, karna kami juga sangat sibuk." Timpal Rei.


"Apa kalian mengikuti perkataan bibi Miho? heh' lucu sekali."


"Ya menurut Ayah itu lucu, tapi menurut kami ini sangat serius." (Rei).


"Haih … baiklah baiklah, Ayah menyerah kalian yang menang."


"Wanita itu hanya beberapa hari di rumah tetapi sudah bisa membuat Putraku seperti ini. Putra-putraku seperti terhipnotis olehnya." Batin Asahi.


Tak berapa lama mereka akhirnya tiba di sekolah, Rei and Ren turun dari mobil termasuk dengan Asahi.


"Ekhem! apakah kalian ingin terus meninggalkan Ayah, tidak ingin mengucapkan salam perpisahan?"


Rei and Ren memeluk Ayahnya dan setelah itu mengurai kembali pelukannya.


"Belajarlah yang rajin, Ayah akan menjemput kalian tepat waktu."


"Paman Hisao di mana?" (Ren).


"Oh' paman Hisao, dia akan menjaga kalian di rumah jika Ayah tidak ada nanti."


"Memangnya Ayah ingin pergi ke mana?" (Rei).


"Emm' tidak ada."


"Kalau begitu kenapa tidak menyuruh paman Hisao tinggal bersama kita saja, jadi kami memiliki teman untuk bermain jika Ayah tidak ada." (Rei).


"Hmm' apakah kalian sangat menyukai paman Hisao?"


"Ya!" jawab mereka serentak.


"Baiklah Ayah akan meminta paman Hisao untuk tinggal bersama kita nanti."


"Hore! ayah yang terbaik!" teriak mereka kegirangan.


Rei and Ren lalu pergi masuk ke kelas mereka, sedangkan Asahi yang melihat putranya masuk ke kelas juga ikut pergi meninggalkan sekolah Rei and Ren.


Pelajaran di mulai sampai jam istirahat tiba, seperti biasa Rei and Ren tetap berada di dalam kelas.


"Hei Ren, apa yang kau rencanakan sampai-sampai kau menanyakan paman Hisao pada Ayah." (Rei).


"Tidak ada, hanya saja aku penasaran dengan orang yang dia katakan kemarin. Orang itu mirip sepertimu bukan Rei." (Ren).


"Ya aku juga sangat penasaran. Tapi bagus juga, dengan begitu kita bisa melihatnya secara langsung dan juga Ren, kenapa ketika jam 05:00 aku membangunkan mu kau tidak bangun."


"Ahh' maafkan aku. Aku tidak sengaja, aku tertidur pulas karna kelelahan berpikir."


"Apa yang kau pikirkan hingga kau sangat lelah."


"Aku berpikir, jika seandainya aku mengatakan pada Ayah kalau dia harus menikahi bibi Miho, apakah dia mau melakukannya."


"Tentu saja, tapi secara terpaksa dan bibi Miho akan terus disiksa olehnya. Apa kau mau?"


"Kenapa pikiranmu sama seperti ku, buntu semua."


"Kau tau ayah seperti apa Ren, jadi kita perlu proses dan usaha untuk itu."


"Ya baiklah, aku mengerti."


Tak selang berapa lama jam istirahat selesai, seluruh murid kembali ke kelas mereka masing-masing.


Pelajaran kembali di mulai sampai jam pulang sekolah tiba.


Ketika mereka sedang berjalan ingin keluar gerbang, mereka melihat ayahnya yang sedang bersandar di tembok.


Mereka berlari menuju arah Ayahnya sambil berteriak memanggil-manggil Ayahnya. "Ayah!!" teriak mereka.


Asahi yang mendengar itu menoleh lalu berjongkok dan membuka lebar tangannya untuk memeluk kedua Putranya.


Mereka berpelukan layaknya teletabis, ketika itu lirikan mata Rei and Ren tertuju pada Hisao yang berdiri di dekat mobil.


"Ahaha' akhirnya aku terseret oleh kedua iblis kecil ini." Batin Hisao tertawa terpaksa.


"Hehehe' selamat datang." Batin Rei dengan tawa jahatnya.


"Di tempat penyiksaan dirimu Hisao." Batin Ren tersenyum licik.


Asahi mengurai pelukan dari Rei and Ren, ia memegangi kedua tangan Putranya menuju mobil dan meminta mereka untuk masuk ke dalam.


Di dalam mobil tidak ada percakapan sama sekali, sampai mereka tiba di rumah.


Dengan serentak mereka mengambil ponsel dan melihat siapa yang menelpon mereka. Ternyata yang menelpon Asahi adalah ibunya dan yang menelpon Hisao adalah Miho.


Drrtt … drrtt … drrtt …


📲"Halo ibu, bagaimana liburan kalian?"


📲"Sepertinya kau sudah menjadi lebih baik semenjak kami tidak ada di rumah. Kami hanya mengabarimu kalau kami mungkin akan sangat lama berlibur, dan kami akan pulang tepat di ulang tahun Rei and Ren yang ke 8 tahun.


📲"Itu sangat lama. Kenapa kalian berlibur selama itu?"


📲"Kami sedang menikmati hari tua, jadi kau harus belajar bagaimana cara merawat anakmu. Dan lagi Asahi turuti keinginan mereka, karna yang mereka inginkan lebih penting daripada keinginan mu."


📲"Baik, aku akan menanyakan keinginan mereka nanti. Saat ini mereka sepertinya sangat sibuk mengobrol dengan seseorang."


📲"Ohh' apakah mengobrol dengan Miho?"


📲"Ya kurasa begitu. Kalau begitu sampai jumpa ibu, jaga kesehatan kalian dan berhati-hatilah."


Asahi menutup panggilan telponnya, ia menatap Hisao dan menanyakan siapa yang menelponnya.


"Siapa yang menelpon dari ponselmu Hisao?" tanya Asahi pada Hisao


"Itu nona Miho. Sepertinya dia sedang istirahat." Jawab Hisao.


"Tolong jaga Rei and Ren, aku ingin pergi keluar."


"Baik Tuan."


Ketika Asahi masuk ke dalam mobil, dan memutar arah mobilnya. Ia lalu berhenti tepat di samping Hisao yang masih berdiri di sana.


"Sepertinya ada kenalan mu yang ingin masuk anggota Yakuza. Apakah itu benar Hisao?"


"Ya anda benar Tuan."


"Aku memintanya untuk datang kemari, tetapi sayangnya aku ingin pergi. Jadi suruhlah ia menunggu disini selagi aku masih berada di luar."


"Baik Tuan saya mengerti."


Asahi pergi mengendarai mobilnya, sedangkan Hisao masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah Rei and Ren yang sedari tadi mengobrol dengan Miho menggunakan ponsel Hisao, ternyata sudah selesai.


Tetapi ketika mereka ingin mengembalikan ponsel Hisao padanya, ternyata ada orang kenalan Hisao yang menelponnya.


Drrtt … drrtt … drrtt …


Tanpa ada persetujuan Hisao, mereka mengangkat telpon tersebut.


📲"Halo kakak!"


"Siapa? apakah Hisao mempunyai seorang adik." Batin Rei and Ren.


📲"Kakak kenapa kau diam. Hais! sudahlah, aku mendengar kalau Sora masuk ke dalam klan Yakuza. Apakah itu rencanamu juga?"


Ren dengan sigap mematikan speaker di telpon itu. "Rei bagaimana ini, bukankah tidak baik jika kita menjawabnya."


"Jawab saja dulu, jika sudah kondusif maka kita akan mengembalikannya pada Paman Hisao."


"Baiklah."


📲"Kak, kenapa kau diam saja!"


Ren membuka speaker telpon itu. 📲"Kau siapa?"


📲"Apa, kau yang siapa!"


📲"Kau yang siapa!"


📲"Dasar g*la!"


📲"Apa katamu!"


Rei yang muak dengan pertengkaran bodoh Ren dengan orang di dalam ponsel itu, langsung merampas ponsel itu dari Ren.


📲"Dasar bodoh! kalian sama-sama gila!"


📲"Apa yang kau katakan, berani sekali kau mengatakan aku g*la."


📲"Tentu saja aku berani, jadi menurutmu apa, aku takut heh' jangan bercanda."


📲"Dimana kak Hisao?"


📲"Emm' entahlah, sepertinya dia meninggalkan ponselnya."


Disaat itu tiba-tiba Hisao datang sembari berteriak memanggil nama Rei and Ren.