
"Oh' ini. Aku dan Rei bermain sepeda di halaman depan bersama dengan-"
Yuka menyela perkataan Ren. "Mereka bermain sepeda di halaman depan. Miho memegangi Ren saat bermain sepeda, tiba-tiba saja Miho melepas pegangannya dari Ren hingga membuat Ren terjatuh dari sepeda."
Hisao, Miho, Rei and Ren terkejut mendengar kebohongan dari mulut Yuka. Asahi yang tidak mengetahui tentang kejadian detail nya langsung memarahi Miho.
"Bukankah sudah aku katakan! kau tidak pantas untuk menjaga anak-anakku. Kau selalu membuat mereka terluka! Rei, Ren sebaiknya kalian jangan terlalu dekat dengan Bibi Miho!" tegas Asahi.
"Anak-anakku tolong mundur, Hisao tolong bawa mereka ke kamar. Soal makan malam, aku akan memasak untuk mereka nanti dan juga untukmu." Pinta Miho pada Hisao.
"Ibu," ucap Rei menatap Miho.
"Rei, Ren ini bukan urusan anak-anak. Jadi kalian harus kembali ke kamar kalian, mengerti?"
"Tuan Muda Rei, Tuan Muda Ren ayo saya akan mengantar anda kembali ke kamar." Timpal Hisao.
Hisao mengantarkan Rei and Ren menuju kamar mereka, setelah melihat kalau Rei and Ren telah masuk ke kamar mereka dan menutup pintu, Miho akhirnya membuka suara.
"Hei Asahi, kau mengatakan aku tidak menjaga putramu, kau mengatakan aku melukai kedua putramu. Lalu bagaimana dengan dirimu?"
"Miho jangan seperti itu. Aku tau kau tidak sengaja melepaskan peganganmu dari Ren," ujar Yuka.
"Omong kosong! aku tidak bisa kau hasut dengan kata-kata manis."
"Apa maksudmu! kau mengatai ku, yang ku katakan itu benar kau tidak pantas untuk menjaga kedua putraku. Jika bersamamu mereka selalu terluka." (Asahi).
"Ya benar. Fisik mereka terluka jika bersamaku, tetapi batin mereka tersiksa jika bersamamu!"
"Miho sudah cukup!" (Yuka).
Tanpa berbasa-basi Miho yang sudah kesal dengan sandiwara Yuka langsung menampar nya dengan keras.
*Plakk
"Eh' maafkan aku Yuka, ternyata tanganku tidak sabar untuk memukul wajahmu itu!"
"Hah …" (Yuka).
"Miho!!!" pekik Asahi.
"Heh' diamlah Asahi, ini sudah malam kau mengganggu ketenangan orang. Sampai jumpa."
Baru beberapa langkah Miho meninggalkan Yuka dan Asahi, ia lalu menghentikan langkahnya.
"Hei Asahi, kau percaya dengan omong kosong? terkadang mulut suka menipu dan mata lah yang bisa meyakinkan semuanya. Tapi terkadang mulut dan mata saling bersekongkol untuk saling menipu." Kata Miho tanpa berbalik melihat Asahi dan Yuka."
Miho melanjutkan berjalan pergi ke dapur memasak untuk Rei, Ren, Hisao juga dirinya. Sedangkan Asahi dan Yuka memutuskan untuk naik ke kamar mereka masing-masing.
★★★
Beralih ke Rei, Ren dan Hisao yang berada di dalam kamar.
"Haih' … wanita itu sudah tidak bisa di biarkan lagi. Apakah sebaiknya kita menyuruh Hisao untuk membunuhnya." Gerutu Ren.
"Hhh' Tuan Muda tidak seperti itu juga jalannya," ujar Hisao.
"Ren jangan bertindak gegabah, kau tau wanita itu bukanlah wanita sembarangan. Dia mempunyai seseorang yang sangat kuat di pihaknya, dan kita masih belum tau siapa orang itu." Jelas Rei.
"Sora akan datang kemari malam ini, bersamaan dengan Soma. Jadi jika ingin bertemu dengan mereka secara langsung, maka kita harus menemuinya di pukul 03:00 pagi." (Hisao).
"Tidak masalah." (Rei).
"Tapi aku sudah tidak tahan melihat wanita itu terus berada di rumah ini. Kau tidak lihat! dia itu rubah, berbuat licik seenak jidatnya saja." (Ren).
"Sudahlah Ren, dia hanya seekor rubah untuk apa kita takuti. Sebaliknya, seharusnya dia yang takut kepada kita. Kita bukan rubah melainkan siluman rubah." (Rei).
Tak berapa lama mereka mengobrol Miho pun datang sambil membawa makan malam untuk mereka.
"Apa kalian sudah menunggu lama?" tanya Miho.
"Tidak juga kok." (Ren).
"Ibu, apakah Ibu bertengkar dengan ayah?" (Rei).
"Ayah kalian memang seperti itu, lagipula jangan di ambil pusing. Nanti dia sadar sendiri kok kalau sudah … kehilangan." (Miho).
"Ha' apa yang Bibi katakan di akhir tadi?" (Ren).
"Tidak ada apa-apa." (Miho).
Hisao yang mendengar perkataan Miho hanya bisa diam. "Ya begitulah tuanku, dia akan sadar jika ada salah satu orang yang pergi dari hidupnya."
"Ahh' sudahlah, lebih baik kita makan."
Mereka pun makan malam bersama di kamar Rei and Ren.
Seusai makan malam Miho lalu membawa piring yang mereka gunakan tadi untuk di cuci, tetapi ketika sampai di dapur ia melihat Yuka dan Asahi masih ada di meja makan sedang menikmati makan malam.
Miho hanya melewati mereka berdua sembari bergumam sedikit keras. "Ih' senangnya makan malam tanpa kedua putra dan menikmati hal romantis di atas meja!"
"Berhenti!" tegas Asahi.
"Ehh' … kenapa? lagipula perkataanku tidak salah kan, aku hanya mengatakan yang sebenarnya."
"Dia istriku, wajar jika aku bermesraan dengannya."
"Aku tidak peduli soal itu. Istri hanya dari buku nikah apakah bisa membuktikan kepada seluruh dunia kalau dia adalah istrimu!"
"Apa maksudmu Miho!"
"Hhh' senangnya kau menyebut namaku. Kalau begitu aku akan mengatakan yang sebenarnya. Jika ingin membuktikan kalau wanita ****** ini adalah istrimu, maka kalian harus membuat pesta pernikahan persis seperti yang kau lakukan saat bersama kakak ku."
"Wanita ini sepertinya sangat tidak suka jika aku berdekatan dengan Asahi. Aku harus mencari cara untuk menyingkirkannya." Batin Yuka.
"Itu tergantung diriku, aku ingin membuat pesta pernikahan atau tidak." (Asahi).
"Yasudah kalau begitu, jangan sampai kau menyesal." Ketus Miho.
Miho melanjutkan berjalan menuju tempat cuci piring dan mulai mencuci piring-piring yang mereka gunakan tadi.
"Asahi bukankah yang dikatakan Miho itu benar, yang mengetahui kita sudah menikah hanya keluargamu tetapi orang luar tidak ada yang tau," ujar Yuka pada Asahi.
"Maafkan aku Yuka, tapi aku akan memikirkannya lagi." Ucap Yuka sembari berdiri.
Asahi lalu pergi meninggalkan Yuka yang masih berada di kursi meja makan.
"Lelaki ini sangat dingin, dia dekat denganku hanya untuk memanas-manasi Miho. Sebenarnya siapa yang berada di dalam hatinya, apakah wanita itu sudah menghantui pikirannya tapi sejak kapan." Batin Yuka.
Yuka berjalan mendekati Miho yang sedang mencuci piring dan memberikan kepada Miho piring kotor yang ia gunakan makan kepada Miho.
"Sekalian ya, soalnya aku gak mau ngotorin tangan. Awalnya mau nyuruh Emi aja yang nyuci, tapi karna kau yang sudah mencucinya kenapa tidak sekalian saja." (Yuka).
"Oh' tidak apa-apa, dimata tuan Asahi kan aku yang kelihatan paling rajin."
"Heh' hanya rajin saja untuk apa di banggakan, tapi aku sebagai istrinya sudah tentu bisa di banggakan."
"Oh' benarkah? kau hanya di banggakan di depan mataku, tetapi di belakangku kau di campakkan. Dan lagi kau adalah istri yang tak bisa di anggap oleh semua orang."
Setelah mengucapkan kata-kata itu Miho akhirnya selesai mencuci piringnya. "Kalau begitu sampai jumpa."