
Decitan rem mobil yang berhenti terdengar begitu keras.
"Mobil siapa di tengah jalan ini!" kesal Orang¹.
"Mobilku." Jawab Asahi yang tepat berada disamping mobil mereka.
Karna kondisi kaca mobil yang terbuka Asahi dengan sigap mencengkram leher Orang itu, mengambil kunci mobil dan membuangnya.
"Peraturan dalam anggota Yakuza, jika kalian ingin keluar dan berada di wilayah orang lain maka kaca mobil tidak baik terbuka. Peraturan yang kedua, jika ingin membuang orang yang mati jangan di tempat yang banyak serigala kalian mengerti?"
Asahi langsung mengeluarkan orang yang di cengkram nya itu dari dalam mobil, tentu saja itu membuat teman-temannya keluar dari dalam mobil dan membantunya.
Tetapi sayang sekali, ketika mereka ingin membantu temannya itu Asahi sudah menginjak dengan kuat hingga tulang leher orang itu patah dan meninggal saat itu juga.
"Eh' cepat sekali kau tiada, padahal kau belum mengucapkan selamat tinggal pada teman-temanmu." Asahi menyeringai.
Melihat perilaku Asahi mereka mulai berkelahi dengan Asahi, Asahi yang tidak ingin membuang-buang waktu langsung saja pada intinya. Membunuh mereka yang tersisa tanpa belas kasihan.
Seusai membunuh mereka Asahi merapikan kembali jas dan mantel yang ia kenakan, sambil melirik ke arah orang-orang yang telah ia bunuh.
"Cuih! mengirim beberapa orang seperti ini untuk melawan ku hanya membuang-buang waktu."
Asahi berjalan mendekati bagasi mobil mereka, ia membuka dan melihat kalau ada Miho di sana.
"Aku melihat dirimu yang sangat lemah Miho, lemah dan tak berdaya seperti ini." Asahi menggendong tubuh lemas Miho.
Tanpa Asahi sadari, sebenarnya Miho sudah sadar dari pingsannya dan tak sengaja mendengar perkataan yang Asahi ucapkan.
"Aku memang lemah … tak pernah ada yang tau soal itu kecuali kakak ku. Melihatmu yang sudah tau kelemahan ku, air mataku sudah tidak bisa dibendung lagi ketika memikirkannya." Batin Miho.
Miho lalu diletakkan oleh Asahi di dalam mobil di tempat duduk belakang, dan tanpa sengaja Asahi melihat Miho yang mengeluarkan air mata.
"Kau sudah bangun, aku tau," ucap Asahi menatap Miho.
Miho duduk dan memalingkan wajahnya dari Asahi.
"Kau menangis Miho?"
"Tidak perlu kau tanya." Jawab Miho datar.
"Aku perlu tau."
"Tidak perlu tau."
Melihat sikap Miho yang dingin, Asahi tak begitu menghiraukan nya. Ia langsung duduk di kursi mengemudi dan menancap gas pergi dari situ.
Di perjalanan Asahi berpikir kalau ia membawa Miho pulang maka akan terjadi sesuatu yang tak terduga lagi pada Miho, jadi ia pun pergi ke suatu hotel dan menyewa kamar di sana.
Ketika sampai di hotel tersebut Asahi membukakan pintu mobil untuk Miho, tetapi sebelum itu ia meminta Miho untuk memakai masker dan tidak lupa pula Asahi juga ikut memakai masker.
"Untuk apa kau membawaku ke tempat ini?" tanya Miho ketus.
"Tidak perlu banyak bicara. Apa kau bisa berjalan? jika tidak aku akan memapahmu."
"Bisa. Kau tidak lihat aku baik-baik saja!"
"Hmm' kalau begitu silahkan jalan."
Miho lalu turun dari mobil, ketika ia hendak berjalan ia merasakan sakit yang luar biasa di kakinya.
Karna hal itu membuat keseimbangan Miho menjadi goyah dan ia pun terjatuh, tetapi belum sempat ia terjatuh Asahi sudah menangkapnya terlebih dahulu.
"Heh' sudah kuduga mereka sedikit mengganggu mu bukan. Baiklah mari kita mulai dari awal, sudah sejauh mana."
Mendengar perkataan Asahi Miho hanya terdiam, pikirannya di penuhi oleh berbagai macam hal aneh.
"Ha … Ehh' apa." Batin Miho.
Asahi memesan kamar dan mendapatkan kamar nomor 106,mereka naik keatas dengan menaiki lift.
Sesampainya di kamar yang telah mereka pesan Asahi langsung meletakkan Miho di atas ranjang hotel.
"Ahaha … terimakasih, kalau begitu kau boleh pergi sekarang." Gugup Miho.
"Ha' setelah aku menolongmu kau menyuruhku pergi begitu saja? ini tidak adil untukku." Kata Asahi.
"Ini adil bagiku. Aku ini adalah wanita yang lemah jadi tidak sebanding dengan dirimu."
"Mau sebanding ataupun tidak yang jelas aku sudah menolongmu, bukankah sebaiknya kau memberikanku imbalan." Asahi sedikit mendekati Miho.
Miho yang aneh dengan gelagat dari Asahi menjauhkan dirinya dari Asahi. "Haha' tentu aku akan memberimu imbalan. Eh' bukan, tentu aku akan memberimu uang nanti."
"Apa menurutmu aku kekurangan uang?"
"Aa' …" Miho terus menjauhkan dirinya dari Asahi yang semakin lama semakin mendekati dirinya.
"Miho aku tidak membutuhkan uangmu, aku hanya ingin bertanya sudah sejauh mana?"
"Kenapa kau terus mundur Miho? kau sampai sudah menyatu dengan sandaran kasur itu. Kalau begitu maafkan atas perilaku ku!"
Asahi beranjak dari tempat duduknya dan langsung menjegat Miho agar tidak lari dari sandaran kasur itu.
"A'Apa?"
"Sudah sejauh mana?" Asahi berbisik di telinga Miho.
"Aku tidak tau!!"
"Kenapa kau berteriak? dan kenapa dengan wajahmu? apa kau sakit?"
"Hiks … aku tidak tau, aku belum pernah melakukannya hiks …"
"Ha' apa yang sedang kau pikirkan Miho!"
"Eh' bukankah kau."
"Ohh' … apa kau sedang menyuruhku untuk melakukannya?" Asahi menyeringai licik menatap Miho.
"Tidak!!" Miho mendorong tubuh Asahi agar menjauh dari dirinya.
"Baiklah baiklah, kau tidak perlu sampai sepanik itu. Lagipula aku hanya ingin bertanya padamu, sudah sejauh mana kau merasakan sakitnya."
"Seharusnya kau mengatakannya jangan setengah-setengah!"
Asahi menyeringai. "Karna aku suka melihat wajahmu yang seperti itu."
Miho mengambil bantal dan menutupi wajahnya. "Itu tidak lucu!"
"Baiklah aku akan mengobatimu walaupun aku tidak mengerti caranya. Aku akan menelpon Dokter untuk mengobatimu."
"Terserah!"
Asahi mengeluarkan ponselnya dan menelpon seorang Dokter kenalannya.
📲"Halo bisakah kau datang ke hotel xx di kamar nomor 106."
📲"Baik."
Setelah memberitahukan kepada Dokter tersebut di mana hotel dan nomor berapa kamarnya, Asahi langsung mematikan sambungan teleponnya.
Asahi mengambil bangku dan meletakkannya di samping ranjang, lalu ia duduk di situ sambil melihat kaki Miho.
"Apa sebaiknya aku katakan padanya kalau Rei and Ren diculik. Eh' tapi untuk apa aku katakan." Batin Asahi.
"Apakah kakimu masih sakit?" tanya Asahi.
"Masih."
"Rei and Ren menganggap dia sebagai seorang ibu, jadi tidak apa-apa jika aku memberitahu. Hais' sudahlah."
"Rei and Ren mereka diculik."
"Apa!! siapa yang menculik mereka?" teriak Miho kaget.
"Anggota mafia. Mereka sudah dibawa sampai keluar kota."
"Aku harus segera mencari mereka."
"Berhentilah, aku yang akan mencari mereka. Kau cukup diam dan obati kakimu yang terkilir ini."
"Tapi aku tidak bisa berdiam diri disaat kedua putraku kenapa-napa!"
Asahi yang tadinya menutup tenang matanya, kini membuka matanya dan menatap kearah Miho. "Kau, apa kau tidak percaya denganku?"
"Aku …"
"Jika kau tidak percaya denganku sudah tidak apa-apa."
"Aku percaya!"
"Kau memang berbeda, aku sudah mengetahui apa pesan terakhir dari Narumi. Aku juga tau kalau Rei and Ren sudah mengetahuinya."
"Lalu?"
"Aku masih perlu berpikir, karna aku masih belum tau apakah anak yang di kandungan Yuka itu adalah anakku atau bukan."
"Jika itu bukan anakmu?"
"Jika itu bukan anakku maka dia akan menanggung masalah yang sangat besar, tetapi jika dia anakku maka posisinya tidak bisa digantikan oleh orang lain."
Mendengar penjelasan Asahi Miho hanya tertunduk dan tanpa diperhatikan oleh Asahi Miho menangis tanpa ada suara. "Oh' ternyata seperti itu, kalau begitu kau boleh pergi aku tidak ingin di ganggu saat ini."
Asahi beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Miho tanpa mengatakan sepatah kata apapun.