
"Yo' sudah lama tidak berjumpa denganmu Hisao," ucap Yuichi menyapa Hisao dengan senyuman mengerikan dan penampilan yang tak mengenakkan untuk dilihat.
"Cih! dia lewat jalur hutan." Kesal Hisao.
"Jadi bagaimana Kak?" tanya Sora.
"Tidak ada pilihan lain selain menghadapi dirinya yang sudah menjadi g*la ini."
"Tapi perkataan Kakak tadi." Timpal Soma.
"Ini sudah tergantung kita saja, jadi kalian harus menuruti rencanaku. Kalian mengerti!"
"Bukankah Kakak juga mempunyai sifat g*la, kenapa tidak Kakak saja menghadapinya."
Mendengar perkataan Soma tersebut membuat Hisao menatapnya dengan tatapan dingin dan mematikan. "Apa yang kau katakan Soma? apa kau ingin kubunuh sekarang disini."
Disaat Hisao, Sora dan Soma sedang bertengkar Yuichi mengambil kesempatan tersebut untuk membunuh Hisao dengan pedang yang ia bawa, tetapi tanpa disangka-sangka Hisao mengelak dan memukul tangan Yuichi hingga membuat pedang ditangannya terjatuh.
Kini keadaan sudah menjadi terbalik, Hisao lah yang mengarahkan pedang tersebut tepat di leher Yuichi.
"Aturan ku sudah tertulis di dalam buku, jika aku sedang berbicara kepada orang lain maka jangan ikut campur. Kau tau, aku bisa membunuhmu tanpa harus kau merasakan yang namanya sakit." Jelas Hisao dingin.
Tanpa berpikir panjang lagi Hisao menusuk kedua tangan Yuichi dan menusuk kedua kakinya, hingga membuat Yuichi tersungkur.
"Aku akan membiarkanmu mati dengan keadaan mati seperti ini, karna itu lebih pantas untukmu."
Setelah mengatakan hal itu Hisao membuang pedang di tangannya lalu menyuruh Sora dan Soma untuk masuk ke dalam mobil, dan pergi meninggalkan tempat itu.
Ketika mereka pergi dari tempat itu Yuichi yang tadinya tersungkur kini bangku kembali sembari menjilat darahnya yang mengalir di tangan.
"Luar biasa! aku selalu ingin membunuhmu Hisao, tapi aku selalu tidak bisa karna kau terlalu kuat. Jadi apa yang harus kulakukan? sudahlah, aku akan membuatmu menderita karna kehilangan seseorang yang sangat kau sayangi."
Yuichi berjalan kembali ke tempat dimana ia membunuh orang.
"Dan disaat kau merasakan rasa sakit, aku akan mengambil kesempatan untuk membunuhmu. Disitulah aku bisa merasakan bagaimana rasanya darahmu." Ucapnya sembari menatap langit.
★★★
Beralih ke Sora dan Soma yang berada di dalam mobil, mereka hanya menatap Hisao yang tengah mengemudi.
"Dia mengatakan kalau dia tidak bisa melukai Yuichi, jika dia berkelahi dengan Yuichi maka mereka akan sama-sama terluka. Tapi yang kulihat berbeda." Batin Sora.
"Apakah ini yang dikatakan tidak boleh percaya dengan perkataan awal." Gumam Sora.
"Ya begitulah, aku hanya memancingnya sebentar dan dia sudah terbawa oleh emosi yang sangat tinggi," ujar Soma.
"Apa yang sedang kalian bicarakan dibelakang?" tanya Hisao pada Sora dan Soma.
"Ah' tidak apa-apa, kami hanya tidak menyangka kalau kita bisa lolos dari Yuichi secepat itu." (Sora).
"Ha' benar juga. Kenapa aku tidak menyadarinya dari tadi, sudahlah itu hanya kebetulan saja mungkin."
"Ya benar itu hanya sebuah kebetulan! kebetulan yang tidak pernah dibayangkan sampai sekarang." (Soma).
"Apa maksudmu Soma?"
"Tidak ada." (Soma).
"Sudahlah, untuk keluar dari tempat ini sekarang sangatlah sulit jadi mari berjaga-jaga."
"Tentu." (Sora).
★★★
Beralih pada Rei and Ren yang masih berada di dalam kandang singa, mereka melihat Yuka yang begitu dekat dengan Kazuo tanpa ada batasan sedikitpun.
"Hei Nenek tua! ternyata firasat ku itu benar, anak yang berada di dalam kandungan mu itu bukanlah anak ayahku." Kata Ren.
"Ehh' jangan berkata seperti itu, itu bisa menyakiti hatiku. Tapi yang kau katakan itu tidak salah, ini adalah anakku bersama dengan Kazuo." Jelas Yuka.
"Dasar Nenek sihir!"
"Mau sampai kapan kau terus mengurung kami seperti ini? cepat atau lambat kau hanya akan dapat takdir kematian," ucap Rei.
"Kata-kata mu itu terlalu menyakitkan. Aku tetap akan mengurung mu sampai ayahmu datang dan bertekuk lutut di hadapanku untuk menjadi bawahan ku." Timpal Kazuo.
"Terus saja berharap, karna itu tidak akan pernah terjadi."
"Lagipula cepat atau lambat kalian akan mati kelaparan di sini."
"Ha' kami? apa kau tidak salah. Mari kita lihat siapa yang lebih dulu menjumpai ajalnya." (Ren).
"Tentu. Tapi aku hanya memberikan kalian waktu sampai besok hari, jika tidak ada yang menyelamatkan kalian sampai besok maka kalian harus m4ti."
"Tentu, aku setuju dengan pendapatmu." (Ren).
Rei hanya menatap Ren yang sudah mengambil keputusan.
Di malam harinya Rei tidak bisa tidur memikirkan perkataan Ren yang menerima itu semua tanpa meminta pendapat darinya.
"Ren kenapa kau menerima itu?" tanya Rei pada Ren.
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk duduk diam dan saksikan, pertandingan ini baru akan dimulai esok hari maka kau harus tanamkan pada dirimu kalau kita akan diselamatkan besok, tapi tergantung waktu." Jelas Ren.
Rei yang melihat tingkah laku Ren seperti itu, hanya bisa terdiam dan memutuskan untuk tidur.
****************
Keesokan harinya Kazuo terus menunggu kabar dari bawahannya tentang gerak gerik dari Yakuza, tetapi sama sekali tidak ada kabar yang memuaskan.
Kazuo lalu memberitahukannya kepada Rei and Ren, tetapi Ren tetap bersikukuh kalau mereka akan diselamatkan hari itu juga.
★★★
Beralih ke Hisao, Sora dan Soma. Mereka tidak berani pergi ke markas Yakuza karna takut akan Asahi yang marah besar terhadap mereka bertiga.
"Jika kita terus seperti ini, maka ini namanya kita menghindar dari masalah yang telah kita buat sendiri," ujar Hisao.
"Tapi setidaknya aku ingin mati dengan seseorang yang lebih pantas daripada dia," ucap Sora.
"Aku juga sama seperti mu Sora, tapi jika kita terus seperti ini cepat atau lambat kita akan ditemukan oleh tuan Asahi."
"Paling tidak tunggulah sampai malam hari, baru kita kembali." Pinta Soma.
"Terserah kalian saja."
Disaat Hisao, Sora dan Soma di penuhi rasa ketakutan dan kegelisahan tentang diri mereka, tiba-tiba saja Rui menelpon Hisao.
Drrtt … drrtt … drrtt …
Hisao langsung mengangkat telpon tersebut. 📲"Ada apa Rui?"
📲"Tolong katakan pada Miho kalau aku tidak bisa datang di pagi hari ataupun di siang hari, aku akan datang menemuinya di malam hari karna aku sudah pulang dari luar kota."
📲"Tentu."
📲"Kalau begitu sampai jumpa."
Rui langsung mematikan sambungan telponnya.
"Jadi kita benar-benar harus menghadapi kenyataan ya?" (Sora).
"Begitulah kira-kira."
★★★
Beralih pada Asahi yang masih merawat Miho sembari menunggu kabar dari Hisao.
"Asahi kaki ku sudah sembuh, aku juga sudah bisa berjalan. Jadi bisakah aku ikut denganmu untuk mencari Rei and Ren?" tanya Miho.
"Untuk saat ini tidak dulu, karna kita harus menunggu kabar dari Hisao," ucap Asahi.
"Kapan kau memberi mereka waktu?"
"Hari ini, jika tidak ada kabarnya dan tidak ada perkembangan sama sekali. Maka sesuai kesepakatan mereka bersama Rei and Ren, mereka harus mati."
"Tidakkah kau memberi mereka sedikit waktu?"
"Aku sudah memberi mereka sedikit waktu Miho, tapi ini tentang kedua putraku, aku tidak bisa tinggal diam tentang hal ini."
Miho yang mendengar itu tidak bisa berkata-kata apa apa, karna dia tidak bisa ikut campur lebih jauh akan urusan Asahi.
****************
Malam yang Ditunggu tunggu pun tiba. Hisao, Sora dan Soma pergi ke markas Yakuza dan mendapatkan sidang oleh Asahi.
Sedangkan Rui yang baru pulang dari luar kota langsung pergi ke rumah keluarga besar Saito untuk melihat Miho, tetapi alangkah terkejutnya Rui ketika sampai di rumah itu ternyata Miho tidak ada di rumah.
Bibi Emi juga mengatakan kepada Rui kalau Miho di culik oleh bawahannya Yuka.
Mengetahui hal itu langsung menunjukkan wajah datarnya yang tanpa ekspresi dan matanya di penuhi oleh kebencian yang sangat mendalam.
Ia menitipkan kopernya kepada Bibi Emi, ketika ia ingin pergi keluar dari pagar rumah Saito terlihat ada seorang pria yang menyandang sebuah tas memanggil dirinya.
"Yo' apakah ini benar rumah si kembar Rei and Ren?"