The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Pengujian Berakhir



"Cih!" Yuka melanjutkan jalannya menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.


Sedangkan Hisao pergi ke halaman belakang untuk bertemu dengan Sora dan Soma.


★★★


Di halaman belakang Sora dan Soma sudah menunggu Hisao.


"Maaf membuat kalian menunggu lama," ujar Hisao.


"Tidak apa." Jawab Sora.


"Sebelum kalian datang kemari dan sebelum tuan Asahi datang ke rumah, aku sedang memeriksa kamar tuan muda Rei dan tuan muda Ren."


"Lalu apa yang Kakak temukan?" tanya Soma.


"Sebuah suntik. Mungkin jika kita mendeteksi suntik ini pasti ada sidik jari dari wanita itu."


"Itu ide bagus, kita bisa saja membuat dia mati karena g*la." (Sora).


"Kalian bertemu dengan Ruo bukan, kapan dia bisa datang kemari?"


"Kami tidak tau."


"Wanita itu, sebenarnya siapa dia. Dia bahkan membuat Rei menjadi sangat terkejut saat mendengar perkataannya." (Soma).


"Ya benar, dan itu adalah kali pertama aku melihat ekspresi nya sangat terkejut." (Sora).


Hisao menarik napasnya dalam dalam lalu perlahan mengeluarkan nya.


"Dia adik tiri Yuichi. Dia dan aku bisa dikatakan kembar."


"Ha?"


"Aku tau kalian pasti akan mengatakan kalau itu tidak mungkin, tapi begitulah kenyataannya. Ruo dan Yuichi jika berkelahi maka Ruo lah yang menang."


"Tidak mungkin. Omong kosong apa, wanita itu seperti monster." (Soma).


"Monster adalah julukannya, jika aku dan dia berkelahi maka kami akan sama-sama terluka. Wanita itu mempunyai dendam dengan ketua anggota mafia."


"Apa? kenapa bisa?" (Sora).


"Karna aku memberitahukan yang sebenarnya pada dirinya, bahwa ayah dan ibunya telah mati di bunuh oleh anggota mafia dan yang membunuhnya ialah Yuichi."


"Cih! orang yang seperti itu tidak layak untuk hidup di dunia ini." (Soma).


"Jadi Kakak dan Rui adalah teman baik, begitu?" (Sora).


"Tidak bisa dibilang begitu, mungkin lebih tepatnya kami sebagai rival."


"Haih … jadi apa rencana Kakak selanjutnya?"


"Seret Ruo datang kemari, mau dia bisa ataupun tidak bisa."


"Ha! apa Kakak g*la. Kami menyeret wanita itu, malah terbalik Kak." (Soma).


"Soma, kau suka mencari biang masalah ya. Ruo adalah orang yang tidak bisa diganggu ataupun disinggung, aku menyuruh kalian datang ke sana untuk menyeretnya agar menjadi terbalik, kalianlah yang diseret nya datang kemari."


"A' B'Baiklah … jika kami tidak kembali, titipkan lah salam kami pada tuan muda Rei dan tuan muda Ren." (Sora).


"Apa yang kau katakan Sora! kau ini terlalu lemah. Ayo kita pergi!" (Soma).


Dengan percaya dirinya Soma menyeret Sora yang tidak ingin pergi masuk ke dalam mobil, mobil di nyalakan dan bergerak pergi menuju rumah sakit di tempat Rui bekerja.


Hisao yang masih berada di halaman belakang berjalan masuk kembali ke dalam rumah, ketika dia meraba dan mencari ponselnya ia sama sekali tidak menemukannya.


"Eh' apakah aku meninggalkannya di kamar tuan muda. Haih … nanti saja deh di ambil."


★★★


Beralih pada Miho yang berada di kamar Rei and Ren, jantungnya berdegup kencang saat mengingat Asahi memeluknya.


"Ha … kenapa dia melakukan hal seperti itu tadi, bikin malu saja. Tapi bukankah aku sudah selangkah lebih maju, hais' sudahlah … aku terlalu lelah untuk memikirkannya sebaiknya aku tidur." Batin Miho.


Miho meletakkan kepalanya di pinggir kasur Rei, ia perlahan-lahan menutup matanya dan tertidur.


Mengetahui Miho yang sudah tertidur Ren yang berpura-pura tertidur lalu mengambil ponsel Hisao di atas meja dan tidak lupa pula ia mengambil kertas juga pensil.


Ren membuka ponsel Hisao dan mencatat sesuatu, setelah selesai ia lalu menaruh kembali ponsel tersebut di tempatnya. Sedangkan kertas dan pensil yang ia ambil di letakkan nya di balik bantalnya.


Miho lantas mendatangi mereka. "Kak Rui, ini udah malam kenapa Kakak datang kemari?"


"Sebenarnya Kakak sudah dari sore datang kemari, dan Hisao mengatakan kalau Miho sedang tertidur bersama Rei and Ren," ucap Rui.


"Oh' ternyata begitu."


"Jadi bagaimana dengan Rei and Ren? apakah mereka sudah baik-baik saja?"


"Ya lumayan, ketika pulang dari rumah sakit mereka langsung tertidur."


"Baguslah, bolehkah aku melihat mereka?"


"Tentu. Kamar mereka berada di sebelah sana, tapi aku tidak bisa mengantar Kakak aku ingin ke dapur untuk makan."


"Baiklah tidak perlu di antar aku sudah tau."


Rui lalu pergi ke kamar Rei and Ren sedangkan Miho pergi ke dapur untuk makan, tersisa lah Hisao, Sora dan Soma di ruang tamu.


"Huhh … untungnya aku melihat nona Miho keluar dari kamar tuan muda Rei dan Ren." Soma menghela napas lega.


"Jadi bagaimana dengan Yuka yang baru saja keluar tadi, bukankah dia melihat Rui?" tanya Sora.


"Saat ini dia sedang berada di salah satu sudut di rumah ini dan berbicara dengan seseorang. Kita tidak perlu mendengarkannya, kita cukup tau saja." Jelas Hisao.


"sepertinya dia sangat ketakutan saat melihat Rui disini." (Soma).


"Dia memang takut, tapi disini yang harus takut itu adalah Rui karna keberadaannya sangat terancam. Jika dia memberi tau tentang anggota mafia, maka dia akan dibunuh."


"Membunuh wanita selicik dia, hah' entahlah." (Sora).


★★★


Beralih ke Rui yang berada di kamar Rei and Ren.


"Oi bangunlah, jangan berpura-pura tertidur." Panggil Rui.


Rei and Ren lalu bangun dari tidurnya dan menatap tajam ke arah Rui.


"Hei jangan menatapku seperti itu, itu sangat tidak baik."


"Untuk apa kau datang ke dalam kamar kami?" tanya Ren dingin.


"Aku kemari untuk menemui Rei dan ingin mendengar jawabannya."


"Kau masih ingin menanyakan jawaban tentang pertanyaanmu." Kata Rei.


"Tentu, apa jawabannya?"


"Di setiap rencana pasti ada pengorbanan baik rencana kecil ataupun rencana besar, jika tidak ada yang berkorban maka rencana tidak akan berjalan dengan lancar. Begitu pula dengan diriku, aku ingin rencana yang kubuat berjalan dengan lancar."


"Tapi apakah kau bisa memastikan tentang nyawa Miho?"


"Jika ibuku dalam bahaya maka aku akan membuat boneka penghalang."


"Boneka penghalang? itu percuma. Jika kau menyuruh seseorang untuk menggantikan tempat Miho itu percuma."


"Tidak ada yang tau bukan, sebelum kita coba."


"Jika seandainya Miho terluka?"


"Kau ada disini untuk mengobati."


"Kau memanfaatkan ku."


"Di dunia ini kita harus memanfaatkan bukan di manfaatkan."


"Pastikan rencanamu itu berjalan dengan lancar. Aku hanya mengatakan apa yang harus kukatakan, boneka penghalang yang kau katakan itu tidak akan berguna. Jika Miho terluka maka bukan kau saja yang merasakan sakit."


"Apa maksudmu?"


"Orang-orang yang menyayangi nya termasuk dengan kau aku ataupun ayahmu akan merasakan sakit, jadi kuharap kau mengerti siluman rubah kecil."


Setelah mengatakan hal itu Rui lalu pergi dari kamar Rei and Ren, ketika sampai di ruang tamu dan bertemu dengan Miho, Rui mengucapkan sampai jumpa karena dia ingin pulang.


Rui pun pergi dari rumah keluarga besar Saito, sedangkan Miho yang berada di ruang tamu masuk ke dalam kamar Rei and Ren.