The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Carikan Kami Ibu Sambung



"Cari tau tentang wanita yang mendekati ayahku itu. Aku ingin tau tentang dirinya, identitasnya, dan apa saja yang ia lakukan." Jelas Rei pada Hisao.


"Baik Tuan Muda, sesuai yang anda minta." Jawab Hisao sedikit menunduk.


"Dan juga tetap awasi bibi Miho dan ayahku." Timpal Ren.


"Saya mengerti, kalau begitu saya permisi dan saya akan menjemput anda tepat waktu nanti."


Hisao pergi meninggalkan sekolah, sedangkan Rei and Ren masuk ke dalam kelas.


Ketika jam pelajaran dimulai, Rei tidak fokus dalam belajar hingga ia membuat Guru yang menjelaskan pelajaran menegurnya.


"Rei! kenapa kau tidak fokus dalam belajar? apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Gurunya pada Rei.


"E' maafkan saya, saya sedang tidak enak badan." Gugup Rei.


"Ha' kau yakin Rei? aku melihatmu baik-baik saja pagi ini." Tukas Ren.


"Ee' aku …" (Rei).


"Rei! berdiri di depan dan kerjakan soal yang ibu tulis di depan!" tegas Gurunya.


Rei menuruti perkataan Gurunya dan pergi ke depan untuk mengerjakan soal yang Gurunya suruh kerjakan.


Tepat ketika Rei sudah berdiri di depan papan tulis, ia melihat soal yang ada di papan tulis tersebut.


Pikirannya langsung memikirkan jawaban di papan tulis itu, tanpa berpikir panjang Rei menulis jawabannya di papan tulis.


Tak ada rasa keraguan sedikitpun dalam hatinya saat menulis jawabannya, hingga ia selesai menulis jawabannya. Ia lalu bertanya pada Gurunya.


"Bagaimana Bu, aku sudah menyelesaikan soal yang Ibu minta. Jadi, bolehkah aku duduk?" tanya Rei menatap Gurunya.


Guru yang melihat jawaban dari Rei, seketika terdiam karna jawaban Rei di luar ekspektasinya. "Dari mana kau mempelajari ini Rei?"


"Pelajaran seperti ini bukan hal yang sulit bagiku, bahkan rumus sampai ke akarnya aku pun tau. Kenapa anda membuatnya menjadi sangat rumit?"


"Aku tidak bertanya tentang semua itu, aku bertanya dari mana kau mempelajari semua ini?"


"Jika ingin pintar maka harus belajar, bukankah begitu. Kalau begitu saya akan kembali ke tempat duduk saya."


Saat berjalan menuju ke tempat duduknya, semua anak teman sekelasnya membicarakannya sambil berbisik-bisik satu sama lain.


"Cih! dasar monster. Monster memang selalu begitu." Berbisik.


"Karna itulah, monster tidak akan pernah memiliki seorang teman." Berbisik.


"Heh' monster? aku suka panggilan itu, maka kalian harus menjadi santapan ku." Batin Rei.


Rei pun akhirnya sampai di tempat duduknya.


"Oi Rei! kenapa kau tidak mengatakannya kalau kau diajari oleh bibi Miho," ucap Ren.


"Bodoh! belum saatnya aku memprovokasi bibi Miho, tunggu saja."


Pelajaran itu di lanjutkan kembali sampai jam istirahat tiba. Di jam istirahat Rei and Ren memutuskan untuk pergi ke belakang sekolah.


★★★


Di belakang sekolah.


"Ini adalah tempat yang bagus untuk merancang sebuah rencana." (Rei).


"Jadi bagaimana rencananya?" (Ren).


Rei mulai menggambar setiap sudut rumah keluarga besar Saito. "Kau tau Ren, kita bisa menaruh setiap perekam suara di setiap sudut ini." (Rei).


"Untuk apa? kenapa tidak CCTV?" (Ren).


"CCTV hanya bisa merekam, tetapi tidak bisa merekam suara. Belum tentu yang kita lihat itu kebenaran bukan. Maka aku memutuskan untuk menaruh rekaman suara saja." (Rei).


"Tapi jika rekaman suara itu diketahui oleh seseorang, maka suara itu bisa di ubah." (Ren).


"Kau benar, tapi bagaimana jika perekam suara itu ku taruh di tempat yang sama seperti bentuknya. Maka kau akan tertipu, benar bukan?" (Rei).


"Kau sangat licik, benar-benar licik." (Ren).


Mereka berdua akhirnya setuju untuk meletakkan perekam suara di setiap sudut ruangan.


Setelah menyusun rencana dengan sangat matang, mereka masuk kembali ke dalam kelas tepat saat itu jam istirahat sudah berakhir.


Jam pelajaran kembali dimulai hingga bel pulang sekolah berbunyi.


Seluruh anak murid merapikan buku mereka dan memasukkannya ke dalam tas mereka.


Rei and Ren pergi meninggalkan kelas, mereka berjalan menuju gerbang sekolah.


Ketika sampai di depan gerbang, mereka melihat ada Hisao yang bersandar di mobil sambil menunggu Rei and Ren pulang sekolah.


Disaat itu Rei mendekati Hisao sambil meminta sesuatu yang ia minta Hisao selidiki.


"Hisao, dimana-"


Perkataan Rei langsung di sela oleh Hisao. "Ah' Tuan Muda silahkan masuk ke dalam mobil, hari ini Tuan ikut menjemput anda pulang dari sekolah."


"A' Oh iya."


Hisao membukakan pintu mobil, di dalam mobil terlihat ada Asahi yang tengah duduk di dalam mobil. Rei and Ren masuk ke dalam mobil dan duduk bersebelahan dengan Ayahnya.


Mobil di jalankan, di perjalanan pulang Asahi membuka pembicaraan. "Rei, sesuatu apa yang ingin kau pinta dari Hisao?" tanya Asahi.


"Aku memintanya membelikan aku sebuah es krim, mengingat aku dan Ren yang tidak bisa keluar dari rumah. Jadi aku menyuruhnya memberikanku es krim." Jelas Rei.


"Kau tidak berbohong kan Rei? sepertinya Hisao terlihat menyembunyikan sesuatu."


"Ayah tau bagaimana sikapku jika berbohong bukan?"


"Ya. Ayah hanya curiga."


"Untuk apa mencurigainya, lagipula tidak penting." Ketus Ren.


"Ren, sepertinya kau sedikit marah pada Ayah baru-baru ini, ada apa? apakah karna Ayah tidak ingin menikah dengan bibi Miho?"


"Jika memang iya lalu kenapa?"


"Sebegitu inginkah kalian Ayah menikah lagi?"


"Kami juga membutuhkan sosok seorang ibu." Timpal Rei.


"Tapi kan Ayah selalu ada untuk kalian."


"Ha! selalu ada. Apakah Ayah tidak melihat dengan mata kepala Ayah sendiri!aku selalu bersama dengan Rei dan Paman Bisa, kenapa tidak Paman Hisao saja yang menjadi Ayah kami!" Tegas Ren.


Mendengar perkataan dari Ren, sontak membuat Hisao terdiam. Tatapan Asahi pun tertuju pada Hisao yang tengah mengemudi membelakangi nya.


"Oh' begitu ya." Jawab Asahi menatap tajam ke arah Hisao yang menyetir.


"Tuan Muda anda membuat saya dalam situasi yang sangat buruk." Batin Hisao.


"A'Aa tidak begitu Tuan, karna saya ditugaskan untuk menjaga Tuan Muda Rei and Ren jadi saya selalu ada untuk mereka." Gugup Hisao.


"Heh!"


"Jangan menatap Paman Hisao seperti itu Ayah lagipula dia tidak bersalah, dia hanya menjalankan tugasnya." Kesal Ren.


"Rei, Ren sebegitu inginkah kalian ibu sambung!"


"Iya!!" teriak mereka berdua.


Mendengar teriakan kedua Putranya itu membuat mental Asahi lemah, dia hanya diam dan tertunduk.


"Hhh' Narumi, aku masih belum bisa melupakanmu … tapi anak-anakmu sudah memintaku menikah lagi dan mencarikan mereka ibu sambung. Seberat inikah ujian ku Narumi." Batin Asahi.


Pembicaraan itu tidak dilanjutkan kembali hingga mereka sampai di rumah.


Ketika sampai di rumah Rei and Ren langsung turun dan meninggalkan Ayahnya di dalam mobil sendiri.


Saat Hisao keluar dari dalam mobil dan memanggil Rei and Ren, mereka berdua langsung berlari memasuki rumah dan pergi ke kamar mereka.