The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Mantan Mafia



Mendengar perkataan dari Dokter membuat kegelisahan yang melanda hati Miho kini sirna, ia lalu meminta izin kepada Dokter untuk mengizinkannya masuk melihat keadaan Rei and Ren.


Dokter mengizinkannya, Miho kemudian masuk tetapi ketika giliran Soma dan Sora ingin masuk Rui menghalangi mereka dengan tatapan dingin.


"Ha' kenapa kau menghalangi?" tanya Sora membalas tatapan dingin Rui.


Rui tidak menjawab pertanyaan dari Sora ia malah meminta Dokter yang menangani Rei and Ren untuk pergi dari situ.


Dokter itu mengangguk dan berjalan pergi meninggalkan mereka bertiga di ruang tunggu.


"Hei! bisakah kau tidak menghalangi jalan kami, kami tidak ingin melukai-"


Belum selesai Soma berbicara Rui langsung menyela nya. "Tutup mulutmu! atau aku akan mengeluarkan organ dalam kalian disini."


"Ck! apa maumu?" (Sora).


"Tidak ada. Sepertinya aku pernah melihat salah satu dari kalian, kalian jawab jujur Saito Asahi apakah benar suaminya dari Miho?"


"Ha' untuk apa kau tau, lagipula itu bukan urusanmu!" (Soma).


"Jawab, jika tidak kalian dalam bahaya."


"Wanita ini sepertinya tidak main-main, kedudukannya saja sebagai seorang Dokter di rumah sakit tetapi belum tentu jika ia keluar dari rumah sakit ini." Batin Sora.


"Siapa kau? Soma menjauh."


Mendengar pertanyaan Sora membuat Rui menyeringai dan menatap licik Sora. "Hh' nama samaran ku adalah Ruo adik tiri Yuichi anggota mafia yang telah lama berhenti, dan aku juga termasuk musuh bebuyutan dari Hisao."


"Cih! dunia ini sangat sempit hingga membuat kami bertemu dirimu."


"Ah' ternyata Hisao sudah menceritakan tentang diriku ya, tapi aku sudah lama meninggalkan kegiatan seperti itu sejak Hisao mengalahkan Kenzo di area bagian timur."


"Untuk apa kau memberitahukan ini pada kami?" (Sora).


Rui duduk kembali di ruang tunggu dan mempersilahkan Soma dan Sora untuk duduk.


"Aku memberi tau kalian karena kalian adalah bawahannya Hisao, benar bukan? dan karena aku melihat kalian bersama Miho jadi aku mempercayai kalian."


"Aku harap yang kau katakan ini bukanlah kebohongan." (Sora).


"Aku akan berbicara langsung ke intinya. Saat ini anggota mafia merubah rencananya dan mereka akan membawa Yuichi dalam rencana kali ini, karena Kenzo telah meninggal."


"Lalu apa hubungannya?" (Soma).


"Yang harus kalian jaga bukanlah Miho ataupun Hisao, yang harus kalian jaga adalah si kembar itu."


"Jangan meremehkan mereka! dimata kita memang mereka sangat kecil tetapi beda dimata mereka, kita lah yang paling kecil." (Soma).


"Terserah. Aku pernah berkata pada Yuichi kalau aku tidak akan berhubungan lagi dengan anggota mafia, dan aku bertengkar hebat dengan Yuichi karna hal itu hingga membuat kami berpisah."


"Jadi jika seandainya kami membunuhnya, apakah kau tidak sedih?" (Sora).


"Mendengar kabar kematiannya adalah kebahagianku."


"Kebahagian itu hanya datang dari mulutmu bukan dari hatimu."


"Kau percaya dengan perkataan itu. Mulut bisa menipu tetapi hati siapa yang tau? aku tak pernah menganggap benar istilah kata seperti itu."


Setelah mengatakan hal itu Rui lalu masuk ke ruangan tempat Rei and Ren berada, dan meminta Sora dan Soma tetap berada di ruang tunggu.


Di ruang tunggu Sora dan Soma saling memandang satu sama lain, pikiran mereka terus bekerja keras atas perkataan yang di ucapkan oleh Rui.


Karna mereka sangat penasaran dengan Rui, mereka berdua pun memutuskan untuk bertanya pada Hisao ketika mereka pulang nanti.


★★★


Di dalam ruangan Rui melihat Miho yang tengah duduk di tengah-tengah bed Rei and Ren sembari memegangi salah satu tangan mereka.


FLASHBACK ON


"Rui! kenapa kau keluar dari anggota mafia?" tanya Yuichi pada Rui.


"Ha' pertanyaan konyol seperti apa itu, aku keluar dari anggota mafia adalah keinginanku sendiri." Tegas Rui.


"Apakah kau tidak bisa membalas budi ku yang selama ini membesarkan mu!"


"Kau membesarkan ku, aku telah membalas budi mu dengan satu tusukan di belakang ku. Apakah itu belum cukup! kau membesarkan ku dengan uang dan aku membalas budi mu dengan nyawa."


"Cih! hanya seperti itu. Kau tau seperti apa balasan dari Kazuo bukan, jika kau keluar tanpa alasan yang pasti."


"Kematianku bukan dari tangannya melainkan kematianku adalah takdir!"


Seusai mengatakan itu Rui yang telah selesai mengemasi barangnya berjalan pergi melewati Yuichi.


Tidak jauh ia berjalan pergi meninggalkan Yuichi, Yuichi pun menanyakan alasan kenapa Rui keluar dari anggota mafia.


"Kenapa? apa alasanmu?"


Rui menghentikan langkahnya tanpa membalikkan badannya ia menjawab pertanyaan Yuichi.


"Itu karna kalian membunuh tanpa pandang bulu, di suatu lorong aku melihat anggota mafia menyiksa keluarga yang hidupnya sangat susah. Mereka membunuh dan hanya menyisakan anaknya yang menangis."


"Itu karna mereka tidak bisa menepati janji mereka untuk membayar hutang."


"Hutang dunia bisa di bayar, tapi hutang nyawa apakah bisa membayarnya Yuichi? anggota mafia ini bahkan tidak menerima pendapat orang lain."


Setelah mengatakan hal itu Rui lalu pergi meninggalkan Yuichi.


FLASHBACK OFF


"Jika ditanya aku menyesal atau tidak, maka aku akan menjawab kalau aku tidak menyesal karna menurutku pengorbanan itu lebih banyak daripada balas budi dunia." Batin Rui.


"Haih … saat ini aku mengharapkan kehancuran anggota mafia, dan akan kutunggu kematianmu. Jangan sampai kau melukai seseorang yang berada di hadapan ku saat ini." Gumamnya.


"Jika tidak aku sendiri yang akan membunuhmu."


Perlahan Rui berjalan mendekati Miho yang tengah duduk termenung melihat Rei and Ren yang masih terlelap.


Rui menepuk pelan pundak Miho dan mulai mengelus kepala Miho dengan lembut. "Hei sudahlah Miho, jika kau ingin menangis maka menangis saja, tidak ada yang melihatmu menangis kecuali aku disini."


"Aku tidak cengeng seperti dulu, aku adalah orang yang kuat karena ada mereka berdua," ucap Miho menatap sayu Rei and Ren.


"Kau lupa Miho, aku ini Kakak kelasmu dan kau telah menganggap ku sebagai Kakakmu. Lalu kenapa kau malu setelah bertemu dengan ku hari ini."


Miho hanya terdiam, ia lalu membalikkan badannya menghadap ke arah Rui. Ia membuka kedua tangannya dan memeluk Rui dengan erat.


Disaat itu air mata yang telah di bendung nya selama ini kini tumpah, ia menangis sejadi-jadinya di hadapan Rui tanpa mengeluarkan suara.


Rui membalas pelukan Miho sembari mengelus kepalanya. "Tidak apa-apa, tidak ada yang melihatmu hanya aku di sini, menangis saja."


"Aku senang bertemu denganmu Miho sewaktu aku kuliah dulu, walaupun kita berbeda jurusan walaupun kita berbeda umur tapi membuatmu mempercayai ku sangatlah sulit. Dengan tingkah laku ku dulu yang seperti seorang preman."


Miho terus menangis dalam pelukan Rui, tanpa Miho dan Rui sadari Rei and Ren telah bangun.


Ketika Rei and Ren ingin memanggil Miho, Rui menyadarinya dan mengisyaratkan kepada Rei and Ren untuk diam sebentar.


Melihat isyarat dari Rui, Rei and Ren saling bertatapan dan menangguk.


Setelah Miho merasa tenang dan menumpahkan semua beban dalam dirinya pada Rui, ia membuka suaranya.


"Rui aku-"