The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Kepulangan Miho



"Ekhem! sebenarnya dia mempunyai akal, hanya saja dia terlalu baik dan aku tidak menyukai hal itu," ujar Rei pada Hisao.


"Ya. Tidak seperti dulu tuan Asahi layaknya dewa kematian." Jawab Hisao.


Tidak berapa lama Asahi dan Yuka turun kembali setelah membersihkan diri mereka, tetapi di ruang tamu sudah tidak ada siapa-siapa.


Disaat mereka sedang kebingungan dan bertanya-tanya keberadaan Hisao, Rei and Ren tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang wanita yang memanggil nama Rei and Ren dengan senangnya.


"Rei! Ren! Bibi pulang!!" teriak Miho sembari berjalan masuk ke dalam rumah.


Seketika melihat pemandangan di ruang tamu Miho terdiam, tatapan matanya tertuju pada Asahi dan Yuka yang masih berada di ruang tamu.


"Eh' Miho ternyata kau sudah kembali." Sapa Yuka melihat Miho.


"Kenapa kau sangat cepat kembali, sebaiknya kau tidak usah kembali saja sekalian," ucap Asahi menatap kesal Miho.


"Asahi jangan berkata sepeda itu, biarpun begitu dia juga adalah adiknya Narumi."


"Apakah pantas baginya untuk menyandang kata adik, sedangkan dia meniru kakaknya sendiri."


"Asahi ti-"


Miho langsung memotong perkataan Yuka. "Kenapa kau selalu menyamakan aku dengan kakak ku, kenapa!"


"Jangan berteriak dihadapan ku!"


"Ehh … sepertinya yang kau katakan itu benar. Tidak baik aku sebagai adiknya kak Narumi berteriak kepada Kakak iparku sendiri, benar kan Yuka?"


"A' ya!" gugup Yuka.


"Aku akan memperjelas kehadiran ku hari ini, aku datang demi Rei and Ren. Dan kau Asahi, tidak berhak mengatakan kalau aku harus pergi dari sini dan tidak usah kembali." Ucap Miho sembari menunjuk Asahi.


"Rumah ini adalah rumahku dan kau bukan apa-apa."


"Eh' jangan seperti itu dong Kakak ipar, begini-begini aku adalah adik ipar yang selalu salah di matamu. Walaupun begitu, aku selalu benar di hadapan kedua putramu."


"Kau mencuci otak kedua putramu, menjijikkan!"


"Di dunia ini jika kita tidak licik, maka kita tidak akan menang. Bukan begitu Yuka?"


Miho berjalan mendekati Yuka sambil berbicara. "Hei hei Yuka, bukankah kau adalah teman baik kakak ku. Emm' tapi kenapa kakak ku mengatakan-"


Sebelum Miho menyelesaikan perkataannya Asahi ingin mencengkram mulutnya Miho, tetapi dengan sigap Miho menghindari serangan tersebut.


"Kenapa Kakak ipar? aku hanya ingin berbicara dengan Yuka, jika kau tidak ingin mendengarnya maka tutup saja telingamu."


"Hentikan omong kosong mu! aku tidak suka dengan sikapmu." Asahi menatap tajam Miho.


"Wanita ini! jangan katakan kalau dia sudah mengetahuinya." Batin Yuka menatap Miho.


"Haih' … sudah tidak seru deh. Hei Asahi, kau mengatakan kau tidak bisa menerima diriku karna aku selalu meniru kakak ku, tetapi setelah aku menunjukkan sikap asli ku kenapa kau malah mengatakan aku menjijikkan." (Miho).


"Sikapmu yang sekarang tidak lebih dari wanita murahan!" (Asahi).


"Ya terserah apa kata kau. Lebih baik aku menjadi wanita murahan tetapi mendapatkan bayaran, daripada wanita di sampingmu yang kau dapatkan dengan cara gratisan!" (Miho).


"Miho!!"


"Oh' terus saja memanggil namaku, karna aku baru mendengarnya dari mulutmu."


"Dia sangat berbeda, tidak seperti sebelumnya. Kali ini dia datang dengan persiapan diri, apa sebenarnya yang ingin dia lakukan." Batin Asahi.


Miho mengambil kopernya yang ia tinggalkan di depan pintu rumah dan berjalan ke hadapan Yuka dan Asahi.


"Untuk apa kau berada di hadapan kami, menyingkir!" (Asahi).


Miho berjalan di pertengahan antara Yuka dan Asahi, sebelum melewati mereka Miho sempat berbisik di telinga Yuka. "Di setiap perbuatan yang melebihi akal manusia, maka dia akan mendapatkan ganjaran yang setimpal."


Sontak pupil mata Yuka mengecil saat mendengar perkataan dari Miho.


"Wanita ini aku harus melakukan sesuatu padanya, sebelum dia merusak rencanaku." Batin Yuka.


★★★


Beralih ke Miho yang berjalan ke halaman belakang, air matanya menetes tanpa henti.


"Kenapa … kenapa rasanya sangat sakit? kenapa semuanya menjadi seperti ini? kenapa … kak Narumi, padahal aku sudah berjanji padamu tapi melihat situasinya saat ini, aku rasa ingin menghindar … aku tidak mampu." Batin Miho.


Miho terus berjalan hingga tepat di pintu halaman belakang, ia berhenti. Ia melihat Rei and Ren bersama dengan Hisao tengah duduk sembari berbincang-bincang.


Melihat suasana itu membuat tekad Miho yang lemah kembali lagi. "Tidak peduli seberat apapun rintangannya, aku akan mengambilnya kembali! dan itulah janjiku kepadamu kak, aku pasti akan menepatinya."


Miho berlari menghampiri Rei and Ren. Hisao, Rei and Ren yang mendengar seseorang sedang berlari langsung menoleh ke arah sumber suara, dan ternyata itu adalah Miho.


Dengan sangat gembira Rei and Ren berteriak memanggil nama Miho. "Bibi Miho!!"


Miho memeluk Rei and Ren. "Rei, Ren Bibi pulang. Apakah kalian merindukan Bibi?"


"Tentu saja, kenapa Bibi tidak mengabari kami kalau Bibi sudah sampai?" tanya Ren.


Miho mengurai pelukannya. "Bibi ingin memberikan suprise kepada kalian, tetapi malah Bibi yang mendapatkan suprise dari ayah kalian."


"Oh' ternyata Bibi sudah melihat ayah bersama dengan bibi Yuka." Timpal Rei.


"Emm' kenapa Rei, Ren? kelihatannya kalian sedikit murung, apa kalian tidak menyukai bibi Yuka?" (Miho).


"Siapa yang mau menyukai wanita seperti itu! melihatnya saja sudah membuat bulu kuduk ku merinding." (Ren).


"Hahaha … Ren kau mengatakannya seolah-olah kau sedang melihat hantu." (Miho).


"Bibi yang dikatakan Ren itu benar. Lagipula dari awal kami bertemu dengannya, kami sudah tidak menyukainya." (Rei).


"Hmm' benar … kenapa tidak Bibi saja yang menjadi ibu kami? hiks …" Tangis Ren menatap Miho.


"Wajah kalian sangat imut, di tambah air mata yang mampu memikat orang lain. Tetapi hati dan pikiran kalian dipenuhi dengan rencana licik, aku sudah tidak akan tertipu dengan itu lagi." Batin Hisao.


"Hh' terimakasih, tapi jika kalian ingin menganggap Bibi sebagai ibu kalian, maka anggap saja. Bibi bahkan sangat senang jika mendengarnya." (Miho).


"Benarkah! bolehkah kami memanggil Bibi ibu?" (Ren).


"Ya tentu."


Rei and Ren memeluk Miho kembali, sambil berkata dengan serentak. "Ibu kami merindukanmu!!"


"Hmm' Ibu juga merindukan kalian." Jawab Miho tersenyum bahagia.


"Hmmh' senang sekali mendengarnya. Aku tidak keberatan jika tidak dianggap oleh Asahi, bahkan kalau dia ingin membuang ku itu tidak masalah. Bagiku, kebahagiaan terbesarku adalah mereka berdua, kedua Putraku yang tercinta."


"Hee' sudahlah sudah, bagaimana kalau kita membuka hadiah yang sudah Bibi berikan? bukankah kalian juga melihat kalau Bibi sudah membelikan sepeda untuk kalian juga." (Miho).


"Emm' kami ingin berlian sepeda dengan Bibi!" (Rei).


"Baiklah. Kalau begitu ayo kita bergegas!"


Tanpa berbasa-basi Rei and Ren langsung berlari meninggalkan Miho dan Hisao di halaman belakang.


"Mereka sangat bersemangat," ujar Miho menatap Rei and Ren yang berlari.


"Tentu saja Nona, mereka sangat merindukan anda." Jawab Hisao.