
"Tuan muda Rei! Tuan muda Ren! kalian dimana!" teriak Hisao memanggil nama Rei and Ren.
Ren membalas teriakan Hisao yang memanggil nama mereka. "Kami di halaman belakang!!" teriak Ren.
Mendengar teriakan Ren, Hisao bergegas menuju ke halaman belakang untuk menemui Rei and Ren.
Sesampainya disana Hisao melihat kalau Rei and Ren masih menelpon, tetapi dengan ekspresi wajah yang sangat suram.
"A' Tuan Muda … apakah yang menelpon itu masih nona Miho?" tanya Hisao sedikit gugup.
"Tidak! entah siapa dia, berani sekali dia mengatakan aku gila. Apakah dia tidak menyadari kalau dia itu juga gila!" kesal Ren.
📲"Hei bocah, jangan mencari keributan." Timpal orang yang menelpon itu.
"Hehh … sepertinya aku tau siapa yang menelpon." Batin Hisao.
"Tuan Muda bisakah anda memberikan telpon itu, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu pada saya."
"Tidak bisa, sepertinya dia sudah menyinggung diriku." Jawab Rei dingin.
📲"Hei bocah! berikan telpon itu padanya, jika tidak akan ku bunuh kau!"
📲"Hehh … coba saja jika kau bisa."
Orang yang berada dalam telpon tersebut, terus menahan amarahnya. Hingga temannya pun menghampirinya dan bertanya apa yang terjadi.
"Soma ada apa denganmu?" tanya temannya.
"Kau tidak tau! dua bocah kecil ini sudah membuat emosiku hampir tak bisa ditahan!" kesal Soma.
"Siapa mereka?"
"Entahlah! aku mendengar kalau kakakku menyebut mereka dengan panggilan Rei and Ren."
"Rei and Ren? bisakah kau memberikan telpon itu padaku, biar aku yang mencoba berbicara kepada mereka."
Soma memberikan ponselnya kepada temannya.
📲"Halo …"
📲"Heh siapa lagi ini! satu saja sudah merepotkan apalagi dua!" kesal Ren.
📲"Perkenalkan namaku adalah Ogawa Tatsuya."
📲"Aku tidak membutuhkan perkenalan dirimu. Dimana temanmu yang tadi?" tanya Rei.
📲"Hhh' … aku benci dengan orang yang selalu berbicara ke intinya. Seperti dirimu, membosankan."
📲"Aku tidak peduli mau aku membosankan ataupun menjijikkan, bagiku itu semua tidak penting. Jika aku menjijikkan dimatamu maka kau lebih menjijikkan dimata ku."
📲"Hehh … bisakah aku menebak kalau kau adalah putra dari Asahi!"
📲"Aku tidak tahu. Kenapa kau tidak mencari tahu nya sendiri, jangan selalu bertanya karna belum tentu semua orang mau menjawabnya."
📲"Aku pastikan kau akan menyesal dengan perkataan mu ini."
📲"Tidak ada kata menyesal!! selagi masih ada aku dia tidak akan pernah menyesal. Siapa kau yang berani membuatnya menyesal! nyalimu tidak cukup untuk mengusirnya dari kedudukannya!!" tegas Ren.
📲"Oi oi oi, apa kau yakin? aku masih mengasihani anak kecil, jadi hargailah rasa kasihan ku."
📲"Kami tidak membutuhkan rasa belas kasihan mu!! dari pada membutuhkan rasa belas kasihan mu, lebih baik kami melanggar hukum!!"
"Siapa dia? sepertinya dia benar-benar ingin memancing kemarahan Ren, apa maunya." Batin Hisao yang sedari tadi hanya mendengarkan saja.
📲"Cih! merepotkan sekali!"
Tatsuya memberikan kembali ponsel milik Soma kepadanya, dan berjalan pergi meninggalkan Soma.
"Tatsuya kau ingin kemana?" tanya Soma.
"Aku ingin mencari udara segar. Oh' dan satu lagi, salah satu diantara mereka mirip seperti sikapmu Soma, sama-sama egois." Jelas Tatsuya.
"Ee' ya."
📲"Oi! apa kau mengacuhkan kami!"
📲"Hais sudahlah! aku tidak ingin berdebat denganmu. Bisakah berikan ponselnya pada kak Hisao?"
"Dia bukan mengalah, tapi dia tidak ingin berdebat denganmu karna kalian sama-sama egois." Timpal Rei.
"Aku tidak peduli, yang jelas bagiku dia sudah mengalah."
"Hais …"
Ren lalu memberikan ponsel Hisao kepadanya, Hisao mengambil ponsel tersebut dan mulai berbicara pada Soma.
📲"Ada apa Soma?dan itu tadi …"
📲"Dia temanku, namanya Ogawa Tatsuya. Aku menghubungi kakak hari ini ingin mengabarkan pada kakak tentang keadaan nona Miho."
📲"Ya silahkan."
📲"Hari ini dia baik-baik saja, tetapi pastinya kakak sudah tau bukan kalau seorang artis itu selalu diikuti oleh paparazi."
📲"Lalu?"
📲"Paparazi kali ini berbeda, sepertinya dia suruhan dari seseorang. Dia akan mengambil poto disaat orang menyuruhnya itu sedang berada di dekat nona Miho."
📲"Bunuh saja dia."
📲"Tanpa kakak katakan, dia sudah tiada di dunia ini. Aku sudah mengambil langkahku sendiri tanpa mengatakannya terlebih dahulu pada kakak."
📲"Kau memang seperti itu dari dulu, bahkan kau meninggalkan Sora disini tanpa mengatakan sepatah kata apapun."
📲"Aku sudah mengatakannya kalau aku akan berjalan-jalan karna aku merasa bosan."
📲"Alasan itu cukup untuk membodohi orang bodoh, tapi tidak untukku dan juga Sora. Kau mengerti Soma?"
📲" E' ya."
📲"Kalau begitu aku akan menutup telponnya, terus jaga nona Miho di sana, kau mengerti?"
📲"Baiklah."
Hisao menutup sambungan telpon itu, dan tanpa ia sadari ia terlupa kalau Rei and Ren masih ada di situ dan mendengar pembicaraannya dengan Soma.
"Waw, sepertinya aku mendengar perkataan yang seharusnya tidak kudengar. Bunuh saja dia, heh tanpa kakak katakan pun aku sudah membunuhnya." Ledek Ren.
"T'Tuan Muda, bisakah tidak mengulanginya. Saya salah mengatakan hal seperti itu di depan anda," ucap Hisao.
"Tatsuya itu sepertinya dia sengaja membuat Ren seperti itu bukan, Hisao. Dari pembicaraannya aku bisa menelaah, bahwa sama yang dia maksud bukan aku dan Ren tetapi Ren dan Soma. Benar begitu?" tanya Rei menatap Hisao dengan serius.
"Ya anda benar Tuan Muda Rei."
"Tidak kusangka kau mudah menangkap hal bodoh seperti itu ya Rei." (Ren).
"Sepertinya yang bodoh disini bukan aku, melainkan kau." (Rei).
"Aku tidak peduli." (Ren).
"Tidak peduli, Ren selalu mengatakan hal seperti itu, bertindak semaunya. Tetapi aku yang bersamanya tidak pernah mengatakan kalau sikap itu merepotkan, jadi apa maksud perkataannya." Batin Rei berpikir keras.
Rei terus berpikir untuk mencari jawaban dari perkataan Tatsuya tadi, hingga ia pun menemukan kesimpulan dari perkataan Tatsuya.
"Hei Hisao, bukankah kau mendengar kalau Tatsuya mengatakan Cih merepotkan sekali?" tanya Rei pada Hisao.
"Ya mendengarnya samar-samar, memangnya ada apa Tuan Muda Rei?" tanya Hisao balik.
"Setelah kupikirkan kembali, sepertinya kata sama itu bukan untuk Ren dan Soma, melainkan ada satu orang lagi yang mirip seperti Ren dan Soma, tetapi dia tidak menyebutkan orangnya. Ia sengaja memancing emosi Ren agar ia bisa menyamakan sikap Ren dan sikap orang itu."
"Kenapa kau berpikir sampai sejauh itu." Timpal Ren.
"Itu karna dia bukan orang yang sembarangan. Dia bisa menilaimu Ren, dan sepertinya aku bisa memanfaatkannya."
"Heh! memanfaatkan orang sepertinya, buang-buang waktu!"
"Tuan Muda Rei anda sangat pintar dan saya sangat mengakuinya. Anda selalu menyembunyikannya dari Tuan Muda Ren, tapi apa anda tau memanfaatkan yang anda katakan itu sedikit membuat saya tersenyum." Batin Hisao.
"Terserah apa yang kau katakan Ren, kau bodoh sekali."
"Bagaimana aku tidak bodoh jika kau tidak mengatakannya!"
"Begitulah dirimu Ren, kau tak ingin berpikir dan selalu mengatakan semuanya tanpa memikirkan perasaan orang lain."