The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Penuh siasat



Mereka berdua mulai membereskan mayat Kenzo, Sora mencari kotak yang cukup besar untuk meletakkan mayatnya.


Mayat itu di bungkus dengan sangat rapat hingga berbentuk sebuah paket yang besar.


Mereka membawa kotak itu dan menurunkannya di sebuah gang, setelah meletakkan kotak itu di sana mereka lalu pergi. Sora membawa Hisao pergi ke markas Yakuza.


Sesampainya di markas Hisao berjalan masuk, seluruh pandangan anggota Yakuza tertuju pada Hisao yang datang bersama Sora dengan keadaan pundaknya yang berdarah akiba adu tembak dengan Kenzo.


"Bukankah tuan Asahi tidak ada, kenapa salah satu dari kalian tidak bisa menerima salah satu orang baru yang mau masuk ke dalam anggota Yakuza?" tanya Hisao menatap dingin semua orang di situ.


Melihat tatapan dingin dan perkataan Hisao yang seakan-akan ingin memakan mereka sekaligus, dengan mulut gemetar mereka mengatakan alasannya.


"E' T'Tuan Hisao, tuan Asahi mengatakan kalau dia tidak bisa menerima Soma." Jawab mereka.


"Kenapa kalian tidak mengatakan kalau Soma adalah kembaran Sora?"


"Kami sudah mengatakannya, tapi melihat data dari Sora tuan Asahi hanya menghela napas dan memintanya untuk pergi."


"Kak Hisao aku rasa data Soma berhubungan dengan dia." Timpal Sora.


"Ternyata seperti itu, aku tidak bisa membiarkan Soma sendirian saja di rumah. Aku akan memaksa tuan Asahi menerimanya mau ataupun tidak mau, ayo kita pergi Sora."


Hisao dan Sora lalu pergi meninggalkan markas dan kembali pulang ke rumah keluarga besar Saito.


Setibanya mereka di rumah keluarga besar Saito ternyata Asahi juga ada di sana, Sora dan Hisao pun masuk.


Ketika masuk Hisao menyadari kalau Miho tidak ada di rumah.


"Nona Miho, apakah dia menjemput tuan muda Rei dan tuan muda Ren. Sepertinya aku harus menjelaskan kepada tuan muda kenapa aku tidak bisa menjemputnya di sekolah." Batin Hisao.


"Tuan Asahi-"


"Berhenti berbicara Hisao! aku tau apa yang ingin kau katakan padaku. Yuka sebaiknya kau masuk ke dalam kamarmu." Sela Asahi.


Yuka tidak mengatakan apa-apa, ia menjauh dari Asahi dan pergi menuju kamarnya. Sebelum ia menaiki tangga, ia melihat Hisao dan tersenyum kecil pada Hisao.


"Wanita j*l*ng, suatu hari akan ku buat mulutmu itu tidak bisa tersenyum." Bisik Sora.


"Tenangkan dirimu Sora, kau tidak melihat Tuan Asahi sudah menatap kita sedari tadi." Bisik Hisao.


"Apa yang sedang kalian bicarakan di sana, duduklah disini. Bukankah kau ingin berbicara denganku Hisao? tentang kembarannya Sora." (Asahi).


"Tidak pantas bagi kami untuk duduk. Kami sedang memohon bukan bernegosiasi."


"Kalau begitu di tempat kalian itu, tolong berlutut lah di situ."


"Ha! aku-" (Sora).


"Sora berlutut saja." (Hisao).


"Cih!"


Hisao dan Sora berlutut, Asahi lalu berjalan menuju Hisao dan Sora yang sedang berlutut.


Ketika sudah sampai di hadapan mereka berdua, Asahi melayangkan tendangan di wajah Hisao tetapi Hisao menahannya dan ia masih berlutut di tempatnya.


"Oi Hisao, sepertinya kau sudah sedikit membantah perintah ku ya."


Sora yang melihat itu lantas tidak terima atas perilaku Asahi pada Hisao, dia lantas ingin berdiri dan memukul wajah Asahi tetapi Hisao menahannya hingga membuat Sora tetap berlutut di tempatnya dengan perasaan geramnya pada Asahi.


Setelah menendang Asahi lalu menarik rambut Hisao dengan kuat sampai membuat kepala Hisao terdongak ke atas, Asahi mulai menampari wajah Hisao dengan keras hingga membuat hidung Hisao mengeluarkan darah serta bibirnya yang pecah akibat tamparan itu.


Sora yang sudah sangat geram tidak bisa melakukan apa-apa, dia tetap menuruti perkataan Hisao.


Tepat disaat itu Miho yang baru saja pulang menjemput Rei and Ren mendengar suara berisik dari dalam rumah, Miho merasa ada yang tidak beres. Ia lalu meminta Rei and Ren berlari masuk ke dalam rumah untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Miho bergegas berjalan ke arah Hisao yang tengah di tampari oleh Asahi, ketika sudah sampai Miho berhenti dan bersamaan Asahi juga berhenti melayangkan tamparan nya pada Hisao.


"Ada apa? kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Asahi menatap kesal Miho.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Asahi, Miho melayangkan tamparan di wajah Asahi dengan keras sampai membuat gema di ruang tamu tersebut.


*Plakkk


Tamparan itu membuat wajah Asahi tertoleh.


"Kau bertanya padaku Asahi! kenapa kau tidak menanyakan itu pada dirimu sendiri! kau melakukan kekerasan di hadapan anak-anakmu. Aku tidak mengerti apa yang disukai kakak ku padamu, kau seperti ini layaknya monster." Tegas Miho.


"Ha … apa? apa yang sudah kulakukan? kenapa aku melakukan ini … aku seperti terhipnotis." Batin Asahi tercengang.


"Rei, Ren masuk ke dalam kamar kalian Ibu ingin berbicara dengan Ayah kalian ini." Pinta Miho pada Rei and Ren.


Rei and Ren menuruti perkataan Miho lalu masuk ke dalam kamar mereka, sedangkan Sora membawa Hisao pergi ke kamar Hisao di rumah itu untuk mengobati luka nya.


"Apa yang terjadi pada dirimu Asahi. Kau bukanlah Asahi yang dikenal oleh kakak ku, tetapi kau adalah Asahi yang di kenal oleh orang luar layaknya monster lalu kau bertemu dengan kakak ku."


"Heh' apa yang kau katakan."


"Kau melihat kakak ku seperti cahaya jadi kau mendekatinya, kau berpikir kau bisa merenggut cahaya itu tetapi malah jiwa kegelapanmu itu yang di renggut oleh kakak ku, bukan begitu?"


"Jangan berbicara omong kosong!! hentikan, kata-katamu itu menghipnotis diriku!"


"Anggap saja seperti itu! aku adalah seorang penyihir yang datang ke rumah ini. Ingat satu hal Asahi, aku bisa mendapatkan satu hal apa yang kakak ku berikan padamu jadi kau harus berusaha agar aku tidak bisa mendapatkan mereka."


Setelah mengatakan itu Miho laku pergi meninggalkan Asahi sendiri di ruang tamu.


"Apa … apa yang sudah kulakukan? bukan ini yang kuinginkan. Apakah perkataannya benar, sepertinya aku sudah melangkah terlalu jauh … aku harus kembali."


★★★


Beralih ke Miho yang pergi meninggalkan Asahi, ia berjalan menuju kamarnya Rei and Ren.


Ketika masuk ke dalam kamar Rei and Ren langsung memeluk Miho sambil menangis.


"Hiks … Ibu aku takut melihat ayah seperti itu." Tangis Rei.


"Kenapa ayah melakukan itu pada paman Hisao, hiks …" lirih Ren.


"Sudah tenangkan diri kalian anak-anakku, mungkin saja paman Hisao sedikit bersalah," ujar Miho memeluk Rei and Ren dengan lembut sembari menenangkan mereka.


"Tetapi wajahnya sudah di penuhi oleh darah." (Rei).


"Apa kalian takut?"


Mereka berdua mengangguk.


"Tenanglah ada Ibu bersama kalian."


"Ini pasti rencana Hisao." Batin Rei and Ren.


★★★


Beralih pada Hisao yang sedang di obati oleh Sora.


"Kenapa Kakak menghalangiku untuk memukul wajah Asahi tadi! jika Kakak tidak menghalangi maka wajahnya juga akan sama seperti Kakak!" kesal Sora.


"Jika aku tidak menghalangi mu maka rencana yang ku tidak akan berjalan lancar, dan rencana yang dia buat tetap berjalan sesuai alur." Jelas Hisao.