The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Siapa "Dia"



"Oh' ternyata begitu, baguslah. Oh' iya Hisao, terimakasih sudah menjaga Rei and Ren selagi aku tidak ada di sini. Kau pasti kerepotan menjaga mereka bukan?" tanya Miho pada Hisao.


"Emm' sebenarnya saya tidak menjaga tuan muda seorang diri, masih ada bibi Emi serta Sora yang membantu saya." Jawab Hisao.


"Sora? siapa?"


"Hhh' dia adalah adik angkat saya."


"Emm' namanya sedikit mirip dengan orang yang kutemui di bandara."


"Ha' apakah anda pernah bertemu dengannya?"


"Waktu itu aku bertemu dengannya di bandara, ketika aku ingin pulang. Aku tak sengaja menabraknya, dia terus meminta maaf padaku walaupun bukan dia yang salah dan dia memberikan kartu namanya jika seandainya aku nanti meminta ganti rugi."


"Hee … gawat sekali ini." Batin Hisao.


"Tapi aku tidak mengambilnya. Aku memaafkannya lalu pergi meninggalkan nya."


"Ohh' ternyata seperti itu."


"Kalau begitu, aku ingin menemani Rei and Ren bermain di halaman depan, sebaiknya kau juga ikut Hisao."


"A'e' iya Nona saya akan ikut, tapi setelah saya meletakkan koper anda di kamar anda."


"Terimakasih. Oh' ya di mana paman dan bibi?"


"Hehh … ketika Rei and Ren pergi dari rumah, tuan besar dan nyonya besar mengatakan kalau mereka akan pergi berlibur keluar negeri. Karna mereka juga tidak betah di rumah atas kedatangan Yuka, tidak mungkin aku mengatakannya yang sebenarnya bukan." Batin Hisao.


"Hisao kenapa kau diam?"


"Aa' begini Nona Miho, kemarin tuan dan nyonya besar kalau mereka ingin berlibur ke luar negeri dan bersantai santai menikmati hari tua mereka lagi."


"Hehh' cepat sekali perginya. Yasudah lah kalau begitu aku akan pergi lebih dulu ke halaman depan."


"Baiklah Nona."


"Bagaimana tidak cepat, sedangkan hama saja sudah datang ke rumah ini. Belum lagi tumbuhan di pinggir jalan sudah menjalar masuk ke dalam rumah." Batin Hisao.


Miho berjalan pergi ke halaman belakang dan bergegas menemui Rei and Ren di sana.


Ketika masuk ke dalam rumah dan berjalan melewati ruang tamu, Miho melihat Yuka tetapi dia tidak melihat keberadaan Asahi di ruang tamu itu.


"Miho sudah lama tidak bertemu denganmu, bagaimana kabarmu?" tanya Yuka pada Miho.


"Kau tidak perlu tau lagipula itu tidak ada urusannya denganmu, mau aku baik, mau aku sakit, tidak ada untung dan tidak ada ruginya untukmu." Ketus Miho.


"Eh' jangan seperti itu, sekarang ini aku adalah istrinya Asahi."


"Aku tidak peduli. Walaupun kau istri tetapi kau bukan ibu di mata Rei and Ren."


"Kedua bocah kembar itu masih belum terbiasa denganku, jika mereka sudah terbiasa denganku maka mereka akan mencampakkan mu juga."


"Mereka punya nama! nama mereka adalah Rei and Ren. Jika ku dengar kau menyebut mereka dua bocah kembar lagi, akan ku jahit mulutmu!"


"Heh' kau kira aku tak-" Yuka menghentikan perkataannya, dan bergegas kembali ke kamarnya sendiri.


"Kenapa dengan wanita itu? sebaiknya aku bergegas pergi ke halaman depan." Batin Miho.


★★★


Beralih ke Yuka yang berada di dalam kamarnya.


"Tatapan pria itu seakan-akan mengatakan kalau aku bisa mati jika aku meneruskan perkataan ku itu. Aku harus menyuruh dia untuk mencari tau tentang pria itu." Batin Yuka.


★★★


Beralih ke Hisao yang sudah meletakkan koper Miho di dalam kamar yang sudah di siapkan oleh bibi Emi.


"Ternyata dia tau tentang rasa takut juga ya. Orang sepertinya akan cepat mati." Batin Hisao.


"Hmm' tapi sepertinya aku harus membawa Sora kesini, karna membiarkan rubah berkeliaran di rumah ini sangatlah tidak baik. Walaupun si rubah ini akan kalah dengan siluman rubah yang berada di dalam rumah ini." Gumam Hisao.


★★★


Kembali ke Miho yang sedang menemani Rei and Ren bermain sepeda di halaman depan rumah.


"Lihatlah Paman Hisao! bukankah aku sangat pandai dalam bermain sepeda, ini adalah hal kecil," ujar Ren membanggakan dirinya.


"Hhh' ya benar apa yang anda katakan Tuan Muda, tapi apakah anda tau kalau orang yang sombong seperti anda ini akan sangat cepat mendapatkan karma." Jawab Hisao.


"Ha!"


Benar saja apa yang dikatakan oleh Hisao, Keseimbangan Ren mulai goyah dan ia pun terjatuh dari sepedanya.


"Eh … apakah aku mengutuknya." Batin Hisao.


"Ren!!" teriak Miho mendekati Ren yang terjatuh.


"Eh' aku terjatuh. Ternyata yang dikatakan oleh Paman Hisao benar." Ucap Ren.


"Apa kau tidak apa-apa Ren? dimana yang terluka? katakan pada Ibu," ujar Miho cemas.


"Tidak apa-apa Ibu, Ren tidak apa-apa. Lutut Ren hanya sedikit terluka, jadi ibu jangan khawatir."


"Bagaimana Ibu tidak khawatir jika melihatmu seperti ini, ayo Ibu akan mengobatinya."


Miho mulai mengobati lutut Ren yang terluka, kejadian saat Ren terjatuh dari sepeda itu juga ikut di saksikan oleh Yuka. Yuka hanya tersenyum tipis melihat kejadian itu.


★★★


Di sore harinya disaat Rei and Ren sudah selesai membersihkan diri dan juga Miho, mereka sedang bermain-main di ruang tamu. Suara tawa mereka bergema di rumah itu.


Tak selang berapa lama Asahi yang baru saja pulang bekerja lalu masuk ke dalam rumah, berapa senangnya ia melihat Rei and Ren tertawa lepas tanpa beban.


"Sudah lama aku tidak melihat mereka seperti ini, aku melihat mereka seperti ini saat dirimu ada di sampingku Narumi." Batin Asahi tersenyum tipis.


Yuka yang baru saja keluar dari dalam kamarnya melihat Asahi yang baru saja pulang bekerja, ia lantas mendatangi Asahi.


"Kau sudah pulang, apa kau ingin mandi?" tanya Yuka pada Asahi.


"Ya." Jawab Asahi singkat.


Miho yang tadinya sedang asik bermain bersama Rei and Ren, melihat Asahi yang baru saja pulang ia pun langsung menghentikan permainannya bersama Rei and Ren.


Rei and Ren lantas keheranan kenapa Miho menghentikan bermain bersama mereka.


"Ada apa Bibi? kenapa Bibi berhenti?" tanya Rei menatap Miho.


"Rei, Ren Ayah kalian sudah pulang. Sebelum dia pergi mandi, sebaiknya kalian menyambut nya pulang terlebih dahulu." Jelas Miho.


"Hmm' baiklah, tapi apakah Bibi tidak ikut?" tanya Ren.


"Tidak."


"Ehh' kenapa?"


"Ee' Bibi hanya tidak mau saja."


"Kalau begitu kami juga tidak mau!"


"E' Ren tidak boleh seperti itu, kalian harus patuh pada Ayah kalian."


"Iya kami tau. Tapi bukankah Bibi adalah Ibu kami, ibu dulu sering menyambut Ayah ketika pulang bekerja. Kenapa Ibu Miho tidak mau." Timpal Rei.


"Ee' … hehe' tidak salah apa yang dikatakan mereka." Batin Miho terdesak.


"Baiklah kalau begitu Bibi akan ikut."


Rei and Ren lalu memegang kedua tangan Miho dan menariknya untuk bertemu dengan Asahi.


"Ayah Ayah!" teriak Ren memanggil Ayahnya.


Asahi menoleh ke arah anaknya itu." Iya ada apa Ren?"


"Apakah Ayah tau, tadi aku dan Rei di ajari oleh-"


Sebelum Ren selesai berbicara apa, Asahi langsung bertanya pada Ren tentang luka yang ada di lututnya.


"Ren kenapa dengan lututmu?"