
"Rei, Ren apa yang sebenarnya terjadi? kenapa bisa terjadi seperti ini?" tanya Miho gugup menatap Rei and Ren.
"Rei, Ren kenapa kalian ribut sekali, apa kalian tidak melihat Ayah sedang tidur,"ucap Asahi dengan matanya masih tertutup dan tak sadar apa yang terjadi.
Ketika Asahi membuka matanya, ia terkejut kalau ia sedang memeluk Miho. Miho dan Asahi saling bertatapan.
"Ayah dan Ibu sangat cocok," ujar Ren tersenyum.
Sontak Asahi langsung menarik tangannya dari memeluk Miho, ia lalu turun dari tempat tidur.
"M'Maafkan aku." Kata Asahi gugup.
"Bodoh!" Miho menyelimuti kembali tubuhnya dengan selimut.
"Rei, Ren pergilah kembali ke kamar kalian, karna kalian harus bersiap-siap pergi ke sekolah. Ayah akan mengantar kalian."
"Tapi kami ingin pergi bersama Ibu juga." Timpal Rei.
"Iya iya Ibu kalian akan ikut. Kalau begitu kembali ke kamar kalian dan bersiap-siap."
Mereka pun pergi keluar dari dalam kamar Asahi, saat ingin menutup pintu mereka berdua menanyakan tentang Miho.
"Ayah, Ayah menyuruh kami kembali ke kamar kami lalu bagaimana dengan Ibu?" (Rei).
"Mungkin Ibu kalian masih ingin tertidur, biarkan saja."
"Baiklah kalau begitu."
Rei and Ren lalu pergi dan menutup kembali pintu kamar Asahi. Sedangkan Asahi mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Ketika Asahi sudah masuk ke dalam kamar mandi Miho menyingkirkan selimut yang menyelimuti tubuhnya, dan bergegas beranjak dari tempat tidur.
"Asahi kau sangat bodoh!!" teriaknya.
Setelah meneriaki Asahi seperti itu Miho berjalan keluar dari kamar Asahi.
Sementara Asahi yang berada di kamar mandi, ia menyalakan shower. Air mulai membasahi tubuh beserta pakaian yang masih belum dilepaskan, sambil menatap kedua tangannya Asahi bergumam sendiri.
"Hangat …" Gumamnya.
"Terlihat hangat, terlihat tegar tapi sangat lemah, mudah rapuh tapi tak mudah menyerah, seperti itu yang kurasakan saat memeluk dirimu." Batinnya.
★★★
Beralih ke Miho yang sudah selesai membersihkan dirinya, ia langsung pergi ke dapur untuk memasak sarapan pagi.
Seusai memasak Miho menunggu Asahi Rei and Ren di meja makan, bersamaan dengan itu Asahi, Rei and Ren pun turun dengan pakaian yang rapi mereka menghampiri meja makan.
Saat duduk di kursi meja makan Miho mulai mengambilkan sarapan untuk Rei and Ren dan melewatkan Asahi, ketika Miho ingin duduk dan makan Asahi menyinggung nya.
"Aku kepala rumah tangga disini, lalu kenapa mereka berdua yang lebih dulu kau ambilkan makanan." Cibir Asahi.
"Ha' bukankah biasanya kau mengambilnya sendiri. Lagipula kau punya istri, kenapa tidak kau minta saja istrimu untuk mengambilkan nya." Ketus Miho.
Asahi menutup mata dan melipat tangannya. "Haih … kau tidak lihat disini ada siapa saja? hanya ada kau aku Rei and Ren. Lagipula Rei and Ren telah menganggap mu sebagai seorang Ibu dan otomatis kau itu adalah istriku."
Seketika hati Miho berdegup kencang mendengar perkataan Asahi, ia pasrah lalu mengambilkan makanan untuk Asahi dan duduk kembali di tempatnya.
Tidak habis di situ, ketika mereka sedang asik makan Asahi berkomentar dengan masakan Miho.
"Miho makananmu hari ini rasanya berbeda dari sebelumnya."
"Kenapa kau terus berkomentar, hanya makan saja kau terlalu banyak berkomentar. Apakah seperti ini dirimu saat makan?"
"Tidak, aku hanya memberikan tanggapan ku."
"Aku tidak butuh tanggapan mu!"
"Tapi bukankah lebih baik kau mendapatkan kritikan dari orang lain tentang masakan mu ini?"
"Dia benar sih, lagipula saat aku belajar masak dengan kak Narumi dia tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengatakan kalau masakan aku itu enak dan aku juga merasa begitu. Tapi walaupun begitu aku belum mendapatkan kritikan dari orang lain." Batin Miho.
"Masakanmu hari ini sangat enak dan berbeda dari hari hari sebelumnya."
Mendapati kritikan seperti itu Miho yang sedang makan pun tersedak, Asahi langsung mengambilkan minum untuknya. Dengan sigap Miho mengambil air minum yang di berikan Asahi dan meminumnya.
"Ayah menggoda Ibu seperti itu layaknya sebuah lukisan yang tidak ada seni." (Rei).
"Hmm' setidaknya jika ingin menggombali seseorang itu harus menatap matanya dan katakan apa yang ingin kita katakan." (Ren).
"Benarkah seperti itu?" (Asahi).
Rei and Ren melipat tangan mereka. "Hmm!"
Miho yang sudah selesai minum langsung memarahi Rei, Ren dan Asahi. "Apa yang kalian bicarakan! kalian seperti anak anak!"
"Tapi kami memang anak-anak …" (Ren).
"Emm' siapa suruh Ayah meminta saran dari kami." (Rei).
"Asahi!"
"Aku tidak tau apa yang harus kulakukan, walaupun aku dalam kebimbangan setidaknya aku melakukan apa yang ingin aku lakukan. Hal seperti ini aku belum pernah mengalaminya dengan Narumi." Batin Asahi.
Asahi berdiri dari tempat duduknya. "Rei, Ren ayo Ayah akan mengantar kalian ke sekolah."
"Ayo!" teriak Rei and Ren bersemangat.
Melihat tingkah laku Asahi, Miho hanya bisa terdiam sambil kebingungan.
"Memang benar, Asahi tak pernah melakukan hal seperti itu kepada kakak. Lagipula aku masih muda dan seharusnya pasanganku juga harus sama denganku, tetapi hati ini sudah terjerat dengan seorang duda beranak kembar."
Miho memanggil bibi Emi untuk membersihkan meja makan, dan ia berjalan pergi menyusul Asahi, Rei and Ren.
Ketika sudah sampai di depan rumah, Asahi langsung meminta Miho untuk masuk ke dalam mobil. Miho menurutinya dan duduk di belakang bersama Rei and Ren, saat Asahi masuk ia melihat kebelakang.
"Kenapa kau duduk dibelakang bersama Rei and Ren? bukankah di depanku ini masih kosong." (Asahi).
"Tidak apa-apa, tidak perlu kau tanyakan. Aku suka duduk bersama mereka berdua."
"Oh' jadi kau tidak suka duduk di sampingku?"
Sontak mendengar itu Miho tersipu malu, ia lantas menundukkan kepalanya sampai wajahnya tertutupi oleh rambut.
"T'Tidak apa aku di sini saja, lagipula di sampingmu telah di tempati oleh orang lain."
Tanpa membalas perkataan Miho, Asahi langsung menjalankan mobilnya.
Di perjalanan menuju sekolah Rei and Ren suasana di dalam mobil sangat canggung, tidak ada yang membuka obrolan dan Asahi hanya fokus mengendarai mobil.
Miho sibuk berpikir kenapa sikap Asahi berubah drastis sedangkan Rei and Ren merasa bahagia dengan perubahan Ayahnya yang sangat pesat.
Sesampainya di sekolah Rei and Ren beserta Miho yang duduk bersama mereka keluar dari dalam mobil.
Melihat Miho semua orang tua wali murid di sana terpukau olehnya di tambah lagi ada Asahi yang berada di sampingnya.
Beberapa wali murid datang menghampiri mereka berempat.
"Eh' Nyonya Miho senang bertemu anda secara langsung, saya mendengar kabar kalau anda adalah istri dari Tuan Asahi. Apakah itu benar?" tanya seorang wali murid¹.
"Tentu saja! apakah Bibi tidak bisa melihatnya." (Rei).
"Rei tidak baik berbicara seperti itu." (Asahi).
"Hari ini Babysitter nya gak dibawa?" wali murid².
Mendengar pertanyaan itu Miho hanya terdiam dan tidak berkata apa-apa.
"Babysitter? siapa?"