The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Permintaan Maaf Asahi



"Aku menantikan nya," ujar Rei menyeringai.


"Tuan Muda, saya mengabdi pada anda. Jika terjadi sesuatu pada anda, maka silahkan penggal kepala saya." Hisao bertekuk lutut menundukkan kepalanya.


"Hei hei bukankah itu sangat keterlaluan." Timpal Ren.


"Tidak. Ketika saya masuk ke dalam anggota Yakuza, inilah sumpah saya."


"Sumpah mu terlalu berlebihan." (Rei).


Pembicaraan mereka berakhir, karna Miho dan bibi Emi telah pulang berbelanja masakan kesukaan Rei and Ren.


Mengetahui Miho dan bibi Emi telah pulang, Hisao, Rei and Ren berpura-pura menonton TV.


"Ehh' Rei, Ren apa kalian menjadi anak yang baik? kalian tidak menyusahkan Paman Hisao kan?" tanya Miho yang baru saja pulang berbelanja.


"Tentu saja tidak!" jawab mereka serentak.


"Kami anak yang baik, tidak mungkin melakukan hal yang merepotkan Paman Hisao." (Rei).


"Yaa benar tidak merepotkan diriku, tetapi mengancam nyawaku. Sangat menantang." Batin Hisao.


"Kalau begitu Bibi akan membuatkan masakan kesukaan kalian!"


"Yey!!" teriak mereka kegirangan.


Miho dan Bibi Emi pergi ke dapur untuk memasak, sedangkan Hisao, Rei and Ren masih berada di ruang tamu sambil menonton TV.


Tak berapa lama menunggu makan siang akhirnya sudah siap. Disaat itu Asahi pulang dengan membawa sebuah mainan bersamanya.


"Rei, Ren kalian ada dimana!" teriak Asahi mencari keberadaan Rei and Ren.


"Tuan, Tuan Muda kecil sedang berada di meja makan, ini sudah waktunya makan siang." Jelas Hisao pada Asahi.


"Oh' ternyata begitu." Asahi pergi ke meja makan sambil membawa mainan itu bersamanya.


Sesampainya Asahi di meja makan Rei and Ren melihat Ayahnya yang membawa mainan, mereka saling menatap seolah-olah mengerti apa maksud Ayahnya membawa mainan, dan mengangguk.


"Rei, Ren Ayah membawakan sesuatu untuk kalian, tapi dengan syarat kalian harus memaafkan Ayah." Tawar Asahi pada Rei and Ren.


"Apakah memberikan sebuah mainan harus memakai syarat?" tanya Rei.


"Tentu saja, karna Ayah mengaku kalau Ayah lah yang salah." Asahi mencubit pelan hidung Rei.


"Kenapa baru sekarang sadarnya, kenapa gak dari kemarin. Bukankah ini sudah terlambat." Ketus Ren.


"Tentu saja Ayah tidak terlambat. Bukankah Ayah sudah meminta maaf." Asahi juga mencubit pipi Ren.


"Ayah! hidung ku jadi sakit!!" gerutu Rei.


"Ayah! pipiku sakit!!" kesal Ren.


Asahi tertawa melihat wajah kesal kedua putranya yang telah di kerjainnya.


Miho yang melihat itu lantas tersenyum sembari menghidangkan makanan di meja makan.


"Ayah tidak ingin kalian terluka, apalagi kalau kalian menjauh dari Ayah. Ayah tidak bisa membiarkan itu terjadi, karna kalian harta berharga yang di tinggalkan oleh ibu kalian untuk Ayah."


Mendengar perkataan dari Asahi membuat wajah Miho yang tersenyum menghilang seketika.


"Jadi kami adalah harta berharga milih Ayah." (Rei).


"Ya."


Rei and Ren saling menatap dan mengangguk.


"Jika kami harta berharganya Ayah, maka bolehkah kami meminta sesuatu agar kami bisa memaafkan Ayah." (Ren).


"Tentu saja. Apa yang ingin anak Ayah minta?"


"Minta maaf lah pada Bibi Miho atas perlakuan Ayah." Jawab mereka serentak.


Asahi yang mendengar permintaan anaknya itu sontak terdiam dan membuat Miho yang ingin duduk di bangku meja makan pun mengurungkan niatnya.


"Heh!" kaget Miho.


"Rei, Ren apakah itu permintaan kalian? atau ini hanya akal-akalan dari-"


"Rei, Ren sudahlah jangan di bahas lagi, sebaiknya kalian makan."


"Maafkan aku." Ucap Asahi pada Miho.


"Apakah aku salah dengar? Kak Asahi meminta maaf padaku." Batin Miho.


"Tidak apa." Jawab Miho.


"Maafkan aku. Kau hanya bisa menjawab aku memaafkan mu atau tidak memaafkan mu."


"Ee' aku memaafkan mu Kak Asahi."


"Nah begitu, dan untuk seterusnya Ayah tidak boleh marah pada Bibi Miho." (Rei).


"Baiklah baiklah, kalau begitu mari kita makan."


"Walaupun itu adalah permintaan maaf secara terpaksa, itu sudah membuatku bahagia. Dan soal kemarahannya padaku itu sudah tidak bisa di bendung lagi, dia tetap akan memarahiku di belakang Rei and Ren."


Mereka pun makan siang bersama.


Seusai makan siang Miho meminta Rei and Ren untuk masuk ke kamar mereka agar tidur siang. Sedangkan Miho dan Asahi berada di ruang tamu.


"Kau jangan senang dengan permintaan maaf ku, kau tau itu hanya terpaksa dan tidak lebih dari itu." Jelas Asahi dingin pada Miho.


Miho hanya terdiam mendengar penjelasan dari Asahi.


"Dan lagi, di depan Rei and Ren kau harus pura-pura bahagia. Jangan menunjukkan wajahmu yang sedih di depan mereka, kau mengerti?"


"Tanpa Kakak katakan pun aku sudah mengerti. Apakah hanya itu yang ingin Kakak katakan, jika tidak ada keperluan lagi aku ingin masuk ke kamarku."


"Bukankah beberapa hari lagi kau akan kembali ke luar negeri?"


"Ya lalu kenapa?"


"Pergilah dan jangan pernah kembali lagi."


"Kau hanya Kakak iparku bukan Kakakku. Kakakku menitipkan Rei and Ren padaku, jadi jika kau menyuruhku untuk pergi itu percuma, aku tidak akan menuruti perkataanmu."


Setelah mengatakan itu Miho pergi meninggalkan Asahi dan kembali ke kamarnya. "Kakak aku sudah sangat berusaha dan sudah sampai di titik ingin menyerah, tapi di saat itu pula kedua putramu selalu bisa membuat jalan keluar untukku."


****************


Dua hari berlalu begitu cepat, Miho terus berpura-pura bahagia di depan Rei and Ren. Dia berusaha untuk tidak mencari kesalahan di depan mata Asahi.


Perlahan-lahan sebuah bibit tumbuh di dalam hatinya Miho, ia berusaha menanam perasaan pada Asahi.


Di hari itu tepat pukul 05:00 Miho ingin berangkat pergi ke bandara, sebelum pergi ia masuk ke dalam kamar Rei and Ren untuk menaruh sepucuk surat di situ.


Tidak lupa pula ia mengecup kening Rei and Ren yang masih tertidur sebagai tanda perpisahannya.


Seusai memberikan tanda perpisahan Miho pergi ke dapur untuk menaruh sepucuk surat juga di sana.


Dengan perlahan-lahan ia pergi ke luar melewati pintu dan menutup pintu secara perlahan. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya. "Nona!"


"Hisao! kau membuatku terkejut." Kaget Miho.


"Maafkan saya Nona. Apakah anda sudah siap, kalau begitu mari kita berangkat," ucap Hisao.


"Ya."


Miho pergi dengan Hisao menaiki mobil pribadi milik Hisao sendiri.


Di perjalanan Miho dan Hisao mengobrol ringan. "Hisao, aku menitipkan Rei and Ren padamu. Tolong jaga mereka sampai aku kembali lagi, dan perhatikan makan mereka. Oh' dan juga bisakah kau memberikan nomor telpon mu padaku?"


"Heh' saya bukan babysitter Nona, tapi itu tidak masalah. Lagipula baru pertama kali seorang artis terkenal meminta nomorku."


"Aku memintanya karna aku mungkin akan menelpon mu dan memintamu untuk memberikan telpon itu pada Rei and Ren."


"Ya saya mengerti Nona, saya akan memberikan nomor saya kepada anda."


Miho dan Hisao saling bertukaran nomor telpon mereka masing-masing.


Tak berapa lama mereka akhirnya sampai di bandara, Miho masuk dan pergi meninggalkan Hisao.