
Teriakan Ren terdengar oleh Rei dan Hisao yang baru saja datang menyusul Ren di halaman belakang.
"Tuan Muda Ren ada apa?" tanya Hisao cemas.
"Kau tidak tau! Tatsuya ini sudah meremehkan ku!" kesal Ren.
"Maksud anda apa Tuan Muda?"
"Apa yang dia katakan padamu Ren?" tanya Rei pada Ren.
"Kau tau, dia mengatakan kalau dia adalah hacker terkenal yang ditakuti oleh dunia. Nama samarannya adalah Kenzo."
"Untuk apa dia menelpon, dan dari mana dia mendapatkan nomor telpon ku." Timpal Hisao.
"Dia menelpon menggunakan ponsel milik Soma."
"Aku tidak tau kapan Tuan Muda Rei mengetahui kalau Tatsuya adalah seorang hacker, hingga ia dengan percaya diri mengatakan kalau Ren adalah kartu As nya." Batin Hisao.
"Sudahlah, dia tidak akan berani melukai keluarga ini. Selama masih ada seseorang yang mirip seperti, orang yang penting bagi dirinya disini." Jelas Rei.
"Apa maksudmu Rei! dia saja mengatakan kalau dia bisa menghancurkan keluarga ini dalam waktu beberapa menit."
"Heh' aku percaya dengan kata-kata nya, cuma aku tidak mengakui tekadnya. Hanya itu, oh' ya apa yang bibi Miho katakan?"
"Dia menitipkan salam padamu, jadi anak yang baik dan tidak boleh melukai orang lain."
"Oh' ternyata begitu, baiklah aku mengerti."
"Ya sudahlah, sebaiknya kita masuk ke dalam kamar."
Rei and Ren pergi ke kamar mereka meninggalkan Hisao sendiri di halaman belakang.
"Menarik. Aku bahkan lengah ketika kau mendapatkan informasi dari orang lain, tuan muda Rei anda benar-benar licik."
Sesampainya Rei and Ren di kamar, Ren memutuskan untuk tidur siang. Sedangkan Rei duduk di meja belajar sambil membaca sesuatu.
"Terkadang meminta bantuan dari Sora itu sangatlah bagus, hanya dengan selembar kertas saja aku sudah mengetahui semuanya kalau Tatsuya adalah Kenzo." Batin Rei memegang selembar kertas.
"Tinggal menunggu waktu kapan wanita itu bergerak dan aku akan menjalankan rencanaku." Gumam Rei pelan.
****************
Tak terasa setengah tahun sudah berlalu, dihari itu Osamu dan Asami telah pulang dari liburan menikmati hari tua mereka.
Kedatangan mereka disambut meriah oleh Rei and Ren termasuk juga Asahi. Mereka menyambut kepulangan Osamu dan Asami dengan perayaan kecil-kecilan di malam hari.
Perayaan itu berlangsung hingga ada tamu yang tidak di undang datang ke pesta perayaan tersebut.
"Permisi, apakah Asahi ada di rumah?" tanyanya pada penjaga gerbang.
"Anda siapa Nona? apa anda sudah membuat janji dengan tuan?" tanya penjaga balik.
"E' ya."
"Oh' kalau begitu silahkan masuk, tuan ada di dalam."
"Terimakasih."
Wanita itu berjalan masuk ke dalam rumah dan melihat kalau orang-orang yang berada di dalam rumah sedang merayakan kepulangan Osamu dan Asami.
Hisao yang melihat kedatangan wanita itu, tanpa berpikir panjang langsung menghampirinya.
"Nona Yuka, senang bertemu dengan anda." Sapa Hisao.
"E' ya, siapa kau? bagaimana kau bisa tau namaku?" tanya Yuka pada Hisao.
"Saya asisten pribadi Tuan Muda Rei and Ren. Ah' apakah anda ingin bertemu dengan Tuan?"
"Ya, bisakah panggilkan dia."
"Heh' kau bercanda Yuka? ada seseorang yang menantimu, maka akan ku bawa kau menemuinya." Batin Hisao menyeringai.
"Hhh' tidak baik mengganggu pesta orang lain Nona Yuka, bagaimana kalau anda ikut bergabung?"
"A' tapi …"
Tanpa berbasa-basi lagi Hisao menarik tangan Yuka dan membawanya pergi menemui Asahi.
"Maaf mengganggu Tuan, sepertinya Nona Yuka sedang mencari anda."
"Hisao, sepertinya kau sengaja menyeretnya kemari demi menarik perhatian ku." Batin Rei.
"Cih! wanita jelek mana yang Ayah pungut. Apakah Ayah tidak bisa menilai seorang wanita." Batin Ren merasa jijik melihat Yuka.
"Ayah siapa Bibi ini?" tanya Ren pada Ayahnya.
"Hhh' dia adalah teman ibu kalian." Jawab Asahi.
"Benarkah?"
Yuka berjongkok sambil tersenyum ia mengulurkan tangannya untuk mengucapkan salam perkenalan pada Rei and Ren. "Halo Rei, Ren nama Bibi adalah Yuka. Jadi panggil saja Bibi Yuka."
"Ayah apakah dia ibu sambung kami." Timpal Rei tersenyum tipis.
"Ha' apakah dia terlihat cocok dengan Ayah?"
"Ya tentu saja, Bibi ini sangat cantik!"
"Apa yang kau katakan Rei!! kau menyukai Bibi seperti ini, aku saja bingung dari mana Ayah menemukan Bibi seperti ini. Apa kau tidak melihat wajahnya, penuh dengan tepung untuk membuat kue." Tegas Ren.
"Oi oi Tuan Muda Ren, bukankah hinaan itu terlalu menjatuhkan." Batin Hisao.
"Hehh … aku ingin mengakuinya, tetapi aku harus mengikuti rencana ku." Batin Rei.
"Ren apa yang kau katakan," ucap Asami pada Ren.
"Apa salahku! aku hanya mengatakan kebenarannya kok. Lagian kita juga butuh ibu sambung kan, Bibi Yuka sangat cocok menjadi ibu kita." (Rei).
"Ha' cuih! jika aku tidur bersamanya maka tepung di wajahnya itu akan berhamburan, hingga mengotori tempat tidurku." (Ren).
"Ya sudah jika kau tidak ingin tidur bersama Bibi Yuka! lagipula Bibi Yuka tidak ingin bersamamu kok."
"Entahlah! aku tidak mau lagi berada disini, aku ingin masuk ke dalam kamar. Selamat malam semuanya!"
"Haih … Rei, bisakah kalian tidak bertengkar. Kenapa kalian selalu seperti ini?" tanya Asahi mengerutkan alisnya.
"Ren sendiri kok." Ketus Rei.
"Hais! Rei pergilah, bujuk Ren."
"Enggak, aku gak mau. Aku ingin bersama dengan Bibi Yuka." Ucap Rei sembari memeluk Yuka.
"Sudahlah Asahi, jika dia tidak mau tidak apa-apa. Mereka kembar, jadi jika mereka marahan mereka akan cepat berbaikan." Bujuk Yuka pada Asahi.
"Narumi … jika aku menggantikan mu dengan Yuka apakah tidak apa-apa. Karna dibandingkan dengan adikmu yang suka meniru dirimu, aku lebih suka dengan sikap dengan sikap Yuka yang mencerminkan dirinya sendiri." Batin Asahi.
"Nah jadi Rei ingin bermain apa dengan Bibi?" tanya Yuka pada Rei.
"Syukurlah salah satu dari si kembar ini menyukai diriku, tapi yang satunya lagi … aku akan mengurusnya nanti." Batin Yuka.
"Bermain banyak hal." Jawab Rei dengan senyum gembiranya.
"Tapi …" Yuka menatap Osamu dan Asami.
"Pergilah jika cucuku menyukai dirimu," ujar Osamu.
Rei membawa Yuka ke tempat dimana ia sering bermain. Sedangkan Asahi, Asami memintanya untuk membujuk Ren agar tidak marahan lagi dengan Rei.
Sesampainya Asahi di depan pintu kamar Rei and Ren, ia mengetuk pintu.
Tok … tok … tok …
"Ren apa kau ada di dalam, Ayah masuk ya." Ucap Asahi dari luar kamar.
*Kreett
Ketika Asahi masuk, ia melihat kalau Ren sedang duduk di kursi meja belajar sambil menatap foto ibunya. Melihat hal itu Asahi hanya bisa tersenyum pahit.
"Kau merindukan ibu Ren?" tanya Asahi lembut.
"Ya, kenapa ibu pergi meninggalkan kita begitu cepat?" keluh Ren.
"Kau tau, setiap orang memiliki takdirnya masing-masing. Ayah juga sangat merindukan ibu, tapi Ayah sadar dan Ayah tau kalau itu semua percuma jika kita hanya mengenang masa lalu."
"Jadi apakah Ayah benar-benar akan menikahi bibi jelek itu?"