
"Heh' aku akan tetap menunggu, tapi kita akan berpindah tempat. Bawa mereka ke tempat lapangan di mana kita mengeksekusi seseorang," ucap Kazuo memberikan perintah pada anak buahnya.
"Baik Bos!!" jawab mereka.
Rei and Ren dikeluarkan dari kandang mafia dan dibawa ke tempat pengeksekusian, lapangan itu sangat gelap hanya terdapat lampu remang-remang di setiap sudutnya.
"Bukankah tempat ini sangat indah, aku sangat menyukai tempat ini."
"Indah? hanya menurut pandangan iblis sepertimu!" tegas Rei.
Mendengar perkataan Rei membuat hati kecil Kazuo tersinggung, hingga ia mencengkram dengan kuat wajah Rei.
"Berani sekali kau mengatai ku seperti itu!"
Ren yang melihat kejadian itu tidak bisa diam saja, ia memukul tangan Kazuo menggunakan kepalanya hingga membuat Kazuo melepaskan cengkraman nya dari wajah Rei.
"Cih! dasar s*al*n!! berani sekali kau memukul ku menggunakan kepalamu itu." Kazuo menarik tangannya dari wajah Rei.
Ren menatap kejam ke arah Kazuo. "Jika kau berani menyakiti Rei maka akan kubuat kau mati dengan cara mengenaskan!"
Kazuo yang melihat dan mendengar ancaman dari Ren hanya tersenyum sinis. "Gambaran masa depanmu itu akan sirna kau tau."
"Mari kita lihat siapa yang akan sirna disini."
Kazuo yang geram melihat tingkah laku Ren langsung melayangkan satu pukulan di wajah Ren dengan keras, hingga membuat Ren terjatuh akibat pukulan tersebut.
"Ayo bicara!! bukankah tadi kau berlagak sok hebat!! mana kepercayaan dirimu!!"
Dengan tangan terikat dan hidung serta mulut yang berdarah Rei bangkit kembali, sedangkan Rei yang tadinya dilindungi oleh Ren kini berbalik pula dialah yang melindungi Ren.
Ren melihat wajah Rei, Rei lalu mengangguk.
"Oi!! orang bodoh. Berani sekali kau memukul kembaranku, kau memukul kami dalam keadaan tangan kami masih terikat itu namanya kau pecundang." Kata Rei.
"Kau ingin memanipulasi ku? sayang sekali."
"Memanipulasi? heh' kenyataan nya sudah ada bukan? kami hanya anak kecil yang memiliki pemikiran dewasa, bukan berarti kekuatan fisik kami sama seperti kalian orang dewasa. Jika kau terus seperti ini, maka kau orang paling pecundang di dunia ini."
"Apa yang kau katakan Rei, dia memang dari tadi seorang pecundang. Buktinya saja dia tidak melepaskan ikatan tali di tangan kita, sungguh sangat menyedihkan." (Ren).
"Kalian sungguh menguji kesabaranku, jika kalian ingin aku melepaskan talinya maka akan kulepas dan akan kulihat apa yang bisa kalian lakukan." Kazuo menyeringai.
Kazuo memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan ikatan tali yang melingkar di tangan Rei and Ren, lalu mengatakan pada anak buahnya jangan ikut campur dalam urusan mereka bertiga.
"Sudah, aku sudah melepaskan ikatan tali kalian lantas apa yang bisa kalian lakukan? tolong hiburlah aku." Jelas Kazuo.
Rei and Ren menundukkan kepala mereka sembari menyeringai dan tertawa. "Hahaha' …"
"Ternyata kau bodoh ya, terlalu mudah terhasut oleh kata-kata. Kau tidak lebih dari orang bodoh yang mencoba untuk menjadi orang pintar tetapi tidak bisa." (Rei).
Tanpa berpikir panjang mereka berdua berlari ke arah Kazuo.
"Rei alihkan pandangannya!" (Ren).
"Baik!"
Kazuo yang tidak sempat berpikir hanya berfokus melihat Rei hingga itu memberi kesempatan pada Ren untuk memukulnya, dengan cekatan Ren melompat dan menendang wajah Kazuo.
Kazuo menutupi wajahnya dan merintih kesakitan karna di tendang oleh Ren. "Akh!!"
"Satu sama poin yang sangat bagus." (Ren).
"Oh' ternyata kalian pandai berkelahi ya, kalau begitu jangan salahkan aku bertindak lebih kasar dari pada yang tadi."
Perkelahian antara Rei, Ren melawan Kazuo tidak bisa terelakkan walaupun mereka tau kalau mereka berdua tidak bisa menang melawan Kazuo tetapi mereka terus mengulur waktu hingga muncullah suara tembakan.
"Dorr
Mendengar suara tembakan itu perkelahian antara Rei, Ren dsn Kazuo terhenti dan salah satu anak buah Kazuo mengatakan kalau anggota Yakuza sudah sampai di markas mereka.
"Apa! bagaimana mereka bisa mengetahui lokasi ini?" tanya Kazuo yang panik.
Ren mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi disembunyikannya di dalam bajunya dan tepat disaat itu Tatsuya menelponnya.
Ren mengangkat telpon tersebut sembari menyalakan speaker ponselnya, begitu juga dengan Tatsuya.
📲"Maafkan aku, tapi bagaimana kau tau kalau aku datang kemari padahal kau tau kalau aku sudah menolaknya bukan." Kata Tatsuya sembari melihat ke arah Miho dan Asahi.
📲"Bodoh sekali, aku adalah atasanmu dan kita adalah kartu As dalam rencananya Rei. Tentu, aku tau kau akan mengikuti perkataan ku yang awal, terimakasih."
"Bocah s*al*n!!" teriak Kazuo.
"Heh' permainan berakhir, hahaha …" Rei and Ren tertawa dengan puasnya, Ren melemparkan ponselnya pada Kazuo.
Karna lemparan tersebut membuat ponsel Ren hancur dan sambungan telponnya dengan Tatsuya terputus.
Tut … tut … tut …
Tatsuya segera mematikan telponnya. "Kalian dengar sendiri? mereka lebih cerdik daripada kalian bahkan tindakan mereka sudah sejauh ini, jadi aku berharap kalian tidak menganggap mereka sebagai anak kecil lagi."
"Rei, Ren mereka …" Lirih Miho.
"Hmm' ya, bahkan yang mengetahui ini bukan aku saja Hisao, Sora dan Soma juga mengetahuinya, benar bukan?"
Hisao, Sora dan Soma hanya menunduk dan mengangguk.
"Sebaiknya jangan membahas ini dulu, mari kita selamatkan mereka." Ucap Asahi.
"Baik!!" kata seluruh anggota Yakuza.
"Pertama-tama kepung tempat ini dahulu dan jika ada yang mencoba melarikan diri bunuh saja. Hisao, Sora, Soma ikut aku dan Miho kau-"
"Aku ingin ikut!" sela Miho.
"Kenapa kau begitu keras kepala? aku ingin melindungimu! jika kau kenapa-napa maka Rei and Ren akan sedih."
"Justru aku tidak ingin melihat Rei and Ren kenapa-napa, jika tidak akulah yang akan merasa bersalah. Jika aku terluka itu tidak masalah bagiku, asalkan mereka berdua selamat."
"Ck! sudahlah."
Miho berjalan lalu Asahi menyuruh Sora dan Soma untuk menjaga Miho dari sebelah sisi depan, sisi belakang serta sisi kiri dan sisi kanan.
Mereka berjalan masuk ke dalam markas mafia, di dalam terlihatlah banyak sekali anggota mafia yang tengah menunggu kedatangan mereka.
Hisao melirik kebelakang dan terlihatlah sebagian anggota Yakuza yang masih tersisa, Hisao menyuruh mereka masuk dan memberikan mereka jalan.
Perkelahian yang sengit pun terjadi dengan keributan dimana-mana, walaupun begitu Hisao, Sora, Soma, Tatsuya, Asahi dan juga Miho tidak merasakan takut sedikitpun.Hingga mereka bertemu dengan Kazuo.
"Yo Asahi, sudah lama tidak berjumpa senang bertemu denganmu." Sapa Kazuo pada Asahi.
"Tetapi aku tidak senang bertemu denganmu. Dimana kedua putraku?" tanya Asahi.
"Kau ingin tau? itu di atas."
Asahi langsung mendongakkan kepala nya dan melihat ke atas, di atas terlihatlah Rei and Ren tengah dililit oleh tali dan tak bisa melakukan apa-apa.
"Rei, Ren!!" panik Asahi.
"Rei, Ren bertahanlah! Ibu akan menyelamatkan kalian …" Lirih Miho.
"Lepaskan mereka!!"
"Oh' tenang-tenang … mereka hanya berada di atas gedung itu dan ketika tali yang mengikat tubuh mereka diputuskan, maka aku tidak akan tau hasilnya bagaimana." (Kazuo).
"Kau mengancam ku!!"
"Entahlah."
Kazuo lalu menyuruh beberapa anak buahnya lagi membawa Yuka, Yuka di datangkan tepat di sampingnya Kazuo.
"Kau memilih kedua Putramu atau anak yang berada di dalam kandungan Yuka ini?"
"Jangan kau pikir aku bodoh. Kau bunuh dia di depan mataku, maka aku tidak akan pernah merasa sedih sedikitpun. Tekad ku tetap akan kukuh untuk menyelamatkan kedua Putraku, bukan menyelamatkan anak haram yang berada di dalam kandungannya!!"
Mendengar perkataan Asahi tersebut membuat Kazuo semakin mengg*la.
"Haha' … ahaha' … kenapa kau bisa tau. Aku membencimu Asahi! aku akan selalu membencimu!!" Kazuo menembak Yuka.
*Dorr