
Melihat Miho yang menangis sembari tersenyum menatap dirinya Asahi bergegas berjalan menghampiri Miho yang berada di samping gaun pernikahannya.
Asahi mulai menutupi wajah Miho yang menangis agar tak terlihat oleh siapapun, dalam dirinya dia bersumpah kalau dia tidak akan membiarkan orang lain melihat wajah Miho yang seperti itu.
"Sudah … berhentilah menangis aku akan selalu ada untuk menutupi dirimu yang seperti ini, dan aku berjanji kau tidak akan pernah mengeluarkan air mata kecuali air mata kebahagiaan." Ucap Asahi memeluk dan membelai rambut Miho dengan lembut.
"Terimakasih," ujar Miho disela-sela tangisannya.
Tak berapa lama Asahi mengurai pelukannya dari Miho setelah ia sudah sedikit tenang.
"Semua orang menunggumu di bawah sedangkan aku akan menunggumu di tempat pernikahan kita." Senyum Asahi terlukis di wajahnya menatap Miho.
Seusai mengatakan hal itu Asahi lalu keluar dari dalam kamar dan pergi ke tempat acara pernikahannya, sedangkan Rei and Ren mengatakan kepada Ibunya kalau mereka berdua akan menunggu Miho di bawah.
Miho mulai bersiap-siap memakai gaun pernikahannya dengan di bantu oleh Bibi Emi, perlahan-lahan baik dari riasan wajah pakaian perhiasan sepatu dan sarung tangan akhirnya selesai, tinggal sentuhan terakhir yaitu rambut yang dibuat bergelombang.
Setelah selesai menghias rambutnya Miho pun keluar dari dalam kamar dan berjalan menuruni anak tangga sambil di bantu oleh Bibi Emi.
Asami, Osamu, Rei and Ren terpana melihat kecantikan yang terpancar dari Miho. Keanggunan serta keindahan terpancar darinya saat memakai gaun pernikahan yang sama indahnya dengan dirinya.
"Heh' ini adalah saat yang ku nantikan. Ibu banggalah kepada anakmu ini, aku mewujudkan keinginan terakhir ibu walaupun aku harus mengorbankan nyawaku." Batin Rei tersenyum tipis melihat Miho berjalan menuruni anak tangga.
****************
Beralih ke Sora, Soma, Hisao dan Tatsuya yang berada di pintu masuk.
Mereka merasa bosan terus-terusan tersenyum kepada setiap tamu yang datang.
"Wajahku sudah terasa kaku karena terus-menerus tersenyum pada setiap tamu yang datang. Kau tau melakukan hal seperti ini bukanlah pekerjaan ku." Kesal Tatsuya jenuh karena harus selalu tersenyum kepada para tamu.
"Udah lakukan saja, kau tidak lihat bahwa iblis di sampingmu itu sudah mengeluarkan aura yang tidak mengenakkan." Sora menunjuk Hisao yang berada tepat di samping Tatsuya.
"Aku tidak tau apa yang sedang dia pikirkan, sikapnya berubah menjadi seram seperti ini hanya karena dilirik oleh banyak wanita. Apakah dia gila, jika dia dilirik berarti dia itu tampan." Batin Tatsuya dengan keringat dingin yang terus bercucuran melirik Hisao.
"Kapan ini harus berakhir, hei Rui lama sekali kau datang kemari." Batin Hisao menahan emosi menggebu-gebu dalam dirinya.
Tak berapa lama Rui datang dengan begitu anggun memakai dress nya sambil memanggil nama Hisao hingga membuat para gadis yang melihat Hisao melihat kearahnya.
"Hisao!" teriak Rui melambaikan tangannya ke arah Hisao.
Seketika dalam sekejap aura mengerikan dari Hisao menghilang dan berganti senyuman tipis sembari menatap lembut ke arah Rui yang berjalan kearahnya.
"Ha!!" Kaget Sora, Soma serta Tatsuya melihat perubahan ekspresi singkat Hisao.
"Peristiwa langka apa ini? baru kali ini aku melihatnya." Batin Tatsuya bingung dan terkejut seakan tak percaya dengan apa yang telah ia lihat.
"Maafkan aku membuatmu menunggu terlalu lama. Aku tidak tau apakah dress ini cocok denganku atau tidak," ucap Rui melihat dress yang ia kenakan.
"Itu sangat cocok denganmu. Haih' … sebaiknya aku membeli dress nya bersamamu waktu itu." Kata Hisao.
"Tidak perlu, kau memilihkannya untukku saja aku sudah sangat senang."
Hisao dan Rui berjalan masuk ke acara pernikahan meninggalkan Sora, Soma dan Tatsuya di pintu masuk acara pernikahan.
Melihat Hisao yang pergi begitu saja meninggalkan mereka, mereka bertiga merasa tidak adil dengan kenyataan.
"Bukankah ini tidak adil, kenapa hanya dia saja yang masuk! seharusnya dia juga bersama kita disini!" kesal Tatsuya tidak terima.
"Ini memang tidak adil untuk kita bertiga, tapi kau tau orang yang sudah memiliki pasangan akan lupa dengan teman yang selalu menemaninya." Ucap Soma menenangkan Tatsuya.
"Aku tidak akan memungkiri nya, itu adalah kenyataan dunia yang ingin ku ubah. Ini sudah terlampau jauh dari ekspektasi ku, kita tidak bisa mengalahkannya." Timpal Sora.
"Kau benar. Ketika kita sudah selangkah lebih maju mengejar dirinya ternyata dia susah lima langkah lebih maju meninggalkan kita, oleh karena itu sebaiknya kita berhenti saja mengejarnya." (Tatsuya).
Disaat tiga orang penjaga pintu masuk acara pernikahan sedang dilanda oleh kegalauan yang begitu besar karena melihat Hisao berkencan dengan Rui, tiba-tiba sebuah mobil datang.
Mobil itu berhenti dan pintu mobil pun terbuka lalu keluarlah Miho, Osamu, Asami, Rei and Ren dari dalam mobil tersebut.
Melihat Miho yang keluar dari dalam mobil mengenakan gaun pernikahan, Sora, Soma dan Tatsuya yang melihat hal tersebut pun di buat ternganga karena kecantikan yang dimiliki oleh Miho.
Saat Rei and Ren berjalan menghampiri mereka bertiga, mereka masih saja terpelongo menatap ke arah Miho.
Ren lalu menendang kaki Tatsuya sebanyak tiga kali. "Oi! apa kau belum selesai menatap ibuku, berhentilah menatapnya."
Tatsuya, Sora dan Soma akhirnya sadar dari lamunan mereka dan menyeringai.
Sesampainya Asami dan Osamu di pintu masuk mereka bertiga membungkuk mempersilahkan untuk masuk dan ketika tiba giliran Miho Rei and Ren bersiap menaburkan bunga di karpet merah yang terbentang.
Sambil mengangkat sedikit gaunnya Miho mulai berjalan di karpet merah yang sudah ditaburi oleh bunga.
Setibanya ia di hadapan Asahi. Sambil tersenyum Asahi mengulurkan tangannya pada Miho, Miho menggenggam tangan Asahi lalu melanjutkan jalannya kembali sampai ia tepat berhadapan dengan Asahi.
Ketika sudah berada di hadapan Asahi mereka mulai mengucapkan janji pernikahan.
"Apakah anda bersedia menikah dengan Saito Asahi dan hidup bersamanya, baik dalam keadaan susah senang sehat sakit miskin ataupun kaya?" tanya penghulu pada Miho.
"Aku bersedia!" jawab Miho penuh keyakinan.
"Bagaimana dengan anda Tuan Asahi, apakah anda bersedia menikah dengan Aoki Miho baik dalam keadaan susah-"
"Tidak perlu kau lanjutkan, jika sudah keputusannya iya maka aku juga iya!" tegas Asahi.
"Kalau begitu, selamat Tuan Asahi dan Nona Miho kalian sudah sah menjadi suami istri. Silahkan sang pria dan sang wanitanya berfoto bersama keluarganya."
Foto bersama pun di langsungkan.
****************
Di malam harinya ketika acara pernikahan sudah selesai, di rumah keluarga besar Saito sedang melangsungkan acara menyambut pengantin baru.
Karena acara pesta itu selesai sampai larut malam Miho memutuskan untuk tidur lebih dulu bersama dengan Rei and Ren.
Tanpa Miho sadari ketika ia menemani Rei and Ren tidur ia pun ikut tertidur di situ.
Saat Asahi masuk ke dalam kamarnya ia tidak menemukan Miho di sana, ia pun memutuskan untuk mencarinya di kamar Rei and Ren.
Ketika ia membuka pintu kamar Rei and Ren Asahi tersenyum, ia menatap lekat ke arah Miho yang tengah tidur bersama Rei and Ren.
Ia berjalan perlahan mendekati Miho lalu menggendongnya secara perlahan-lahan agar tidak membangunkan Miho serta Rei and Ren.
Asahi membawa Miho sampai menaiki tangga hingga masuk ke dalam kamar Asahi.