The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Ulang Tahun Rei & Ren



Sora pergi meninggalkan rumah keluarga besar Saito, sedangkan Rei and Ren makan siang bersama Hisao.


Hisao meminta kepada Bibi Emi untuk membersihkan vas bunga yang pecah sewaktu di lempar oleh Asahi, ketika bertengkar dengan Sora.


****************


Malam hari tiba sesuai perkataan Asahi, Yuka datang ke rumah keluarga besar Saito. Tetapi seperti biasa, tanggapan Ren padanya sangat tidak mengenakkan.


Walaupun begitu ia tetap menahan emosinya, karna Rei menyuruhnya berakting menjadi Rei palsu.


"Rei suka makan apa?" tanya Yuka pada Rei dengan lemah lembut.


"Emm' aku tidak memilih dalam makanan, yang penting aku bisa makan." Jawab Ren yang menyamar menjadi Rei.


"Bagus kalau begitu. Kalau Ren suka makan apa?"


"Cuih! dari pada makan masakanmu lebih baik aku tidak makan!" tegas Rei yang menyamar menjadi Ren.


"Ren! tidak baik berkata seperti itu, sebaiknya kau mencoba menerima kehadiran Bibi Yuka." Jelas Asahi.


"Tapi Ayah, aku sama sekali tidak menyukai wanita ini! dan cara dia merayuku itu sangat menjijikkan."


"Ren, bukankah kau sebaiknya tidak mengatakan hal seperti itu. Bibi Yuka ini adalah orang yang baik," ucap Ren penuh penekanan.


"Ha' baik? jika kau memakan makanan yang dibuatnya, maka kau akan mati." (Rei).


"Ren! bisakah kau membuka hatimu untuk Bibi Yuka, jika kau terus seperti ini bagaimana Ayah bisa mencarikan ibu sambung yang cocok untuk kalian." (Asahi).


"Perkataan Ayah itu seakan-akan mengatakan kalau Ayah suka bermain dengan wanita, aku tak mengenal Ayah yang seperti ini. Sudahlah, malam ini aku tidak makan." (Rei).


"Tapi Ren kau akan sakit!"


"Lebih baik aku sakit karena kelaparan daripada memakan masakan yang mematikan. Oh' ya, jika kakek dan nenek turun katakan saja kalau aku sudah makan."


Setelah mengatakan hal itu Rei pergi meninggalkan semua orang yang ada di meja makan dan kembali ke kamarnya.


Ren yang berada di meja makan, melihat kejadian itu langsung beranjak pergi dari tempatnya dan berjalan mengikuti Rei dengan beralasan ingin membujuknya makan.


Sesampainya di dalam kamar. "Rei! aku tak bisa menjadi dirimu, aku orang yang sangat egois dan mudah emosi, aku tidak bisa melanjutkan untuk menjadi dirimu." Jelas Ren pada Rei.


"Hmm' sudah cukup, mari kita berakting dengan cara kita masing-masing. Kita lihat, apakah wanita itu akan bertahan sampai akhir atau dia akan pergi meninggalkan ayah kita dengan sendirinya." Kata Rei.


****************


Tiga bulan pun berlalu tepat di hari ulang tahunnya Rei and Ren, di malam hari.


Keluarga besar Saito merayakannya tanpa mengundang teman sekolah Rei and Ren.


Di pesta perayaan itu Rei meminta kepada Asami dan Osamu untuk melakukan obrolan vidio dengan bibi Miho, Asami dan Osamu mengabulkan permintaan Rei tersebut.


Mereka menyuruh Hisao untuk mengambilkan laptop dan membuat obrolan vidio bersama Miho.


Tak butuh waktu lama obrolan vidio itu langsung di terima oleh Miho.


💻"Selamat ulang tahun Rei, Ren." Ucap Miho dengan senyuman bahagia terlihat di bibirnya dari obrolan vidio itu.


💻"Terimakasih bibi!" teriak Ren kegirangan.


💻"Bibi kenapa tidak datang kemari?" tanya Rei.


💻"Bibi masih mempunyai pekerjaan yang harus di urus, besok akan selesai."


💻"Wah' berarti jika urusan bibi sudah selesai besok, bibi akan langsung memesan tiket dan datang kemari?" (Ren).


💻"Ya …"


💻"Hore!!" teriak Rei and Ren.


💻"Miho kau selalu membuat mereka tertawa." Timpal Osamu.


💻"Melihat wajahmu dari sini saja mereka sudah sangat senang, apalagi bertemu denganmu secara langsung." Sambung Asami.


💻"Hhh' karna aku sudah menganggap mereka lebih dari keponakan ku. Oh' ya bagaimana kabar paman dan bibi?"


💻"Kabar paman dan bibi sangat sehat disini. Bagaimana dengan kabarmu sendiri Miho?" (Osamu).


💻"Hehh … bukankah itu membuat kami semakin penasaran dengan isi yang ada di dalamnya bibi." (Ren).


💻"Hhh' ya haruslah, namanya juga hadiah."


💻"Bibi datang kesini saja, itu adalah hadiah terbesar untuk kami." (Rei).


Hati Miho merasa tersentuh akan perkataan Rei, semakin tersentuh nya matanya sampai mengeluarkan bulir-bulir bening air mata.


"Kakak kali ini aku kembali dengan versi baruku, untuk menghadapi dirinya. Putramu adalah putraku juga." Batin Miho.


💻"Eh' bibi, bibi kenapa? apakah Rei menyakiti hati bibi. Rei! kau ini!" (Ren).


💻"Eh' tidak tidak jangan berkelahi, bibi hanya tersentuh. Oh' ya, dimana ayah kalian?"


Rei, Ren, Asami dan Osamu saling memandang satu sama lain.


💻"Maaf saya lancang, tuan Asahi pergi dari pagi sampai saat ini tuan masih belum pulang nona. Dan tuan tidak mengabari saya kalau dia ingin pergi kemana." Jelas Hisao.


💻"Apa … apakah dia tidak tau kalau hari ini adalah hari-"


Miho langsung menutup mulutnya saat melihat di layar laptop kalau ekspresi wajah Rei and Ren tampak sedih.


"Aku tidak bisa mengatakan nya lagi, wajah mereka sudah kelihatan sedih. Paman dan bibi juga sepertinya tidak bisa mengatakan apa-apa." Batin Miho.


💻"Aa' tidak apa-apa Rei, Ren masih ada bibi disini, jadi kalian jangan bersedih. Ayo tersenyum!"


"Heh' bibi topeng ku selalu tersenyum tetapi wajah asli ku tampak dingin, karna aku tau dia pergi kemana." Batin Rei.


💻"Haha' aku tau. Bisakah bibi menemani kami sampai kami tertidur?" (Rei).


💻"Tentu saja."


"Rei, kau berpura-pura bukan? kau memang selalu seperti itu." Batin Ren.


💻"Bibi, apakah hadiah yang bibi kirimkan itu ada mainan kesukaan Ren?" (Ren).


💻"Tentu, nanti kita akan bermain bersama-sama."


Asami yang merasa situasinya sudah tidak mengenakkan, lalu menyuruh Rei and Ren membawa laptopnya ke kamar mereka.


Mereka berdua menuruti perkataan Neneknya itu, sedangkan Osamu menyuruh Hisao untuk membereskan makanan yang sedari tadi sudah tersaji di meja makan untuk merayakan ulang tahun Rei and Ren yang ke 8 tahun.


Seusai membereskan segalanya Hisao menutup pintu rumah keluarga besar Saito dan menguncinya, setelah mengunci pintu dan memastikan semuanya sudah aman Hisao pergi ke kamar Rei and Ren.


Ketika Hisao sudah masuk ke dalam kamar Rei and Ren, ia melihat laptop yang masih menyala dan obrolan vidio yang belum dimatikan.


"Nona Miho, anda sangat menyayangi Rei and Ren, hingga anda lupa kalau anda sedang diincar oleh seseorang." Batin Hisao melihat laptop yang sedang menyala.


Hisao berjalan ke arah laptop dan membisukan obrolan vidio tersebut.


"Apa yang kau lakukan Hisao?" tanya Rei yang masih belum tertidur.


"Anda masih belum tidur Tuan Muda?"


"Aku menunggu ayahku pulang."


"Tidak perlu anda tunggu Tuan Muda, anda sudah tau sendiri kalau tuan tidak akan pulang hari ini. Jadi, sebaiknya anda tidak perlu menunggu."


"Heh' kalau begitu baiklah, aku akan tidur."


****************


Keesokan harinya, sesuai yang di katakan oleh Miho tukang paket itu datang. Hisao menerima barang-barang itu dan menandatanganinya.


Ketika tukang paket itu sudah pergi Sora datang, dengan wajah keheranan dan pikiran yang di penuhi oleh pertanyaan dia bertanya. "Barang siapa ini? kenapa banyak sekali? seperti ingin pindah rumah saja."


"Ini hadiah ulang tahun dari nona Miho untuk Rei and Ren." Jawab Hisao.


"Aku memberikan hadiah untuk mereka sebuah hoki toki."


"Ha' untuk apa kau memberikan itu kepada mereka?"


"Ya … untuk komunikasi."