
"Ohh ibu kalian sedang melihat sesuatu yang aneh abaikan saja," ujar Asahi santai sambil melanjutkan menonton siaran TV.
"Apakah Ayah melakukan sesuatu yang buruk? sepertinya terjadi sesuatu hingga membuat ibu berteriak seperti itu." Ren menatap curiga Asahi yang begitu tenangnya melihat TV.
"Kenapa kalian tidak menanyakannya kepada ibu kalian sendiri? itu semua adalah kesalahannya."
"Aku tau Ayah yang salah bukan?!"
Mendengar tuduhan dari Anaknya, Asahi lalu menoleh ke arah Ren menatapnya dengan tatapan dingin. "Ayah bilang Ayah tidak salah. Silahkan kalian tanyakan itu pada ibu kalian, baiklah kalau begitu Ayah ingin menemui Kakek dan Nenek kalian."
Asahi bangkit dari tempat duduknya berjalan pergi ke halaman belakang untuk menemui Asami dan Osamu, edangkan Ren hanya terdiam melihat Ayahnya pergi meninggalkan mereka di ruang tamu.
Rei yang sedari tadi diam dan mengamati apa yang sedang terjadi berpikir keras tentang apa yang ayahnya katakan bahwa dia tak bersalah, ia lalu menepuk pundak Ren.
"Ren, aku rasa perkataan ayah itu benar. Ayah tidak bersalah sama sekali, kita bisa melihatnya saat ia duduk bersama kita dari awal hingga akhir dan begitupula saat ayah pergi ke halaman belakang untuk menemui kakek dan nenek." Jelas Rei secara teliti pada Ren.
"Kurasa kau benar, wajahnya terlihat kesal sewaktu ia keluar dari dalam kamar." Ucap Ren mengingat sekilas saat ayahnya keluar dari dalam kamar.
"Emm' kurasa ibu benar-benar salah, kita akan menanyakannya nanti saat ibu sudah keluar dari kamarnya."
"Emm' baiklah!"
****************
Sore harinya Miho masih belum keluar dari dalam kamarnya, seluruh orang di rumah merasa sangat khawatir akan hal itu.
Asami dan Osamu yang sudah mendengar keseluruhan ceritanya dari Asahi, memintanya untuk membujuk Miho agar keluar dari kamarnya dan makan karna sedari pagi hingga sore Miho tidak makan apapun.
Asahi yang masih kesal hanya bisa pasrah menuruti perkataan Ayah dan Ibunya, dengan membawa nampan berisi makanan ke kamarnya sendiri.
Sesampainya di depan pintu kamar Asahi menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan lalu mengetuk pintu.
Miho yang mendengar suara ketukan pintu dari luar kamar menanggapi hal itu.
"Ada apa? aku tau itu kau!" kesal Miho dari dalam kamar.
"Haih' … bisakah kau tidak egois? kau melukai dirimu sendiri, setidaknya kau keluar dan makan." Ucap Asahi lembut dari luar kamar.
"Apa pedulimu! lagipula jika aku tidak makan itu bukan urusanmu!"
Kemarahan Asahi yang ia tahan sedari pagi sudah tidak bisa ditoleransi lagi, tanpa berpikir panjang ia menendang pintu kamarnya sendiri sampai membuat pintu tersebut lepas dari tempatnya berada.
"Aku sudah cukup dengan semua ini! aku datang kesini untuk menyuruhmu makan. Jika kau tidak mau mendengarkanku secara baik-baik, maka aku akan memaksamu dengan kekerasan agar kau makan!" tegas Asahi.
Miho yang melihat Asahi seperti itu tidak bisa melakukan apa-apa, ia hanya bisa menarik selimut dan menyelimuti dirinya.
Sedangkan Asahi yang sudah masuk ke dalam kamar meletakkan makanan di atas meja dan sekuat tenaga menarik selimut yang menutupi tubuh Miho hingga terlepas dari tubuhnya.
Ketika selimut itu terlepas dari tubuh Miho, terlihatlah Miho yang tengah meringkuk sambil menahan malu.
Asahi menatap Miho. "Kau masih tidak ingin makan?"
"Iya! kenapa? jika kau mau kau makan saja sendiri!" ketus Miho.
Asahi memakan sesuap makanan yang ia bawa.
"Eh' dia benar-benar memakannya." Batin Miho.
Mata Miho terbelalak karna kaget, setelah menyerahkan semuanya Asahi lalu melepaskan ciumannya dari Miho.
Asahi menjilat bibirnya seusai mencium Miho. "Kau masih tidak ingin makan sendiri? jika kau tidak ingin makan sendiri maka aku akan terus menyuapi mu seperti itu."
"Cih! dasar bed"bah. Aku bisa makan sendiri!" Miho mengambil nampan yang berisi makanan di atas meja dan mulai memakannya.
Melihat Miho yang sudah ingin makan sendiri ia tersenyum, Asahi lantas duduk di pinggir tempat tidur dan melihat Miho makan hingga selesai.
Saat Miho sudah selesai makan Asahi lalu mengambil nampan dari tangannya dan berniat pergi dari kamar, tetapi sebelum ia pergi Miho menarik ujung baju Asahi.
"A'Aku ikut bersamamu turun ke bawah." Kata Miho gugup sembari menundukkan kepalanya.
"Hahh' … baiklah." Asahi menghela napas melihat tingkah Miho.
Ketika mereka berjalan keluar dari dalam kamar, sambil menahan rasa malu Miho menggenggam erat ujung baju Asahi dan berhenti. Sontak karna hal itu Asahi pun ikut berhenti.
"Ada apa?" tanya Asahi menoleh melihat Miho.
"M'Maaf, aku tau kau masih kesal denganku, aku tau kau tidak ingin menemuiku hari ini tapi kau terus memaksa dirimu dan membuang rasa kesalmu lalu menemuiku. Aku juga tidak sengaja melakukan hal itu, jadi maafkan aku." Jelas Miho menunduk.
"Sudahlah, lagipula itu juga kesalahanku. Kenapa aku meletakkan minuman itu di situ, hari itu aku tidak ingin melakukannya karna aku tau kau sangat lelah. Tapi sekarang semuanya sudah terjadi, jadi biarkanlah."
Miho mengeratkan genggamannya di ujung baju Asahi diikuti air matanya yang ikut menetes. "Maaf … maafkan aku …"
Asahi tersenyum melihat hal itu, ia lalu membungkuk dan mencium kening Miho. "Usap air matamu, kau akan membuat Rei and Ren menangis melihatmu seperti itu. Kau istriku, istriku yang tegar dan tidak mudah menyerah."
Miho lalu mengusap pelan air matanya dan kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk turun ke bawah.
Sesampainya di bawah Rei and Ren dengan gembiranya menghampiri Ibunya dan memeluknya sangat erat.
Asahi menyerahkan nampan yang ia bawa kepada Bibi Emi.
"Kau sudah membujuknya Asahi?" tanya Ibunya pada Asahi.
"Sudah Ibu, dan tepat seperti pikiranku. Aku memang tidak bisa marah dengannya terlalu lama, melihat wajahnya seperti itu aku tidak ingin orang lain melihatnya karna dia milikku dan selamanya akan tetap begitu."
"Aku harap kau memegang kata-katamu Asahi, karna seorang pria sejati tidak akan pernah menarik kata-katanya kembali." Ucap Osamu melihat Putranya dengan perasaan bangga.
"Aku takkan pernah menarik kata-kataku kembali karna dia adalah istriku dan aku akan membuktikannya pada kalian berdua, Ayah Ibu."
****************
Satu bulan kemudian, Miho yang berada di dalam kamar mandi mengetes sesuatu.
Saat ia melihat hasil tersebut ia tersenyum bahagia dan berteriak memanggil nama Asahi dari dalam kamar mandi.
"ASAHI!!" teriak Miho.
Dengan panik Asahi yang tadinya ingin bersiap memakai jas, segara berlari ke arah kamar mandi dan mendobraknya.
"Ada apa! apa kau terpeleset? katakan padaku, jangan membuatku panik?" tanya Asahi memegang pundak Miho dengan wajah yang panik dicucuri keringat dingin.
"Aku … aku hamil."
"Apa!!"