The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Melahirkan



Di malam harinya Miho sedang duduk melamun menatap keluar jendela di dalam kamarnya.


Tiba-tiba saja Asahi menelponnya, Miho dengan mengangkat telpon dari Asahi.


📲"Ya ada apa Asahi?"


📲"Kau masih belum tidur?"


📲"Belum."


📲"Suruhlah bibi Emi untuk mengemas barangmu dan juga barang Rei and Ren."


📲"Ha? apa! kau mau mengusir kami dari rumah mu!"


📲"Tidak, dengarkan penjelasan ku dulu."


Miho terus saja mengoceh memarahi Asahi, bahkan ia tidak membiarkan Asahi untuk menjelaskan apa niatnya menyuruh dirinya berkemas dan sampai mengajak Rei and Ren.


📲"Sudah? apa kau sudah selesai memarahi ku. Aku tau inu adalah kesalahanku tapi kau tak perlu menangis." Jelas Asahi saat Miho telah selesai mengoceh di sertai isak tangis yang terdengar di telpon.


📲"Kau bodoh. Kau meninggalkan ku sendiri di sini, kau bilang kau ingin menjaga ku tetapi apa?!"


📲"Maafkan aku, aku yang salah."


📲"Aku tau kau itu memang pembohong."


📲"Iya. Bisakah kau meminta bibi Emi untuk mengemas barang-barangmu dan barang Rei and Ren?"


Miho tidak menjawab apapun tetapi ia tetap menuruti kata Asahi untuk meminta bibi Emi mengemas barangnya juga barang Rei and Ren.


Ia memanggil bibi Emi dan mengatakan apa yang Asahi suruh untuk bibi Emi lakukan.


Seusai mengatakan hal yang di minta Asahi pada bibi Emi, Miho lalu duduk di sofa ruang tamu.


📲"Sudah? kau sudah dengarkan. Aku sudah menyuruh bibi Emi untuk mengemas barangku dan barang Rei and Ren." Ucap Miho pada Asahi dengan sambungan telpon yang masih belum terputus.


📲"Iya. Besok pagi akan ada orang yang menjemput kalian untuk pergi ke bandara dan sisanya serahkan padaku."


📲"Terserah apa yang kau katakan! aku sudah tidak peduli."


Saat Asahi ingin berkata sesuatu pada Miho, Miho langsung menutup telponnya secara sepihak.


"Aku sudah tidak peduli, apa sebenarnya yang ingin kau buat. Kau meninggalkan ku hampir setengah tahun dan kau menghubungi ku hari ini hanya untuk mengatakan hal itu. Apa kau sudah tergoda oleh wanita lain di luar sana?"


"Jika memang seperti itu, maka aku akan menyeret wanita itu kejalan dan mempermalukannya!"


Teriakan Miho di ruang tamu terdengar oleh semua orang yang berada di dalam rumah dan membuat mereka mendatangi Miho yang berada di ruang tamu.


"Ada apa Miho? kenapa kau berteriak?" tanya Asami pada Miho.


"Asahi selingkuh di luar negeri." Ucap Miho penuh keyakinan kalau Asahi telah berselingkuh di luar negeri.


"Apa kau sudah yakin tentang itu Miho?"


"Aku juga tidak yakin tentang hal itu tetapi dia tadi menghubungi ku seolah-olah tidak terjadi apa-apa padaku disini."


"Tapi aku pecaya pada ayah, tidak mungkin ayah seperti itu," ujar Rei yakin kalau ayahnya tidak berselingkuh dengan Ibunya.


"Ayah bukan orang yang seperti itu, jadi apa saja yang ayah katakan pada Ibu? coba Ibu ceritakan." Kata Ren.


Miho mulai menceritakan segalanya dari awal saat Asahi menelponnya hingga saat ia menutup telpon.


"Oh seperti itu. Tenang saja Ibu ayah tidak selingkuh kok, hanya saja ada sesuatu yang ingin ayah tunjukkan kepada Ibu." (Rei).


"Apa kalian yakin?"


"Tentu saja kami yakin, karna ayah sangat mencintai Ibu."


"Baiklah, Ibu hanya bisa percaya dengan apa yang anak Ibu katakan."


****************


Keesokan harinya sesuai yang dikatakan Asahi, ada seseorang yang menjemput mereka untuk pergi ke bandara.


Miho, Rei and Ren sudah bersiap-siap untuk pergi mereka mulai berpamitan sampai akhirnya mereka pergi ke bandara.


Ketika sampai di bandara Miho sempat bertanya kepada orang yang membawa mereka, Miho bertanya untuk apa Asahi membawa mereka pergi tetapi orang itu tidak menjawab sama sekali pertanyaan Miho.


Merasa teracuhkan Miho lalu membawa Rei and Ren untuk menaiki pesawat.


Pesawat yang di naiki oleh Miho, Rei and Ren pun mulai lepas landas.


Namun di dalam pikiran Miho masih memiliki beribu pertanyaan untuk Asahi, kenapa dia melakukan semua ini pada dirinya.


Melihat Ibunya yang suka termenung, Rei and Ren lalu mengingatkan kembali pada Ibunya kalau ayah mereka tidak selingkuh dan ayah mempunyai hadiah untuk Ibu.


Miho hanya tersenyum mendengar perkataan Rei and Ren untuk menghibur dirinya, demi membuat anaknya agar tidak khawatir ia perlahan mulai melupakan alasan Asahi membawa mereka pergi walaupun hatinya masih ragu akan hal itu.


Dua hari setelah keberangkatan mereka Miho, Rei and Ren akhirnya tiba di tempat yang sudah di tentukan oleh Asahi.


Saat Miho keluar dari pesawat tatapan semua orang yang berada di bandara tertuju pada dirinya.


"Ada apa ini? oh iya aku Aoki Miho artis terkenal yang menikah dengan keluarga besar Saito, jadi wajar saja mereka menatapku. Tapi!"


"Rei and Ren jangan lepaskan pegangan Ibu, ayo kita keluar dari bandara ini." Ucap Miho.


Mereka mulai bergegas untuk keluar dari bandara, semua orang yang tadinya melihat Miho kini mengejarnya hingga akhirnya Miho kelelahan.


Disaat Miho sudah terengah-engah tiba-tiba ada segerombolan orang berpakaian rapi mengenakan jas hitam layaknya seorang bodyguard datang untuk melindungi Miho, dan tepat saat itu juga satu mobil yang indah akhirnya sampai di bandara.


Miho, Rei and Ren terus menatap tajam ke arah mobil tersebut dan seketika pintu mobil terbuka lalu keluarlah Asahi dari dalam mobil tersebut.


Asahi bergegas berjalan mendekati Miho. "Maafkan aku, aku lupa kalau istriku ini adalah orang yang sangat terkenal, maafkan kesalahanku."


Dengan air mata yang membendung di mata Miho ia langsung memeluk Asahi dan menangis dalam pelukan suaminya yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.


"Bodoh!" gerutu Miho.


"Maafkan aku …"


Rei and Ren yang melihat orang tuanya seperti itu hanya tersenyum, karna mereka sudah tau apa yang sudah di rencanakan oleh Ayahnya.


"Rei Ren senang bertemu dengan kalian lagi. Apa kalian menjaga Ibu dengan baik?" tanya Asahi tersenyum tipis.


"Tentu saja. Bahkan kami menjaga Ibu tanpa terluka sedikit pun." Jawab Ren merasa bangga dengan dirinya.


"Mungkin ketika adikku lahir dia akan sangat sayang pada kami bukan pada Ayah." Sambung Rei.


Asahi tertawa mendengar jawaban kedua anaknya. "Benarkah? tetapi cukup sampai sini saja kalian menjaga Ibu seterusnya akan Ayah yang mengurusnya. Ayo kita pergi."


Mereka lalu masuk ke dalam mobil, seluruh bodyguard yang mengawal juga ikut pergi.


Sesampainya mereka di sebuah Vila yang terletak di sekitar pantai, Miho menatap pantai itu dengan kelembutan dan Asahi datang memeluknya dari belakang.


"Aku ingin anak ini seperti dirimu, kuat dan tidak mudah jatuh jika di jatuhkan." Ucap Asahi penuh kelembutan.


"Tapi jika anak ini menjadi seperti ku ketika ia menjadi lemah maka tidak ada yang menyelamatkan nya," ujar Miho sedikit murung.


Rei and Ren tiba-tiba saja datang dan berdiri di samping Ayah dan Ibunya.


"Lemah? tidak ada kata-kata seperti itu di dalam hidupnya kelak." Kekeh Rei percaya diri.


"Heh' jika ada yang menyakitinya maka aku yang akan mengurusnya, kehidupannya akan sangat indah melebihi ekspetasi Ayah dan Ibu." Timpal Ren.


Mereka berempat lalu tersenyum menatap indahnya pantai.