The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Berpura-pura



"Tidak perlu, Ayah mengurung diri saja di dalam kamar. Kami akan di antar oleh Bibi Miho," ucap Ren pada Ayahnya.


"Ren apa yang kau katakan! bukankah bagus jika Ayah mengantar kita, berarti Ayah masih menyayangi kita." Tegas Rei.


"Hmm' sayang? kulihat dia hanya menyayangi dirinya sendiri."


"Apa yang kau katakan! jika Ayah menyayangi dirinya sendiri, dia tidak mungkin ingin mengantar kita hari ini."


"Kenapa baru hari ini, kenapa tidak dari kemarin? emangnya Ayah kemarin kemana hingga tidak bisa mengantar kita?"


"Mungkin Ayah sedang sakit atau banyak pikiran, hingga tidak bisa mengantar kita kemarin."


"Sakit? jika memang sakit Ayah tidak mungkin bisa bertengkar dengan kakek dan nenek. Sudahlah!"


"Ternyata mereka mendengar pertengkaran kemarin." Batin Asahi yang hanya diam melihat pertengkaran kedua Putranya.


"Ya sudah jika itu keinginanmu! jangan tegur aku nanti ya." Ketus Rei.


"Memangnya kau siapa yang harus ku tegur, lagipula nafsu makan ku sudah hilang sekarang. Lebih baik aku pergi ke sekolah lebih dulu, bye!"


Ren turun dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Miho. Ren menarik tangan Miho, membawanya pergi meninggalkan meja makan.


Miho yang merasa tidak enak dengan kejadian barusan, menyuruh Ren kembali agar bisa sarapan.


"Ren, bukankah ini tidak baik. Bibi tidak mengajarkan kalian seperti itu, tidak baik bertengkar, bagaimana kalau kita kembali untuk sarapan." Bujuk Miho pada Ren.


"Tidak perlu, aku bisa sarapan di kantin sekolah nanti."


"Ren, haih … sudahlah."


Ren dan Miho berjalan menuju pintu rumah, disaat yang bersamaan ternyata ada seseorang yang menekan bel rumah.


Ting … Nong …


Miho membukakan pintu untuk melihat siapa yang berada di luar, sedangkan Asahi yang berada di meja makan hanya melirik ke arah pintu, melihat siapa yang datang.


"Selamat pagi Nona Miho, selamat pagi Tuan Muda." Sapa Hisao pada Miho dan Ren.


"Oh' Hisao, selamat pagi." Balas Miho.


"Selamat pagi." Jawab Ren singkat.


"Nona anda …"


Perkataan Hisao terpotong oleh Ren. "Paman Hisao, antar aku ke sekolah bersama dengan Bibi Miho."


"Sekejap kau memanggil ku Paman dan sekejap kau memanggilku Hisao, aku sama sekali tidak mengerti pemikiran anak ini." Batin Hisao.


"A' tapi Tuan Muda, bagaimana dengan Tuan Muda Rei?"


"Biarkan saja, dia ingin pergi bersama Ayah, aku tidak ingin pergi bersama Ayah."


Mendengar perkataan dari Ren mata Hisao melirik ke arah meja makan yang di mana di sana hanya ada Asahi dan Rei.


Asahi mengangguk pelan pertanda kalau Hisao boleh mengantarkan Ren dan Miho ke sekolah.


"Haha' baiklah kalau begitu saya akan mengantarkan anda Tuan Muda."


Hisao mengeluarkan mobil dari garasi dan mengantarkan Ren dan Miho ke sekolah. Sedangkan Asahi dan Rei masih berada di meja makan.


"Ayah memberikan izin kepada paman Hisao agar ia bisa membawa bibi Miho dan Ren bukan?" tanya Rei pada Asahi.


"Ya. Ayah ingin bertanya padamu Rei, kenapa kalian bertengkar?" tanya Asahi balik pada Rei.


"Kenapa Ayah menanyakan itu padaku, kenapa Ayah tidak bertanya pada diri Ayah sendiri. Disini hanya akulah yang membela Ayah tadi."


"Ternyata berbohong pada Ayah sendiri itu sulit ya, apa lagi Ayah sudah tau bagaimana sifat kami berdua. Jika Ayah sudah tau kami berpura-pura, lalu kenapa?"


"Kenapa kalian berbuat sampai seperti ini?"


"Aku tidak bisa menjawabnya begitu pula dengan Ren, jawabannya ada pada Ayah. Yang dikatakan oleh Ren tidak salah."


"Hahh … apa yang sudah diajarkan oleh Miho pada kalian."


"Bibi Miho mengajarkan kami berbagai macam sama seperti yang ibu lakukan, sebab itulah Ayah mengatakan kalau bibi Miho menduplikat ibu bukan? tapi sebenarnya Ayah salah."


Rei turun dari tempat duduknya dan berjalan melewati Ayahnya, baru beberapa langkah Rei melewati Ayahnya, ia berhenti. "Antar aku ke sekolah Ayah."


Setelah mengatakan hal itu Rei pergi meninggalkan Ayahnya yang masih duduk di bangku meja makan.


"Pengaruh wanita itu di rumah ini sudah semakin besar, bahkan dia membuat putraku membenciku. Heh … aku akan memikirkan cara untuk membuatmu pergi dari rumah ini secepatnya." Batin Asahi menahan geram pada Miho.


Asahi mengeluarkan mobil pribadinya dan mengantarkan Rei pergi ke sekolah.


Di perjalanan menuju ke sekolah Rei terus menatap Ayahnya yang sedang menyetir, sedangkan Rei hanya melirik Rei dari kaca spion.


"Ayah, apa Ayah tau sikap Ayah kepada bibi Miho itu, tidak sepantasnya Ayah tunjukkan kepada kami berdua. Jika Ayah terus menunjukkan sikap seperti itu, maka otomatis kami akan menirunya ketika dewasa." Jelas Rei menasehati Ayahnya.


"Hei Rei, bukankah pemikiran mu itu terlalu dewasa. Kalian masih kecil, jadi berpikirlah seperti anak-anak pada umumnya." Kata Asahi.


"Ya benar, kami memang masih kecil cuma … karna faktor lingkungan lah yang membuat kami menjadi dewasa."


"Hahh … sudahlah Rei jangan membahasnya lagi."


"Sebenarnya aku tidak ingin membahasnya, tapi aku tidak suka sikap Ayah yang seperti ini."


Asahi hanya mendiamkan perkataan anaknya itu. "Hei Narumi, sepertinya adikmu itu terlalu mempengaruhi otak anak kita. Jangan salahkan aku bersikap buruk padanya ya Narumi."


****************


Beralih ke Miho dan Ren yang sudah sampai di sekolah. Ren turun dari dalam mobil bersama dengan Miho.


Saat sudah turun dari mobil Miho bertanya pada Ren kenapa ia bertengkar dengan Rei. "Ren kenapa kau bertengkar dengan Rei, kalian itu saudara tidak baik seperti itu."


"Itu hanya berpura-pura Bibi." Jawab Ren.


Mendengar jawaban Ren sontak membuat Miho terdiam, sedangkan Hisao yang sudah keluar dari mobil hanya menatap Ren.


"Kenapa kalian berpura-pura bertengkar?"


"Itu adalah rencana Rei dan aku mengikutinya. Rei dan aku ingin membuat ayah kesal hingga ia meminta maaf kepada kami."


"Untuk apa, ayah kalian tidak salah apa-apa pada kalian."


"Ya benar, ayah memang tidak salah pada kami tapi ayah bersalah pada Bibi. Walaupun sikap ayah seperti itu, dia akan sadar diri dan akan meminta maaf padaku. Disaat itu aku akan menyuruhnya untuk meminta maaf pada Bibi."


"Selain pembohong ternyata kalian sangat licik, aku merindukan diri kalian yang dulu saat kalian masih polos dan lucu." Batin Hisao.


Miho mengelus kepala Ren. "Hhh' terimakasih Ren, kau mengerti dengan Bibi. kalau begitu pergilah, belajar yang rajin. Bibi akan menjemputmu ketika pulang sekolah nanti."


"Emm' ya! sampai jumpa Bibi." Ren melambaikan tangannya pada Miho sembari berjalan masuk ke sekolah.


Miho membalas lambaian tangan Ren. "Kak, inilah yang membuat aku terus berjuang. Putramu membuatku selalu tersenyum, melenyapkan semua kesedihan yang ada di hatiku."


Melihat Ren yang sudah masuk ke dalam sekolah, Miho pun masuk ke dalam mobil.


Ketika mereka berbelok dan pergi di saat itu juga mobil yang dikendarai Asahi tiba.