The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Jalur Kematian



"Aku tidak bisa diancam dengan Rei and Ren, aku juga bisa menolak permintaan mereka," ucap Asahi pada Miho.


"Tapi kau tidak bisa menolak permintaan mereka dari dalam hati, benar bukan?" tanya Miho.


"Huhh' … ya begitulah."


★★★


Beralih pada Hisao, Sora dan Soma yang tengah mencari keberadaan Rei and Ren dari lokasi yang diberikan oleh Asahi. Tetapi mereka tidak menemukan Rei and Ren, mereka hanya menemukan ponsel milik Rei.


Mereka bertiga terus mencari hingga akhirnya mereka sedikit lelah dan beristirahat.


"Mereka tidak ada di sini, sekeras apapun kita mencari mereka tetap tidak akan ada disini," ujar Sora.


"Aku tak pernah melewati tempat seperti ini, ini layaknya jalan baru bagiku." Timpal Soma.


"Jalan ini menuju ke suatu tempat yang mana ketika kita terus berjalan, maka kita akan menemukan dua jalur dan ketika kita memasuki salah satu dari dua jalur itu, kita akan menemukan beberapa persimpangan." Jelas Hisao.


"Jadi menurut Kakak mereka berada di sana?" (Sora).


"Aku juga tidak tau, aku tidak pernah kesana melainkan aku hanya mengetahuinya dari seseorang yang pernah melewati jalur ini."


"Siapa?" (Soma).


"Rui. Saat ini dia sedang berada di luar kota, sedang menangani sesuatu dan kemungkinan besar dia sudah kembali besok."


"Menunggu dia pulang maka kepala kita sudah dipenggal."


"Huhh' … sebaiknya kita mencoba untuk menelusuri jalan yang Kakak katakan." (Sora).


"Baiklah."


Mereka bertiga pergi menelusuri jalan yang Hisao katakan, tapi ketika mereka menelusuri jalur yang pertama. Mereka tidak menemukan apa-apa selain jalan buntu, jadi mereka memutuskan untuk kembali dan mencoba jalur yang satunya.


Saat mereka sampai di pertengahan jalan, mereka berhenti dan keluar dari dalam mobil.


"Apa ini! kenapa banyak sekali persimpangan di sini!" kesal Soma.


"Sudah kukatakan." Ucap Hisao.


"Kita hanya bisa memilih salah satunya, tetapi di sini ada tiga persimpangan." (Sora).


"Sudahlah, kita akan meninggalkan mobil di sini dan kita akan berpencar. Aku akan lurus saja ke depan dan kau Sora pergi ke sebelah kiri, Soma kau pergi ke sebelah kanan, kalian mengerti!"


Mereka mengangguk. "Ya!!"


"Ingat jangan menelusuri terlalu jauh, jika sudah merasa semuanya tidak kondusif maka kembalilah."


"Kami mengerti!" (Sora).


Mereka mulai berpencar ke arah yang sudah dijelaskan oleh Hisao.


Disisi Hisao, ia terus memperhatikan sekitar dengan perasaan waspada.


"Di depan sana sepertinya ada beberapa rumah yang tidak terpakai, tapi apa mungkin di tempat yang dipenuhi oleh hutan ini terdapat rumah. Sudahlah mari dilihat dulu."


Hisao berjalan mendekati rumah tersebut, dan benar saja rumah itu adalah rumah yang sudah tak terpakai lagi.


"Aneh, rumah secantik ini ditinggalkan begitu saja. Apa mungkin orangnya sudah g*la."


"Mari kita lihat ke dalam."


Ketika Hisao memeriksa ke dalam rumah tersebut, tercium lah bau yang sangat tidak mengenakkan hingga membuat Hisao tidak bisa bernapas.


"Bau apa ini! jika ini bau racun aku pasti sudah mati dari tadi, tapi ini baunya seperti bangkai. Apa ada hewan mati di sini." Batin Hisao sembari menutup mulut dan hidungnya dengan tangan.


Hisao terus mencari di mana sumber bau itu yang semakin lama bau itu semakin menyengat saja, dan ketika Hisao menemukan sumber itu berapa terkejutnya ia kalau bau yang menyengat itu berasal dari tumpukan kepala manusia.


Melihat hal yang demikian Hisao bergegas keluar dari rumah tersebut, dan kembali menghirup udara segar.


"G*la. Siapa yang melakukan semua ini! apa dia menganggap nyawa itu sebuah mainan. Orang yang seperti ini, dia layak mati dengan disiksa."


"Bagaimana dengan penelusuran Sora dan Soma? apakah mereka menemukan sesuatu."


"Siapa yang melakukan hal seperti ini? jalan ini bahkan tidak tampak seperti jalan biasanya, ini adalah sebuah jalan yang dilumuri oleh darah."


"Orang keji seperti apa yang melakukan hal ini."


"Huhh' … sebaiknya aku kembali saja, sepertinya ini sudah tidak bisa ku tangani."


Sora lalu memutuskan kembali ke titik awal.


Sedangkan Soma yang terus mencari, ia terus mengomel-ngomel karna tidak menemukan apa-apa.


Tak berapa lama omelannya itu berhenti saat dia mendengar sesuatu.


"Aaarrgghh!!!" teriak seseorang.


"Hahaha' …" Tawa seseorang.


"Suara orang gila siapa itu." Batin Soma.


Ketika Soma mencoba untuk mengintip suara itu berasal dari siapa, Soma terdiam layaknya patung tak bersuara ataupun berkutik dari tempatnya.


Dia melihat ada satu orang pria yang membunuh banyak orang di dalam kandang.


"Siapa dia? sepertinya dia sudah kehilangan akal, apa dia tidak melihat darah itu terus mengalir. Bahkan baju yang dia pakai pun sudah tidak berbentuk baju lagi."


"Hhh' kalian tau apa rasanya darah kalian? itu sangat tidak mengenakkan, tapi mau bagaimana lagi. Aku harus membunuh kalian karena kalian tidak bisa membayar hutang, itulah yang diperintahkan oleh bos ku kepadaku." Jelas orang itu.


Melihat pemandangan yang seperti itu, Soma lantas pergi meninggalkan tempat itu untuk memberitahukannya kepada Hisao dan Sora.


Setibanya Soma di titik awal, ia sudah melihat kalau ada Sora dan Hisao di sana.


"Hahh … hahh … hahh …" Soma terengah-engah dengan wajah yang pucat.


"Ada apa denganmu Soma? kenapa wajahmu terlihat sangat pucat?" tanya Sora panik.


"Hahh … itu di sana, aku melihat orang gila yang membunuh dengan membabi buta."


"Seperti apa cara membunuhnya?" tanya Hisao pada Soma.


"Dia langsung memenggal kepala orang."


"Hehh … di setiap rumah yang kutemui tadi terlihat banyak kepala juga, apakah dia penyebabnya." Batin Hisao.


"Apakah dia membunuh di dalam ruangan?" (Sora).


"Tidak, dia membunuh mereka semua di jalan, bahkan jalan itupun sudah tertutupi oleh darah."


"Ehh' kenapa mirip sepertiku." Batin Sora.


Sora dan Hisao saling memandang satu sama lain lalu mengangguk.


"Bawa kami ke tempat itu." (Sora).


"Baik."


Soma membawa Hisao dan Sora pergi ke tempat di mana orang itu membunuh.


Saat sampai di sana Hisao, Sora dan Soma terdiam dan membeku melihat pemandangan itu.


..."Tidak salah lagi, dia adalah kepala kananku." Batin Hisao menyeringai....


"Ayo kita pergi, kita tidak dapat menolong mereka." Tukas Hisao.


"Siapa dia?" (Sora).


"Kakak tirinya Rui, Yuichi. Bukankah aku sudah mengatakannya kepada kalian, jika aku bertarung dengannya maka kemungkinan kami sama-sama terluka. Tetapi jika dia bertarung dengan Rui, maka sudah jelas pemenangnya adalah Rui si monster tanpa hati."


"Baiklah kalau begitu mari kita kembali." (Sora).


Mereka bertiga bergegas kembali ke titik awal, tetapi walaupun begitu jika sudah memasuki kandang harimau maka belum tentu kita bisa keluar hidup-hidup.


Ketika Hisao, Sora dan Soma sudah sampai di titik awal. Tanpa disangka-sangka dan tanpa mereka duga Yuichi sudah sampai lebih dulu di tempat itu.