The Yakuza Boss's Favorite Twins

The Yakuza Boss's Favorite Twins
Hujan Badai



Di dalam kamar Miho melihat Rei and Ren masih terlelap dalam tidurnya. Miho tidak mengetahui kalau sebenarnya Rei and Ren berpura-pura tertidur.


Karna malam itu sudah sangat larut Miho memutuskan untuk tidur di pinggir kasur Ren, sebelum Miho tertidur Hisao memberitahukan kepada Miho kalau Yuka tidak bisa pulang malam ini, dan kemungkinan besar Asahi juga tidak akan pulang.


Miho hanya mengiyakan perkataan Hisao lalu ia mulai tertidur.


Disaat Miho sudah terlelap dalam tidurnya tiba-tiba hujan turun disertai dengan petir yang menyambar nyambar.


Tepat di pukul 00:00 malam, terdengar lah suara ketukan pintu dan bel rumah yang terus berbunyi.


Miho yang tadinya sedang tertidur perlahan-lahan terbangun karna suara berisik tersebut.


"Siapa yang datang di tengah malam seperti ini," ucap Miho sembari mengucek matanya.


Miho beranjak dari tempat tidur Ren dan berjalan keluar dari kamar Rei and Ren, dengan perlahan ia menuruni anak tangga dan berjalan menuju ke depan pintu masuk rumah.


Ketika pintu di buka oleh Miho terlihatlah Asahi yang tengah kebasahan sembari memeluk dirinya sendiri menahan rasa dingin di tubuhnya.


"Hss' … kenapa kau lama sekali membuka pintu?" tanya Asahi menggigil.


Mendengar perkataan Asahi tersebut Miho hanya terdiam tak berkata apa-apa sambil menatap Asahi yang kedinginan.


"A'Apa yang kau tatap!" Asahi menolehkan pandangannya ke arah lain seolah tak ingin menatap Miho.


Seketika Miho tersadar. "A'a bentar aku akan mengambilkan handuk untukmu."


Miho bergegas mengambil handuk dan memberikannya kepada Asahi untuk mengeringkan dirinya.


Asahi mengambil handuk tersebut dan mulai mengeringkan dirinya dengan handuk yang diberikan oleh Miho.


Setelah selesai mengeringkan diri ia berjalan pergi menuju kamarnya. Sedangkan Miho yang masih berada di depan pintu hanya melihat Asahi pergi menuju kamarnya.


"Apakah sebaiknya aku membuatkan sesuatu untuk dirinya." Batin Miho sambil menutup pintu rumah dan menguncinya.


"Eh' tidak tidak tidak. Lagipula untuk apa aku membuatkannya, lebih baik aku menemani Rei and Ren tidur di kamar."


Miho menaiki tangga dan berjalan menuju kamar Rei and Ren, tetapi belum sempat ia membuka pintu kamar Rei and Ren ia lalu berbalik pergi menuju dapur.


Ia menyeduhkan sebuah kopi, setelah selesai menyeduh kopi ia mengantarkan kopi tersebut ke kamar Asahi.


"Haih' aku dikalahkan oleh rasa iba. Baiklah mungkin hanya kali ini saja."


Tok … tok … tok …


Tetapi tidak ada jawaban Asahi dari dalam kamar.


Miho mengetuk untuk yang kedua kalinya.


Tok … tok … tok …


Tetapi tetap sama, Asahi tidak menjawab apapun dari dalam kamarnya.


"Apakah dia tidur? tapi bukankah itu terlalu cepat. Aku hanya sebentar ke dapur, kenapa dia sudah terlelap."


"Aku tidak tau aku harus memberikan kopi ini atau tidak, jika aku masuk ke dalam kamarnya aku takut dia marah. Tapi jika aku tidak memberikan ini maka aku akan di katakan orang yang tidak mempunyai hati dan belas kasihan." Gumamnya.


"Jadi harus bagaimana?"


Miho terus mempertimbangkan apakah dia harus masuk ke kamar Asahi atau tidak, hingga akhirnya dia menentukan jawabannya yang sangat berisiko."


"Baiklah tidak ada cara lain hanya seperti ini saja."


Perlahan Miho membuka pintu kamar Asahi dan ketika sudah terbuka semuanya, Miho terdiam terpaku di depan pintu. Ia melihat Asahi yang tidak memakai baju dan hanya melingkarkan sebuah handuk di pinggang nya.


Asahi yang melihat Miho hanya bisa diam tak berkutik dari tempatnya berdiri.


Tanpa berbasa-basi Miho langsung meletakkan kopi di atas meja dan menutup pintu kamar Asahi dengan keras.


*Brakk


Suara pintu itu terdengar sampai ke kamar Rei and Ren yang tak jauh dari kamar ayahnya.


Mereka yang awalnya hanya berpura-pura tertidur pun terkejut mendengar suara keras itu.


Rei and Ren saling menatap satu sama lain.


"Apa yang di lakukan oleh ayah?" tanya Rei pada Ren.


"Aku juga tidak tau hmm sepertinya-"


Sebelum Ren menyelesaikan perkataannya terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa menuju kamar mereka, karna hal itu mereka kembali berpura-pura tidur.


*Ceklek


Dan di tutup kembali dengan cepat.


*Brak


"Hh' apa yang sudah kulihat tadi. Bagaimana ini? ternyata dia tidak mengatakan sesuatu saat aku mengetuk itu, karna dia berada di kamar mandi ya." Batin Miho dengan wajah memerah seperti tomat.


Miho yang tidak bisa menahan rasa malu karna tindakannya barusan, langsung terjatuh lemas ke lantai.


"Hh wajahku terlihat panas, bagaimana ini pikiranku terasa kacau. Itu semua karna dia! ihh."


Sambil menutupi wajahnya Miho terus menyalahkan Asahi atas keadaan dirinya sekarang.


★★★


Beralih ke Asahi yang sudah selesai memakai baju piyama nya sambil meminum kopi.


"Haih … setelah ku pikir kembali ada baiknya aku menjelaskan yang sebenarnya padanya."


Setelah selesai meminum kopi Asahi keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Rei and Ren, sesampainya di sana Asahi langsung mengetuk pintu.


Tok … tok … tok …


Mengetahui siapa orang yang mengetuk pintu, membuat bulu roma Miho berdiri.


"Apa?" Miho bertanya dari dalam kamar.


"Aku ingin berbicara denganmu," ucap Asahi.


"Jika kau ingin berbicara bicara saja, aku akan mendengarkannya."


"Tapi ini tentang pesan terakhir Narumi."


Mendengar perkataan itu dari Asahi membuat kepala Miho yang tadinya tertunduk malu kini kembali tegak, ia langsung berdiri dari tempatnya.


"Apakah dia sudah ingin mengetahuinya, baiklah kalau begitu. Lagipula ini tidak bisa di sembunyikan terus-menerus." Batin Miho.


"Kau tidak berbohong?" tanya Miho.


"Ya."


Miho membuka pintu kamar, ketika pintu sudah terbuka dan terlihatlah Asahi di depan matanya tiba-tiba petir menyambar dengan dentuman yang keras di sertai kilat.


Bersamaan dengan itu lampu juga ikut mati, Miho yang reflek langsung melepaskan pegangannya dari pintu dan memeluk Asahi sambil menangis.


"Kakak!! lampunya mati, hiks …" teriak Miho.


"Oi Miho tenanglah! ini hanya mati lampu." tegas Asahi.


"Aku takut!!"


Mengetahui Miho yang memeluknya dengan erat Asahi tidak bisa melakukan apa-apa, ia lalu mengangkat kaki Miho dan melingkarkan kaki Miho di pinggangnya layaknya seperti anak monyed.


Setelah menggendong Miho Asahi lalu mengambil ponselnya di saku celananya, ia menyalakan senter di ponselnya dan mengarahkan senter tersebut ke arah Rei.


Terlihatlah Rei yang sedang memeluk kedua kakinya sambil menatap ke arah senter di sertai air mata.


"Rei k'kau sudah bangun." Gugup Asahi.


"Hiks … A'Ayah …" Lirih Rei.


Mengetahui Rei sudah terbangun, Miho dengan cepat turun dari gendongan Asahi.


"Maaf aku tidak sengaja," ujar Miho.


Ketika Asahi ingin membalas permintaan maaf Miho tiba-tiba terdengar suara tangisan, sontak karna hal itu Asahi langsung mengarahkan senternya ke arah sumber suara.


Di situ terlihat kalau Ren sedang menangis sambil memanggil-manggil Miho.


"Ibu … Ibu …" Tangis Ren.


Melihat Ren yang sedang menangis, Miho lantas menggendong Rei dan meletakkannya di kasur Ren lalu memeluk mereka berdua sembari mengusap pelan kepala mereka.


"Sudahlah sudah, tenangkan diri kalian anak-anakku. Ibu ada disini untuk kalian." Miho tersenyum lembut menatap Rei and Ren.


Asahi yang berada di sana terkejut melihat pemandangan tersebut.


"Situasi seperti ini … aku pernah mengalaminya bersama dengan Narumi." Batin Asahi.