THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
TEMAN



"Kau tak seharusnya melakukan ini" ujar Winter lirih, sesekali ia melirik Arthur yang sedang merapikan alas tidurnya tepat di depan pintu tahanan Winter.


"Kenapa?? Aku murni ingin melakukannya kok, jangan merasa sungkan!"


"Terserah!"


Winter mengambil sepatunya yang ia buat untuk melempari manusia khayalan beberapa saat lalu. Gadis itu mengenakan kembali sepatunya dan duduk diatas ranjang penjara, ia terkejut karena ternyata ranjang itu sangat empuk.


Arthur kebingungan akan menghadap kemana saat tidur, ia tidak terbiasa mengenakan gigi palsunya saat sedang tidur tapi jika melepasnya ia takut Winter akan mengira dirinya adalah seorang penipu.


"S-selamat malam Winter!" Ucap Arthur lalu membaringkan tubuhnya, membelakangi sel tahanan Winter.


"Hahh...." Winter menghela nafas panjang. "Kenapa kau peduli denganku sampai mau menemaniku seperti ini, ingat ya? Aku ini tidak tertarik denganmu!"


"Entahlah, mungkin karena kau satu-satunya manusia yang mau banyak bicara denganku"


Aku bukan manusia Arthur, maafkan aku... - Winter.


"Apa selama ini kau tidak pernah punya teman?"


"Aku punya, tapi aku tidak ingat sejak kapan mereka semua jadi menjauhi aku" Arthur terdengar tak bersemangat membahas teman-temannya. "Kau sendiri??"


"Sayangnya aku tak pernah benar-benar punya teman, mereka semua tak ingin dekat denganku"


"Kenapa?? Bukankah kau ini cantik, pintar, baik dan mudah bergaul"


"Justru karena aku cantik mereka tak mau dekat denganku, mungkin karena takut kalah cantik denganku! Dan lagi, aku ini tidak sebaik yang kau kira" Winter terkekeh, ia membaringkan tubuhnya diatas ranjang.


"Hahahaa, mungkin itu juga benar"


"Lalu, kenapa semua murid di kampus membully mu?" Sebenarnya Winter tahu apa jawabannya tapi ia hanya sekedar basa-basi saja. "Bukankah kau orang yang baik?"


"Baik saja tidak cukup untuk hidup di dunia ini, wajah adalah penilaian yang paling utama" ujar Arthur sedih, ia kembali mengingat masa-masa kecilnya. "Kebanyakan orang akan menyukai wajahmu bukan dirimu yang sesungguhnya"


"Kau benar!" Winter tersenyum. "Kalau begitu mulai sekarang aku tertarik denganmu!"


"Eh??"


Arthur terkejut, ia sampai bangkit dari tidurnya dan menoleh ke arah Winter yang ternyata sudah membelakangi dirinya. Arthur hanya bisa melihat bagian belakang tubuh Winter.


"Kau bilang apa??"


"Aku akan mencoba untuk tertarik denganmu" gumam Winter lirih. "Kau ini baik, tidak ada salahnya berteman denganmu"


Ya Tuhan! Ini... Pertama kalinya ada manusia yang ingin berteman denganku - Arthur.


Gadis cantik itu menyentuh gelang yang terbuat dari karet di tangan kirinya, Winter mengusap gelang itu perlahan dan kemudian tertidur.


_______________________________________


Matahari sudah menyingsing, asrama yang didirikan oleh Landon sudah mulai melakukan segala macam aktivitasnya. Winter menggeliat dengan anggun, gadis itu mengucek kedua matanya dan mencari keberadaan Arthur di tempat terakhir ia lihat.


Pria culun itu sudah pergi sebelum Winter terbangun dari tidurnya, tak lama setelah itu Winter merasakan mulas di perutnya. Buru-buru ia berlari ke sebuah pintu yang ternyata ada kamar mandi dibaliknya.


"Wow, tahanan ini cukup lengkap fasilitasnya" puji Winter senang.


Dari dalam kamar mandi, Winter bisa mendengar seseorang tengah melangkah mendekati sel tahanan miliknya. Ini karena dia adalah seorang Werewolf jadi pendengarnya cukup tajam saat ini.


Siapa?? - Winter.


KLANG!!


(Suara pintu terbuka)


Tap!


Tap!


Tap!


Suara langkah kaki itu berhenti tepat di depan kamar mandi yang ada Winter di dalamnya. Gadis itu segera menyudahi aktivitasnya dan bergegas membuka pintu, kedua matanya membulat lebar ketika tak mendapati siapapun berada di tempat itu.


Eh?? - Winter.


S-siapa yang membukanya? - Winter.


Gadis itu melangkah mendekati pintu sel, ia celingak-celinguk tapi tetap tidak ada seseorang disana. Ia benar-benar sendirian di tempat itu, sebuah ide untuk melarikan diri menghampiri dirinya. Kebetulan juga pintu sudah terbuka.


Winter menyambar tas ransel yang ia letakkan di sembarang tempat malam itu, gadis itu segera pergi mengendap-endap dan berusaha agar tidak berisik.


Eh?? - Winter.


SRAKKK!!


SRARRAAKK!!


Tubuh Winter tertarik oleh suatu sihir, ia seolah diseret oleh sesuatu yang membawanya ke kantor profesor Shagasemi. Kedua tangannya lecet karena harus menabrak benda-benda sebelum dirinya sampai ke tempat itu.


"YA TUHAN!!" Teriak Winter kesal. "Tidak bisakah kalian memintaku datang kemari baik-baik??"


"Untuk apa berbuat baik kepada pencuri yang akan kabur??" Sahut Pink yang tiba-tiba menggenggam erat tangan kanan Winter.


Pencuri?? - Winter.


Arthur menundukkan kepalanya, ia berusaha menyembunyikan wajahnya dari gadis cantik itu. Sepertinya pria culun itu sedang bersedih atas kelaukan Winter.


"Lihat??" Pink merebut kunci sel yang ada di tangan Winter. "Gadis ini mencoba untuk kabur"


"T-tunggu! Apa??"


"Ada pencuri di asrama ini!" Maki Pink, ia melotot menatap Winter yang semakin kebingungan.


"A-aku tidak mencuri!"


"Lalu ini kunci apa??" Pink menenteng kunci tepat di wajah Winter. "Apa mata mu tidak bisa melihat ini?"


"Oh ayolah, tidak mungkin kalian semua bodoh!" Ledek Winter kesal, ia beralih menatap Landon pemilik asrama. "Bagaimana aku bisa mencuri kunci jika aku berada di dalam tahanan? Kalian tanya saja pada Arthur! Semalam dia bersamaku"


Peach, Pink, Landon dan Justin memandang Arthur. Semuanya menunggu jawaban dari Arthur, pria itu menatap semua orang satu persatu lalu menganggukkan kepala. Ia membenarkan ucapan Winter.


"Semalam aku tidur di depan pintu selnya"


"Kalau begitu, kau yang membantunya mencuri kunci?" Celetuk Justin asal. "Apa aku benar?"


"T-tidak, aku tidak melakukan itu" Arthur menggelengkan kepala kuat. "Bukan aku!"


"Tadi pagi pintu nya sudah terbuka saat aku di kamar mandi, ada seseorang disana tapi saat aku keluar orang itu telah pergi tanpa aku ketahui siapa dia" ucap Winter menjelaskan.


"OMONG KOSONG!!" Teriak Pink, gadis itu mendelik menatap Winter yang terus-menerus membantah. "Itu tidak mungkin"


"Aku berkata yang sebenarnya!!"


BRAK!!


(Menggebrak meja)


"HENTIKAN!!!" Tegas Landon, ia berjalan mendekati Winter. Tatapan pria itu begitu tajam menatap Winter, gadis itupun tak kalah tajamnya menatap Landon. "Cukup!!"


Kau pikir aku takut?? - Winter.


"Justin! Segera hapus ingatannya, biarkan dia pergi dari sini!"


Landon membalikkan badannya, ia kembali menuju meja kantor dan duduk disana membiarkan Justin melakukan pekerjaannya.


Tak butuh waktu lama, Justin berhasil menghipnotis Winter. Gadis itu terlihat linglung saat ini seperti orang yang sedang tidak sehat pikirannya, tatapan mata Winter terlihat begitu kosong. Ini berarti ia akan melupakan semua orang yang pernah ia temui di asrama ini.


"............." Arthur menarik nafas dalam-dalam, ia yang lebih dulu pergi meninggalkan ruangan Landon.


...Bersambung!!!...


Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk terus mendukung Author dengan cara klik Like Komentar Follow Favorit Vote dan Rating ya? 😊🙏