THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
BUKU TUA



Arthur berdiri didepan sebuah kaca yang menempel di lemarinya. Pria itu membuka sedikit mulutnya dan melepas gigi palsu yang ia kenakan.


"Bisa-bisanya gadis itu menciumku dengan gigi palsu yang masih menempel ini?!" Rutuk Arthur penuh penyesalan.


"Aargghh, bodohnya aku!" Arthur menghentak-hentakan kakinya ke lantai dengan kesal. "Ciuman pertamaku disaat aku sedang jelek-jeleknya!!"


Lagipula kenapa Winter malah memberiku ciuman malam itu?! Apa dia menyukai aku?? - Arthur.


Pria itu melompat ke atas ranjang empuk miliknya, dia menarik selimut dan menyembunyikan dirinya di dalam selimut. Tak hanya sampai disitu, Arthur terus-terusan menggeliat karena merasa resah tidak karuan.


Sialan! Kenapa aku jadi memikirkan Winter terus?! Aku tahu, semalam pasti dia kesusahan menciumku dengan gigi palsu itu! Aku bahkan tidak bisa menikmati ciumannya - Arthur.


Wajah Phoenix itu memerah seperti tomat, ia merasakan seluruh wajahnya kini memanas seakan mengeluarkan uap yang mendidih. Di tambah lagi ia menutupi dirinya dengan selimut tebal. Pria itu lantas menendang selimutnya hingga jatuh ke atas lantai, ia tidur telentang sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Aku...." Gumam Arthur lirih. "Aku melihat gadis itu lagi saat Winter menciumku, siapa dia sebenarnya??"


Tak butuh waktu lama untuk berpikir, Arthur bergegas pergi menuju danau buatan di sekolah itu. Pria itu hanya mengenakan celana jeans longgar dan kaos polos biasa. Sesampainya di tepi danau, Arthur mengambil sebuah batu besar dan memeluknya.


Semoga aku bisa melihatnya lebih lama lagi... - Arthur.


BYURR!!!


Phoenix itu melompat untuk bunuh diri, entah sudah berapa kali ia melakukan bunuh diri disepanjang hidupnya. Arthur menenggelamkan dirinya ke dalam air, kedua matanya terasa buram dan nafasnya sudah menyentuh pangkal leher membuatnya tercekat karena kehabisan nafas.


Sekali lagi, ketika kematian menghampiri dirinya. Ia melihat seseorang berenang menghampiri dirinya, gadis yang amat cantik namun tak terlihat jelas bagaimana rupanya ketika Arthur nantinya hidup lagi.


Gadis itu tersenyum ceria memandang Arthur, kali ini ia berenang memutari jasad Arthur yang telah tiada. Kedua mata Arthur yang terbuka terus memandang ke arah si gadis.


"Aku menemukanmu..." Bisik gadis itu pelan di telinga Arthur. "Kita sangat dekat, aku mencintaimu Densha...."


BLAAARRRR!!!


Danau yang tenang kini terbakar oleh hamparan api berwarna oranye, ini akan menjadi pemandangan yang sangat aneh jika dilihat oleh mata manusia. Bagaimana mungkin ada air yang terbakar, begitu kan? Dari kobaran api itu, muncul sosok Arthur yang berenang ke permukaan. Pria itu segera menepi sambil terbatuk-batuk hebat, pakaiannya sangat basah saat ini.


Densha?? - Arthur.


Kening Arthur berkerut, ia seperti sedang diberi teka-teki oleh gadis yang hanya muncul saat dirinya menemui kematiannya itu. Ia segera bangkit berdiri dan mengambil sebuah batu dengan ukuran yang lebih besar. Arthur kembali melompat ke dalam air, ia ingin mengetahui apa yang dikatakan gadis itu kepada dirinya sekali lagi.


"Hiks.... Hiks.... Hiks..."


Bukannya kalimat yang ia terima, ia malah mendengar suara tangisan seorang gadis di dalam air tersebut. Arthur memejamkan kedua matanya untuk mengenal suara itu, benar saja! Itu adalah suara gadis yang selalu muncul disaat ia hampir mati.


"Kenapa Densha melakukan ini??" Gadis itu masih sesenggukan. "Ku mohon, berhenti untuk mengakhiri hidupmu..."


Tubuh Arthur kembali berubah menjadi api lalu mengeras seperti batu dan akhirnya pecah, dari dalam batu itu keluar sosok Arthur yang baru atau lebih tepatnya kembali hidup. Pria itu lantas berenang ke permukaan dan kembali menepi.


S-siapa itu Densha? - Arthur.


"Apa jangan-jangan gadis itu adalah hantu, dan dia bermaksud untuk meminta bantuanku" otak Arthur mulai berpikir yang bukan-bukan.


Arthur bangkit berdiri, ia berjalan kembali ke asrama dan mengganti pakaiannya yang basah. Ketika semua murid yang notabenenya adalah Vampir, Penyihir dan Werewolf sedang tidur pulas. Arthur malah pergi ke perpustakaan, pria itu menatap ruang perpustakaan yang sepi dan masuk ke dalam sana.


"Aku harus mencari sebuah buku tentang hantu"


"Kau sedang apa disini??"


Suara Peach mengagetkan Arthur, pria itu segera berbalik dan menatap Peach yang membawa beberapa buku sihir di kedua tangannya.


"Ah, tidak! Aku hanya penasaran tentang hantu. Jadi aku ingin membaca bukunya"


"Hantu??" Peach mengernyitkan dahi bingung. "Buku itu ada disana" tunjuk Peach ke arah kanan.


"Apakah aku boleh menanyakan sesuatu kepadamu?" Arthur sedikit takut dengan tatapan Peach yang membencinya. "Kalau tidak mau, kau boleh pergi"


"Apa?"


"Eh??"


"Apa yang ingin kau tanyakan?" Peach menatap Arthur dingin.


"............." Peach melengos tak peduli, ia segera membalikkan badan dan hendak pergi meninggalkan Arthur.


"Hei, jawab dulu dong!"


Langkah Peach sudah sampai ke depan pintu, gadis itu terdiam disana lalu menghela nafas berat. "Satu-satunya orang gila yang mencoba untuk mati tenggelam di danau itu hanya kau"


Hah?? Aku?? - Arthur.


Pria itu menunduk malu, memang benar selama ini Arthur menggunakan danau itu untuk bunuh diri demi melihat gadis itu lewat di pikirannya.


"Bolehkah aku mengatakan sesuatu kepadamu?" Tanya Peach dengan nada dingin.


"Hmm?? Katakan saja"


"Jauhi saudariku" kata Peach tegas dan berlalu pergi.


Apa maksudnya? Apa dia memintaku menjauhi Pink?? - Arthur.


Arthur melangkah menuju ke sebuah rak di sudut kanan, ia melihat begitu banyak buku tua berjejer rapi di kotak kayu yang kelihatannya sudah tua juga. Pria itu mengambil sebuah buku, bukannya buku tentang hantu yang di dapat malah sebuah buku mengenai eksistensi seperti dirinya lah yang ia dapatkan.


"Tribrid" Arthur membaca judul buku yang ditulis sendiri oleh Landon.


Apa itu Tribrid? - Arthur.


"Kalau tidak salah ingat, profesor pernah mengatakan hal semacam ini padaku"


Arthur membawa buku tua yang berdebu itu ke sebuah meja baca. Ia meniup debu yang telah tertempel disana selama puluhan atau mungkin ratusan tahun, pertama-tama ia membaca tahun penulisan dan tanda tangan Landon di buku itu.


Buku itu tidak terlalu tebal tapi juga tidak terlalu tipis, Arthur membaca cerita yang tertuang pada buku tersebut. Ia terkejut karena kisah itu adalah kisah nyata yang di tulis oleh Landon. Tak banyak hal yang membuat penasaran tertuang pada buku itu, jadi rasa penasaran Arthur pun tidak meledak seperti saat dirinya membaca buku teka-teki.


"Tribrid adalah tumbal untuk para Dewa..." Gumam Arthur membaca salah satu kalimat. "Wah, kasihan sekali hidup Tribrid ini! Jauh lebih kasihan lagi orangtuanya, pasti mereka tidak mau anaknya ditumbalkan"


Phoenix itu melanjutkan aksinya membaca buku, ia membalik ke halaman selanjutnya. Disana Landon menuliskan bahwa dia menyelamatkan Tribrid itu dari sosok Hydra yang tak lain adalah Karin.


"Wow! Jadi karin sudah hidup selama itu??"


Kedua mata Arthur membulat lebar ketika membaca lembar halaman terakhir yang tertulis pada buku tersebut. Di lembar terakhir tertulis nama-nama keluarga dari sosok satu-satunya Tribrid yang pernah dilahirkan.


Apa-apaan ini?? - Arthur.


Lembar terakhir buku itu menulis sebuah nama yang membuat Arthur bergidik ngeri, disana tertulis sebuah nama keluarga dengan marga 'Mikaelson' dan yang membuat Arthur paling takut adalah nama pria yang menjadi kepala keluarga dari si Tribrid tersebut.


"Densha Mikaelson??"


Arthur lantas menutup buku itu dan mengembalikannya ke rak seperti semula, pria itu berlari tunggang langgang seolah sedang dikejar oleh sesuatu. Ia kembali teringat pada sosok gadis yang ia temui di kematiannya dan menyebut nama pria itu. Arthur juga ingat ketika Landon pernah mengisahkan cerita mengenai pria tersebut, meskipun Landon tidak pernah menyebut nama sang pria kini dia tahu siapa pria yang di maksud Landon tersebut.


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung Arthur berdebar dengan amat kencang, ia berjalan menyusuri lorong di asramanya itu tatapannya penuh kehampaan. Dia tengah memikirkan perkataan Landon yang menyebutnya sebagai reinkarnasi dari pria bernama Densha.


Ini pasti bohong! - Arthur.


Klang!


Klang!


Klang!


...Bersambung!!...


Halo, terima kasih sudah membaca! Semangat kalian adalah semangatku juga, jangan lupa untuk dukung Author ya?? 🙏😘