
Blup!
Blup!
Blup!
"Dingin..."
Gumaman demi gumaman keluar dari bibir Winter, tubuhnya tenggelam ke dalam lautan yang biru. Kedua matanya terbuka sedikit, sehingga ia bisa melihat banyaknya ikan-ikan berenang mengitari dirinya.
Seperti mengalami Dejavu - Winter.
Nanana~
Jiwa murni, jiwa suci, kenapa mencariku? Jiwa pemberani, jiwa yang tangguh, ada apa kemari?
Lantunan lagu yang indah, namun anehnya Winter bisa mengartikan nada-nada indah itu sebagai suatu kalimat. Di depan tubuhnya yang lemas, kini terpampang jelas sosok Tribrid yang ia cari. Duyung itu berenang mengitari tubuh Winter yang hampir kehilangan oksigen.
Kedua mata biru sang Tribrid menyadari adanya gelang ditangan si gadis, terukir senyuman di wajah cantiknya. Tanpa perintah, duyung itu memeluk Winter dan membawanya berenang ke permukaan.
•••••
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Winter terbatuk-batuk, ketika seseorang dengan sekuat tenaga memompa bagian dadanya. Gadis itu memuntahkan banyak air laut yang ia minum beberapa saat yang lalu. Wajahnya putih pucat, hampir saja dirinya mati tenggelam.
"Hoekk!!"
"Kau baik-baik saja?" Tanya seorang gadis tanpa busana didepannya. Gadis dengan rambut panjang yang menutupi bagian depan tubuhnya.
".........." Bukannya menjawab, Winter malah mendelik melihat penampilan si gadis. Winter menutup mulutnya sendiri tidak percaya. "Astaga! Di-di-dimana bajumu?"
"Aku seorang duyung, aku tidak memerlukan pakaian sepertimu"
Winter melongo, ia tak percaya. Pada akhrinya dia berhasil bertemu dengan putri duyung, tapi... Bukankah Landon memintanya untuk menemui dewa? Bukannya duyung.
"Ibu...." Ucap si gadis duyung dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
"A-a-apa???" Winter tergagap mendengar kalimat si duyung. Lalu, tanpa meminta ijin, gadis duyung itu langsung memeluk tubuh Winter yang masih basah.
Eh?? Perasaan apa ini? - Winter.
Benar! Untuk seketika, Winter merasakan rasa hangat pada dadanya. Seperti suatu kerinduan yang sudah lama terpendam dan kini terobati, tak disangka-sangka Winter malah menangis terharu dan membalas pelukan si putri duyung.
"Namaku Ryn.... Akan aku bantu kau mengingatku dan mengingat semuanya" ujar Ryn dengan senyuman manisnya.
"B-bagaimana?" Winter menatap Ryn dengan tatapan nanar. "Apa maksudnya itu?"
"Disini" Ryn menyentuh dahi Winter dengan telunjuknya, gadis itu tersenyum lebar. "Aku akan membuka semua ingatan yang terkunci"
"Ng....."
"Akan sedikit sakit, jadi tahanlah..." Ryn menyentuh kepala Winter dengan kedua tangannya. "Apa kau percaya padaku?"
"A-aku... Aku memang harus percaya kan?" Jawab Winter gugup.
"Terima kasih..."
______________________________________
BRAK!!
BRUK!!
BRAK!!
Semua hancur, Cupid memporak-porandakan Motel itu dengan kibasan sayapnya, beruntung ia tidak pernah curiga pada drum yang usang dan tua. Karena disanalah Arthur bersembunyi.
"Aku tidak bisa" jawabnya enteng, tanpa ekspresi.
"Hah? Apa maksudmu tidak bisa?!" Wajah Justin memerah menahan amarah. "Kau ini penyihir, seseorang harus menghentikan Cupid sinting itu agar tidak menghancurkan tempat ini"
Kedua mata Justin menatap memohon ke arah Peach, dia bermaksud memberitahu bahwa dirinya dan Peach harus menghalau si Cupid agar meninggalkan tempat itu. Jika Cupid terlalu lama disini, hal itu akan berakibat buruk untuk Arthur.
"Jika kau lupa, aku ini penyihir Gemini!" Peach berkata tegas. "Aku tidak bisa membuat sihirku sendiri, aku harus menyerap sihir seseorang atau aku harus melakukannya bersama Pink"
"Cih! Tidak berguna, lalu kenapa kau ikut kemari jika tidak bisa melakukan apapun" Justin memperhatikan si Cupid dari jauh. "Apa kau yakin tidak ada cara lain? Aku khawatir Arthur akan dalam masalah"
Peach terdiam, kedua pipinya yang berwarna putih pucat tiba-tiba berubah menjadi rona merah. "S-sebenarnya...." Gumam Peach lirih.
"Hah??" Justin meninggikan nada suaranya. "Kau bicara apa sih?! Aku tidak dengar!! Pelan sekali"
Marah! Justin sangat marah dalam kondisi seperti ini, dia tidak bisa melakukan apapun selain jadi penonton. Yahh... Menonton Cupid mengobrak-abrik mencari sosok Phoenix yang tak lain adalah Arthur.
"SEBENARNYA ADA SATU CARA LAGI!!!" Teriak Peach kencang, hal itu membuat Justin tersentak kaget. Tidak biasanya Peach berteriak seperti itu.
"A-apa...."
Cup!
Belum selesai Justin mengutarakan kalimatnya, bibir Peach sudah menyentuh bibir si Vampir tampan. Peach mencium Justin dengan mata tertutup, bukan sembarang mencium, Peach sedang menyerap energi supranatural dari tubuh Justin untuk menggunakan sihirnya.
Peach melepas ciumannya, rona merah terlihat jelas di kedua pipinya. Justin yang masih terkejut, hanya bisa bengong menatap penyihir cantik di depannya itu.
Astaga.... - Justin.
KLANG!!!
Rantai terlepas dari tubuh Justin dan Peach, keduanya jatuh ke atas lantai yang terbuat dari papan kayu. Nafas Peach tersengal-sengal, mengingat begitu banyak energi yang ia butuhkan hanya untuk membuka seutas rantai. Inilah susah nya, jika menjadi penyihir Gemini yang tidak bisa menghasilkan sihirnya sendiri.
"Maaf..." Ucap Peach sambil tertunduk malu. "Sebenarnya aku bisa menyerap sihir di tubuhmu melalui tanganku" ujar Peach sambil menunjukkan telapak tangannya.
"Tapi..." Peach terdiam sesaat. "Dengan situasi seperti tadi, aku tidak bisa melakukannya" imbuh Peach.
Justin paham betul, karena rantai sihir yang sebelumnya mengikat kedua tangan dan kaki mereka, sehingga mereka tidak bisa menggerakan tubuh mereka kecuali leher dan kepala.
Justin menunduk membantu Peach berdiri, Vampir tampan itu menyentuh kedua bahu Peach. Matanya menatap dalam-dalam ke arah mata Peach, yang kini menatapnya dengan bingung.
"Kenapa?"
"Dengarkan aku, aku tidak bisa melawannya sendirian" terang Justin, Vampir itu seolah sedang membuat keputusan. Keputusan yang ia tidak tahu bakal merubah hidupnya, suatu saat nanti. "Jadi...."
Cup!
Ciuman singkat mendarat di bibir Peach dari Justin. "Ambilah sihir di dalam tubuhku sebanyak-banyaknya, dan bantu aku melawan Cupid sialan itu"
Kedua mata Peach terbelalak lebar, bukankah rantai pada tubuh mereka sudah terlepas. Seharusnya Peach bisa mengambil sihir melalui genggaman tangan saja, lalu kenapa Justin malah menciumnya? Ya Ampun! Pikiran Peach jadi melayang kemana-mana dengan ribuan pertanyaan. Darah ditubuhnya terasa mengalir deras ke arah kepala gadis itu.
Jantungku berdetak kencang sekali... - Peach.
Peach memejamkan kedua matanya, ia menerima ciuman lembut yang diberikan oleh Justin. Tanpa sadar, Peach pun juga membalasnya. Kedua makhluk berbeda jenis dan gender itu tak mempedulikan sosok Cupid yang semakin mendekat mereka.
ZRINNG!!!
Peach mengeluarkan sihirnya setelah melepas ciuman dari Justin, terlihat untaian senyum dari bibir penyihir berwajah suram namun cantik itu. Entah mengapa, ia jadi lebih bersemangat untuk melawan Cupid bersama dengan Justin.
BERSAMBUNG!!
Halo, terima kasih atas penantiannya sampai saat ini. Jangan lupa, klik Like, Favorit, Vote dan komentar yang mendukung. ☺️🙏
IG Author : NessaCimolin