THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
LEMAH



Nafas Justin terengah-engah, tubuhnya terbaring lemah tidak berdaya setelah ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengusir Cupid pergi. Luka dan rasa sakit yang ia alami tentu tidak akan sia-sia, mengingat Cupid juga pergi membawa luka yang sama.


Untuk pertama kalinya, Justin melihat Peach menangis. Penyihir berwajah suram namun cantik itu meletakkan kepala Justin di pangkuannya, Peach menangis melihat kondisi luka Justin yang cukup parah.


"Ya Tuhan!" Arthur yang baru saja keluar dari drum persembunyian nya sangat terkejut dengan kondisi Motel yang hancur, dan juga terkejut dengan kondisi Justin yang terluka parah.


"Peach! Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dariku?" Tanya Arthur penasaran.


"Tidak bisakah kau membahasnya di lain waktu, apa kau tidak lihat?" Peach menatap marah pada Arthur. "Bagaimana cara kita menyembuhkannya? Aku bahkan tidak bisa menggunakan sihir saat ini"


Peach terus menangis, ia mengusap wajah Justin yang penuh retak disana-sini, mengingat Justin adalah Vampir jadi dia tidak menghasilkan darah pada tubuhnya saat terluka.


"B-bagaimana ini?" Ujar Peach penuh kekhawatiran.


Dia... Mengkhawatirkan aku? - Justin.


Arthur terdiam, pria Phoenix itu lantas melepas jaket yang ia kenakan, menyisakan kaos berlengan pendek saja di bagian atas tubuhnya.


"Peach! Kau adalah penyihir Gemini!" Ucap Arthur santai. "Jangan panik, disini masih ada aku, kau bisa menyerap sihirku"


Peach menengadahkan kepalanya memandang Arthur, benar! Kenapa dia bisa lupa bahwa masih ada Arthur yang memiliki cadangan sihir cukup besar pada tubuhnya. Segera, setelah mendapat ijin dari Arthur, Peach menggenggam jemari Arthur dengan kuat, ia ingin menggunakan sihir penyembuhan pada tubuh Justin.


Setelah ia merasa cukup, Peach lantas melepas kaos yang dikenakan oleh Justin. Penyihir cantik itu menempelkan kedua tangan nya pada dada si Vampir dan mulai membacakan mantra, Arthur hanya bisa melihat dan berharap agar Peach mampu menolong Justin. Arthur tahu bahwa sebenarnya kemampuan Peach jauh lebih baik daripada seluruh penyihir di dalam asrama mereka.


Seluruh tenaga sudah di kerahkan, retakan-retakan yang terjadi pada tubuh Justin sudah mulai berkurang, tapi sayangnya Vampir itu masih merasa kesakitan pada tubuh bagian dalamnya. Peach tidak bisa mengobatinya lagi, satu-satunya cara terbaik adalah membawa Justin kembali ke asrama dan mengobati lukanya disana, ia perlu bantuan beberapa penyihir.


"B-bagaimana??" Arthur menatap penuh harap, ia menyentuh tangan Justin yang sedang lemah. "Apa dia akan baik-baik saja?"


Peach menunduk sedih, ia menggeleng menjawab pertanyaan dari Arthur. "Kita harus membawanya kembali ke asrama"


Kedua mata Arthur terbuka lebar, ia sedih melihat temannya seperti itu. Arthur menyalahkan dirinya sendiri yang malah tanpa sungkan berlindung seorang diri pada sebuah drum, sebenarnya siapa Cupid itu? Arthur tidak mengerti kenapa makhluk itu mencarinya dengan cara seperti ini.


Peach dan Arthur membaringkan tubuh Justin pada sebuah kamar yang tidak ikut dihancurkan oleh Cupid, mereka menyalakan lilin disana mengingat seluruh listrik juga ikut mati karena serangan tadi.


"Hei... Odd...." Suara Justin melemah, ia teringat tujuannya kembali ke Motel untuk mengambil ponsel milik Odd. "Itu...."


"Jangan bicara dulu!" Perintah Peach tegas, namun Justin malah menggeleng, dia berusaha keras untuk memberitahu teman-teman nya.


"Winter.... Dia..."


Arthur yang mendengar nama Winter langsung menghampiri Justin, ia meminta Justin berbicara dengan pelan-pelan saja. "Ada apa dengan Winter?"


"Ponsel Odd... Ada di dalam tas itu" Justin menunjuk sebuah ransel, yang mana ransel itu adalah milik Odd. "Winter hilang.... Dia... Tenggelam"


Kedua mata Peach dan Arthur terbuka lebar, mereka saling pandang satu sama lain. Bagaimana mereka mau menolong? Siapa yang menuntun mereka ke arah pantai? Sedangkan mereka tak tahu apapun tentang kota itu.


"Ku mohon.... Tolong mereka" pinta Justin memelas, Vampir itu sudah mencapai batasnya, ia lalu tak sadarkan diri dan memejamkan kedua matanya untuk beristirahat.


"Peach???" Arthur memandang Peach bingung, gadis penyihir itupun sama bingungnya dengan Arthur. "Apa yang harus kita lakukan?"


Peach terdiam, ia bingung. Dia tidak bisa membantu apapun saat ini, gadis itu hanya memandang Arthur tanpa ekspresi. "Aku... Aku tidak tahu..."


"Aku akan mencari mereka!"


"Tidak!!" Larang Peach tegas, "Bagaimana kalau Cupid menemukanmu?"


"Lalu? Aku tidak bisa hanya diam begini, bagaimana jika Odd dan Winter berada dalam masalah?"


Peach kembali terdiam, dia menatap Justin yang tengah tertidur. "Aku... Aku percaya pada mereka, kumohon kau jangan pergi kemanapun"


"Peach! Kau tidak boleh seperti ini"


ZRRINGG!!!


Dengan sedikit sihir yang tersisa, Peach mengikat kedua tangan dan kaki Arthur. Disini, ia benar-benar dibuat bingung, Justin tidak bisa ditinggal begitu saja. Tapi meminta Arthur untuk pergi juga bukan keputusan yang benar, mengingat tujuan utama si Cupid adalah Phoenix itu.


Peach menatap tajam pada Arthur. "Kalau aku bilang kau tidak boleh pergi, berarti ya tidak boleh!"


Semoga keputusan ku ini benar... - Peach.


_______________________________________


"Ibu? Ayah?" Suara gadis kecil dengan kedua tangan yang bersimbah darah, sihir yang diberikan oleh sang Dewa rupanya hanya mampu menahan perubahannya untuk sementara.


Winter menangis tersedu-sedu, ketika mendapati Ayah dan Ibu yang mengadopsi dirinya telah tewas dengan luka robek yang cukup besar. Gadis kecil itu terus menangis di depan kedua jasad manusia yang tak sengaja ia bunuh.


"Maaf... Maaf..."


Walaupun bukan ayah dan ibu kandungnya, Winter sangat diperlakukan dengan baik oleh kedua manusia itu. Entah lonjakan ego darimana yang mampu membuat gadis itu terpengaruh naluri buas binatangnya.


Winter kecil segera pergi meninggalkan rumah kayu tersebut, ia melarikan diri setelah membunuh kedua orang tua tirinya. Gadis kecil itu tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan tanpa dua manusia itu.


••••


"Ng???"


Kedua mata Winter terbuka lebar, gadis itu terkejut ketika menyadari pipinya telah basah oleh air mata. Ingatan yang selama ini terkunci, kini telah kembali, yahhh... Winter sudah mengingat semuanya.


"A-aku... Aku...." Winter menangis di depan Ryn, dia memeluk gadis Tribrid itu cukup erat. "Sudah berapa banyak yang Winter bunuh? Hiks... Hiks..."


Ryn mengusap punggung Winter, ia tersenyum ketika mengetahui ingatan Winter telah kembali. "Itu bukan salahmu... Terkadang Serigala memang tidak bisa mengontrol pikiran nya"


"Tapi...." Winter masih saja menangis histeris, ia tidak bisa menahan rasa sedih di hatinya. Sungguh bukan kehendaknya untuk membunuh para manusia yang dekat dengan dirinya. "Hiks... Hiks..."


Ryn tersenyum hangat, ia mengusap air mata yang membasahi wajah cantik Winter. Dengan giginya tiba-tiba saja Ryn menggigit tangannya sendiri, ia meneteskan beberapa tetes darahnya pada sebuah kulit kerang, dengan sihir yang ia miliki darah itu tiba-tiba saja membeku seperti permen.


"A-apa yang Ryn lakukan?" Winter menatap khawatir, ia segera melihat luka ditangan Ryn yang perlahan memudar.


"Hanya untuk jaga-jaga" Ryn tertawa riang sambil mengatakan itu. "Sepertinya kau akan membutuhkan darahku ini"


"Eh???"


"Aku ini Tribrid loh!" Pamer Ryn sambil menunjuk dirinya sendiri. "Darahku mampu menyembuhkan segala luka, aku yakin! Dalam waktu dekat kau akan memerlukannya"


Winter terdiam, tak tahu apa yang harus ia katakan pada sosok duyung di depannya. "Terima kasih... Apapun itu, Winter sangat berterima kasih"


"Hehehe" Ryn memeluk Winter sekali lagi sebelum mereka berpisah. "Bagaimana kalau sekarang kita kembali? Aku yakin temanmu yang bernama Odd itu saat ini pasti sedang mengkhawatirkan mu"


"Ah!!" Winter syok, bagaimana mungkin ia melupakan kedatangannya ke tempat itu dengan teman-teman nya. "Winter lupa!"


"Tak masalah...."


"Tunggu Ryn, sebelum kembali... Ada hal yang ingin Winter tanyakan" mengingat tujuannya datang ke tempat itu Winter segera mengatakan apa yang ingin ia ketahui. "Sebenarnya... Profesor...."


Tak lama setelah itu Winter mengatakan semuanya yang ia ketahui dari Landon, ia menceritakan bahwa kedatangan nya kemari juga karena Landon. Ryn mendengar cerita Winter dengan serius, sesekali gadis duyung itu juga memberi jawaban yang membantu.


"Jadi.... Kau ingin tahu apa kelemahan Phoenix??"


Winter mengangguk pelan. "Kalau bisa, tolong bantu Winter sekali saja..." Ucapan Winter terhenti sejenak. Tolong lindungi Arthur"


"Di kehidupan sebelumnya Arthur adalah papa??" Ryn tersenyum mendengar kedua reinkarnasi orang tuanya telah bertemu. "Hmm, Phoenix memang makhluk langka bagi para Dewa"


"Di-di... di sejarah!" Winter mulai berapi-api. "Di dalam sejarah kan Phoenix dibunuh untuk menghentikan peperangan, tapi sekarang tidak terjadi peperangan apapun! Kenapa nyawanya masih di incar???"


Ryn manggut-manggut, ia mwnyentuh dagunya sendiri. "Aku akan menanyakannya pada kakek, aku tidak tahu apapun kenapa ada Dewa yang mengincarnya?!"


"Tapi, untuk kelemahan Phoenix..." Ryn memandang Winter amat serius. "Vampir temanmu itu benar, satu-satunya kelemahan Phoenix adalah busur emas! Dia bisa mati jika terkena busur itu"


Kedua mata Winter terbuka lebar, ia sama sekali tak menyangka jika ucapan Justin benar. Sebelumnya, profesor juga pernah mengatakan hal ini padanya, namun Winter sengaja tidak mempercayainya sebelum menanyakannya pada Ryn, makhluk setengah Dewa.


"Ayo!" Ryn menggenggam lembut jemari Winter untuk membawanya kembali ke tempat ia mengambil Winter sebelumnya. "Aku akan mengantarmu pulang"


BERSAMBUNG!!!


Halo, terima kasih sudah membaca cerita ini! Saya sangat bersyukur masih ada yang membacanya. Jangan lupa klik Like, favorit, vote dan tinggalkan komentar yang mendukung untuk Author! Bye bye... ☺️♥️🙏


IG Author : NessaCimolin