THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
MENGAMUK



Pink menatap dinding kamarnya dengan kebahagiaan yang tercurah indah di wajahnya. Gadis cantik nan kalem itu tengah menyusun beberapa lembar foto untuk di tempel di sana.


KLAP!!


(Pintu terbuka)


"Ah! Peach, kau mengagetkan aku" Pink tersenyum ramah menyambut Peach.


"Kau sedang apa??"


"Menurutmu apa??" Gadis cantik itu menyenandungkan sebuah lagu romantis sambil terus melakukan aktivitas nya.


Peach berjalan mendekati saudari kembarnya, ia menatap beberapa lembar foto yang berserakan di atas meja. Gadis berwajah dingin dan sedikit pucat itu menengadahkan kepalanya untuk melihat foto yang tertempel di dinding.


"Kau tahu Pink, pemujaan berlebihan terhadap sesuatu itu tidak baik" ujar Peach lalu menuju ranjang tidurnya.


"Memangnya kau tahu apa tentang ini?" Ledek Pink kesal. "Kau bahkan tak bisa merasakan apapun dengan hati mu yang telah mati itu"


Peach tidak bereaksi, ia membiarkan Pink mengatai dirinya sekenanya. Penyihir dengan sihir gelap itu mengangkat tangan kanannya. Dengan satu jentikkan semua foto itu terbakar oleh api.


Pink segera menoleh memandang Peach yang malah tersenyum menyeringai, ia berlari ke saudari kembarnya itu dan mendorong tubuh Peach hingga jatuh telentang ke atas ranjang dengan Pink berada dibagian atas.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan hah?!" Maki Pink kesal.


"Aku sudah mengatakannya Pink, tapi kau tidak mendengarkan aku" jawab Peach tenang. "Pemujaan berlebihan itu tidak baik"


"Lalu? Apa kau ingin aku mati rasa seperti dirimu hah??"


"..........." Jujur saja, Peach sakit hati mendengar Pink meledeknya seperti itu.


"Orang pertama yang aku cintai ternyata adalah ayah kandungku sendiri, lalu kenapa kini kau melarangku menyukai pria lain??" Pink mencengkram pergelangan tangan Peach dengan kuat.


"Dan pria lain itu adalah Arthur?? Begitu??"


Kedua mata Peach melotot menatap saudara perempuan nya yang semakin marah terhadapnya. Dengan kondisi marah seperti itu, keseimbangan sihir pada tubuh Pink menjadi tak terkendali. Gadis itu melepas cengkraman nya pada tangan Peach dan membanting semua barang yang ada pada kamar mereka berdua.


"AAARRGGGGHHH!!" Teriak Pink kencang.


Gadis cantik itu menyerang ke segala arah, Peach yang sudah melindungi dirinya dengan barrier pelindung tak bisa terkena sihir yang dilempar oleh Pink. Perlahan, Peach keluar kamar dan meninggalkan Pink yang mengamuk.


Aku pernah merasakan cinta, tapi itu untuk ibuku - batin Peach sedih.


Gadis itu tetap berjalan dengan tenang meskipun air mata mulai mengalir membasahi kedua pipinya. Peach berjalan ke ruangan Landon, di pertengahan jalan ia bertemu dengan Justin sang Vampir yang terkejut melihat dirinya menangis.


"Oh, Peach? Kau kenapa??"


Frozerie~


Bukannya menjawab ia malah mengarahkan tangannya pada Justin. Vampir itu diam mematung akibat sihir yang diucapkan oleh Peach, pria itu hanya mampu menggerakan kedua bola matanya saja. Ia keheranan dengan tingkah Peach yang aneh sekarang.


•••••


Semua murid yang sedang berada di dalam kamarnya masing-masing berhamburan keluar karena suara ribut dari dalam kamar si kembar. Rene sang penyihir pun memberanikan mendekat ke arah pintu kamar putri profesor Shagasemi, namun ia dikejutkan dengan beberapa ujung pisau yang menancap pada pintu tersebut.


"Apa yang sedang terjadi??"


Murid-murid lain tak kalah hebohnya, mereka mulai berbisik-bisik mengenai hubungan si kembar yang mungkin saja sebenarnya tidak akur itu. Padahal ini baru pertama kalinya terjadi di asrama itu.


Langkah Peach semakin dekat menuju ruangan Landon, kedua tangan gadis itu terbuka lebar dan dari bibirnya keluar mantra-mantra sihir yang begitu rumit.


BRUAKKK!!!


Pintu ruangan Landon hancur bak diterjang hujan badai maha dahsyat. Landon terkejut ketika Peach berjalan masuk dengan santainya saat dia sudah menghancurkan pintu tersebut.


"A-ada apa Peach??"


"Pink mengamuk" jawab Peach seadanya. "Dia menghancurkan kamar kami"


"Apa??"


"Kau kenapa? Apa kalian bertengkar??"


".........." Peach cemberut, ia lantas memeluk ayahnya itu. "Apakah aku tidak punya perasaan ayah??"


"Siapa yang berkata begitu??" Landon mengusap punggung Peach lembut. "Kedua putri ayah adalah yang terbaik di dunia ini"


Peach melepas pelukan Landon, ia mengusap wajahnya dengan gusar lalu berdiri meninggalkan Landon, ia menuju pintu kamar rahasia Landon yang ada di ruangan itu. Dibalik pintu itu terdapat ranjang yang cukup besar.


"Hari ini aku akan tidur di kamar ayah"


"Oh, oke" Landon mengangguk mempersilahkan putrinya, itu berarti bahwa hari ini dia harus tidur diatas sofa.


"Sebaiknya ayah segera menemui Pink sekarang juga. Aku baik-baik saja"


Landon melihat Peach membawa sebuah kristal prisma. Dia tahu apa yang akan dilakukan anak gadisnya itu ketika dia bilang ingin sendirian saja.


Pintu kamar pun tertutup dengan Peach yang sendirian di dalamnya. Landon menghela nafas panjang sembari mengusap dahinya, ia benar-benar kewalahan mengatasi dua anak kembarnya.


Seperti biasa, Peach mengalirkan sihir pada prisma itu yang seketika muncul sosok wanita yang sangat ia rindukan. Itu adalah Lucy, wanita itu tersenyum ramah memandang putrinya.


"Ibu...." Ungkap Peach lalu kembali menangis. "Aku sangat merindukan ibu"


_______________________________________


Arthur berjalan menyusuri lorong asrama yang sepi, ia terkejut ketika melihat Justin diselimuti oleh Es dan terdiam mematung disudut ruangan.


"Astaga! Apa yang terjadi??"


"Mmm mmmm mmmm"


Justin tidak bisa bicara, namun ia memohon pada Arthur untuk menyelamatkan dirinya. Tak lama setelah itu, Landon terlihat lari sambil terburu-buru. Arthur yang melihatnya langsung menghentikan Landon dan meminta bantuannya untuk membebaskan Justin dari sihir.


"Profesor!! Tunggu"


"Ada apa?" Landon berhenti, ia melihat Justin yang terperangkap oleh sihir Peach. "Astaga! Kenapa kau bisa sampai seperti ini?!"


Kratak! Tak!


Es itu pecah, Justin menepuk-nepuk dadanya berulang kali dan berterima kasih kepada profesor Shagasemi. Vampir itu meraih leher Arthur dan meminta bantuan Phoenix itu untuk kembali ke kamarnya.


"Tolong bantu aku..."


"Uh-oke" ucap Arthur dan melihat Landon yang kembali berlari terburu-buru meninggalkan mereka.


Ada apa ya?? - Arthur.


Sesampainya di kamar Justin, Arthur merebahkan Vampir itu di atas ranjang. Justin menunjuk ke sebuah lemari es kecil di dalam kamarnya, merasa tahu apa yang dibutuhkan oleh Justin, Arthur segera mengambilnya.


Arthur mengambil sekantong darah dari lemari es kecil itu, kantong tersebut berisi darah kelinci atau binatang-binatang lainnya. Hal ini mampu mencegah Vampir menghisap darah manusia, agar keberadaan para Vampir tidak disadari oleh umat manusia.


"Ini" Arthur melempar kantong darah tersebut dan langsung ditangkap oleh Justin.


"Terima kasih" ucap Justin.


"Apa kau tahu kenapa profesor terburu-buru begitu?" Tanya Arthur yang penasaran.


"Aku tidak tahu, dan aku tidak mau berurusan dengan keluarga penyihir gila itu!" Ledek Justin lalu tersenyum lebar.


"Keluarga penyihir gila??" Phoenix itu mengangkat sebelah alisnya. "Apa maksudmu?"


"Aku mencoba bertanya pada Peach yang menangis secara baik-baik, tapi apa?? Dia malah menyihir ku seperti tadi" sungut Justin kesal. "Gadis itu benar-benar tak berperasaan, seperti rumornya"


"Astaga!! Peach menangis??"


...Bersambung!!...


Halo, terima kasih sudah membaca! Semangat kalian adalah semangatku juga, jangan lupa untuk dukung Author ya?? 🙏😘