THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
PEEK-A-BOO



Suara deburan ombak menyambut kedatangan Odd dan Justin, kedua pria itu bermaksud untuk menjemput Winter yang tak kunjung kembali dari pantai.


Keduanya sama-sama tertegun, melihat Winter yang malah tertidur pulas di atas putihnya pasir pantai. Odd berjongkok dan menyentuh bahu Winter, bermaksud membangunkan gadis itu.


"Hei, ini sudah sore!" Panggil Odd kalem. "Bagaimana kau bisa tidur disini?"


Mata Winter menyipit, memperhatikan wajah pria di depannya. "Odd? Itu kamu?" Gadis itu lantas bangun dan menguap dengan lebarnya.


"Astaga! Kenapa kau malah tertidur? Apa kau sudah bertemu Dewa itu?"


Winter menggeleng pelan. "Belum"


"Ya Ampun!" Justin membuang muka kesal, pria itu ikutan duduk di atas pasir. Dia menatap hamparan laut yg luas di depannya. "Sebenarnya siapa yg aneh? Kita atau profesor? Kenapa profesor menyuruh kita mencari Dewa laut, sedangkan kita ini makhluk daratan"


Odd yang juga ikutan pegal pun tak bisa memberi jawaban pasti pada Vampir itu, dia juga ikut-ikutan duduk di sebelah Justin.


"Winter sudah berulang kali memanggil nama Ryn, tapi tidak ada apapun yg bereaksi" ujar Winter cemberut.


"Mungkin hari ini bukan lah waktunya..." Ucap Odd tenang, "Kita harus bersabar, ingat! Tujuan kita untuk menolong Arthur"


"Yaa... Kalau bukan karena Phoenix itu, aku tidak akan ada disini juga sih" sahut Justin santai.


Ketiganya tertawa bersama, sungguh rasa saling peduli yang begitu berharga tercipta diantara murid-murid Landon, kecuali kelompok Werewolf. Tentunya Winter tak terhitung dalam kelompok manusia Serigala tersebut.


"Nah... Bagaimana kalau kita akhiri saja hari ini, masih ada hari esok kan?" Usul Odd sebagai ketua kelompok kecil mereka.


"Oke, baik!"


"Yaahhh... Aku sih terserah" jawab Justin santai.


Ketiganya lantas berdiri dari duduknya, namun angin yang begitu tiba-tiba dirasakan oleh mereka. Hembusan angin tersebut berasal dari laut, kilauan cahaya lembut dari gelang Winter pun membuyarkan lamunan Justin yang sedari tadi memandang ke arah laut.


"Hei, gelangmu mengeluarkan cahaya loh" ucap Justin, yang membuat Odd dan Winter juga melihat gelang tersebut.


"I-iya... Justin benar" kedua mata Winter terus memperhatikan gelang nya. Entah dorongan darimana? Kedua kaki Winter seolah berjalan dengan sendirinya menuju deburan ombak yang menyapu bibir pantai, gadis itu tidak bisa mengendalikan kedua kakinya saat ini.


"Hei, kau mau kemana?!" Odd berlari mengikuti Winter. "Justin! Jangan diam saja! Ayo cepat, cegah gadis itu"


"Uh...."


Tubuh Winter lama-lama terendam air karena kakinya tidak mau berhenti sesuai keinginannya. Odd dan Justin yang menahan kedua tangan Winter pun sampai kuwalahan, merek bertiga di kejutkan dengan adanya gerakan aneh dari permukaan air di depan mereka.


Permukaan air tersebut membentuk sebuah pusaran, dari sana muncul gelombang sihir yang melempar tubuh Odd dan Justin hingga kembali ke bibir pantai. Justin merasakan rasa sakit dibagian punggungnya, akibat gelombang sihir tersebut. Saat dia sudah kembali fokus untuk melihat ke arah air, Winter sudah tidak ada disana.


"WTF!! Dimana Winter??" Justin segera berdiri dan mengarahkan pandangannya ke tempat terakhir Winter terlihat. "B-bagaimana ini??"


Odd menepuk-nepuk pakaian nya yang kotor, pria itu juga sama khawatirnya dengan Justin. "Kita harus mengabari profesor tentang ini, ponselku tertinggal di dalam tas. Kita harus kembali kesana terlebih dahulu"


"Tidak!" Bantah Justin tegas. "Biar aku saja yang kembali dan mengambil ponselmu, kau tetaplah disini, untuk jaga-jaga"


"T-tapi..." Ucapan Odd tercekat di tenggorokan "ini sudah sore Justin"


"Percayalah padaku Odd" ucap Justin penuh dengan keyakinan. "Para manusia itu akan baik-baik saja, aku tidak akan lepas kendali"


"Kau yakin??" Odd memicingkan matanya dengan amat serius.


"Tentu!"


Tak butuh waktu lama, Justin segera berlari kembali ke Motel, tempat mereka menginap. Sedangkan Odd, masih memikirkan cara lain untuk menemukan Winter di dalam laut sana.


_______________________________________


Di sebuah halte bus yang sepi, turunlah sepasang makhluk supranatural, yup! Mereka adalah Arthur dan Peach. Keduanya berjalan beriringan mencari sebuah alamat, alamat Motel dimana teman-teman nya menginap.


"Ha..." Peach menghela nafas panjang. "Aku tidak akan pernah mau lagi melakukan perjalanan panjang seperti ini"


"Eh??" Arthur menoleh ke arah Peach, "Aku tidak terkejut sih, mengingat kau yang susah sekali bersosialisasi dengan para manusia"


"Manusia itu buruk!" Sahut Peach santai, "Apa kau lupa, setiap bulannya hanya sekolah kita yang memunguti dan membersihkan sampah di jalanan kota"


"Itu karena Ayahmu ingin kita terlihat seperti manusia pada umumnya, jadi melakukan kegiatan sosial seperti itu akan dinilai bagus untuk sekolah"


Peach menatap tak enak pada Arthur. "Tetap saja! Itu tidak adil"


"Kalian?"


Langkah kaki Arthur dan Peach terhenti ketika mendengar suara Justin, benar! Kini mereka telah sampai ke tempat yang disebut Motel.


"Tidak perlu terkejut begitu!" Ledek Justin dengan senyuman. "Inilah Motel yang di banggakan ayahmu"


"Kalau tau seperti ini, aku tidak akan datang" ujar Peach datar.


Arthur dan Peach mengikuti Justin yang masuk ke dalam Motel terlebih dahulu. Kedua kaki Peach merasakan adanya aliran sihir pada Motel tersebut, sehingga dirinya tak perlu kuatir akan kekuatannya yang hilang jika tidak bersama dengan Pink.


KRAK!!


KRAK!!


KRAK!!


Suara kepakan sayap yang begitu besar terdengar di telinga para remaja itu, entah mengapa Justin pun merasa merinding dengan suara tersebut.


Ya Tuhan... - Justin.


Buru-buru Justin menarik tangan Peach dan Arthur, Justin membawa keduanya berlari menuju belakang Motel tersebut. Disana sudah ada sebuah drum berukuran besar, Peach dapat merasakan drum tersebut dibaluri mantra sihir yang cukup kuat.


"Dengarkan aku baik-baik, kita tidak punya banyak waktu. Arthur! Masuklah ke dalam drum ini" perintah Justin, wajah Vampir itu terlihat panik dan khawatir secara bersamaan.


"Ada apa sebenarnya?" Peach yang tak tahu apapun, terlihat bingung memperhatikan Justin yang mulai mengunci Arthur pada ssbuah drum.


"Aku butuh bantuan Peach!"


"Apa?" Peach menatap kedua mata Justin dengan serius.


"Tolong tutup pintu itu dengan sangat rapat" Justin menunjuk ke arah pintu utama, tempat mereka masuk.


BRAKKK!!!


Belum sempat Peach menggunakan sihirnya, pintu itu kini telah rusak. Kepulan asap berwarna merah muda menyeruak masuk ke dalam motel. Justin yang sudah ketakutan, terlihat gemetar menatap sosok di balik kepulan asap tersebut.


Siapa? - Peach.


Whuss!!!


Sebuah busur hampir saja menembus kepala Justin, jika saja Peach tidak membaca mantra sihir untuk menghentikannya. Peach kini melangkah, berdiri di depan Justin si Vampir.


"Sihir di Motel ini telah rusak, dan aku hanya menyerapnya sedikit saja" ucap Peach, yang tak di mengerti oleh Justin.


BRUK!!


BRAK!!


Tubuh Justin dan Peach terpelanting jauh menabrak dinding kayu di belakang, keduanya terkunci oleh sebuah rantai yang sepertinya terbuat dari emas.


Phoenix~


Seperti suara panggilan yang memekakan telinga, Justin dan Peach memberanikan diri untuk melihat makhluk apakah yang menyerang mereka berdua dengan brutal saat ini.


"DIMANA???" Teriak makhluk bertubuh besar dan berotor kekar itu, sayapnya yang begitu lebar merusak bagian depan Motel. "DIMANA DIA???"


Tap!


Tap!


Tap!


Cupid berjalan kesana kemari, terlihat hidungnya berkedut untuk mencium aroma Phoenix, namun sepertinya drum itu berhasil untuk menyembunyikan bau Arthur dari si Cupid.


"Makhluk apa itu?" Gumam Peach lirih.


"D-dia Cupid" jawab Justin dengan nada yang bergetar. "Dia datang untuk membunuh Arthur"


Apa? - Peach.


Kedua mata Cupid menatap ke arah Justin dan Peach secara bergantian, dengan cepatnya kini dia sudah berada di depan kedua makhluk supernatural itu.


"DIMANA???" Teriak Cupid keras. "KALIAN SEMBUNYIKAN DIMANA???"


BERSAMBUNG!!


Halo, jangan lupa klik Like, Favorit, Love dan Vote ya? Terima kasih 😁🙏