
"Tidak ada!"
"Tidak ada!"
"Tidak ada!"
Kalimat yang sama terus terucap dari bibir Arthur, di dalam perpustakaan asrama itu ia tengah mencari buku mengenai sosok makhluk abadi berjenis Phoenix. Semuanya menemui jalan buntu, rupanya profesor Shagasemi tidak menyimpan satupun buku tentang Phoenix.
Arthur menyentuh kepalanya sendiri yang terasa begitu sakit, pria itu lantas pindah ke rak yang paling belakang, dimana semua tumpukan buku tua terkumpul di tempat itu. Kedua tangannya nampak gesit mengobrak-abrik rak tersebut untuk menemukan sesuatu yang ia cari. Tak segan-segan Arthur sampai menumpuk buku yang tak ia perlukan ke atas lantai.
"Hei bung, apa yang kau cari?"
Suara Odd membuyarkan aktivitas Arthur, Phoenix tampan itu lantas menghela nafas panjang ketika tahu pria yang sedang memergoki dirinya mengobrak-abrik perpustakaan profesor adalah Odd.
"Ternyata kau Odd, aku pikir Peach yang datang" ucap Arthur lalu meneruskan aksinya lagi.
Odd mengambil beberapa buku dan menumpuknya pada rak kosong. "Kau tidak boleh mengacak-acak buku ini, kau harus menyusunnya kembali agar rapi"
"Iya nanti akan aku susun ulang"
"Sepertinya kau sedang tidak tenang, apa yang terjadi?" Kedua mata Odd dengan sengaja melirik ke arah Arthur. "Apa ini tentang duyung lagi?"
"Tidak" Arthur menggeleng. "Ini tentangku, gara-gara seorang gadis yang mengatakan bahwa kemungkinan nyawa yang kumiliki memiliki batas, ucapannya jadi terus terulang di dalam kepalaku"
"Oh, jadi kau sedang mencari buku tentang Phoenix?"
"Benar!"
Odd tersenyum tipis, pria itu mengajak Arthur untuk ke meja baca yang tak jauh dari lokasi mereka berdiri. Wajah Arthur nampak bingung melihat sikap Odd sang Peri. Kedua mata Odd terpejam, dan secara ajaib kilauan cahaya keluar dari tubuhnya. Banyak kerlap-kerlip yang mengitari tubuh Pria itu, Arthur terkejut bukan main ketika semua rak di perpustakaan bergerak dengan sendirinya. Kini raut wajah Odd terlihat kebingungan, setelah selesai dengan apa yang ia lakukan, Odd menatap Arthur dengan tatapan penuh penyesalan.
"Sepertinya profesor tidak memiliki buku tentang itu, maafkan aku...."
"Apa!" Arthur merasa sangat kecewa dengan jawaban Odd. "Kenapa kau bisa tahu tentang hal itu?"
"Aku sedang mencoba untuk mengabulkan keinginan mu, tapi ternyata tidak ada buku yang membahas tentang Phoenix. Tidak dimanapun"
Wajah Arthur mendadak pucat pasi, pria itu jatuh terduduk dengan tatapan kosong. "Odd, kau kan seorang Peri. Apakah kau tidak mengetahui apapun tentang Phoenix?"
"Yang aku tahu hanya kau adalah makhluk abadi yang tidak bisa mati, seperti kata Profesor di kelas. Namun itu tak berarti bahwa kau tidak memiliki kelemahan, tidak ada yang tahu apa kelemahan mu Arthur"
Odd mengulurkan tangannya untuk membantu Arthur berdiri, dengan perasaan yang tak enak karena tidak bisa membantu Arthur, pria itupun meminta maaf dengan tulus pada Arthur.
"Apa menurutmu kelemahan ku adalah nyawa yang aku miliki memiliki batas penggunaan?"
Odd mengangkat bahunya sambil menggelengkan kepala, tanda bahwa ia tidak begitu mengerti akan sosok Phoenix di depannya.
"Kau adalah burung api Arthur, bukankah seharusnya kau bisa terbang?" Odd terkekeh membayangkan Arthur yang sedang terbang. "Kenapa kau tidak pernah mencobanya?"
"Apa kau ingin aku melompat dari atap asrama ini? Lalu bagaimana jika ternyata itu adalah nyawa terakhir yang aku miliki dan aku tidak akan bisa bangkit lagi!!" Omel Arthur kesal, bahkan dia sampai menjitak kepala Odd dengan pelan. "Cih! Sialan, gara-gara ucapannya aku jadi takut untuk mati"
Odd menyentuh kepalanya yang habis kena pukul Arthur dan mengusapnya. "Wow, tenanglah bung! Aku hanya bercanda"
Di lain sisi, Peach dan Pink terlihat sedang duduk bersama di sebuah laboratorium sihir. Keduanya nampak meneliti sesuatu, tentu saja! Sesuatu itu adalah idenya Peach untuk menolong Winter. Keberadaan Pink disana hanya untuk membantu Peach, mengingat mereka berdua yang merupakan penyihir gemini mengakibatkan sihir yang mereka miliki tidak begitu kuat jika tidak dilakukan bersama.
"Hah..." Pink menghela nafas panjang. "Ini membosankan Peach, kita sudah berada disini sejak pagi-pagi buta dan kau belum menemukan titik terang apapun!"
Peach melirik ke arah saudari kembarnya. "Maafkan aku Pink, aku tidak menyangka bahwa ini sangat sulit"
"Memangnya kenapa kau membuang waktumu untuk meneliti darah serigala seperti ini?"
"Ini tentang Winter!" Sahut Peach cepat, gadis itu memindahkan sampel darah ke sebuah kaca mikroskop. "Kau tahu kan, bahwa Winter harus mulai masuk ke dalam kelompoknya"
"Lalu?? Apa hubungannya denganmu? Jika kau lupa Peach, kita ini penyihir!"
"Aku tidak akan lupa akan hal itu Pink" Penyihir itu menyerahkan sebuah botol tabung kecil dan meminta Pink memberikan sihirnya di dalam sana. "Isi ini dengan sihirmu"
"Ck! Padahal aku tidak terlalu menyukai gadis itu" Gerutu Pink kesal, meski begitu ia tetap mengalirkan sihirnya sesuai permintaan Peach. "Apa yang kau rencanakan?"
"Alpha akan meminta Winter untuk bertarung dengan salah satu Serigala, itu adalah ritual resmi para manusia serigala. Pertarungan itu menyangkut hidup dan mati, aku tidak ingin ayah sedih karena Winter adalah reinkarnasi dari gadis yang selama ini ayah cari"
Pink mendelik mendengar jawaban dari Peach. "Apa?! Pertarungan hidup dan mati?"
"Benar!"
"Lalu kau ingin melakukan tindakan curang begitu?" Pink menatap wajah Peach dengan penuh amarah. "Kau tidak boleh melakukan ini Peach! Ini tidak benar!"
"Aku tak melakukan apapun Pink, apa yang menurutmu tidak benar??"
"Lalu apa yang kau lakukan sekarang? Apa kau sedang membuat ramuan super untuk membantu Winter agar menang? Jika kau melakukannya maka Serigala yang lain akan mati! Itu tidak adil" maki Pink kesal. "Aku tidak ingin membantumu jika seperti ini"
"Kau salah Pink, aku tidak membenarkan tindakan curang seperti itu. Rencana ku, Aku akan membuat Winter berlatih agar bisa bertarung dengan baik, tapi aku juga harus menyiapkan rencana B" ungkap Peach menjelaskan. "Jangan khawatir Pink, aku tidak akan curang"
"............."
"Jadi... Apakah kau akan tetap disini untuk membantuku?"
"Baiklah, aku akan membantu"
"Wah, aku tak menyangka kau akan menjawab seperti itu" Senyum cerah terukir pada wajah Peach.
"Aku tidak seburuk yang kau bayangkan Peach" Ledek Pink lalu tertawa bersama dengan Peach. "Apa yang harus aku lakukan?"
"............"
_______________________________________
Landon duduk di kursi kantornya dengan begitu tenang, sorot matanya menatap lurus ke arah seorang gadis cantik yang duduk di depannya. Meskipun gadis itu tak memperdulikan dirinya, Landon tetap berusaha dengan baik berbicara dengannya.
"Nah, Winter!"
"Hmm??" Winter menatap Landon melalui sudut ekor matanya.
"Kau tahu bagaimana sikap alami serigala?"
"Sikap apa?" Winter mulai penasaran dengan arah pembicaraan Landon, jujur saja pria itu nampak kebingungan menjelaskan sesuatu kepada Winter.
"Serigala seharusnya hidup berkelompok, dan kau tahu apa yang salah pada dirimu?"
Gadis itu menggelengkan kepala pelan. "Tidak, Winter tidak tahu"
"Kau tidak memiliki kelompok" ujar Landon lirih setengah berbisik. "Dan para serigala di asrama ini tidak menyukainya"
"Winter bisa pergi jika tidak ada yang menyukai Winter disini" jawab Winter santai.
"Tidak, tidak boleh!" Landon mengacungkan jari telunjuknya pada Winter. "Aku sudah susah payah untuk mencarimu dan kau ingin pergi begitu saja?"
Landon berdiri dari duduknya, pria itu menatap ke luar jendela. Ia tengah melihat para kelompok manusia serigala yang kini sedang bermain bola besi di lapangan. Tanpa sengaja Ren sang Alpha melihat Landon yang berdiri di depan jendela, pria itu lantas menyapa Landon dengan mengarahkan lambaian tangan ke arah pemilik asrama tersebut.
"Lalu profesor ingin Winter melakukan apa?"
"Kau harus bertarung, itu adalah sifat naluriah para serigala" wajah Landon tak begitu menyukai pembicaraan yang ia lakukan sendiri. "Maafkan aku Winter, tapi memang begitulah tradisi nya"
"Bertarung? Winter tidak bisa!" Bantah Winter tegas. "Winter tidak pernah berlatih sebelumnya"
"Bukan hanya itu masalahnya...." Profesor Shagasemi menarik nafas dalam-dalam dan berjalan mendekati Winter. "Pertarungan ini harus memakan korban"
"Apa??"
"Jika kau menang, kau akan diterima ke dalam kelompok. Tapi jika kau kalah, maka kau akan mati"
Kedua mata Winter mendelik mendengarkan ucapan Landon, gadis itu terlihat begitu gelisah dengan syarat yang harus ia hadapi untuk masuk ke sebuah kelompok.
CEKLEK!!
(Suara pintu terbuka)
"Profesor! Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu..."
Landon dan Winter tersentak kaget, ketika Arthur tanpa permisi membuka pintu ruangan Landon. Bukan hanya mereka berdua yang terkejut, Arthur sendiri juga terkejut dengan keberadaan Winter di ruangan Profesor Shagasemi.
"Ah...." Landon melirik ke arah Winter yang memperhatikan Arthur tanpa atribut culunnya. "Densha? Ada apa??"
Ya Tuhan! Syukurlah profesor memanggilku begitu!! - Arthur.
"Apa anda sedang sibuk?" Arthur mencuri-curi pandan ke arah Winter yang menatapnya dengan tatapan kosong. "Aku bisa datang lagi nanti..."
"Baiklah, datang saja nanti!"
Arthur menutup pintu ruangan Landon dengan amat pelan. Pria itu pergi meninggalkan kantor Landon dan memutuskan untuk kembali nanti disaat Winter sudah pergi dari tempat itu.
"Ngomong-ngomong, makhluk apa Densha itu? Apakah dia juga makhluk supernatural?" Gumam Winter lirih.
"Apa??" Landon memandang Winter bingung yang otomatis membuat Winter juga memandang ke arah dirinya.
"Bukankah profesor bilang, bahwa Densha bereinkarnasi menjadi makhluk supernatural! Jika dulunya Densha adalah manusia dan Winter adalah duyung, lalu makhluk apakah dia sekarang?"
Deg!
Deg!
Jantung Landon berdegup dengan kencang, ia sungguh tak pernah berfikir bahwa Winter akan mengajukan pertanyaan seperti ini kepadanya.
Aku harus jawab apa? - Landon.
...Bersambung!!!...
Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk klik tombol Like, tinggalkan komentar, Vote yang mendukung agar Author terus semangat! 😘😉