
Winter berhasil mendahului Justin, memang benar apa yang dikatakan Maggie, Justin sedang mencari Arthur dengan sebuah anak panah emas di tangan kanannya. Tanpa pikir panjang, Winter menyerang Justin terlebih dahulu.
Pertarungan tidak dapat di hindari, Winter dengan tubuh binatangnya menggigit lengan Justin si Vampir, namun berhubung Vampir itu juga seperti dirasuki sesuatu, ia juga tidak segan untuk membalas penyerangan Winter.
Sesaat, ketika binatang berbulu itu lemah, Justin menggunakan kesempatan itu untuk menusuk bagian perut Winter dengan panah yang ia bawah. Gadis Werewolf itu melengking kesakitan, darah merembes dari perutnya. Perlahan tubuhnya berubah menjadi manusia kembali.
Justin yang melihat Winter kesakitan sebenarnya merasa iba, tapi sesuatu yang ada dipikirannya kembali membuat Vampir itu menjadi tak terkendali. Ia pergi melarikan diri, dengan anak panah yang masih teroles darah Winter, ia mencari Arthur.
Sesuai dugaan, Arthur berada di danau itu. Danau tempat dimana ia menghabiskan waktunya untuk berpikir dan melamun. Seringai senyuman licik terukir di bibir Justin, ia berjalan mendekati Arthur dan akan melancarkan aksinya.
•••
Cahaya mentari bersinar begitu terik, menembus sebuah kaca tanpa gorden di dalam kamar itu. Kedua mata Winter mengerjap, kepalanya terasa pusing dan berat.
Samar-samar ingatan akan insiden waktu itu muncul di kepalanya, Winter lantas bergegas bangun dari tidur, tepat di depan ranjangnya ada sebuah cermin yang menempel pada sebuah lemari.
Dari sana, Winter bisa melihat tubuhnya yang telanjang hanya diselimuti kain tebal berwarna putih. Buru-buru Winter menutup tubuhnya dengan selimut itu, ia melamun menundukkan kepalanya dalam kebingungan.
CEKLEK!!!
(Pintu terbuka)
"Oh? Kau sudah bangun?" Peach tersenyum, ia membawa nampan dengan sebuah gelas di atasnya.
Winter memandang Peach sekilas lalu kembali menatap pantulan dirinya di depan cermin. "Berapa lama aku tertidur?"
"Hmm..." Peach meletakkan nampan itu di atas meja. "Aku rasa 45 hari"
"APA?!" Winter terlonjak kaget. "Sebulan lebih? Astaga! Ba-bagaimana Arthur?"
Peach mendadak diam, gadis penyihir itu berjalan ke sebuah lemari dan mengambilkan pakaian Winter. "Pakailah ini, biar Ayah yang menjelaskan sesuatu tentang Arthur padamu"
Apa maksudnya? - Winter.
Pink memasuki ruangan itu dengan banyak buku-buku tua di tangannya. Ia melihat ke arah Winter sekilas, sejujurnya ia terkejut karena Winter sadar lebih cepat dari perkiraan.
"Wah-wah, selamat pagi putri tidur?"
"Pink!!" Peach menekan kalimatnya, ia tidak mau Pink mencari gara-gara dengan Winter yang baru saja pulih.
Yaa, benar! Luka di perut Winter sudah sembuh total berkat Pink dan Peach, kedua gadis kembar itu merawat Winter secara bergantian. Bukan tanpa sebab, karena hanya Winter yang mampu menolong mereka berdua nantinya.
"Apa kau sudah siap untuk menolong pangeranmu?"
Winter menatap Pink dengan bingung, gadis itu segera memakai pakaian yang diambilkan oleh Peach dan meminum ramuan yang dibuat oleh penyihir itu.
Pink pergi terlebih dahulu ke tempat Ayahnya, sedangkan Peach masih menemani Winter di kamar itu. "Emm, Justin sangat menyesal atas apa yang telah terjadi waktu itu?"
"Aku tahu, itu bukan salah Justin" Winter kembali mengingat tragedi malam itu. "Dimana dia?"
"Ah... Maaf, apa itu mengganggu?" Winter berbalik menatap Peach.
"Tidak, aku merasa kau jauh lebih kuat dan berani sekarang" Puji Peach senang. "Semenjak hari itu, ibuku juga menghilang tanpa sebab, aku rasa memang benar! Ada seseorang yang mengirim ibuku lalu merasuki Maggie dan Justin, mereka ingin mengacaukan pikiran kita, dengan begitu Arthur akan lebih mudah di dapatkan"
"Siapapun itu, aku tidak akan memaafkannya" gerutu Winter kesal.
________________________________________
Pink berdiri di samping Landon yang tengah duduk sambil membaca buku catatan, pria itu menatap Winter dan Peach yang duduk di seberang nya. Sesekali, Landon terlihat mengusap dagunya dengan kasar.
"Begini, dengan bantuan kedua putriku, aku sudah pergi ke dunia astral"
Dunia astral? - Winter.
"Itu adalah tempat, bagi para makhluk seperti kita sebelum menerima kematian yang sesungguhnya, atau bisa dibilang itu adalah tempat yang dibuat oleh para Dewa dengan alasan yang kurang jelas" terang Landon menjelaskan.
"Aku menemukan ini...." Landon menyerahkan selembar kertas dengan tulisan tangan seseorang yang dikenali Winter.
"I-ini..." Kedua mata Winter membulat lebar melihat tanda tangan seseorang dibagian akhir surat itu.
Landon menganggukkan kepala, ia tersenyum melihat reaksi bahagia Winter. "Benar! Itu tulisan Arthur, dia masih hidup, dia terjebak di dunia itu. Aku rasa Cupid tidak benar-benar berhasil membuatnya tiada"
"Bagaiamana anda yakin?"
"Aku melihat tubuh Arthur yang tidak mengalami pembusukan setelah beberapa hari, nafasnya memang tidak ada tapi...." Landon menghela nafas panjang. "Suhu tubuhnya masih normal, dia seperti orang yang tidur tapi tidak bernafas"
"Saat itulah aku berpikir bahwa mungkin saja Arthur berada di suatu tempat, dengan bantuan Pink dan Peach aku menjelajah kesana selama satu minggu. Aku tidak menemukan Arthur, memang di dunia itu sangat aneh, kita bisa melihat mereka tapi mereka tidak bisa merasakan dan melihat kehadiran kita di tempat itu" jelas Landon panjang lebar.
"Lalu bagaimana cara kita menemukan Arthur?" Raut wajah Winter terlihat khawatir. "Apa disana berbahaya?"
"Tenanglah, aku kan sudah bilang bahwa mereka yang di dalam sana tidak bisa melihat kita" ucap Landon lagi. "Mungkin, Arthur bisa merasakan keberadaanmu, jadi mau kah kau datang kesana?"
"Tentu saja! Aku mau menyelamatkan nya!" Winter bangkit berdiri dari duduknya, ia begitu bersemangat untuk pergi ke dunia aneh itu dan menyelamatkan kekasihnya.
"Baiklah, kalau begitu aku dan Peach akan menyiapkan tempatnya, tapi pertama-tama siapkan mentalmu terlebih dahulu, kau harus benar-benar sehat untuk masuk ke dunia itu" Pink berjalan keluar dari ruangan Landon, ia melirik ke arah Peach kemudian Peach mengikuti langkah kembarannya itu.
Winter terus melihat ke arah si kembar yang berjalan keluar ruangan, tatapan gadis itu kembali teralihkan oleh Landon di depannya. "Anu, apa aku boleh menjenguk Justin? Peach bilang dia sedang mengurung diri"
"Tentu saja boleh, mungkin jika kau yang bicara padanya dia akan lebih percaya bahwa itu bukan kesalahannya" Landon tersenyum hangat. "Aku kasihan pada Vampir itu, dia bahkan tidak minum darah beberapa hari ini"
"Kalau begitu, aku akan ke dapur terlebih dahulu dan mengambil beberapa kantong darah" gadis itu lantas berdiri dari duduknya, dia membungkukkan badan pada Landon sebelum pergi. "Terima kasih profesor"
BERSAMBUNG!!!
Halo, jangan lupa untuk terus mendukung Author dengan cara klik Like Favorit Vote Komentar dan folloh profil Author ♥️ Terima kasih...