
Suhu dingin dimalam hari memeluk kota yang gemerlapan, dari jauh nampak seperti awan sedang turun di kota itu. Di dalam apartemennya, Winter merasakan rasa panas yang tak tertahankan di sekujur tubuhnya. Gadis itu sampai melepas seluruh pakaian yang menempel pada tubuhnya. Entah mengapa kedua mata Winter terus tertuju pada sinar bulan yang menembus kaca jendela apartemennya.
Gadis itu membuka jendela apartemennya, membiarkan banyak cahaya bulan yang masuk. Ia tak berani berdiri di depan jendela karena kondisinya yang sedang tak mengenakan apapun, Winter hanya menyandarkan kepalanya pada bagian bawah bingkai jendela.
Rasa panas itu menyerang lagi, Winter sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam tubuhnya. Dia malah memandang gelang yang kata Peach terbuat dari darah Tribrid itu. Gadis itu mengendus gelangnya sendiri dan tidak menemukan bau amis apapun pada gelang tersebut.
"Arrghh! Kenapa panas sekali?!"
Winter mengambil sebotol air dan meminumnya hingga habis tanpa jeda sama sekali. Merasa kurang, gadis itu menyalakan pendingin udara dengan suhu terdingin. Ini aneh, Winter tetap merasakan darahnya mendidih dan membuatnya semakin kepanasan.
"Sialan! Apa yang terjadi denganku?" Winter berguling-guling kesana-kemari layaknya binatang berbulu, sikapnya benar-benar mencerminkan bahwa dirinya adalah seekor binatang.
Tanpa sadar Winter menjilati kedua tangannya sendiri untuk menghilangkan rasa panas yang keluar dari tubuhnya. Ketika melihat pantulannya sendiri di depan cermin, gadis itu tersentak kaget mendapati dirinya bertingkah layaknya hewan. Buru-buru Winter menyudahi aktivitasnya dan bergegas mendekati cermin.
Kedua mata Winter terbelalak lebar, dia mendekatkan wajahnya hingga hampir menyentuh permukaan kaca yang datar. Ia segera tersentak mundur, tangan kanan Winter bergetar saat ingin menyentuh bagian atas kepalanya.
"Oh my... A-apa ini??"
Sepasang telinga berbulu berbentuk segitiga yang tak begitu rapi keluar dari sela-sela rambut lurus Winter. Gadis itu memberanikan diri untuk menyibak rambutnya sendiri, benar-benar mengejutkan! Kedua telinga Winter tidak berada di tempatnya, telinga manusia milik Winter digantikan oleh sepasang telinga binatang lengkap dengan bulu-bulu lembut berwarna abu-abu.
"AAARGGHHH!!"
Winter berteriak histeris, dengan cekatan ia mencoba untuk menarik kedua telinga Serigala yang muncul di kepalanya. Bukannya lepas, aksinya malah membuat dirinya sendiri merasa kesakitan.
"Hah... Hah... Hah..."
Sudah cukup lama ia berusaha berkonsentrasi dengan pikirannya sendiri agar telinga itu hilang dan kembali normal, tapi tidak berhasil. Winter yang merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya lebih memilih untuk menyudahi aksinya. Gadis itu merangkak ke arah cahaya bulan yang masuk melalui jendelanya dan tertidur lelap di bawah sinar bulan itu.
•••••
Keesokan paginya, Winter terbangun dengan telinga yang masih belum berubah. Gadis itu memutuskan untuk tidak datang ke sekolah hari ini, atau mungkin ia akan memilih untuk keluar dari sekolah. Berkat dirinya yang sudah kerap kali membolos, kemungkinan besar beasiswa yang dia dapatkan dengan susah payah itu akan dicabut darinya.
Sebenarnya ada apa dengan telinga ini? - Winter.
Kedua mata Winter menatap sebuah topi yang sedang dijemur oleh tetangga sebelahnya. Berkat dirinya yang terlahir sebagai manusia serigala, Winter bisa melompat dengan mudah ke balkon tetangga sebelah, dengan cekatan Winter mencuri topi itu untuk menutupi kedua telinganya.
"Maaf ya? Aku pinjam dulu topinya!" Gumam Winter lirih meminta ijin.
Untuk pertama kalinya, Winter akan keluar rumah tanpa menguncir rambut. Winter membiarkan rambutnya yang panjang, lurus dan indah itu terurai. Karena telinga Serigala nya yang muncul, Winter merasa kesakitan saat menguncir rambutnya. Gadis cantik itu mencoba memadu padankan pakaiannya dengan gaya rambutnya kali ini, dan... Jangan lupakan topi yang telah dicurinya!
"Apa aku benar-benar mirip dengan Fuu?" Ujar Winter sembari menatap pantulan dirinya di depan cermin.
"Iya! Kau sangat mirip!! Malah persis!!"
Gadis itu segera menoleh ke belakang, lagi-lagi Densha muncul disaat dia ingin berbicara dengan seseorang. Rupanya Winter sudah mulai bisa menerima keberadaan Densha yang tiba-tiba muncul seperti hantu, padahal jelas-jelas Densha adalah suara pikirannya sendiri.
"Benarkah??" Tanya Winter penasaran. "Apa benar-benar mirip??"
"Hmm, kau pasti sudah tahu lah!" Densha berjalan mendekati Winter. "Kau tahu persis bagaimana cara Fuu berbicara, yang membuatku bingung kenapa kau merubah cara bicaramu??"
"Eh?? Aku tidak merubah apapun tuh!"
"Jangan berbohong!" Densha melipat kedua tangan di depan dada. "Aku ini tahu apa yang kau pikirkan, karena aku hanya sebuah bayangan yang kau panggil untuk menyampaikan hal-hal yang seharusnya sudah kau ketahui"
"Oke, baik!!" Winter melotot pada sosok Densha, "Aku merubah cara bicaraku karena semua teman-temanku di taman kanak-kanak membully ku, gara-gara cara bicaraku yang aneh!! Mana ada orang yang menyebut dirinya sendiri dengan sebuah nama!"
"Oh iya?! Bukankah seharusnya kau bersyukur?" Pria itu mengangkat sebelah alisnya. "Itu artinya kau berbeda"
"Perbedaan ini buruk Densha!"
"Tidak!" Densha menggeleng pelan. "Itu membuatmu spesial, aku sangat yakin bahwa reinkarnasi ku di dunia ini menyukai dirimu yang sesungguhnya"
"Cih! Aku bahkan masih belum mau mengakui bahwa aku ini adalah Fuu!!"
"Eh??" Densha terkejut. "Kenapa?? Bukankah barusan kau mengatakan kata sakral yang hanya diucapkan oleh Fuu??"
"Hah?? K-kapan aku---"
"A-aku...." Gadis itu jatuh terduduk diatas lantai dan kedua matanya terbuka lebar. "Mengatakannya??"
____________________________________
Di lain sisi, Arthur sedang membersihkan kaca mata tebal yang akan dia gunakan hari ini. Tak lupa, dia juga membuka kemasan yang baru untuk gigi palsunya dan dengan cekatan langsung memakainya dengan rapi.
Hari ini, pria itu ingin jalan-jalan keluar asrama untuk mencari sebuah buku. Dia sangat penasaran dengan legenda duyung yang katanya nyata tersebut, Arthur berharap toko buku didekat sekolah manusia nya dulu menyimpan koleksi mengenai sosok makhluk mitologi tersebut.
Baru beberapa langkah ia meninggalkan kamar, Arthur bertemu dengan Rene si penyihir berkulit gelap. Gadis itu menyapa Arthur, tak ada yang tidak tahu bahwa Arthur sebenarnya adalah sosok pria tampan yang sedang menyamar. Seluruh penghuni asrama mengetahui hal tersebut dan tak terlalu memperdulikan apa yang ingin dilakukan pria itu.
"Melihatmu berdandan seperti ini, sepertinya kau ingin pergi??"
"Iya, aku ingin membeli buku"
"Dasar kutu buku!" Ledek Rene, tentu saja itu hanya bercanda. "Buku seperti apa? Bukankah perpustakaan kita menyimpan lebih dari dua ribu lima ratus buku??"
"Aku sedang mencari buku tentang duyung"
"Astaga!" Rene menatap rendah kepada Arthur. "Apa kau ketularan Odd?"
"Odd??"
"Beberapa hari lalu di kelas sosial saat profesor Shagasemi menerangkan sesuatu mengenai makhluk supernatural, dia (Odd) bertanya dan mengakui kepada seluruh murid di dalam kelas bahwa dia sedang membaca buku tentang duyung" Rene menunggingkan salah satu sudut bibirnya.
"Kenapa aku tidak tahu tentang hal itu?"
"Bukankah kau sedang sibuk dengan Hydra waktu itu?"
Rene menepuk bahu Arthur pelan sebelum pergi meninggalkan pria itu, gadis itu melempar senyuman pada Arthur dan segera memasuki kamarnya yang hanya berjarak beberapa pintu dari kamar Arthur.
Odd?? - Arthur.
Pria Phoenix itu mencoba mengingat-ingat nomor kamar Odd tapi dia sama sekali tak berhasil mengingatnya, pucuk dicinta ulam pun tiba! Sepertinya memang Arthur ditakdirkan untuk mengetahui segalanya tentang makhluk mitologi bernama duyung. Kedua mata Arthur menangkap sosok Odd yang sedang berjalan sambil membawa tumpukan buku, rasanya Odd ingin pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan beberapa buku yang sudah ia pinjam.
"Hei, Odd!!" Teriak Arthur yang segera menyusul Odd, pria itu mengambil sebagian buku untuk meringankan beban Odd.
"Astaga, kau tidak perlu melakukannya Arthur" cegah Odd yang merasa sungkan.
"Tidak apa-apa, ada yang ingin aku bicarakan denganmu"
"Eh??" Odd memandang pria di sampingnya dengan bingung. "A-apa??"
"Kau suka duyung kan?" Arthur terkekeh pelan. "Ada banyak hal yang ingin aku ketahui mengenai legenda duyung yang rumornya nyata itu"
"Itu bukan hanya rumor!!" Belum apa-apa, Odd sudah membantah dengan tegas perkataan Arthur. "Aku sendiri berasal dari kota itu"
"Hmm?? Apa maksudmu??"
"Mermaid Fall's" ujar Odd tenang.
Nyut!
Arthur memicingkan kedua matanya ketika tiba-tiba ia diserang rasa pusing. Di dalam kepalanya Arthur seperti melihat samar-samar kehidupan kota yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Ada sekelebat tulisan yang muncul di kepala Arthur dan kalimat yang tertulis adalah 'Phoenix High School'.
"Kau kenapa Arthur??" Tanya Odd yang merasa khawatir.
"Ah! Ti-ti-tidak, aku tidak apa-apa"
(Jika kalian lupa! Mermaid Fall's adalah nama kota tempat tinggal Densha, Fuu dan kawan-kawan di Novel AYAM. Lalu Phoenix High School adalah nama sekolah Densha dan Fuu)
...Bersambung!!...
Halo, terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk Like, Komentar, Follow, Favorit, Vote dan Rating bintang 5 ya?? 😘🙏