
Malam hari itu, bulan bersinar dengan terangnya sesuai dengan siklus tata surya yang memungkinkan bulan akan bersinar penuh beberapa hari ke depan.
Peach terbaring di ranjang ayahnya. Gadis itu menatap keluar jendela dan menangkap rupa bulan yang sedikit lebih besar dari kemarin hari. Kedua matanya beralih memandang Lucy yang duduk disebuah kursi tak jauh dari tempatnya berbaring.
"Bulannya indah ibu" ujar Peach sambil tersenyum.
Lucy hanya mengangguk pelan sambil melempar senyum terindahnya pada Peach, putrinya. Wanita itu turut memperhatikan bulan yang bersinar di diluar jendela.
"Aku tahu ini tidak benar, tapi bagaimana lagi? Aku benar-benar merindukan ibu"
"Tidak apa-apa Peach, ibu juga sangat merindukanmu"
Peach bangkit dari rebahannya, dia memandang kristal prisma ditangan kirinya. Wujud Lucy saat ini merupakan hologram sihir yang tampak begitu nyata, seolah-olah Lucy benar-benar masih hidup. Padahal jelas-jelas itu hanyalah sebuah hologram yang dibuat oleh pemilik kristal prisma.
Bagi siapapun yang memiliki kristal tersebut, orang itu bisa membayangkan seseorang yang ingin diajak berbicara dan secara ajaib seseorang tersebut akan muncul di depan orang yang memanggilnya, tapi mereka yang muncul dari kristal prisma tersebut hanya akan mengatakan apa yang ingin si pemanggil dengar atau si pemanggil pikirkan saja.
Jadi bisa dikatakan bahwa orang yang muncul dari kristal prisma tersebut hanyalah sebuah ilusi. Peach sering menggunakan prisma itu hanya untuk memanggil dan berbicara dengan Lucy, dia hanya ingin melihat ibunya meskipun ia tahu bahwa sosok ibunya itu adalah sebuah hologram sihir.
Lalu kenapa ilusi tersebut bisa berbicara? Karena kristal tersebut mengandung sebuah sihir yang dialirkan oleh si pemakai, jadi sebenarnya ilusi itu hanya mengatakan apa yang sudah diketahui oleh si pemakai. Mereka tidak akan bisa menjawab pertanyaan yang tidak diketahui oleh si pemanggil atau pemakai kristal prisma.
"Hng!" Peach menghela nafas berat. "Apakah aku ini buruk ibu??"
"Ibu tidak tahu"
"Bagaimana ibu tidak tahu? Aku kan anak ibu" Peach cemberut. Gadis itu berjalan mendekati Lucy.
"Karena kau sendiri tidak mengetahui jawabannya, bagaimana ibu bisa tahu? Ibu ini hanya ilusi sayang...."
"Ibu benar!" Peach manggut-manggut. "Hari ini aku bertengkar dengan Pink, bagaimana menurut ibu?"
"Kenapa?? Kalian kan bersaudara, tidak seharusnya kalian bertengkar"
"Aku tahu ibu, tapi ini karena Pink menyukai seorang pria"
"Putriku jatuh cinta?" Tanya Lucy antusias. "Wah, pasti si pria sangat tampan"
"Tidak, Pink tidak boleh menyukai pria itu ibu!" Bantah Peach tegas. "Pokoknya tidak boleh!"
Peach menyilangkan kedua tangannya membentuk tanda X, melihat putrinya berlaku seperti itu, Lucy malah tertawa. Wanita itu bertepuk tangan karena terhibur dengan tingkah Peach.
"Apa karena sang pria sudah menjadi jodoh seseorang?" Tanya Lucy serius.
"B-bagaimana ibu tahu??"
"Astaga!" Lucy menggeleng. "Apa kau lupa kalau kau sedang menggunakan kristal prisma pemberian ayah tirimu?"
"Ah! Ibu benar, bodohnya aku!" Peach tersenyum kecil. "Ibu kan hanya mengatakan apa yang aku ketahui saja, ini sama saja seperti aku sedang bicara sendiri"
"Tidak apa-apa sayang"
BBBZZTT!!!
Wujud ilusi dari Lucy menghilang karena waktu penggunaan kristal prisma telah habis. Peach terdiam, ia kembali merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Kedua matanya terpejam mengingat obrolan yang telah terjadi bersama ibunya barusan, tanpa sadar gadis itu terlihat tersenyum tipis.
Aku ini punya perasaan, dan perasaanku ini tidak mati seperti yang kau ucapkan - batin Peach senang.
Suara langkah kaki mendekati ruangan Landon, Peach yang mendengar itu segera bergegas bangun dari tidurnya. Perlahan pintu kamar yang seharusnya menjadi ruangan rahasia Landon terbuka pelan-pelan. Peach menelan ludahnya sendiri karena gugup, dibalik pintu tersebut berdirilah Pink yang terlihat begitu sedih.
"Pink??" Peach segera berlari kecil menghampiri saudari kembarnya itu.
Melihat tingkah saudarinya yang aneh membuat Peach menjadi khawatir, gadis berwajah sedikit suram namun cantik itu lantas memeluk Pink dengan begitu erat. Perlakuan Peach terhadapnya yang begitu penyayang membuat tangisan Pink pecah, gadis itu membalas pelukan saudara kembarnya sambil terisak.
"Kita akan berbagi tempat tidur disini Pink" ucap Peach sembari tersenyum.
"Maafkan aku, hiks! Aku sudah memperlakukanmu dengan buruk"
"Aku sudah memaafkanmu kok"
Landon yang baru saja tiba di ruangannya itu langsung tersenyum melihat kedua putri kembarnya telah berdamai. "Nah, begitu baru putri ayah!"
Pink dan Peach terkejut, mereka berdua tidak menyadari sejak kapan ayahnya berada di tempat itu. Peach menyapa Landon sambil melambaikan tangannya, ia sadar bahwa saudarinya tak berani menatap sang ayah karena sedang menangis. Buru-buru Peach membawa tubuh Pink masuk dan menutup pintunya.
"Maafkan aku ayah, aku ingin menghabiskan waktu dengan saudariku" ucap Peach dari dalam kamar yang tertutup.
"Oke, gunakan saja kamar ayah sesuka kalian!"
Landon terlihat mendesah, pria itu dibuat geleng-geleng kepala atas kelakuan kedua putrinya. Dia harus bingung dan beryukur di waktu yang sama. Tentunya dia harus lebih banyak beryukur karena putrinya bisa berdamai dalam waktu yang sangat singkat.
Di dalam kamar, Peach mendudukan Pink disudut ranjang. Gadis itu mengambilkan Pink segelas air agar saudarinya sedikit lebih tenang.
"Ada apa Pink??"
Pink melirik ke lain arah sebelum akhirnya menghela nafas panjang. "Sepertinya Arthur menyukai gadis lain"
Peach diam saja, hal itu sudah jelas akan terjadi karena memang Arthur adalah pria yang dimaksud ayahnya sebagai reinkarnasi pria spesial di masa lalu. Gadis itu hanya bisa mengusap bahu Pink, setidaknya dengan begitu Pink akan sadar bahwa Peach peduli kepadanya.
(Jika kalian lupa! Di Novel AYAM SEASON 2, Triton dan Kraken pernah bilang bahwa Densha adalah pria yang sudah ditakdirkan akan merubah takdir, maksudnya merubah takdirnya sendiri dengan ber-reinkarnasi)
"Kenapa selalu seperti ini disaat aku menyukai seorang pria??"
"Kau cantik Pink, akan banyak pria yang menyukaimu. Kau harus membuka kedua matamu lebar-lebar untuk melihat mereka, jangan terpaku kepada satu orang saja" Peach memeluk saudarinya lagi. "Aku akan membantumu melupakan Arthur"
"Aku tidak bisa, aku sangat menyukainya"
"Bukankah kau sendiri sudah mengetahuinya Pink?" Peach menatap saudari nya dengan sedih. "Bahwa Arthur itu...."
"Aku tidak mau tahu mengenai hal itu, lagi pula kita tidak tahu dimana gadis itu kan??" Bantah Pink tegas.
Aku tahu Pink - Peach.
"Jika memang benar dia adalah reinkarnasi pria yang mati 120 tahun yang lalu, terus dimana gadis yang dia cari?? Arthur bahkan tidak bisa melihat rupa gadis itu dengan jelas, aku kasihan kepadanya yang setiap waktu mencoba untuk bunuh diri demi untuk melihat wajah gadis sialan itu!!"
Melihat Peach yang tidak bereaksi, Pink semakin jengkel. "Kenapa kau diam saja?"
"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi"
"Kita bahkan sudah berusaha untuk mencari gadis itu beberapa tahun yang lalu, tapi apa?! Rumahnya malah terbakar dan dia sudah tidak ada di tempat"
Peach beranjak naik ke atas tempat tidur, ia merebahkan tubuhnya dan berbaring memunggungi Pink. "Aku ingin tidur Pink, selamat malam"
"Hah??" Pink bengong melihat cara Peach menyikapi curhatannya malam ini. "Astaga!"
...Bersambung!!...
Halo, terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk Like, Komentar, Follow, Favorit, Vote dan Rating bintang 5 ya?? 😘🙏