THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
BERTEMU REN



...PYASH!!!...


Kepulan asap tebal berwarna merah muda memaksa keluar dari ruang laboratorium, disana Pink dan Peach tengah terbatuk-batuk akibat percobaan sihir yang sedang mereka kerjakan.


Sontak saja, hal itu membuat beberapa murid berkumpul untuk memeriksa keadaan mereka berdua. Sebagian murid tertawa melihat rambut si kembar yang nampak kaku akibat ledakan sihir.


"Uhuk! Uhuk!" Pink mengibas-ngibaskan tangan kirinya di depan hidung. "Sudah kubilang kan Peach, kau salah membaca mantra nya, seharusnya kita membaca itu secara bersamaan"


"Kau terlalu cepat membaca mantra itu, bagaimana bisa aku mengikuti gerakan bibirmu?"


"Dih! Memang seharusnya kita menggunakan sihir peniru saat membaca mantra" Pink merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, kedua telapak kakinya mengeluarkan cahaya merah. Gadis itu tengah menyerap sihir dari sekolah itu dan menggunakannya untuk menghilangkan asap di laboratorium.


Dalam sekejap asap-asap itu hilang entah kemana, Pink tersenyum bangga melihat kemampuan sihirnya yang sudah semakin baik setiap harinya. Gadis itu mempersilahkan Peach untuk masuk ke dalam ruangan terlebih dahulu.


Setelah Peach melangkah masuk, Pink ikut masuk dan menutup pintu lab rapat-rapat. Ia memberikan sihir pada pintu tersebut agar tidak ada satu siswa pun yang memperhatikan mereka.


"Astaga!"


Ucapan Peach membuat Pink terkejut, buru-buru dia berlari ke arah saudari kembarnya untuk melihat hal yang membuat saudarinya terkejut. Pink menutup mulutnya tak percaya, segera setelah ia tahu bahwa penelitian yang ia lakukan berhasil.


"Ki--kita... Kita berhasil?"


"Kau benar Pink" jawab Peach sambil menganggukkan kepala.


"Ya Tuhan! Aku harus melihat Arthur sekarang juga!!"


Pink berlari menuju pintu dan membacakan sebuah mantra untuk membuka pintu tersebut, gadis itu berlari terburu-buru menuju kamar Arthur yang cukup jauh dari laboratorium sekolah.


Nafas gadis itu tersengal-sengal ketika tiba di depan pintu kamar Arthur, dengan sedikit rasa gugup di hatinya, Pink memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar si Phoenix itu.


"Arthur? Apa kau di dalam?"


Tok!


Tok!


Tok!


"T-tunggu sebentar!" Sahut Arthur dari dalam kamar.


Perlahan pintu kamar Arthur terbuka, Pink dapat melihatnya meskipun sangat samar. Ada sedikit asap putih yang keluar dari kamar Arthur, gadis itu juga tanpa sengaja melihat beberapa pecahan kecil batu dari dalam kamar mandi Arthur.


"Kau sedang apa?" Tanya Pink tanpa basa-basi. "Apa kau barusan mandi?"


"Uh--- tidak! Aku baru saja ingin mandi" Arthur mencium bau tubuhnya sendiri. "Apa aku tidak bau?"


"Tidak" Pink menggeleng pelan. "Apa terjadi sesuatu kepadamu Arthur??"


Kedua mata Arthur berhenti berkedip mendengar pertanyaan dari Pink, pria itu berbohong dengan menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Pink. Dalam hatinya ia dibuat bingung, apakah Pink tahu apa yang baru saja menimpa dirinya?


"Ngomong-ngomong kenapa kau mencariku? Jika kau ingin aku menemanimu ke suatu tempat, tolong maafkan aku! Aku sedang tidak ingin meninggalkan kamarku" terang Arthur dengan jelas.


"Tidak, aku hanya ingin melihatmu saja! Ini soal penelitian yang aku bilang padamu waktu itu. Jika kau mau, aku dan Peach bisa menjelaskan tentang percobaan kami" Pink melangkah mundur dari depan pintu kamar Arthur. "Aku akan menunjukkan mu sesuatu"


"Saat ini perasaanku sedang sangat buruk!" Ujar Arthur lirih. "Sekali lagi maafkan aku...."


KLAP!!


(Suara pintu tertutup)


Raut wajah Pink mendadak murung, tak biasanya Arthur tidak terlihat ceria seperti ini. Pink merasakan bahwa Phoenix itu berada dalam masalah hati yang begitu rumit, tanpa pikir panjang Pink mendekati pintu kamar Arthur lagi.


"AKU DAN PEACH ADA DI LABORATORIUM JIKA KAU BERUBAH PIKIRAN!!" Teriak Pink kencang lalu pergi.


Memangnya apa yang sedang direncanakan oleh si kembar? - Arthur.


•••••


BUG!


BUG!


BUG!


Winter memukul-mukul badan pohon besar di depannya, ia tidak mempedulikan kedua tangannya yang sudah berdarah akibat aktivitas yang ia lakukan.


Makhluk jenis apakah Densha itu?


Kenapa kau tidak bertanya langsung kepada orangnya?!


Serpihan ingatan mengenai hari kemarin muncul begitu saja di kepala Winter. Bisa-bisanya Landon malah memberinya teka-teki aneh seperti itu, memangnya apa yang salah? Kenapa tak ada seorangpun yang ingin memberitahu gadis itu? Amarah Winter sudah sampai batasnya, gadis itu begitu kesal mengingat wajah Arthur yang dengan sombong menolak pengakuan cintanya.


Apakah ini berarti Winter harus mencoba untuk menerima Densha? - Winter.


"TAPI PRIA ITU SANGAT MENJENGKELKAN!!" Umpat Winter kesal, gadis itu meninju badan pohon dengan amat keras untuk terakhir kalinya.


"Wah-wah, apa salah pohon itu sampai kau harus memberinya pelajaran seperti itu?"


Winter tersentak kaget, gadis itu celingak-celinguk mencari sumber suara yang mengajaknya berbicara.


"S-siapa??"


Hupla!


Seseorang melompat dari atas pohon, seorang pria bertubuh kekar dan lebih tinggi dari Arthur. Dari bau tubuhnya, sepertinya Winter tahu makhluk apakah pria tersebut.


"Wolf...." Gumam Winter lirih.


"Tidak sopan!" Ledek pria itu dengan tatapan tidak baik. "Serigala yang sedang menyendiri dan kehilangan kelompok seperti ini memangnya bisa apa? Apa kau sedang berlatih? Bukankah menurutmu latihan yang kau lakukan ini sia-sia?"


Pria itu adalah Ren, Alpha bagi kelompok Werewolf di asrama tersebut. Sosok Ren yang gagah tak mempengaruhi pandangan Winter terhadapnya, gadis itu tetap tak menunjukkan rasa canggung dan sungkan saat berbicara pada Ren.


"Jika menurutmu ini sia-sia, maka jangan lihat dan pergi saja! Winter tidak memintamu untuk tetap disini"


Kedua mata Ren mendelik, raut wajahnya benar-benar terlihat gusar. "Kau sudah terburu-buru menuju surga ya?!"


".........." Winter memandang Ren kesal dan kemudian berlalu pergi begitu saja.


"Hei!" Ren mencengkram pergelangan tangan kiri Winter. "Kau tidak tahu siapa aku?"


"Winter tidak ingin tahu dan Winter tidak peduli" gadis cantik itu memandang ke arah tangannya. "Tolong lepaskan!"


"Astaga! Gadis ini benar-benar keterlaluan!"


Ren menarik kedua tangan Winter, tubuhnya yang besar mampu dengan mudah membuat tubuh Winter yang kecil terpojok pada sebuah pohon. Kedua mata Ren begitu tajam seolah ingin menghabisi Winter saat itu juga dengan kedua tangannya sendiri.


".........."


"Aku adalah Alpha di kelompok ini, jika kau berhasil selamat dalam pertarungan nanti, aku pastikan hidupmu tidak akan pernah tenang!" Ancaman Ren terdengar begitu meyakinkan di telinga Winter, gadis itu tak bergeming dari tempatnya sampai Ren melepas kedua tangannya.


"Jangan khawatir, Winter juga tidak berniat untuk masuk ke dalam kelompok payah itu" Setelah menepis tangan Ren yang menghalanginya, Winter berjalan pergi tanpa melihat pria yang mengaku sebagai Alpha tersebut.


Toh sudah jelas kan bahwa Winter tidak akan selamat? - Winter.


Gadis cantik yang malang, Winter berhenti pada sebuah Goa. Goa yang dibangun oleh Peach dengan sihirnya waktu itu untuk membantu dirinya melewati siklus purnama. Dengan perasaan yang campur aduk, antara rasa kesal, sedih dan marah membuat Winter memutuskan untuk bermalam di dalam Goa tersebut.


...BERSAMBUNG!!!...


Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk klik tombol Like, tinggalkan komentar, Vote yang mendukung agar Author terus semangat! 😘😉