THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
SEVEN DAY'S



Arthur membuka kedua matanya perlahan ketika cahaya matahari yang menembus jendela kamar menyinari wajah tampannya. Wajah seorang gadis cantik nan manis sudah terlihat di depan mata Arthur, gadis itu menatapnya dengan pandangan khawatir. Dia adalah Pink, penyihir cantik yang menyukai Arthur. Tanpa dia (Arthur) sadari, Pink menggenggam erat jemari Arthur selama pria itu tak sadarkan diri.


Raut wajah Pink terlihat sumringah mendapati pria itu bangkit dari kematiannya, namun ia juga menunjukkan raut wajah yang kurang bahagia pada detik tertentu. Arthur menyapu ruangan kamarnya dengan tatapan matanya yang dingin, tidak ada siapapun di kamar itu selain dirinya dan Pink.


"Astaga!" Ujar Arthur terkejut. "Berapa lama aku mati?"


"Tujuh hari" Pink menundukkan wajahnya dengan sedih. Gadis itu terlihat berkaca-kaca, lalu suara sesenggukan mulai terdengar.


"Maafkan aku" ungkap Pink, "Aku tidak akan melakukannya lagi, aku pikir kami semua akan kehilanganmu"


"Apa?!" Pria Phoenix itu syok, dia memandang Pink dengan tatapan super bingung. "Apa maksudmu? Tujuh hari? Ba--bagaimana bisa?"


"Tunggu! Apa Winter baik-baik saja??"


Pink menatap kedua mata Arthur, sepertinya pria itu sudah mengingat hal terakhir yang ia ingat dari Winter. "Dia...."


"Katakan Pink!" Arthur menendang selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, pria itu lantas berdiri dan memandang keluar jendela. "Apa rencana yang kau buat untuk menyelamatkan nya berhasil? Jika aku bisa hidup, seharusnya Winter juga hidup kan?"


"Tenanglah Arthur, Winter baik-baik saja kok"


Arthur bernafas lega, pria tampan itu tersenyum kecil dan berjalan mendekati Pink. Sungguh tidak disangka, pria itu malah memeluk Pink dari belakang yang membuat Pink tersentak kaget, hingga kedua matanya terbuka lebar.


"Terima kasih Pink..." Bisik Arthur pelan.


Jantung Pink berdetak kencang, rasa sukanya pada Arthur semakin meluap-luap. Apa lagi sekarang Pria itu memeluknya seperti itu, ini pertama kalinya Arthur berlaku romantis padanya.


"A--anu..."


"Ah! Maafkan aku, aku hanya ingin berterima kasih kepadamu. Berkat idemu itu, Winter bisa selamat dari kematiannya" ujar Arthur sambil tersenyum bahagia.


Tak perlu waktu lama, pria tampan itu sudah bersiap diri untuk keluar dari kamar. Pink terus memperhatikan Arthur dengan heran, ada sesuatu di dalam hatinya yang sangat ingin untuk melarang Arthur pergi. Karena sepertinya, ia tahu kemana Arthur akan pergi.


Tangan kanan Arthur menyentuh gagang pintu kamarnya, buru-buru Pink berlari dan menghalangi jalan Arthur dengan menutup pintu tersebut rapat-rapat menggunakan sihirnya.


"Eh??"


"Tidak Arthur" Pink menggeleng pelan. "Ada satu hal lagi yang ingin aku beritahukan kepadamu"


"........" Arthur melipat kedua tangannya di depan dada dan menunggu Pink berbicara.


Dengan menghela nafas cukup berat Pink mau tak mau harus memberitahu Arthur mengenai kejadian dimana Winter bangkit kembali dari kematiannya berkat DNA Arthur sebagai Phoenix.


"Kau ingin menemui Winter kan?" Pink menatap Arthur serius dan hanya dijawab Arthur dengan anggukan kepala. "Winter tidak ada disini"


"Apa??"


"Winter sudah pergi, sejak dimana dia dibangkitkan lagi" Penyihir itu menggenggam jemari Arthur bermaksud untuk menenangkannya. "Gadis itu memilih pergi, dan akan kembali jika dia sudah menyiapkan hatinya untuk menerima Densha"


"Apa maksudnya??"


"Dia tahu, kau datang kesana! Kau tidak berdandan culun kan?" Tanya Pink tegas. "Winter bilang, disaat dia akan menghadapi kematiannya, dia melihatmu dengan raut wajah yang sedih. Gadis itu pikir, dia harus menerima Densha dan melupakan Arthur"


Segera Arthur menggelengkan kepala beberapa kali. "Tidak, itu tidak boleh! Bukan itu yang aku mau"


"Lalu? Bukankah bagus dia mulai ingin menyukaimu?"


"Tidak!" Arthur membantah ucapan Pink, pria itu kembali duduk di atas ranjang tidurnya sambil mengusap-usap wajahnya. "Ini akan buruk, Winter akan mulai melupakan Arthur dan memaksakan diri untuk menyukai Densha. Jelas-jelas mereka berdua adalah orang yang sama yaitu aku! Yang aku inginkan hanyalah Winter mengerti bahwa pria yang ia sukai memiliki alasan lain untuk melakukan itu, sehingga dia tidak perlu membenci sisiku yang lain"


Tanpa alasan yang pasti, Pink meneteskan air matanya. Gadis itu menangis dan meninggalkan kamar Arthur begitu saja, Arthur yang kebingungan berusaha mengikuti Pink tapi dirinya dicegah dengan sebuah sihir yang menghalangi dirinya untuk keluar kamar.


Pink beruraian air mata, penyihir itu berlari menuju kamarnya. Disana sudah ada Peach yang sedang membaca sebuah buku sihir kuno, melihat saudari kembarnya yang terpuruk, Peach segera menghampiri Pink. Namun Pink malah tidak menganggap keberadaan Peach di kamar itu.


"Pink??"


"Dimana kau menyimpannya?" Tanya Pink sambil menggeledah lemari milik mereka berdua.


Peach hanya menatap bingung. "Apa yang kau cari?"


"Prisma itu! Dimana kristal prisma itu?"


_________________________________________


Dengan bantuan Rene, teman penyihir yang tinggal beberapa kamar dari kamarnya, Arthur bisa keluar dari ikatan sihir Pink. Phoenix itu lantas pergi keluar asrama, dia berjalan menyusuri jalanan trotoar pinggir kota dan mencari-cari keberadaan Winter.


Hatinya berkata, bahwa Winter pasti kembali ke apartemen mininya. Sayangnya, Arthur tidak pernah tahu dimana gadis Serigala itu tinggal selama ini. Sudah lebih dari tiga jam Arthur mencari-cari keberadaan Winter namun tidak ia temukan, pria itupun akhirnya menuju sebuah taman. Yang nyatanya, dulu pernah dikunjungi Winter ketika dalam masalah.


Arthur menoleh ke kanan dan ke kiri, ia baru sadar bahwa kedua kakinya membawa dirinya ke sebuah taman. Taman yang terkenal dengan dosa para manusia di malam hari, untungnya Arthur mengenakan sebuah jaket Hoodie. Dia menutupi wajahnya sebisa mungkin dengan jaket itu dan duduk pada sebuah bangku.


Setelah beberapa menit duduk disana, Arthur memandangi kedua tangannya sendiri. Dia sedang memikirkan untuk apa dirinya dilahirkan dan siapakah yang telah melahirkannya, semua siswa di asrama milik Profesor memiliki asal-usul orang tua yang jelas. Sedangkan Arthur dan Winter tidak diketahui asal-usulnya dengan pasti, keduanya sama-sama dibesarkan disebuah panti asuhan.


"Kenapa menutupi wajah seperti itu? Sekarang masih sangat cerah untuk para remaja melakukan hal mesum di taman ini" ujar seorang gadis yang membuat Arthur tersentak kaget, dan sadar dari lamunannya.


Kedua mata Arthur terbuka lebar ketika mengetahui siapa gadis itu, rambutnya yang terurai panjang dan kulitnya yang putih itu. Gadis itu mengenakan dress tanpa lengan dengan panjang selutut berwarna kuning muda, entah mengapa Arthur begitu terpesona dengan gadis di depannya. Pria itu sampai menelan ludah beberapa kali memandang gadis cantik tersebut, seketika rasa sakit yang kuat menyerang bagian kepala Arthur. Phoenix itu lantas menyentuh kepalanya yang terasa nyeri.


Ya Tuhan! D--dia, dia gadis yang aku lihat setiap aku mati - Arthur.


"D--densha??"


Suara gadis itu segera menyadarkan Arthur kembali, dia tersenyum manis dan duduk disamping Arthur dengan begitu anggun. Gadis itu adalah Winter, Winter si gadis Serigala yang mengubah penampilannya menjadi lebih feminim dan lembut.


"Wi---Winter! Apa yang terjadi kepadamu?"


"Apa?" Winter memandang Arthur lalu tersenyum kecil. "Winter hanya ingin menjadi diri sendiri, selama ini Winter sadar bahwa Winter berpura-pura menjadi kuat dan keras yang nyatanya hal itu malah menyakiti orang lain"


Arthur melirik atau lebih tepatnya curi-curi pandang pada sosok Winter yang baru, sudah pernah terbayangkan di benak Arthur bahwa gadis itu akan sangat cantik jika rambutnya dibiarkan terurai.


"Winter pernah berbicara dengan bayangan Densha, dan disana Densha bilang bahwa dia lebih menyukai Winter yang apa adanya" ucap Winter pelan. "Dan..."


Rona merah menyembul dikedua pipi putih Winter, gadis itu membuang muka ke arah lain. "Densha juga bilang bahwa Winter terlihat cantik saat Winter mengurai rambut Winter"


Eh? Dia tahu?? - Arthur.


Arthur sama tersipunya dengan Winter, kedua remaja itu tak saling tatap meskipun terlihat duduk bersama. Jantung Arthur berdegup dengan kencang, namun seketika dirinya menjadi sedih saat mengingat ucapan Pink terhadapnya pagi tadi.


"Kenapa kau melakukannya?"


"Karena Winter adalah Fuu" sahut Winter cepat.


"Tidak, kau tidak perlu memaksakan diri jika tidak ingin"


Winter menggelengkan kepala pelan. "Tidak, Winter tidak sedang memaksakan diri Winter. Ini semua adalah diri Winter yang sesungguhnya, selama ini bayangan Densha selalu mengingatkan Winter tapi Winter tidak pernah mendengarnya"


"Lalu bagaimana hubungan mu dengan Arthur?"


Satu kalimat yang mampu membuat Winter terpaku, gadis itu tertunduk menatapi kedua kakinya yang mulus. Bibirnya bungkam tak mengatakan apapun tentang Arthur, ia tahu seharusnya dia berterima kasih kepada Arthur karena berkat DNA Phoenix nya, Winter bisa hidup kembali.


"Yang sekarang Winter fokuskan adalah Densha..."


"TIDAK!" Bentak Arthur keras, Winter sampai tersentak kaget dan memandang pria itu yang kini sudah berdiri di depannya. "Sudah aku katakan berapa kali? Kau harus mengenalku terlebih dahulu sebelum menyiapkan hatimu untuk menyukaiku, jika kau sudah mampu melihatku dengan kedua matamu! Datang dan katakan padaku bagaimana perasaanmu?"


"T--tapi...."


"Winter, aku tidak ingin kau tersakiti" Gumam Arthur lirih. "Ku mohon, pikirkan ini baik-baik! Kau harus tahu siapa itu Arthur dan siapa itu Densha dan putuskan dimana hatimu berada!"


".........."


Arthur pergi meninggalkan Winter, gadis cantik itu juga ikut melangkah pergi ke arah yang berbeda. Tatapan mata Winter terlihat kosong, didalam kepalanya hanya ada dua nama yang disebut pria itu, nama Densha dan Arthur. Sesampainya di apartemen, Winter mengambil sebuah buku kosong dan pensil, gadis itu mulai menggerakkan tangan kirinya untuk menggambar. Hebatnya Winter menggambar sambil mengingat wajah culun Arthur.


Kenapa malah jadi wajah Arthur? Apa Winter sangat menyukai Arthur? - Winter.


Winter kembali meneruskan gambarannya, ia tersenyum ketika melihat hasil karya yang sudah berjam-jam ia buat. Bahkan dia tidak menyadari bahwa hari sudah semakin gelap, kedua mata Winter terbuka lebar ketika menatap hasil gambarnya sendiri. Gadis itu buru-buru mencari sebuah penghapus, dengan rasa penasaran yang tinggi, Winter menghapus beberapa bagian pada wajah culun Arthur.


"Bagaimana jadinya jika Arthur menjadi pria yang keren?" Gumam Winter lirih.


...BERSAMBUNG!!...


Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk klik tombol Like, tinggalkan komentar, Vote yang mendukung agar Author terus semangat! 😘😉