THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
UNTUK JAGA-JAGA



SRAKKK!!!


Wanita penjaga kasir terkejut dengan barang belanjaan pembeli nya, si penjaga kasir begitu susah menelan ludahnya sendiri, ia lantas segera menghitung total belanjaan pria tampan di depannya.


"Maaf, apa kau yakin akan membeli sebanyak ini?"


Pria itu menoleh menatap wanita si penjaga kasir, dengan cengengesan dia menganggukkan kepalanya. "Hehe, iya... Hanya untuk berjaga-jaga"


"Berjaga-jaga tapi sebanyak ini?" Tanya si penjaga kasir. "Apa kalian para remaja akan melakukan pesta?"


"Pesta?!" Arthur balik bertanya. "Yaa... Sekolah kami memang akan mengadakan sebuah pesta sih"


Wanita tersebut tersenyum sambil memggelengkan kepalanya. "Astaga! Sekolah mana yang membiarkan para muridnya mengadakan pesta **** di dalam sekolah?"


Kedua mata Arthur membulat, dia sungguh terkejut sepertinya Arthur salah tangkap dengan awal pembicaraan si wanita penjaga kasir.


"Oh, maaf! Pesta yang aku maksud dengan pesta yang kau maksud sungguh berbeda" Arthur mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar belanjaannya. "Barang-barang ini, untuk dipakai pribadi"


"Kau yang akan memakainya??"


"Tentu saja!" Jawab Arthur mantap. "Memangnya kenapa? Bukankah aku sudah bilang, hanya untuk berjaga-jaga"


Wanita itu tergelak, "Hohoho... Baiklah! Pasti kau sangat menyukai pacarmu sampai-sampai mempersiapkan persediaan begitu banyaknya"


Arthur tertawa senang dan menerima kantong belanjaannya. "Yaa... Aku sangat menyukainya, terima kasih!"


Arthur berjalan keluar dari toko, si wanita penjaga kasir masih saja tetap mengawasi pria itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedetik kemudian, datanglah teman wanita itu, ia menegur temannya yang senyum-senyum tidak jelas sambil menatap ke arah luar Toko.


"Kau ini kenapa?"


"Ah! Tidak" Wanita itu kembali bekerja seperti biasanya. "Barusan ada seorang pria yang membeli banyak sekali alat kontrasepsi"


"Hah?! Lalu kenapa kau tersenyum?"


"Pria itu sangat tampan, pasti pacarnya juga cantik. Maka dari itu dia membeli banyak sekali" jawab si wanita penjaga kasir. "Katanya sih buat berjaga-jaga, hahahaha"


"Hahahaha! Kau benar! Dasar anak muda jaman sekarang, kalau tidak mau hamil ya jangan lakukan. Kenapa pakai istilah untuk berjaga-jaga segala!"


HAATTCCHHII!!!


Arthur menggosok-gosok hidungnya yang memerah, sedari dia keluar dari toko ia sudah bersin-bersin. Pria itu menatap ke sekelilingnya, untuk memastikan apakah ada orang yang diam-diam memperhatikan dirinya sambil membicarakannya atau tidak.


HAATTCCHHII!!!


"Astaga! Sepertinya memang benar ada yang sedang membicarakan aku"


••••


Di dalam asrama, Landon, Pink, Peach dan Winter tengah berkumpul di kamar Justin. Mereka semua memperhatikan tubuh Vampir itu yang masih terbaring lemah, Landon mendesah, ia sangat prihatin dengan kondisi Justin.


TOK!


TOK!


TOK!


"Masuklah..."


CEKLEK!!


(Suara pintu terbuka)


"Ah! Maaf profesor, aku harus mengikuti kelas nyonya Rachel terlebih dahulu baru bisa kemari" ucap Odd yang baru saja tiba di kamar Justin.


"Tidak apa-apa Odd, sekarang! Apakah kau bisa menceritakan semuanya?"


Odd terdiam, dia melirik ke arah Winter yang malah menatapnya dengan pandangan bingung. "Begini, aku tidak tahu persis kejadiannya. Seharusnya profesor menanyakan hal ini kepada Peach, karena dia lah yang ada disana saat kejadian"


Peach terkejut, memang sedari kemarin saudari dan Ayahnya sudah bertanya kepada dirinya mengenai kejadian yang menimpa Justin, tapi sepertinya Peach enggan untuk bercerita. Entah karena malu atau karena ia memang tidak mau bercerita.


"Ah... Aku...." Peach diam mematung, sesaat untaian senyum kecil tercipta di bibirnya.


"Kenapa kau tersenyum Peach?!" Tanya Pink yang berhasil melihatnya.


"Apa?! Ti-tidak!"


Pink menghela nafas panjang. "Jangan berbohong dan bertele-tele seperti ini, jika kau memang tahu! Tolong ceritakan dengan jelas"


Kedua mata Peach melebar. "De-dengan jelas??"


Apakah adegan ciuman itu juga perlu aku ceritakan? Mereka pasti bertanya darimana aku mendapatkan sihir untuk ikut bertarung - Peach.


Sepertinya aku tahu apa yang terjadi - Landon.


"Begini, kalau kau memang tidak mau bercerita disini, tidak apa-apa" ucap Landon tenang. "Kau bisa menceritakan nya pada Ayah nanti"


Landon mengedipkan sebelah matanya kepada Peach, gadis penyihir itu tersenyum senang karena Ayahnya sangat mengerti kondisinya saat ini.


"Baiklah, dimana kelereng itu?"


Winter merogoh saku celananya dan memberikan apa yang diminta oleh Landon kepadanya. "Ini, semoga bisa benar-benar membantu"


"Tentu saja! Ini akan sangat membantu" ujar Landon. "Terima kasih banyak, Winter"


"Oke, baik"


Landon dibantu dengan Odd mendudukkan tubuh Justin yang terbaring. Seperti minum obat, pelan-pelan Landon memasukkan kelereng itu dan meminumkan segelas air pada tubuh Justin. Disaat seperti ini, ketiga gadis di dalam kamar saling cemas dan memohon agar semuanya berjalan dengan baik. Peach, yang paling terlihat sangat khawatir saat ini.


Kumohon.... - Peach.


"Dia sudah meminumnya" ujar Landon santai. "Sekarang, ayo kita keluar dan biarkan dia beristirahat"


"Baik" jawab mereka semua serempak.


"Ah! Tunggu, untuk berjaga-jaga..." Landon menatap semua anak muridnya bergantian. "Peach, kau tetap disini! Jika Justin bangun, cepat kirim pesan sihir pada Ayah"


"Aku?! Kenapa aku??"


Landon tersenyum, ia melangkah mendekati putrinya lalu mengusap kepala Peach dengan lembut. "Karena sepertinya, kau sangat mengkhawatirkan Justin melebihi kami semua"


"A-ayah!!!" Peach tertunduk malu, gadis itu berusaha menyembunyikan wajah merahnya diantara rambut panjangnya yang terurai.


Hah?! Apa ini? Kenapa reaksi Peach seperti itu? Ada apa diantara mereka? Dan kenapa Ayah tau hal ini, sedangkan aku tidak?! - Pink.


Benar! Pink sama sekali tidak peka dengan apa yang terjadi, sedangkan jika sesuatu menimpa Pink, Peach selalu peka untuk mengetahuinya. Winter yang sepertinya paham akan maksud profesor, hanya bisa tersenyum dan membisikan kata semangat kepada Peach.


"Nanti siang, Winter akan antarkan makanan untuk Peach! Daah..."


KLAP!!


(Pintu ditutup)


Peach menoleh, memandang tubuh Justin yang bertelanjang dada di atas ranjang. Tiba-tiba saja Peach menepuk kedua pipinya sendiri yang terasa panas. Penyihir itu lantas terduduk lemas di balik pintu kamar Justin.


Deg!


Deg!


Jantungku.... - Peach.


"Cepatlah sembuh, Justin" gumam Peach lirih, ia memeluk kedua kakinya dan duduk dengan tenang ditempatnya sekarang.


_________________________________________


Di sebuah asrama, seorang gadis Werewolf tengah berjalan menyusuri lorong yang akan membawanya ke sebuah kamar. Kamar tempat ia untuk melepas lelah, beristirahat dan bertemu dengan seseorang yang dicintainya.


Winter berjalan dengan penuh semangat, terkadang terdengar juga bunyi siulan sari bibirnya yang ranum. Wajahnya terlihat berseri-seri, tak sabar ingin bertemu pria Phoenix di dalam sana.


Kini, kedua kakinya telah sampai tepat di depan pintu kamar. Ia yakin, pasti Arthur sudah ada di dalam sana, mengingat beberapa waktu yang lalu pria itu pamit untuk pergi ke suatu tempat, yang tidak diketahui olehnya.


Tok!


Tok!


"Arthur?" Sapa Winter lirih.


BRAKK!!!


GUBRAK!!!


Suara berisik terdengar dari dalam kamar itu, kedua mata Winter membulat ketika mendengar suara benda berat terjatuh. Khawatir akan Arthur yang tertimpa masalah, gadis itu langsung menyentuh gagang pintu dan berusaha membukanya. Namun sayang, pintu kamar Arthur terkunci dari dalam.


"ARTHUR!!!" Teriak Winter kencang sambil menggebrak-gebrak pintu kamar. "Buka pintunya!"


"Tu-tunggu dulu!" Jawab Arthur dari dalam. "Aku baik-baik saja kok, akan aku buka pintunya sebentar lagi"


BERSAMBUNG!!!


Halo, terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk Like, komentar, Vote dan Favorit. Aku sayang kalian.... ☺️🙏