
Arthur membuka pintu kamarnya, pria itu memunculkan kepalanya terlebih dahulu untuk melihat ekspresi Winter. Benar saja, gadis itu terlihat kesal karena Arthur lama sekali membukakan pintu untuknya.
Tanpa rasa bersalah, Arthur tertawa kecil sambil membuka pintu kamarnya lebih lebar lalu mempersilahkan Winter untuk masuk. Gadis cantik itu berjalan memasuki kamar sembari melipat kedua tangannya di depan dada, matanya begitu jelih memperhatikan seisi kamar Arthur. Ia yakin betul, bahwa sepertinya Arthur sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Arthur sedang menyembunyikan sesuatu kan?" Tanya Winter, matanya begitu tajam menatap Arthur yang mulai bercucuran keringat dingin.
"Ti-tidak! Memangnya apa yang aku sembunyikan?"
"Oh iya?!" Winter tersenyum menyeringai di depan wajah Arthur. "Apa Arthur lupa, Winter ini Werewolf. Hidung Winter bisa mencium bahwa ada benda baru di kamar ini..."
"Ah! I-itu..." Arthur membuang muka ke arah lain, wajahnya memerah ketika Winter berusaha menyudutkannya. "Aku membeli sesuatu yang dibisikkan oleh Profesor"
Winter mundur beberapa langkah, wajahnya kembali tenang namun masih terlihat bingung. "Yang dibisikkan Profesor?"
Arthur membuka laci lemarinya, disusul dengan Winter yang berjalan di belakang pria itu. Kedua mata Winter membulat lebar ketika melihat benda apa yang telah dibeli oleh kekasihnya itu, refleks kepala Winter tertunduk, wajahnya merah padam saking terkejutnya.
"I-ini...." Gumam Winter lirih.
Arthur yang sedang berjongkok, menengadahkan kepalanya menatap gadis yang sedang berdiri di belakangnya. Entah kenapa? Pria itu merasakan sedikit aura mengerikan dari tubuh Winter.
"Profesor memintaku untuk membeli ini!"
BAM!
BAM!
BAM!
Winter memukuli tubuh dan kepala Arthur berulangkali tentu saja dengan menahan tenaganya agar pria itu tak merasakan sakit yang berlebih. Wajah Winter benar-benar menjadi merah, emosi dan malu bercampur jadi satu di wajah gadis itu.
"Idiot!!" Maki Winter kesal. "Arthur mesum!! Pria bodoh! Pria aneh!"
Umpatan demi umpatan keluar dari bibir Winter setelah melihat kotak laci milik Arthur berisi benda-benda aneh dengan amat banyak, gadis itu marah pada pria yang beberapa hari ini baru dia pacari.
Winter duduk di sisi ranjang tanpa melihat ke arah Arthur, sedangkan Arthur duduk di sisi lain ranjang sambil mengobati luka ditubuhnya akibat pukulan dari Winter. Sesekali, Arthur melihat Winter yang tertangkap sedang melindungi tubuhnya sendiri.
"Hei, aku membeli sebanyak itu juga tidak untuk dipakai sekaligus" ucap Arthur memecah keheningan di dalam kamar, karena sedari tadi mereka hanya diam saja.
"Mesum tetap mesum!!!"
Arthur memutar kedua bola matanya. "Aku berpikir, dengan membeli banyak maka aku tidak perlu lagi keluar ke dunia manusia, kau kan tahu aku ini sedang di incar"
Winter terkejut dengan jawaban Arthur, gadis cantik itu lantas berjalan mendekati Arthur dan merebut salep yang dipegang pria itu.
"Biar Winter yang obati" ucap Winter lembut, gadis itu lantas berjongkok dan menyentuh lengan Arthur dengan lembut. "Maaf... Winter salah"
"Kau tidak perlu minta maaf, aku mengerti kenapa kau salah paham"
Gadis cantik itu tersenyum memandangi wajah tampan milik Arthur. "Terima kasih"
"Hmm, bagaimana dengan Justin? Apakah dia sudah sadar?"
"Belum" Winter kembali mengoleskan salep pada dahi Arthur. Sesaat kedua mata mereka bertemu dan keduanya saling terpaku memandang satu sama lain. "Saat Winter mengantarkan makanan untuk Peach, Justin masih tertidur"
Arthur termenung, dia melamun memikirkan sesuatu. Wajahnya nampak cemas dan khawatir, dia terus memandangi Winter yang masih sibuk mengobati lukanya.
"Winter...."
"Ya?" Sahut Winter cepat.
"Ba-bagaimana kalau ternyata di kehidupan ini, aku..."
"Ssshh!" Belum sempat Arthur menyelesaikan kalimatnya, jari telunjuk Winter sudah menempel lembut di bibirnya. Gadis cantik itu menatap sedih kepada pria di depannya. "Jangan katakan! Apapun yang terjadi, Winter akan melindungi Arthur"
"Bagaimana?"
Winter menggeleng pelan. "Winter tidak tahu, tapi Winter percaya bahwa Arthur akan baik-baik saja"
"Yaahh... Sekarang sih aku baik-baik saja!" Ucap Arthur dengan lantang. Pria Phoenix itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Malah sangat baik untuk sekedar melakukan permainan"
"Permainan?" Tanya Winter yang meletakkan botol salep ke meja belajar milik Arthur. "Permainan apa??"
Arthur tersenyum jahil, dia menaikkan sebelah alisnya dan membuat tatapan seolah ingin menyerang gadis cantik di depannya. "Menelan mu"
"ARTHUR MINTA DI PUKUL LAGI YA!!!" Maki Winter marah-marah.
"Hahahahaa... Apa sih?!" Arthur bangun dari ranjangnya dan berjalan mendekati gadis cantik itu. "Aku hanya bercanda, kalau kau tidak mau, aku juga tidak akan memaksa nya"
Arthur menyentuh wajah Winter dengan kedua tangannya, pria itu menatap mata gadis cantik di depannya itu dengan penuh kehangatan. "Tapi, kalau sekedar ini... Boleh ya?"
"Ng.... A-apa?"
Arthur mendekatkan wajahnya pada wajah Winter yang sudah terlihat tegang. Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Pria Phoenix itu mencium bibir Winter, gadis cantik yang ia cintai.
"Tu-tunggu!" Winter mendorong dada bidang milik Arthur pelan. "Me-memang boleh sih, ta-ta-tapi.... Bi-bi-biasanya..."
"????" Arthur memicingkan kedua matanya menunggu jawaban dari Winter yang terlihat kikuk. "Kau ini mau bilang apa sebenarnya?"
Bukannya menjawab! Arthur malah tersenyum menyeringai dan menarik tubuh Winter ke dalam pelukannya. Pria itu kembali menciumi wajah, bibir dan leher Winter dengan gemas.
"Arthur!" Gerutu Winter lirih, tapi pria itu tak menghentikan aksinya dan malah membawa tubuh Winter ke arah ranjang tidurnya.
Tuh kan!! - Winter.
_________________________________________
Justin menggerakkan kepalanya yang terasa berat, Vampir tampan itu membuka kedua matanya. Ini aneh dan menyakitkan, Justin seolah mengalami kematian yang kedua kalinya. Pria itu mengangkat tangan kanannya, dengan melihat dirinya masih bisa mengangkat tangan itu, kini dia benar-benar yakin bahwa dia telah tersadar.
Kenapa tangan kiriku terasa berat? - Justin.
Vampir itu terkejut bukan main, saat ia melihat ada kepala seorang gadis yang sedang tertidur menindih tangan kirinya. Pelan-pelan Justin mencoba untuk menarik tangannya, tapi sepertinya tidak bisa.
"Eng..."
Peach bergumam pelan, penyihir itu lantas terbangun dari tidurnya. Dia melihat Justin yang masih tertidur, yahh... Saat tahu Peach akan bangun, Justin segera berpura-pura untuk tidur. Peach menyentuh dahi Justin dengan punggung tangannya.
"Harusnya sudah sadar kan?"
Peach yang merawat ku? Bahkan dia sampai menungguku - Justin.
"Apa aku harus mengirim pesan pada Ayah? Dan bilang bahwa darah Tribrid itu tidak manjur untuk Vampir"
SET!!
Justin langsung bangkit dari tidurnya, Vampir itu mencegah kedua tangan Peach yang akan mengirimkan pesan sihir untuk Landon.
"Aku sudah bangun!" Ucap Justin kemudian. Pria itu lantas melepas kedua tangan Peach perlahan.
"Uh, Oke" Peach mengangguk. "Tapi aku harus tetap mengirimkan pesan, dan bilang bahwa kau sudah sadar"
"A-anu... Jangan kirim pesan itu dulu" pinta Justin memohon. "Saat kau mengirim pesan, maka profesor dan saudari kembar mu itu akan datang kemari. Sebelum itu, aku ingin mengatakan sesuatu terlebih dahulu"
Peach terdiam, dia memperhatikan Justin dengan seksama. "Baik, aku akan mengirim pesannya nanti? Apa kau ingin minum sekantong darah terlebih dahulu?"
Peach lantas berdiri dari duduknya, ia hendak mengambil sekantong darah hewan untuk Justin. Bukan itu alasan sebenarnya! Peach merasakan perasaan aneh di dalam hatinya ketika melihat Justin terbangun.
Semoga wajahku tidak terlihat aneh - Peach.
"Tunggu!" Justin mencegah Peach untuk pergi, dia kembali membuat Peach untuk duduk di dekatnya. "Nanti saja minum darahnya, Aku ingin meminta maaf"
"Minta maaf??"
"Yaa... Soal kejadian waktu itu" gumam Justin pelan, ia terlihat malu-malu saat ini. "Soal aku yang mencium mu waktu itu"
Wajah Peach mendadak tegang, gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Lu-lupakan saja!"
"Bagaimana mungkin aku bisa lupa? Kita ini tinggal dan bersekolah di asrama yang sama. Aku tidak mungkin bisa melupakannya, selagi masih bertemu denganmu" terang Justin panjang lebar.
"A-aku terlalu terbawa suasana waktu itu" imbuh Justin lirih. "Memang, banyak gadis di sekolah ini yang menyukaiku. Tapi mencium seorang gadis yang sebelumnya belum pernah menyukai ku bahkan selalu bersifat dingin padaku, itu terasa berbeda"
".........." Peach masih diam saja mendengarkan, sejujurnya dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa di situasi ini.
"Maafkan aku Peach...." Justin menatap dalam-dalam kedua mata Peach. "Sepertinya aku tertarik padamu"
Kedua mata Peach membulat lebar, wajah penyihir cantik itu mendidih, rona merah menyembul di kedua pipinya yang putih.
Kepalaku pusing.... - Peach.
BRUKKK!!!
Eh?? - Justin.
"PEACH!!!" Teriak Justin kencang, ketika dirinya menangkap tubuh Peach yang jatuh pingsan ke arahnya. Pria Vampir itu memeluk tubuh Peach dengan khawatir, buru-buru Justin menidurkan Peach ke atas ranjangnya.
Justin segera mengambil kaos di dalam lemarinya, dia yang tidak memiliki kemampuan sihir segera berlari keluar kamar untuk memanggil Profesor di kantornya. Beruntung dia adalah Vampir, jadi kecepatan berlari Justin adalah yang tercepat diantara makhluk supranatural lainnya.
Di dalam kantornya, Landon tengah menunggu kabar dari Peach. Dia terus menyuruh Pink untuk memanggil Peach lewat sihirnya tapi sepertinya saudari kembarnya itu tidak bisa merespon sihir panggilannya saat ini.
"Ck! Sebenarnya kemana Peach ini?" Gerutu Pink kesal.
BRAKK!!!
Pintu kantor yang terbuka secara paksa membuat Pink dan Landon terkejut, kedua penyihir itu lantas menatap tajam ke arah seorang pria yang sedang berdiri di sana. Landon berdiri dari duduknya, disusul dengan Pink juga yang ikutan berdiri, mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"JUSTIN???" Ucap keduanya secara serempak.
"Ya... Ini aku" jawab Justin dengan senyum di bibirnya.
BERSAMBUNG!!!
Halo, jangan lupa untuk klik tombol Like, Favorit, Vote dan komentar yaa? Dukungan dari kalian sangat berarti untuk saya! Terima kasih... ☺️🙏♥️