THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
BULAN



Nyut!


Arthur memicingkan kedua matanya ketika tiba-tiba ia diserang rasa pusing. Di dalam kepalanya Arthur seperti melihat samar-samar kehidupan kota yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Ada sekelebat tulisan yang muncul di kepala Arthur dan kalimat yang tertulis adalah 'Phoenix High School'.


"Kau kenapa Arthur??" Tanya Odd yang merasa khawatir.


"Ah! Ti-ti-tidak, aku tidak apa-apa"


Pengelihatan apa lagi itu?? - Arthur.


Kedua pria yang nyatanya Phoenix dan Peri itu berjalan beriringan menuju perpustakaan. Arthur banyak membantu Odd untuk mengembalikan buku-bukunya ke tempat semula dengan bayaran Odd harus mengatakan apa yang ia tahu.


Arthur dan Odd duduk disebuah bangku di dalam perpustakaan, keduanya duduk saling berhadapan. Odd terlihat bahagia saat mengetahui ada orang lain selain dirinya di asrama ini yang menyimpan rasa penasarannya pada sosok duyung.


"Nah, ceritakan!" Arthur mempersilahkan Odd memulai ceritanya.


"Eh? Harus mulai darimana aku menceritakan nya?? Bukankah sebaiknya kau yang bertanya terlebih dahulu?"


"Katakan apapun yang kau tahu" ujar Arthur yang sudah tidak sabar.


"Hmm..." Odd mengusap dagunya pelan. "Kisah ini hanya diketahui oleh makhluk supernatural seperti kita, tak banyak manusia yang mengetahui cerita ini"


Arthur melemaskan otot-otot di bahunya agar lebih rileks, pria itu mengangkat kursinya agar sedikit lebih dekat dengan Odd.


"Berawal dari seorang pria bermarga Mikaelson, dia mencintai seorang putri duyung yang tidak aku ketahui siapa namanya. Namun kisah cinta mereka tidak berjalan mulus karena suatu tragedi yang aku juga tidak mengerti, kota itu diserang tsunami maha dahsyat yang menyebabkan seluruh kota hancur. Banyak yang bilang bahwa itu adalah kutukan si gadis duyung, dan pada akhirnya mereka menamai kota itu dengan nama Mermaid Fall's"


"Apa keluarga Mikaelson masih ada??" Arthur menggenggam kedua jemarinya erat.


Odd terdiam sejenak, ia mencoba mengingat-ingat. "Aku rasa tidak ada, setahuku mereka memiliki seorang putri. Tapi putri itu menghilang, menurutku putri keluarga itu kembali ke laut dan membuat marga Mikaelson menghilang seutuhnya"


"Jadi Tribrid itu tidak pernah memperlihatkan dirinya??"


"Kau tahu tentang Tribrid??" Odd terkejut, kedua matanya membesar menatap Arthur.


"Aku membaca buku karya profesor, dia menuliskan kisah tentang gadis duyung yang kau ceritakan itu! Tapi dia tidak menulis nama si gadis, profesor hanya menuliskan beberapa nama dengan marga Mikaelson"


"Yahh, sayang sekali" Odd nampak kecewa dengan perkataan Arthur. "Andai saja aku tahu siapa nama si gadis duyung itu?"


"Namanya adalah Fuu!" Sahut Arthur cepat. "Jangan tanya aku tahu darimana? Setidaknya aku sudah memberitahumu"


"Ah, oke!"


Arthur menyanggah wajahnya dengan kedua tangan, pria itu melamun memikirkan kisah si putri duyung. Dari semua cerita tak ada satupun yang mampu membantu Arthur menemukan masalahnya. Seolah kisahnya itu hanya dibuat setengah saja, dan masih banyak kebenaran yang di tutupi.


"Kalau kau sungguh ingin tahu mengenai duyung, pergilah ke rumah keluarga Collin di kota tempatku berasal" ujar Odd ramah.


"Keluarga Collin? Apa mereka juga duyung?"


"Tidak" Odd menggeleng, "tapi dulunya keluarga itu adalah satu-satunya keluarga yang dekat dengan keluarga Mikaelson"


"Kenapa kau mengetahui nya sampai sejauh itu??" Phoenix itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Seolah-olah kau ini adalah seorang penguntit"


"Hei, jaga cara bicaramu!" Maki Odd kesal. "Keluarga Collin itu percaya dengan adanya makhluk-makhluk seperti kita, mereka bahkan tak pernah menceritakannya kepada manusia lain"


"Begitu ya?!"


"Benar, sejujurnya aku...." Odd menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal. "Aku pernah menjalin hubungan dengan anak dari keluarga itu, tapi dia memutuskan hubungan ini karena statusku yang makhluk supernatural"


"Dasar!" Arthur menjitak kepala Odd pelan. "Itu tandanya dia tidak mencintai mu!!"


"Dia sangat mencintaiku" Odd menunduk sedih, "Namanya Maudy, dia adalah cucu dari Mia Collin. Dia ingin putus karena dia malu melihatku yang selalu awet muda berkat statusku ini, dia sadar bahwa dia hanyalah manusia yang tidak bisa memiliki umur panjang sepertiku"


"Aku tidak tahu" Odd menggeleng pelan, "Aku menyukainya karena dia satu-satunya manusia yang menurutku baik dan pandai menjaga rahasia"


"Wah, kisah cinta yang keren!" Arthur kagum mendengar cerita Odd. "Kira-kira berapa umurmu?? Apakah Maudy masih hidup??"


"Mungkin dia sudah sangat tua saat ini, hahaha" Odd tertawa lebar. "Umurku, berapa ya?? Kalau tidak salah sekitar 50 ke atas, gara-gara aku sadar bahwa aku dianugerahi umur yang amat panjang aku jadi malas menghitungnya"


"Hahaha, kau benar tentang hal itu!" Pria itu berdiri dan mengucapkan terimakasih kepada Odd yang mau meluangkan waktunya untuk bercerita. "Aku rasa akulah satu-satunya yang paling muda di asrama ini"


_______________________________________


Bzzt!


Bzzt!


Diperkirakan bulan akan semakin membesar di akhir pekan, sepertinya kota kita akan mendapatkan bulan purnama sempurna di tahun yang bahagia ini. Anda sekalian bisa menyaksikan bulan purnama indah ini tanpa mengenakan teleskop. (Suara TV)


Para ilmuwan perbintangan, sudah memperkirakan hal ini dari berminggu-minggu yang lalu. Bisa kita saksikan bahwa bulan akan semakin membesar setiap harinya dan akan bulat sempurna di penghujung hari. (Suara TV)


Winter menatap lurus ke layar kaca yang tersedia di restoran tempatnya makan hari ini, gadis itu memandang si penyiar berita yang amat cantik tanpa mendengarkan isi berita mengenai bulan purnama yang sebentar lagi akan terjadi.


"Memangnya kenapa kalau bulan purnama?" Winter mendengus sebal. "Hanya begitu saja sampai heboh dan disiarkan!!"


SRUKK!!


Seorang gadis mengenakan dress diatas lutut, namun dengan lengan yang panjang duduk di sebuah kursi depan Winter. Dia tersenyum sambil melambaikan tangannya pada gadis cantik bermata biru tersebut.


"Aku tidak menggangu kan??" Peach menyuapkan makanan yang ia pesan ke dalam mulut.


Dia tidak punya tata krama ya?? - Winter.


"Kau sedang apa? Apa kau kepanasan di suhu udara restoran yang amat dingin ini??" Peach menatap Winter dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Sontak saja kalimat Peach membuat Winter ketakutan, bagaimana mungkin gadis itu tahu persis apa yang sedang di alami oleh Winter. Segera Winter melengos dan berpura-pura tidak mendengar ucapan Peach.


"Kenapa memakai topi didalam ruangan?"


Kedua mata Winter mendelik, bukannya apa-apa, tapi Peach mengatakan hal itu dengan amat lantang. Tentu saja semua pengunjung restoran langsung memperhatikan mereka berdua. Winter yang malu, langsung menarik Peach dan mengajak gadis itu untuk pergi.


"Demi kerang ajaib! Sebenarnya apa yang kau lakukan sih??" Winter menatap sebal ke arah Peach.


"Makan" sahut Peach tenang.


"Kenapa kau membahas suhu udara yang dingin lah, topi lah, apa lah...."


"Sebentar lagi bulan purnama akan tiba, tidak baik untuk Serigala berkeliaran di tengah kota" ujar Peach polos tapi jujur.


"Apa??" Winter melotot memandang Peach. "Apa yang kau katakan??"


"Bulan purnama akan berlangsung selama beberapa hari, paling lama mungkin tiga hari" Peach berjalan pelan, ia menoleh ke arah Winter seolah meminta agar gadis itu mengikuti dirinya. "Dan selama itu kau akan terjebak dalam wujud binatang mu"


"A-a-apa??"


"Aku datang kemari untuk menawarkan bantuan" Peach tersenyum manis.


...Bersambung!!...


Halo terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk klik tombol Like ya? Komentar, Follow, Favorit dan Vote! Terima kasih!! 😘🙏