
...Blup!...
...Blup!...
...Blup!...
Rasa dingin dan lembab menghampiri Winter, gadis cantik itu membuka kedua matanya. Sekelebat dirinya melihat beberapa ekor ikan raksasa berenang mengitari dirinya, Winter memandang sekeliling dengan tatapan datar tanpa sadar bibirnya membentuk sebuah simpul senyuman tipis.
"Sebenarnya apa yang sedang kalian coba katakan padaku?"
Gadis itu tak menghiraukan kerumunan ikan yang mengitari dirinya dan kembali memejamkan kedua matanya. Winter menarik nafas dalam-dalam dan mencoba untuk terbangun dari tidurnya.
"............" Winter duduk lalu mengusap wajahnya dengan gusar. "Lumba-lumba, hiu dan paus"
Gadis cantik itu terkekeh mengingat mimpinya. "Aku ini Werewolf, hidupku di daratan bukannya berenang dengan kalian"
Setelah mandi dan berganti pakaian, Winter melipat pakaian Arthur dengan rapi. Ia meletakkannya diatas meja, sekilas Winter teringat wajah Arthur yang lugu ketika mencoba mengusap kepalanya saat ia berubah wujud.
Ini aneh, kenapa aku jadi memikirkan si culun itu terus? - Winter.
Di sekolah, Winter merasa bahwa seluruh murid memperhatikan dirinya. Selama ia berjalan di lorong atau koridor sekolah tak sedikit murid bergunjing tentangnya.
Tap!
Tap!
Tap!
(Suara orang berlari)
"Winter!" Seseorang menepuk bahu Winter membuat gadis itu terkejut dan menoleh ke orang itu.
"Kau??" Tanpa menghiraukan Arthur, gadis itu tetap berjalan menuju kelasnya.
"Mereka semua menggosipkan kita!"
"Yang benar saja!" Winter tersenyum kecut, ia tak terlalu peduli dengan gosip-gosip apapun yang beredar. "Memangnya apa yang mereka katakan?"
"Ini...." Arthur menenteng sebuah poster yang ia ambil di dinding. "Bacalah!"
Gadis itu segera merebut poster yang dipegang oleh Arthur dan segera membacanya. Kedua mata Winter melotot tajam melihat foto dirinya dan Arthur ketika berdansa di pesta malam itu.
"Winter dan si culun menjalin hubungan!! Keduanya terlihat berdansa bersama dan bahkan setelah itu menginap disebuah Villa selama beberapa hari tanpa datang ke sekolah...." Ucap Winter membaca tulisan yang tertuang di poster itu.
"Astaga! Siapa yang melakukan ini??" Winter menatap Arthur tajam, ia merobek lembaran kertas itu dan membuangnya sembarangan. "Sudah berapa lama poster ini tersebar?"
"Aku tidak tahu, aku baru saja datang ke sekolah hari ini"
"APA??" Teriak Winter kencang. "Kemana saja kau selama ini? Kenapa baru masuk ke sekolah? Aku juga baru hari ini datang ke sekolah, Ya Tuhan! Bisa-bisa mereka mengira bahwa kita betulan sepasang kekasih"
"A-aku...." Arthur gugup mendengar kemarahan Winter. "Aku baru saja sembuh setelah insiden itu"
"Insiden apa??"
"Aku bersyukur melihatmu di sekolah, itu berarti kau selamat dari terkaman binatang buas yang lepas" Arthur berjalan mengikuti Winter yang sepertinya sedang mencari seseorang. "Apa kau tidak tahu? Semua orang di pesta tewas"
"Aku tahu!" Sahut Winter keceplosan.
"Eh!! Kau tahu? Dimana kau saat itu? Setelah kau pergi James memukuli aku la-lalu..."
"Berhenti bicara Arthur!! Kau membuatku semakin marah" bentak Winter kasar, ia mendorong tubuh Arthur dan meninggalkan pria culun itu untuk mencari Bob, satu-satunya teman James yang masih hidup.
Bob tengah asyik merokok di halaman belakang sekolah, pria itu duduk termenung sambil menatap langit. Rupanya ia tengah merindukan teman-teman sekumpulan nya, dan sekarang hanya tersisa dia seorang.
"Disini ternyata kau kepar*t!!" Maki Winter kesal ketika menemukan Bob yang duduk santai.
"Ada masalah denganku?" Tanya Bob dengan senyum yang mencurigakan. "Kau tahu Winter, aku sudah tak tertarik denganmu! Karena tubuhmu itu murah"
"Tutup mulutmu jika tidak ingin aku kirim ke akhirat!"
"Kenapa??" Bob membuang rokoknya ke sembarang tempat, pria bertubuh gempal itu melompat dan berjalan mendekati Winter. "Apa aku salah nona Winter??"
Dengan lancang Bob meraih dagu Winter, ia menatap kedua mata Winter dengan tatapan yang menggoda. Berbeda dengan Winter yang membalas tatapan matanya dengan penuh ancaman.
"Seberapa banyak pria culun itu menyentuhmu?" Pria gempal itu mengusap bagian belakang tubuh Winter. "Apa dia lebih bisa memuaskan hasrat mu ketimbang aku?"
"Aku peringatkan padamu! Aku ini masih perawan" ancam Winter tegas sembari mengacungkan jari telunjuknya pada Bob.
Tanpa sepengetahuan mereka, Arthur bersembunyi tak jauh dari tempat mereka berdiri. Sebenarnya ia datang hanya untuk memastikan Winter baik-baik saja, tapi ia malah terjebak diantara kedua orang yang tengah emosi dan terpaksa harus menguping pembicaraan mereka.
"Hahaha" Bob tergelak mendengar ucapan Winter. "Benarkah? Bagaimana kalau kau buktikan sekarang juga"
Kedua tangan Bob meraih bahu Winter, ia merobek kaos tipis yang dikenakan Winter saat itu. Gadis itu melawan, ia mencoba menahan dirinya agar tak sampai di cumbu oleh pria kepar*t tersebut.
Kedua kaki Arthur terasa bergetar hebat, ia bingung antara langsung lari menyelamatkan Winter atau memanggil pihak sekolah dan melaporkan tindakan pelecehan yang dilakukan oleh Bob. Jika ia langsung menolong Winter maka ia akan kalah, mengingat dirinya tidak bisa berkelahi dengan benar. Ia hanya beruntung karena menjadi Phoenix dengan begitu dia tidak akan pernah bisa mengalami kematian yang sesungguhnya.
"Ya Ampun! Apa yang harus aku lakukan?" Kepanikan Arthur semakin menjadi-jadi.
CRAKK!!!
Arthur bergegas beranjak keluar dari persembunyiannya ketika mendengar sesuatu yang patah, ia khawatir bahwa Bob sudah menyakiti Winter teramat jauh.
Nahas, bukan Winter yang mengalami luka. Arthur mendapati tubuh Bob yang sudah terbaring lemah diatas tanah. Di sana ia melihat Winter membawa sebuah pisau yang entah darimana. Dengan ganas, gadis itu menghunuskan pisaunya kepada Bob berulang kali.
"Oh my...." Tanpa sadar Arthur bersuara, ia bergidik ngeri melihat darah Bob yang sudah mengalir membasahi pakaiannya sendiri. "Apa yang kau lakukan??"
Tak!
Winter mendelik, sorot matanya kembali teduh bukan hanya itu warna matanya yang cokelat keemasan kini memudar menjadi biru seperti semula. Gadis itu menjatuhkan pisau yang ia pergunakan untuk menusuk Bob, ia jatuh terduduk dengan lemas menatap Bob yang kini semakin sekarat atau mungkin sudah tewas.
"Ru-rumah sakit...." Gumam Winter lirih. "T-tolong, panggil ambulan"
Arthur bergegas mendekati Winter, wajah pria itu tak menampilkan rasa ketakutan yang mendalam ketika melihat seseorang terluka parah didepannya karena ia sudah terbiasa melihat pemandangan seperti itu di asrama.
"Kita tidak bisa memanggil pihak rumah sakit, atau kau akan terlibat dalam masalah"
"A-apa??" Winter menatap Arthur dengan bingung. "T-tapi... A-a-aku..."
"Aku akan memanggil teman-temanku" ucap Arthur santai.
•••••
Beberapa menit kemudian setelah Arthur menelpon teman-temannya, sebuah mobil berukuran cukup besar datang ke sekolah itu. Winter melongo melihat semua siswa dan guru disekolah tak ada yang bergerak, mereka semua nampak seperti boneka manekin dengan gayanya masing-masing.
Gadis itupun beralih menatap langit yang biru, benar saja! Awan putih di atas sekolahnya pun tak bergerak. Ia tahu bahwa ini pasti ulah beberapa penyihir yang datang ke sekolah itu atau lebih tepatnya teman-teman dari Arthur.
"Dia harus ikut bersama kita!" Ujar Justin si Vampir yang ikut datang ke lokasi kejadian.
"Apa?? Kenapa??" Arthur membantah. "Tidak bisakah kita membiarkannya?"
"Dia itu manusia, kita tidak bisa membuat diri kita hidup seperti merasa terancam seperti ini, dan lagi jika profesor Shagasemi (Landon) tahu dia pasti memintaku untuk menghapus ingatan teman manusia mu itu"
"Lalu bagaimana caraku membujuknya??"
"Pikirkan sendiri di otakmu yang kecil itu!" Maki Justin kesal.
Hanya dia, Arthur dan beberapa orang dari mobil saja yang bisa leluasa bergerak. Dengan berat hati, Arthur meminta Winter untuk ikut bersamanya setelah ia berbincang-bincang dengan Justin.
Tanpa menaruh curiga, gadis itu menurut apa yang dikatakan si pria culun. Winter duduk di kursi belakang bersama mayat Bob yang sudah mereka bereskan. Ia melihat sekilas keluar dan ternyata semua orang sudah melakukan aktivitas nya masing-masing seperti biasa.
Jadi... Mereka menghentikan waktu? - Winter
"Mau kalian apa kan mayat ini?" Winter memulai pembicaraan, tak ada seorangpun yang menjawab. Mereka semua melirik ke arah Arthur.
"Ah! Itu...." Arthur menggaruk belakang kepalanya. "Kami akan menyembuhkannya"
"Menyembuhkan orang mati??"
"Kami akan menghidupkan nya lagi!" Celetuk salah seorang gadis berkulit hitam legam, ia adalah seorang penyihir di asrama.
"Menghidupkan??" Winter terkejut setengah mati. "Bukankah itu konspirasi??"
"Bahkan hidup kami pun juga sebuah konspirasi dari alam" jawabnya sambil tertawa. "Apakah kau tahu? Pria culun temanmu ini adalah seorang Phoenix"
"Hentikan Ren!" Ceplos Arthur yang terlihat kesal.
"Biarkan saja, toh nanti dia juga tidak akan mengingat semua ini" ujar Rene santai.
"Arthur??" Tanya Winter penasaran. "J-jadi Arthur bukan manusia??"
"Bukan! Dia adalah Phoenix, dia diberikan keabadian oleh alam. Satu-satunya makhluk supernatural yang tidak bisa mati"
"A-apa??" Winter beralih menatap Arthur yang menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya. "Apa itu benar??"
"Hahaha!" Semua orang di dalam mobil tertawa melihat wajah polos Winter yang memandang Arthur. "Tentu saja itu benar sayang!" Ucap Rene.
Phoenix?? - Winter.
Gadis itu murung seraya tersenyum tipis, entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini mengenai Arthur.
...Bersambung!!...
Halo semuanya! Jangan lupa untuk terus mendukung Author dengan cara klik Like Komentar Follow Favorit Vote dan Rating bintang 5 ya? 😘 Terima kasih