THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
HATI PEACH



Pintu kantor yang terbuka secara paksa membuat Pink dan Landon terkejut, kedua penyihir itu lantas menatap tajam ke arah seorang pria yang sedang berdiri di sana. Landon berdiri dari duduknya, disusul dengan Pink juga yang ikutan berdiri, mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"JUSTIN???" Ucap keduanya secara serempak.


"Ya... Ini aku" jawab Justin dengan senyum di bibirnya. "Halo, prof! Apa kabar?"


"Apa maksudmu, apa kabar? Dimana Peach?" Tanya Pink yang tidak melihat keberadaan saudari kembarnya di balik punggung Justin.


"Oh iya, aku kesini untuk memberitahukan hal itu" pungkas Justin jelas. "Peach tiba-tiba tidak sadarkan diri, dia sekarang aku baringkan di kamarku"


Landon mengangkat sebelah alisnya curiga. "Tidak sadarkan diri?? Kenapa bisa begitu?"


"Aku tidak tahu, sebaiknya Profesor segera kesana untuk mengeceknya sendiri"


"Ayo Ayah..." Ajak Pink yang mulai berjalan duluan keluar kantor. Landon mengikuti putrinya, ketika ia melewati tubuh Justin si Vampir, penyihir itu menatap tajam ke arah Justin.


Jadi kau membuka hatimu untuk Vampir ini ya? Peach.... - Landon.


Mereka bertiga telah sampai di kamar Justin, Pink menyentuh dahi Peach yang terasa panas di kulitnya. Wajah Peach juga memerah karena demam yang menyerang dirinya.


"Dia demam Ayah..." Ucap Pink dengan sedih.


"Bagaimana bisa? Dari tadi pagi dia baik-baik saja kan?" Pandangan Landon langsung tertuju pada Justin yang diam saja. "Kau apakan putriku??"


"Hah! A-aku?" Justin menunjuk dirinya sendiri. "Aku tidak melakukan apapun, sungguh!!"


"Bagaimana ini? Ayah cepat gendong Peach dan bawa ke kamar kami, aku akan merawatnya" pinta Pink dengan tulus. "Aku harap, demamnya cepat turun"


Sekali lagi, Landon mencoba untuk membaca situasinya. Pria penyihir itu menyentuh kedua bahu Pink dan membuat gadis cantik itu berdiri dari duduknya.


"Begini, bukankah kau akan mengurus acara pesta yang akan diadakan para penyihir di sekolah ini?"


Pink menepuk dahinya sendiri dengan keras, dia benar-benar lupa bahwa pesta itu akan di adakan sebentar lagi. "Astaga! Aku hampir melupakannya Ayah, tapi... Peach membutuhkan aku"


"Tenang saja..." Landon melirik ke arah Justin. "Di sini ada Vampir yang menganggur"


"Ta-ta-tapi, Justin kan..." Bantah Pink pelan.


Landon tertawa kecil. "Kenapa dengan Justin? Bukankah dia Vampir yang baik?" Landon beralih menoleh ke arah Justin yang terkejut mendengar keputusan Landon. "Benar begitu Justin?"


"A-aku..."


Landon segera mendorong punggung Pink untuk keluar dari kamar Justin, tentu saja dengan Landon yang mengekor di belakangnya. Pria penyihir itu lantas melempar senyum kepada Justin yang diam membisu.


"Tolong urus putriku dengan baik!" Kata Landon sambil menepuk bahu Justin berulang kali. "Aku tau, kau akan memperlakukannya dengan benar!"


"Tu-tunggu! Profesor... A-aku..."


BRAKK!!


(Pintu tertutup)


Tangan kanan Justin mengambang di udara, ia terpaku setelah mendengar pesan dari Landon. Bisa-bisanya mereka meninggalkan Justin sendirian untuk merawat Peach, pria itu melirik ke arah ranjang tidurnya. Dia berjalan pelan mendekati tubuh Peach yang sedang terbaring.


"Apa ini?" Oceh Justin kesal. "Apa kau ingin balas dendam? Karena sudah merawatku selama aku tidak sadarkan diri, dan sekarang kau ingin aku merawatmu?"


Yang terjadi pada Peach adalah penyakit yang hanya bisa di alami oleh penyihir dengan sihir gelap. Peach mengalami ledakan sihir akibat perasaanya yang tiba-tiba tersentak, dia mengalami produksi sihir yang berlebihan di dalam tubuhnya.


"A-ayah...." Gumam Peach lirih.


"Tidak ada Ayahmu disini, hanya aku!" Sahut Justin lalu segera mengompres dahi Peach dengan handuk kecil.


"A-ayah...." Peach bergumam dalam tidurnya, bibir gadis itu terlihat bergetar. Dan sedetik kemudian, dari kedua matanya keluar air mata yang membuat Justin menghentikan aksi mengompresnya.


"Hei, kau ini kenapa?" Justin mendudukkan tubuh Peach dan segera mendekapnya. "Sadarlah Peach..."


"Huhuhu...." Peach menangis terisak. "Ibu benar, aku akan selalu punya hati, hatiku tidak mati Ayah"


"A-aku...." Gumam Peach pelan. "Aku... Bisa menyukai seseorang, Ayah..."


Kedua pipi Vampir pria itu merona merah, refleks saja ia malah semakin menarik tubuh Peach ke dalam pelukannya. Awalnya takut, tapi Justin memberanikan diri untuk mengusap kepala Peach yang sedang menangis dalam tidurnya.


Entah mengapa? Perasaan gadis ini tersampaikan oleh ku, aku bisa merasakan apa yang sedang dia rasakan - Justin.


"Aku benar-benar menyukaimu, Peach" ucap Justin lalu tersenyum manis.


_______________________________________


Malam hari telah tiba, beberapa penyihir terlihat sangat sibuk menghias aula besar di asrama itu untuk pesta yang akan datang. Sebagian makhluk lainnya juga turut membantu, di sana bisa terlihat Pink lah yang sangat sibuk, mengingat dia adalah putri kepala sekolah.


Di tempat lain, Peach membuka kedua matanya perlahan. Penyihir cantik itu terbangun dari tidurnya, ia terkejut ketika sebuah handuk kecil jatuh dari dahinya, Peach lantas memungut handuk itu dan melihat ke arah Justin. Pria itu sedang tertidur diatas sofa yang tak jauh dari ranjang.


Aku mengalami ledakan sihir ya? - Peach.


Peach segera bangun dari ranjang milik Justin, gadis itu membawa selimut yang baru saja dia pakai dan hendak memakaikannya pada Justin. Meskipun ia tahu, Vampir terbiasa tidur dengan bertelanjang dada.


"Terima kasih..." Ucap Peach dengan sangat pelan. Gadis itu segera menyelimuti tubuh Justin dan pergi menuju pintu keluar.


GRAB!!


"Kau mau kemana?" Tanya Justin yang langsung menarik tangan Peach. Penyihir cantik itu lantas jatuh ke belakang dan menimpa tubuh Justin si Vampir. Kedua mata mereka bertemu, membuat mata Peach melebar seketika.


Aku tau Justin tidak lah buruk rupa, tapi kenapa aku baru menyadari bahwa dia memiliki wajah yang indah? - Peach.


"Kau mau pergi begitu saja tanpa membangun kan aku terlebih dahulu?" Omel Justin kesal. "Bagaimana jika aku terbangun dan tidak melihatmu disini? Kau pikir aku tidak akan khawatir begitu?"


"Maaf... Aku hanya tidak ingin mengganggu tidurmu"


Tap!


"EH??!!" Teriak Peach kencang, ketika dengan sengaja kedua tangan Justin mendorong kepala gadis itu agar menempel ke dadanya yang tak mengenakan kaos itu.


"Justin! Kau!!" Peach segera menengadahkan kepalanya, dia menatap Justin dengan kesal tapi Vampir itu malah terkekeh melihat wajah Peach yang merona merah.


"Wajahmu memerah" ucap Justin sembari mengusap pipi kiri Peach dengan lembut. "Kira-kira apa ya? Yang menyebabkan pipi putih ini memerah?"


Peach tercekat, dia menggigit bibir bawahnya sendiri. Penyihir cantik itu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Justin. Refleks, kedua tangan Peach memeluk erat tubuh Justin.


"Kau menyebalkan!" Maki Peach kesal, saat ini ia tidak cukup berani untuk mengangkat kepalanya. Karena dia tahu, wajahnya saat ini pasti sangat merona tersipu malu.


"Idiot!!" Maki Peach sekali lagi.


"Hahahaha" Justin tertawa riang, ini pertama kalinya Peach melihat dan mendengar Vampir itu tertawa. Pria itu membalas pelukan Peach ditubuhnya dan mengusap punggung gadis itu.


"Tenang..." Bisik Justin di telinga Peach. "Tahan guncangan sihir yang saat ini bergejolak di dalam dirimu, kau tidak ingin sihir itu meledak lagi bukan?"


"Uhm...." Peach mengangguk pelan, baru kali ini dia menemukan sosok pria yang membuatnya nyaman selain Ayahnya sendiri. Sebelumnya, Peach sama sekali tak pernah dekat dengan pria manapun. Berbeda dengan saudarinya yang periang dan mudah bergaul, Peach justru memiliki perbedaan yang sangat menonjol dengan sisi Pink yang itu.


"Kalau aku katakan bahwa aku menyukai mu, bagaimana pendapatmu?" Tanya Justin sambil tetap memeluk gadis itu, ia sama sekali tak membiarkan Peach melepas pelukannya.


"JUSTIN!!!" Peach memaki Justin lagi, ia tidak ingin sihir di dalam tubuhnya meledak untuk kedua kalinya di hari yang sama.


"Hahahaha, oke-oke! Kita bahas lain waktu saja" kata Justin dengan senang. "Untuk saat ini, kau tidak keberatan kan? Kalau aku memelukmu"


"Ummm...."


Dada Justin, sangat lebar dan nyaman.... - Peach.


BERSAMBUNG!!


Halo, hai, apa kabar? Terima kasih ya sudah mau membaca cerita ini! Tolong ya? Jangan lupa klik Like, Favorit, Vote dan komentar. ☺️👍♥️