
Hai para pembaca tercinta! 😊 Saya ingin menjelaskan beberapa hal yang mungkin tidak kalian pahami 😁 Demi Tuhan! Saya benar-benar dibuat pusing akan hal ini loh, saya jadi menyalahkan diri saya sendiri karena tidak bisa menulis dan membagikan kisahnya dengan benar 😥 Saya sungguh minta maaf 🙏🙏🙏 (Berapa kali saya harus menjelaskannya??)
Oke, yang pertama :
DENSHA TIDAK MENJADI ARWAH, ROH, HANTU ATAU SEMACAMNYA!!
yang diajak bicara Winter itu kayak imajinasi nya Winter. Dia seperti bisa melihat seorang pria, yang ternyata memang pria itu bersemayam di ingatannya yang terkunci akibat terlahir kembali. Bisa dibilang Winter ini berhalusinasi atau bicara dengan pikirannya sendiri dan pikirannya itu berwujud sosok pria bernama Densha!! Sebenarnya dia itu tahu setiap jawaban atau ucapan yang akan dikatakan Densha, karena Densha selalu berkata sesuai apa yang ada dipikirannya. Winter ini seperti masih belum mau mengakui kalau dirinya adalah reinkarnasi dari Fuu (Padahal dia tahu!).
FUU JUGA TIDAK JADI ARWAH, ROH, HANTU ATAU SEMACAMNYA!!
Setiap Arthur bunuh diri, ingatannya yang terkunci tiba-tiba terbuka. Dia bisa melihat sosok gadis cantik yang ternyata adalah Fuu, dan anehnya Arthur hanya bisa melihat Fuu jika dia akan mati atau ketika berciuman dengan Winter. Dan lagi, Arthur tidak pernah bisa melihat wajah Fuu dengan jelas, padahal wajah Winter dan Fuu itu sangat mirip (persis). Jadi, Densha terlahir dengan wajah berbeda, sedangkan Fuu terlahir dengan wajah yang sama tapi kedua orang ini saling tidak mengenali akibat ingatan mereka yang kacau.
Dengan kata lain, SEBENARNYA INGATAN MEREKA SAMAR-SAMAR MULAI TERBUKA. Tapi mereka tidak tahu dan tidak mau menerima, lalu hanya menganggap semua itu bukan ingatan dari mereka.
Happy reading!!
~
Jantung Arthur berdebar dengan amat kencang, ia berjalan menyusuri lorong di asramanya itu. Tatapannya penuh kehampaan. Dia tengah memikirkan perkataan Landon yang menyebutnya sebagai reinkarnasi dari pria bernama Densha.
Ini pasti bohong! - Arthur.
Klang!
Klang!
Klang!
Suara pagar besi yang dipukul menggunakan batu terdengar nyaring di kedua telinga Arthur, pria itu memicingkan kedua matanya untuk melihat siapa yang memukuli pagar besi tersebut.
Tangan jahil yang sengaja membunyikan suara bising itu milik Winter, gadis cantik yang sedang mencoba mencari perhatian kepada siapapun penghuni asrama. Arthur berjalan mendekati pagar, ia mendekati Winter yang malah menatapnya penuh keheranan.
"Kenapa kau memukuli pagarnya seperti itu?" Tanya Arthur yang malah mendapat pelototan mata dari Winter.
"Apa Arthur ada di dalam?" Winter malah menatap ke arah gedung asrama, mengacuhkan pria tampan yang berdiri di balik pagar itu. "Hari ini dia tidak datang ke sekolah, aku pikir aku telah membuat kesalahan kepadanya semalam. Jadi aku ingin dia melupakannya"
Apa dia tidak mengenaliku? - Arthur.
Kedua tangan Arthur meraba wajah mulusnya itu, Arthur segera melotot ketika menyadari dirinya sedang tidak menggunakan kaca mata tebal dan gigi palsunya.
"Demi Tuhan..." Gumam Arthur lirih.
"Kau bilang apa?" Winter menatap tajam pria tampan di depannya. "Apa kau tidak waras? Sampai bicara sendiri seperti itu?"
"Ah! T-tidak!!" Arthur menggeleng kuat. "Aku tidak tahu pria yang kau cari itu sedang berada dimana?" ungkap Arthur dengan intonasi yang tidak tepat.
Kurasa Winter perlu memeriksakan matanya ke rumah sakit - batin Arthur gemas.
"Kalau begitu, katakan padanya bahwa aku sedang mencarinya! Aku ingin minta maaf dengan benar" Winter berlalu pergi tanpa senyuman diwajahnya.
Arthur terus menatap kepergian Winter yang semakin menjauh, ia mengusap dadanya sendiri sambil keheranan memperhatikan sikap Winter yang tak mengenalinya tanpa gigi palsu dan kaca mata tebal.
"Gadis aneh!" Ledek Arthur lalu tersenyum kecil.
•••••
Winter duduk di bangku taman, ia memainkan kedua kakinya sambil terus menatap jalanan yang sepi. Hari ini masih sore jadi dia tidak khawatir akan adanya suara-suara aneh dari umat manusia ketika malam sudah tiba di taman ini.
Gara-gara hidungku yang sensitif ini aku bisa mencium aroma keringat para manusia kotor itu! - Winter.
"Hai?" Sapa seorang pria dan langsung duduk disamping Winter.
"Kau datang lagi?" Winter melirik ke arah pria itu. "Jangan mengajakku bicara ketika ada orang yang melintas, atau mereka akan mengira bahwa aku terkena gangguan jiwa"
"Hmm, kau sedang patah hati ya?"
"Tidak" Winter menggeleng pelan, ia menyembunyikan wajahnya dari pria itu. "Kenapa kau selalu sok tahu seperti ini?"
Pria itu menghela nafas panjang. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku tahu, karena aku berbicara sesuai apa yang ada di dalam pikiranmu"
"Kau tak membantu mengatasi rasa galau ku" ledek Winter kesal. "Sebaiknya kau pergi"
"Sebelum ini, Fuu tidak pernah mengusirku loh" Densha tersenyum cerah, ia mengacungkan jari telunjuknya di depan Winter.
"Sudah aku katakan berapa kali? Aku ini bukan Fuu dan aku tidak ingin berdebat denganmu" gadis itu memalingkan wajahnya. "Memangnya siapa itu Fuu??"
"Fuu adalah kau...." Ujar bayangan pria itu ramah. "Selama ini aku juga berada di sekitarmu"
"Itu karena kau mengikutiku" bantah Winter cepat.
"Tidak, disini hanya kau yang bisa melihatku karena kau ingin melakukannya" Densha tertawa nyengir. "Kau harus menemukanku di dunia ini, atau jiwamu tidak akan tenang"
Winter sudah tahu betul bahwa pria bayangan tersebut akan mengatakan kalimat seperti itu, Karena memang kalimat itulah yang ada di pikirannya saat ini. (Mengenai ketenangan jiwa)
Winter semakin cemberut, ia mengusap gelang karet berwarna merah di pergelangan tangan kirinya. Ia menatap terus gelang itu, gadis itu terkejut dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Sejak kapan gelang ini jadi sedikit lebih terang?"
"Sejak kau ciuman semalam mungkin" sahut Densha asal.
"Hei, itu jawaban yang aku pikirkan! Kau tidak perlu mengatakannya" ceplos Winter. "Apa kau cemburu??"
"Tentu saja!" Pria itu terkekeh. "Bagaimana aku tidak cemburu? Kau mencium orang yang bahkan tidak kau kenali"
"Rasa cemburumu itu mencurigakan loh!!"
Untuk pertama kalinya, Winter tersenyum mendengar kalimat pria bayangan bernama Densha itu. Gadis itu terus memasang senyum indahnya pada Densha yang tertegun memperhatikan dirinya.
"Coba kau selalu tersenyum seperti ini dan bertingkah sedikit feminim. Ah! Bukan, bukan feminim tapi polos, kau akan benar-benar mirip dengan Fuu"
Winter menyeringai, ia melepas tali rambut yang mengikat rambutnya. Gelungan rambut Winter terjatuh dengan indahnya, gadis itu mencoba tersenyum semanis mungkin dengan rambut yang terurai indah. Bahkan Winter mengubah gaya duduknya agar terlihat girly. Tak lupa, ia sedikit memiringkan kepalanya ketika menatap Densha.
"Seperti ini??" Goda Winter nakal. "Fuu sangat menyukai Densha" ucap Winter sambil mengedipkan sebelah matanya.
Kedua mata Densha membulat lebar, meskipun dia hanya khayalan atau mungkin imajinasi dari Winter, namun gadis itu bisa melihat dengan jelas betapa terpesona nya pria itu memandang dirinya saat ini. Pria itu bengong menatap Winter yang terlihat imut, dia benar-benar mirip dengan cinta sejatinya.
".............."
"Kenapa diam saja?!" Winter mendekatkan wajahnya pada pria itu. "Apa aku sangat cantik??"
"I-iya"
Whusss!!
Angin berhembus membawa bayangan itu pergi dari pengelihatan Winter, gadis itu kembali cemberut dan tertunduk sedih. Tak jauh dari tempat Winter, rupanya seorang gadis tengah mengawasinya.
"Apa kau sungguh tidak waras? Kenapa bicara sendirian begitu?" Gadis itu berdiri tepat dibelakang Winter.
"Eh! Apa??" Sontak saja Winter melompat dari tempat duduknya hingga kuncir rambut miliknya terjatuh ke rerumputan. "Astaga! Kau mengejutkan aku"
Hah?? - Peach.
Peach duduk dengan anggun di bangku taman, ia menepuk tempat kosong di sebelahnya. Mempersilahkan Winter untuk duduk.
"Kau mengingatku? Itu artinya ingatanmu tidak berhasil kami hapus"
Sialan!! Aku lupa!! - Winter.
"Ah! T-tidak, aku tidak mengenalmu" buru-buru Winter meraih tas ransel dan ingin segera pergi.
"Kalau langsung pergi begitu, akan aku laporkan pada ayah"
Gadis cantik itu lantas menghentikan langkah kakinya, ia berbalik arah dan duduk di samping Peach. Ia meminta maaf atas sikapnya yang tidak baik pada Peach.
"Aku memiliki sihir gelap di tubuhku" ujar Peach membuka pembicaraan.
Cih! Aku kan tidak bertanya - Winter.
"Aku tahu bahwa kau bukanlah manusia" Peach menatap Winter yang dibalas dengan pelototan mata Winter. "Tenang saja, tidak ada yang tahu selain aku"
"K-kenapa begitu?"
"Berkat darah Tribrid yang kau miliki, hanya pemilik sihir gelap saja yang mampu merasakannya" Peach tersenyum. "Ayah dan saudari kembarku bukan pemilik sihir gelap, dari keluargaku hanya akulah satu-satunya penyihir dengan kekuatan sihir gelap"
Apa lagi itu Tribrid?? - Winter.
"Itu sebabnya kau terlihat suram" ledek Winter sinis. "Tunggu! Jadi itu sebabnya Hydra mengejarku??"
"Benar, dia meminta darah itu padamu" Peach menyentuh tangan kiri Winter. "Dia merasakan darah itu disini"
Kedua mata Winter menatap lurus ke arah gelang karet selebar 3cm yang melingkar indah di tangan kirinya. Kedua mata Peach juga nampak bersinar memandang gelang karet itu.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan ini??" Tanya Peach yang masih menatap gelang tersebut.
"Eh!! Memangnya kenapa??" Winter menelan ludah, ia khawatir dengan sikap Peach yang menyeramkan. "Ini kan hanya karet"
"Yang aku maksud dari darah Tribrid itu adalah gelang ini" ujar Peach tenang. "Ini bukan karet, gelangmu ini terbuat dari darah"
Winter memasang wajah penuh kengerian, ia mengamati gelang karet yang sudah ada pada dirinya sejak kecil itu. Seberapa keras Winter mencoba untuk mengingat, dia tetap tidak berhasil. Hal itu malah membuat dirinya sakit kepala.
"A-aku baru tahu" Winter melepas tangannya dari genggaman Peach. "Terima kasih sudah memberitahu ku"
Peach tersenyum, meskipun hanya senyuman tipis namun Winter bisa melihatnya. Penyihir itu lantas berdiri dan berpamitan pada Winter, Peach kembali menuju asrama nya lagi.
"Senang bicara denganmu" ungkap Peach datar.
"Y-ya..."
Senyuman nya itu penuh tanda tanya - Winter.
Hari sudah hampir menjelang malam, Winter berjalan dengan malas menuju ke apartemen mini nya itu sebelum ia mendengar para remaja mengerang tidak jelas di taman yang ia kunjungi saat ini.
Kedua mata Peach berubah menjadi hitam legam, ia menyeringai memandang Winter. Rupanya gadis itu belum pergi dari taman setelah berpamitan pada Winter beberapa waktu yang lalu.
"Sepertinya dia gadis yang kami cari selama ini"
...Bersambung!!!...
Halo, terima kasih sudah membaca! Semangat kalian adalah semangatku juga, jangan lupa untuk dukung Author ya?? 🙏😘