
"Kenapa Maggie bisa tau mengenai hal itu?" Winter menatap gadis berkulit gelap di sampingnya itu dengan serius.
"Karena mereka pernah mengirimku kesana" Sahut Maggie cepat. "Bagiku, itu adalah hukuman terberat"
"Kenapa? Maksud Winter, kenapa mereka mengirim Maggie ke tempat itu?"
Maggie memandang wajah Winter sejenak, Penyihir itu tertawa kecil, dia menepuk bahu Winter berulangkali. "Kau tidak perlu tahu, yang terpenting aku sudah memberikan petunjuk untukmu"
SRAKKK!!!
Gadis itu lantas berdiri dari duduknya, Maggie memungut buku yang ia letakkan di meja. Tadinya, ia ingin membaca buku itu dengan Winter, tapi setelah Winter mengingatkan ia kenapa dia dihukum, penyihir berkulit gelap tersebut memilih untuk pergi.
"Aku harus pergi! Sampai ketemu lagi"
"Ah, oke baik!" Winter melambaikan tangannya mengiringi kepergian Maggie, gadis cantik itu kembali melamun memandangi tumpukan buku yang selesai ia baca. "Dunia astral ya?"
Di depan pintu perpustakaan, Maggie menjatuhkan buku-buku yang ia bawa, gadis itu menabrak seseorang. Buru-buru Maggie menunduk dan mengumpulkan buku nya yang jatuh di atas lantai.
"Maafkan aku, aku tidak melihat kemana aku melangkah" Ucap Arthur dan membantu Maggie mengumpulkan bukunya.
Rasa sakit yang amat sangat menyerang kepala Maggie, penyihir itu menatap Arthur sambil memicingkan kedua matanya. "Astaga... A-apa yang terjadi?"
Arthur memegang kedua tangan Maggie, saat gadis itu hendak jatuh. Penyihir itu menggeleng-gelengkan kepalanya, setelah sadar, ia menatap sekeliling. Pandangan matanya terlihat begitu bingung, dia buru-buru menarik kedua tangannya yang di pegang oleh Arthur.
"Kenapa aku ada di depan perpustakaan?"
Arthur tercekat, Phoenix itu kebingungan melihat tingkah Maggie yang aneh. "Apa maksudmu? Kenapa kau malah menanyakan hal itu padaku, tanyakan pada dirimu sendiri kenapa datang kemari"
"Tidak, ini serius!" Maggie mendelik, ia menyentuh kedua kepalanya sendiri. "Aku tadi sedang berada di kamar dan ingin tidur, dan sekarang kenapa tiba-tiba aku ada disini?"
"Maggie, jangan bercanda!"
Maggie menyentuh kedua jemari Arthur. "Aku tidak sedang bercanda Arthur! A-aku...."
BRUKK!!!
Maggie jatuh pingsan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, Arthur yang panik segera mengangkat tubuh penyihir itu dan membawanya ke ruang kesehatan. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Justin yang akan mengarah ke tempat yang sama juga.
"Wah-wah, lihat siapa ini?" Ledek Justin dengan tawanya. "Kau berselingkuh?"
"Hei, jaga bicaramu! Ada yang aneh dengan Maggie"
Justin menangkap maksud dari Arthur, entah sejak kapan mereka berdua seolah memiliki telepati, mereka bisa mengerti maksud pikiran satu sama lainnya. Bisa dibilang semenjak insiden Cupid waktu itu, Justin merasa bahwa ini pasti ada hubungannya dengan Cupid.
"Berikan padaku, aku ini Vampir, aku bisa berjalan lebih cepat darimu"
"Ah, oke! Aku akan menyusul" sahut Arthur setelah memindahkan tubuh Maggie dari tangannya.
"Sebaiknya kau kabari Profesor tentang hal ini" Justin lantas menghilang begitu saja dari hadapan Arthur, memang tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam hal kecepatan.
Arthur segera berlari melawan arah, langkah kakinya menuju ke kantor Landon. Setelah sampai disana, ia tidak masuk ke dalam kantor Landon, pintu itu terkunci dari dalam. Sepertinya, Landon sedang sangat sibuk hari ini. Tidak habis akal, Arthur berlari ke kamar si kembar, ia berharap si kembar akan membantunya memanggil sang Ayah.
"Hah... Hah.... Sial!" Arthur menyentuh kedua lututnya, keringat Phoenix itu bercucuran. "Seharusnya aku saja yang membawa Maggie, Justin kan Vampir dia bisa berlari lebih cepat untuk memanggil Profesor dan si kembar"
Tok!
Tok!
Tok!
Pertarungan belum dimulai, tapi kedua gadis cantik yang memiliki wajah mirip itu langsung menoleh ke arah pintu. Mereka berdua, lantas berjalan ke arah pintu yang masih tertutup.
"Pink! Peach! Kalian di dalam? Ini aku Arthur" ucap Arthur dengan nada panik. "Pintu kantor ayah kalian terkunci dari dalam, aku ada perlu dengannya, ada sesuatu yang terjadi pada Maggie"
Kedua gadis kembar itu saling melempar pandangan, keduanya refleks mundur. Dengan mantra yang di ucapkan, Pink membuka pintu kamar mereka, Peach pergi terlebih dahulu mengikuti Arthur, sedangkan Pink harus berganti pakaian baru menyusul mereka.
Sesampainya di depan pintu kantor Landon, Pink dan Peach menempelkan jemari mereka. Kedua gadis itu sedang menyerap sihir yang ada di pintu itu, dengan begitu mereka bisa membuka pintunya dengan mudah.
_____________________________________
Tok!
Tok!
"Ayah, kau ada di dalam? Kenapa pintunya di kunci?"
Suara dari Peach mengejutkan Landon, pria tampan itu segera berdiri dan berjalan mendekati sosok wanita yang sekarang sedang duduk di depan nya. Wanita itu juga menoleh ke arah pintu, ia tersenyum mendengar suara seorang gadis yang memanggil Landon dengan sebutan Ayah.
"Ayah??" Tanya Wanita itu. "A-apa itu mereka??"
"Sshh!" Landon segera membungkam bibir wanita itu dengan tangan kanannya, ia tidak ingin kedua putrinya mendengar suara seorang wanita di dalam kantor tersebut.
BRAKKK!!!
Pintu dibuka secara paksa, Landon tahu bahwa putrinya akan melakukan hal tersebut. "Sudah ku duga, kalian pasti akan memaksa masuk"
Kedua mata Peach dan Pink terbuka lebar, kedua gadis nan cantik itu berdiri diam mematung ketika tahu Ayahnya sedang berdiri sangat dekat dengan sesosok wanita cantik.
"A-ayah...." Bibir Peach mendadak sulit untuk bicara. Ia menyenggol lengan Pink di sampingnya. "I-itu...."
Arthur ikut masuk ke dalam setelah si kembar masuk terlebih dahulu, pria Phoenix itu ikut terdiam saat ia tahu bahwa profesor sedang bersama dengan orang lain di dalam kantornya. Merasa tahu siapa gerangan wanita cantik itu, Arthur menutup bibirnya tak percaya.
Astaga! - Arthur.
"Ibu?" Pink mengusap kedua matanya yang sudah mulai basah akan air mata. Gadis cantik itu lantas berlari mendekati wanita itu, namun aksinya dihentikan Landon. Landon berdiri tepat di depan Pink dan menahan putrinya untuk memeluk seseorang dengan rupa yang mirip ibunya.
"Wowow... Tunggu dulu Pink!" Cegah Landon. "Kita tidak tahu apa yang sedang kita hadapi saat ini"
Pink menatap Landon dengan bingung, Peach masih tetap tenang, namun bibirnya terlihat tersenyum melihat sosok Lucy, ibunya. Wanita cantik nan anggun itu melambaikan tangannya kepada Peach, ia tersenyum menyapa Peach tanpa suara.
Landon terlihat mengurut pangkal hidungnya, pria itu segera menutup pintu kantor. Ia tidak ingin ada orang lain lagi yang melihat kehadiran Lucy di dalam kantornya, mengingat siapapun juga tahu bahwa Lucy sudah lama meninggal dunia.
Entahlah, apakah maksud dari semua ini? - Landon.
KLAP!!
(Pintu tertutup)
Kini semuanya sudah duduk di kursi masing-masing, Landon tetap menyuruh kedua putrinya agar menjaga jarak dengan sosok Lucy. Ia tahu, bahwa Lucy adalah isyrinya, tapi ia juga tahu bahwa Lucy telah meninggal.
"Kenapa kita harus duduk berjauhan dengan ibu, Ayah??" Peach bertanya, tapi kedua matanya tetap menatap Lucy.
"Kita tidak tau Peach, apa tujuan zombie ibumu ini datang kemari" sahut Landon ketus.
"Zombie!!!" Lucy berdiri dari duduknya, "Aku bukan Zombie! Tunggu tahun berapa ini?"
Arthur berdeham, ia menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. Phoenix itu sungguh dibuat bingung dengan keadaan ini, "Maaf menyela mu nyonya Shagashemi, tapi kau sudah meninggal ratusan tahun yang lalu"
"APA?!!" Lucy memekik tak percaya, wanita cantik itu lantas mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. "Kenapa? Kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali?"
"Apa yang terakhir kau ingat?" Landon melipat kedua tangannya di depan dada. "Tolong jawab dengan jujur, aku bisa tahu bahwa kau berbohong"
Lucy mendesah, ia menatap kedua mata suaminya itu lekat-lekat. "Malam itu, si kembar berusia 22 tahun, kita semua tahu apa yang akan terjadi jika penyihir Gemini berusia 22 tahun. Salah satu dari mereka harus menyerap sihir yang lemah, dan salah satu dari mereka akan tiada, aku yang memang ibu mereka, tidak menginginkan hal tersebut terjadi kepada kedua putriku"
Pink kembali mengingat kejadian pahit ratusan tahun yang lalu, penyihir cantik itu menangis terisak. Ia memegangi jemari Peach, saudarinya.
"Lalu, aku mengorbankan diri, aku membiarkan mereka menyerap semua sihir yang aku miliki sampai aku tiada. Aku ingat kau benar-benar melarangku, tapi kau juga tidak punya jalan keluar lain, lalu semuanya gelap. Aku terbangun pada tempat yang teramat gelap, suatu hari suara seseorang menuntunku menuju ke suatu tempat, itu adalah dunia astral tempat para roh dan Dewa, aku tinggal disana dengan tetap mengingat kalian berdua" Lucy memandang kedua putrinya dengan hangat. "Aku bisa merasakan kehadiran si kembar saat mereka datang mengunjungi dunia itu. Tapi aku tidak bisa menemui mereka, karena suatu alasan aku terkunci di suatu ruangan, hingga seseorang membangunkanku, lalu itulah alasan mengapa aku disini sekarang"
Semakin membingungkan, itulah yang di pikirkan oleh Landon. "Jadi, kau sedang di kendalikan?"
"Untuk sekarang, aku rasa tidak! Aku bisa menggerakkan tubuhku sesuka ku" jawab Lucy sambil menggerakkan kedua tangannya.
"Tidak, intinya ada yang mengirim mu kemari, tapi siapa?"
BERSAMBUNG!!
Halo, terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk Like, Vote, Favorit, Follow dan Rating! Dukungan dari kalian sangat membantu!! ☺️🙏♥️