
Nuansa langit berwarna oranye, rerumputan terlihat gersang. Suasana ini seperti suasana waktu
senja, tapi terasa panas. Sore yang panas, begitulah.
Kunang-kunang berterbangan kesana kemari, membuat dunia ini terlihat ramai dengan
kerlap-kerlip nya. Arthur membuka kedua matanya, dia terbangun di dunia aneh tanpa adanya
pagi dan malam hari.
Kedua tangan Arthur menyentuh rerumputan yang kering, entah sudah berapa lama dia tertidur
di tempat itu. Arthur memandang ke sekelilingnya, tak ada siapapun selain udara kering yang
berhembus.
Pria itu berjalan pergi, mencari tahu sesuatu atau bisa dibilang mencari jalan keluar, dalam
hatinya ia amat yakin bahwa Winter pasti akan melakukan sesuatu untuk menemukannya.
Arthur tersentak kaget, saat kedua kakinya membawanya melangkah ke suatu tempat. Yaa...
tempat itu sangat tidak asing bagi Arthur, itu adalah gerbang sekolahnya. Gerbang utama
asrama yang didirikan oleh Landon.
Kedua mata Arthur menatap sekitaran asrama itu, pintunya terkunci dan ada gembok besar yang
terpasang disana. Dari belakang Arthur, terbanglah seekor kupu-kupu yang mendekat untuk
masuk ke asrama itu.
Dapat dilihat secara kasat mata bahwa lingkungan asrama itu diselimuti
oleh suatu sihir, Arthur memberanikan diri untuk menyentuh pagar asrama tersebut.
Ia tidak merasakan reaksi apapun dari sihir itu, dengan keberanian yang ada, pria itu memanjat
pagar dan melewati lapisan sihir tersebut semudah membalikkan telapak tangan.
Arthur
menelan ludahnya, ia lantas berjalan ke arah gedung asrama nya, bagian kanan dan kiri gedung
itu terbakar namun anehnya api yang membakar tak menjalar ke bagian gedung yang lain
.
KLAP!!
(Suara membuka pintu)
Bagian dalam gedung itu sangat berbeda dengan asrama Arthur sebelum ini, di dalamnya terlihat
begitu berantakan dan seperti tak terurus dalam waktu yang sangat lama.
Arthur berlari menuju lorong yang mengarah ke arah kamarnya, entah mengapa jantungnya
berdegup dengan amat kencang ketika tangan nya sudah mulai siap membuka pintu kayu
tersebut.
Tak ada apapun, hanya ada satu ranjang kosong di dalam kamar tersebut. Arthur lantas
memasuki kamar itu, ia bermaksud untuk bersembunyi disana sampai ada seseorang yang
menolongnya dari tempat aneh tersebut.
Selama Arthur bersembunyi, terkadang kedua telinganya menangkap suara-suara berisik dari
lorong tersebut, kadang seperti suara orang berlarian kesana kemari, terkadang juga suara
seperti seseorang yang sedang menyeret benda berat.
Pernah hari itu juga Arthur mendengar suara eraman binatang, mirip dengan suara werewolf
yang sedang berada dalam wujud perubahannya. Untungnya, Arthur sudah mengunci kamar itu
rapat, sungguh! Ia sangat takut untuk membukanya ketika ia sadar bahwa dia tidak sendirian di
tempat itu.
Kira-kira sudah hampir dua bulan Arthur berada disana, ia hampir putus asa dan mengira bahwa
semua orang di tempatnya berasal mungkin beranggapan bahwa dirinya telah tiada. Namun, ia
ingat betul sebelum dirinya memasuki asrama ini, ia menulis surat dan meletakkan nya di depan
gerbang.
Jika itu Landon atau si kembar, pasti mereka akan menemukan surat Arthur, sayangnya Arthur
tidak menjelaskan keberadaan dirinya dalam asrama di dimensi yang berbeda, ia hanya menulis
bahwa dia masih hidup.
Untungnya, di tempat itu tidak bisa merasakan haus dan lapar, meskipun tidak makan, Arthur
tidak akan mati. Satu hal lagi yang menjadi pertanyaan Arthur, jika dia bisa kembali ke dunia itu
KRAKKK!!!
KRAKKK!!!
Arthur mencoba untuk mengintip dari lubang kunci, ia penasaran dengan suara tersebut,
mengingat belum pernah ada suara seperti itu yang ia dengar semenjak dia bersembunyi di
dalam kamar.
Seluruh bulu kuduk Arthur berdiri, pria itu jatuh terduduk ke belakang. Kedua tangan Arthur
berusaha menutup mulutnya ssndiri rapat-rapat, bukan apa-apa! Tapi ada sesosok monster
yang sedang berjalan-jalan di depan kamar Arthur. Entah itu monster darimana? Rasanya Arthur
pernah melihat makhluk itu dalam sebuah buku.
Astaga! Semoga dia tidak menemukan aku - Arthur.
Arthur menggeser ranjang yang ia tempati untuk tidur, ia meletakkan ranjang itu tepat di balik pintu untuk jaga-jaga jika sesuatu dari luar itu ingin masuk ke dalam. Sungguh! Pria Phoenix itu tidak akan bisa tidur dengan nyenyak karena penampakan yang ia lihat barusan.
_______________________________________
KLANG!!
KLANG!!
Peach membuka kerangkeng besi yang mengurung Justin di bawah tanah, dari belakang Peach
muncul lah Winter, ia menatap Justin dengan tatapan sedih. Vampir itu terlihat sangat kurus
karena puasa minum darah, itu adalag salah satu cara bagi Justin untuk menebus dosa nya mengenai Arthur.
Peach tertunduk sedih, ia sangat menyayangkan tindakan Justin yang seperti itu, penyihir cantik
namun berwajah pucat itu lantas pergi, meninggalkan Winter dan Justin. Ia ingin memberi Winter
ruang untuk berbicara dengan Vampir tersebut.
"Ini...." Winter memberikan beberapa kantong darah untuk Justin.
"Kenapa kau kemari? Kau ingin aku terus mengingat kejadian itu?" Tanya Justin kesal. "Tenang
lah... aku akan mengingatnya seumur hidupku"
"Tidak, ini bukan salahmu Justin!" Ujar Winter santai, gadis itu masuk ke dalam sel penjara Justin
dan duduk menemani Vampir itu. "Kau sedang di kendalikan, aku tidak marah padamu, bahkan
setelah kau menusuk perutku"
"Winter, itu tidak lucu! Kau tidak tahu betapa takutnya aku setelah aku berhasil mengingat apa
yang sudah aku lakukan" Justin menundukkan kepalanya, ia terlihat sangat murung. "Aku takut
kalau kalian berdua akan mati, tapi tetap saja meskipun kau selamat tapi Arthur tetap mati"
Winter menggeleng pelan. "Kau salah, Arthur tidak mati, dia berada di dunia astral. Profesor yang
bilang begitu, dia menemukan surat dari Arthur"
"Apa?! Dia bisa saja dalam bahaya jika berada di tempat itu, kenapa profesor tidak membawanya
kembali?"
"Dia tidak berhasil menemukan Arthur, mungkin saja saat ini Arthur sedang bersembunyi" jelas
Winter singkat. "Nanti malam, si kembar akan mencoba untuk mengirim aku ke tempat itu"
"Tidak!!" Pekik Justin heboh. "Kau tidak tahu betapa buruknya tempat itu, kau tidak bisa pergi
kesana seorang diri"
"Kenapa kau bisa bilang seperti itu?"
Justin mengambil kantong darah yang dibawakan oleh Winter, Vampir itu meminum beberapa
kantong dan secara ajaib kedua pipinya yang kurus kembali terisi.
"Karena temanku di kirim kesana" Justin bangkit berdiri, ia melemaskan seluruh otot-otot yang
kaku. "Jika kau meminta, aku akan menemanimu ke tempat itu"
"Apa?!" Winter ikut berdiri dari duduknya. "Apa si kembar bisa mengirim dua orang sekaligus?"
"Aku tidak tahu, tapi apa salahnya jika di coba" ujar Justin sambil tersenyum. "Anggap saja aku sedang membayar rasa bersalahku pada kau dan Arthur"
BERSAMBUNG!!!
Halo terima kasih sudah membaca, jangan lupa untuk terus mendukung Author dengan cara klik
Like, Komentar, Favorit dan follow profil Author untuk update novel terbaru. Dukungan dari kalian
sangat membantu bagi saya!