
Semua orang berkumpul di ruang kantor Landon, mereka melihat Justin yang sedang berdiri berhadap-hadapan dengan Winter. Vampir itu menyentuh kedua bahu Winter dengan cukup erat.
"Tolong tatap mataku..." Ucap Justin pelan.
"Uh??" Winter menengadahkan kepalanya dan menatap kedua mata Justin. "K-kenapa?"
Justin menghela nafas panjang dan serius menatap kedua mata biru milik Winter. "Kau akan melupakan semua ini, kau tidak pernah membunuh siapapun! Ingat di dalam hatimu bahwa kau tak pernah melakukan apapun, tak ada masalah apapun antara kau dan Bob. Setelah ini, pulanglah ke rumah dan segera tidur!!"
Vampir itu menepuk-nepuk bahu Winter setelah mengucapkan kalimat panjangnya, gadis cantik itu malah kebingungan dan celingak-celinguk menatap orang sekitar.
"Kenapa aku harus melupakan semua ini?" Tanya Winter polos sambil menatap Arthur.
Semua orang terkejut, tak terkecuali dengan Arthur. Landon mendelik menatap sosok gadis cantik di depannya, tak biasanya hipnotis yang dilakukan Justin akan gagal seperti ini.
Pink dan Peach yang melihat hal itupun dibuat terkejut, segera Justin melangkah mundur. Ia meminta maaf pada Landon karena sudah gagal mencuci pikiran Winter.
"Apa kau minum susu pagi ini?" Tanya Landon curiga.
"Iya, tapi hanya sedikit!" Jawab Winter santai. "Kenapa??"
"Kami tidak bisa menghapus ingatanmu jika kau mengkonsumsi susu pagi ini, kita harus menunggu kau mengeluarkannya terlebih dahulu" jelas Peach datar.
"Mengeluarkannya??" Winter mengangkat sebelah alisnya bingung. "Apa maksudnya?"
"Biarkan perutmu bekerja dengan sendirinya" Peach menerbangkan sebuah kunci dan memberikannya pada Arthur. "Bawa dia!"
Winter yang melihat Peach menggunakan sihirnya untuk menerbangkan benda membuatnya terkagum-kagum, gadis itu tersenyum lebar melihat keajaiban di asrama tempat Arthur tinggal.
"Umm..." Arthur nampak gugup. "Ayo Winter!"
"Eh?? Kemana??" Winter berjalan mengekor pada Arthur.
Pria culun itu membawa Winter ke sebuah tempat. Sebuah bangunan yang terletak beberapa meter dari asrama, dari luar tempat itu terlihat seperti peternakan. Namun bagian dalamnya berupa barisan sel tahanan.
Saat Arthur dan Winter memasuki ruangan itu, cahaya lampu berwarna putih menyambut kedatangan mereka berdua. Menerangi setiap langkah mereka, tentu saja itu adalah sebuah lampu sihir hasil karya para penyihir di sekolah itu.
"Wah, ini keren!" Puji Winter yang terlihat senang.
Arthur tersenyum mendengar pujian dari Winter, pria itu membuka pintu sel dengan kunci yang diberikan oleh Peach. Di dalam sel tahanan itu terdapat sebuah ranjang kecil yang cukup untuk satu orang.
KLANG!!
(Suara pintu terbuka)
"Silahkan masuk Winter!" Arthur melangkah masuk terlebih dahulu.
"Tempat apa ini??"
"Kami tidak bisa membiarkanmu pergi dari tempat ini dengan ingatan seperti itu"
"A-apa maksudnya??" Winter mulai panik. "Tunggu, apa kau akan mengurungku di tempat ini?"
"Maafkan aku Winter, ini perintah profesor!" Arthur kembali berjalan keluar, ia mengunci pintu besi tersebut dengan wajah yang sedih.
"Tidak!" Winter berlari, ia meraih tangan kanan Arthur sebelum pria itu pergi. "A-aku tidak bisa berada di tempat ini, aku takut!"
Arthur melirik kesana-kemari, memang benar disana tidak ada siapapun hanya beberapa sel kosong. Dan sekarang jika ia pergi, maka Winter akan sendirian di tempat itu.
"Maafkan aku, aku tidak bisa menolong terlalu banyak!" Pria culun itu melepas genggaman tangan Winter dan beranjak pergi.
______________________________________
Malam hari pun tiba, gadis cantik itu terlihat duduk di sudut ruangan sambil memeluk kedua lututnya. Winter melirik kesana-kemari lalu memejamkan kedua matanya, berharap suatu bayangan yang indah muncul di dalam kepalanya.
Blup!
Blup!
Blup!
Blup!
Di dalam angan-angannya, Winter melihat beberapa ekor ikan berukuran besar sedang berenang dengan dirinya. Ikan-ikan itu terlihat senang menyambut kedatangan Winter di dalam air.
"Hei, buka matamu" ujar seseorang yang suaranya sangat dikenali oleh Winter.
"Kau??" Winter terlihat biasa-biasa saja melihat sosok itu. "Kau ini tidak nyata! Kau hanya datang ketika aku sedang kesepian, oleh sebab itulah aku tidak suka berada di tempat yang sempit dan menyendiri seperti ini!"
"Hahaha, aku ini nyata! Kau yang memanggilku terlebih dahulu" pria itu duduk disamping Winter. "Apa kau sedang merindukan aku?"
"Tidak!" Sahut Winter cepat. "Aku bahkan tidak mengenalmu"
"Astaga! Kau ini benar-benar menjengkelkan" ledek pria itu kesal. "Sudah aku bilang berkali-kali kan? Namaku adalah Densha"
Winter menutup kedua telinganya, ia membuang muka dan tak ingin memandang bayangan pria tampan disampingnya itu.
Lama-lama aku bisa benar-benar gila! - Winter.
"Hei, kenapa menutup telinga seperti itu?!" Bayangan yang menyebut dirinya sebagai Densha itu beralih duduk berjongkok didepan Winter. "Dulu kau tidak pernah melakukan hal ini saat didepanku"
Winter memandang pria yang sedang tersenyum di depannya, kalau saja pria itu bukanlah khayalan atau halusinasi mungkin ia sudah mencium bibir pria itu.
"Kau sudah berubah Fuu!" Pria itu tersenyum, ia ingin mengusap kepala Winter namun tidak bisa.
"Sudah aku katakan berapa kali, bahwa aku ini bukan Fuu! Aku ini Winter, kau salah orang"
"Aku tidak salah orang" Bayangan itu berjalan menjauh, ia berdiri membelakangi Winter. "Aku tahu bahwa kau adalah Fuu-ku"
"Sialan! Kau ini benar-benar tidak waras!!" Winter melepas sepatu yang ia kenakan dan melemparnya pada sosok bayangan itu, belum sempat sepatu itu mengenainya bayangan itu telah pergi.
KLOTAK!!
Nafas Winter menjadi tidak beraturan, ia mengacak-acak rambutnya sendiri dan ingin segera keluar dari tempat itu. Gadis itu bahkan tidak mau tidur diatas ranjang yang sudah disediakan, dia lebih memilih untuk duduk di sudut ruangan.
"Kau barusan sedang bicara dengan siapa?"
Winter terkejut, ia tak menyadari keberadaan Arthur yang sudah berdiri di depan pintu sel nya. Pria itu menatap sekitar dan tidak menemukan sesuatu atau seseorang disana.
"Aku bawakan makanan untukmu"
Gadis itu segera berlari menghampiri Arthur, ia memohon kepada Arthur agar dikeluarkan dari tahanan asrama Arthur saat ini juga.
"A-aku tidak bisa melakukan ini" Winter mulai menangis. "Tolong keluarkan aku, aku tidak bisa disini sendirian"
"T-tapi Winter...."
"Kumohon, aku akan melakukan apapun asal jangan kurung aku disini"
"Aku tidak bisa melepaskanmu" ucap Arthur tegas. "Ini, makanlah sesuatu" pria itu menyerahkan nampan berisikan banyak makanan melalui bagian bawah sel.
"............"
"Aku akan menemanimu"
"Apa??" Winter menatap Arthur, ia terkejut dengan ucapan Arthur barusan. "Kau bilang apa??"
"Aku akan mengambil perlengkapan tidurku dulu, malam ini aku akan tidur di depan sel mu"
Setidaknya hanya hal itu yang bisa dilakukan Arthur untuk mengurangi rasa takut yang di alami Winter. Pria itu melangkah pergi, ia kembali ke asrama untuk mengambil beberapa perlengkapan. Dari kejauhan terlihat Landon mengawasi kedua remaja itu dengan tatapan bingung.
Apa yang dilakukan Phoenix itu? - Landon.
...Bersambung!!...
Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk terus mendukung Author dengan cara klik Like Komentar Follow Favorit Vote dan Rating ya? 😊🙏