THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
MAGGIE 2



"Jangan beritahu para murid akan kejadian ini" pinta Landon kepada kedua putrinya dan Arthur. Mereka menganggukkan kepala dan lekas pergi dari ruangan Landon, terlihat hanya Peach yang masih sempat membalikkan badan lalu melempar senyuman ke arah Lucy.


Di perpustakaan, Winter mengumpulkan buku-buku yang selesai ia baca. Gadis cantik itu mengembalikan semua buku ke tempatnya semula, sudah lama dia berada di perpustakaan, selain untuk membaca! Sebenarnya dia juga sedang menunggu Arthur karena pria itu bilang akan datang ke perpustakaan, untuk mencari tahu tentang dirinya.


Winter keluar dari perpustakaan yang sepi, gadis itu hendak kembali ke dalam kamarnya atau lebih tepatnya kamar Arthur. Bisikan-bisikan halus terdengar samar-samar di kedua telinga Werewolf cantik itu, Winter menoleh ke belakang namun tak menemukan siapapun disana. Tibalah saat dia melewati suatu ruangan, seperti ruangan kosong tak berpintu.


Suara itu datang lagi, suara yang seakan ingin merayu Winter, suara yang menginginkan kedatangan Winter, gadis cantik yang memang bukan penakut itu lantas melangkahkan kedua kakinya menuju suara itu berasal.


"Halo?"


Winter melangkah pelan-pelan, ia celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, melihat situasi di dalam tempat tersebut. Tidak ada lampu atau apapun, ruangan aneh yang hanya di kelilingi oleh banyak nya lilin putih. Tentu saja, lilin itu tidak menyala.


"Apa ada orang?"


Winter~


SET!!


Winter membalikkan tubuh dengan cepat, ia tak menemukan atau bahkan melihat siapapun disana. "Hei, kalau ini bercanda! Winter akan...."


Kedua kaki Winter bergerak dengan cepat, sekilas kedua kornea matanya berubah menjadi cokelat keemasan. Winter berjalan cepat menuju pintu tempatnya ia masuk.


BAM!!


Tubuh gadis itu terpental ke belakang, secercah cahaya keunguan seperti terlihat diantara pintu tersebut. Winter menyentuh bagian kanan kepalanya yang terasa sakit karena terlempar oleh sesuatu, benar! Gadis itu dijebak. Ia dikunci oleh suatu sihir yang membuatnya tidak bisa keluar dari ruangan tersebut.


"Hei, jangan bercanda! Siapa yang melakukan ini?" Suara Winter terdengar cukup keras namun sayang, tidak ada murid yang melintasi daerah sana.


Gawat! Ini sihir pengunci kan? - Winter.


Tak jauh dari tempat Winter terkurung, berdirilah seorang gadis dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Bibirnya tersenyum menyeringai melihat Winter terkurung di tempat itu, ia lantas berbalik dan berjalan menjauhi tempat terkurung nya Winter.


"Sebaiknya kau diam saja disana sebentar!" Ucap gadis berkulit gelap itu.


Tap!


Tap!


Tap!


"Oh! Ya Tuhan, Maggie...." Justin menyentuh kedua bahu Maggie, sudah sepuluh menit ia mencari Maggie kemanapun tapi tidak menemukannya. Ternyata, gadis itu tak jauh dari ruang latihan para penyihir.


"Justin?" Maggie melirik ke belakang, ke arah tempat ia mengurung Winter. "A-ku hanya pergi kesini sebentar, untuk melihat apakah ada penyihir yang sedang berlatih, dan ternyata tidak"


"Profesor mencarimu, dia ingin tahu apa yang dimaksud Arthur saat di perpustakaan tadi"


"Perpustakaan???" Maggie mendadak merasakan rasa sakit yang teramat sangat di kepalanya, gadis penyihir berkulit gelap itu lantas ambruk ke depan, beruntung! Justin dengan sigap menangkap tubuh gadis itu.


Astaga! Ada apa dengan kepalaku? - Maggie.


"Hei, hei! Kau baik-baik saja?!"


Maggie menengadahkan kepalanya, menatap seorang pria yang sedang mengajaknya bicara. Kedua pipi penyihir itu bersemu merah, ia tidak pernah sedekat ini sebelumnya dengan Justin. Buru-buru dia melepaskan diri dari Justin dan membuat jarak yang cukup.


"Astaga! Justin, apa yang kau lakukan?" Pekik Maggie kesal bercampur canggung.


"Tunggu! Apa?" Salah satu alis Justin terangkat, ia terlihat kebingungan.


Maggie menatap sekitar, ia memiringkan sedikit kepalanya dan beralih memandang Justin, si Vampir tampan. "Kenapa aku ada disini? Bukankah aku sedang tidur di klinik kesehatan?"


Kedua mata Justin menyipit, kini ia paham apa yang dimaksud oleh Arthur. "Apa kau mengingat hal apa yang kau lakukan sebelum aku membawamu ke klinik?"


"Aku bertemu dengan Arthur di pintu perpustakaan, lalu kepalaku sakit" ucap Maggie jujur. "Ah! Baru saja aku juga merasakan rasa sakit yang sama"


"Aku rasa kita harus segera menemui profesor" dengan sigapnya Justin mengangkat tubuh Maggie dan segera membawa tubuh penyihir itu ke ruangan Landon.


Tanpa sepengetahuan siapapun, kedua tangan Peach mengeluarkan sedikit cahaya merah, dari bibirnya Peach merapalkan sebuah mantra yang membuat Justin mengangkat kedua tangannya dan membiarkan Maggie terjatuh.


"Oh astaga! Maafkan aku Maggie, bukan aku! Sungguh!!!" Justin menatap ke arah Peach, tapi gadis itu malah membuang muka tidak peduli.


"Ti-tidak apa-apa" Maggie segera berdiri, ia menyentuh bagian belakang tubuhnya yang terasa sakit. "Aku tahu, pasti ini ulah salah satu dari mereka"


Maggie melirik ke arah Peach dan Pink bergantian, Pink mendelik ia tidak terima di tuduh seperti itu. Perlu diketahui, sejujurnya Maggie memang memiliki sedikit rasa benci kepada putri profesor karena dulu merekalah yang mengirim Maggie ke dunia astral, tapi itupun karena perintah profesor dan itu memang hukuman yang pantas bagi penyihir jahat. Maggie dulunya adalah seorang dukun yang hanya menciptakan kekacuan dilingkungan tempatnya tinggal, Landon dan kedua putrinya menjemput gadis itu secara paksa dan membuatnya tinggal menetap di asrama.


________________________________________


"Iya itu benar!"


Justin membenarkan kalimat Arthur akan kesaksiannya melihat tingkah Maggie, kedua pria itu sama-sama dibuat heran oleh Maggie yang tiba-tiba tak ingat apapun. Landon memutuskan perintah untuk mengurung Maggie sementara di ruangannya, tentu saja dengan Landon yang bertindak sebagai pengawas. Malam ini, ia akan di sibuk kan dengan mengawasi Maggie dan Lucy.


"Kalian boleh pergi" pinta Landon ramah.


Di lorong asrama, Justin dan Arthur berjalan beriringan, sesekali Justin melirik ke arah Arthur yang terlihat cemas. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Phoenix itu.


"Kau kenapa?"


Arthur menatap Justin dengan sendu. "Tidak, bukan apa-apa, hanya saja kenapa aku merasa kalau ke anehan hari ini ada hubungannya denganku"


"Denganmu?" Justin terkekeh. "Hei bung, memangnya statusmu sebagai Phoenix satu-satunya itu sebegitu mengerikannya?"


"Tapi, kenyataan nya memang begitu kan? Aku rasa, aku hanya menjadi beban pikiran untuk semua orang"


Justin merangkul pundak Arthur. "Hei, jangan bilang begitu! Profesor mendirikan sekolah ini untuk melindungi anak-anak seperti kita, jadi sebisa mungkin ayo kita bantu Profesor"


"Ummm, kau benar!" Arthur tertawa kecil mendengar kalimat penyemangat dari Justin.


KRAK!!!


Langkah kaki Arthur dan Justin terhenti, mereka berdua terkena sihir penghenti gerakan. Keduanya merasa ada seseorang yang sedang berjalan menuju ke arah mereka berdua dari belakang, benar saja! Itu adalah Peach. Gadis penyihir itu melepaskan sihirnya setelah berada di depan Justin dan Arthur.


"Apa kalian melihat Winter?"


Justin dan Arthur saling melempar pandangan, mereka berdua menggelengkan kepala, hari ini mereka tak bertemu Winter sama sekali.


"Aku sudah mencarinya kemanapun tapi tidak ketemu"


"Hei, kau kan baru saja bertemu denganku lima belas menit yang lalu, bagaimana bisa kau bilang sudah mencarinya kemanapun?"


Peach menunjukkan luka robek di telapak tangannya, gadis itu benar! Peach sudah mencari Winter lewat sihirnya tapi tak menemukan keberadaan Winter di sekolah itu. Jelas saja! Winter sedang ditutupi oleh suatu sihir yang dibuat oleh Maggie, hanya Maggie yang bisa melepaskan sihir tersebut. Dan Peach tidak bisa melacak sihir pelindung yang dibuat oleh Maggie jika tidak melakukannya dengan Pink.


"Ah... Aku akan memeriksanya di kamar" ucap Arthur santai.


"Kau ini bodoh ya?! Aku sudah melacak gadis itu dengan sihirku, tapi tidak bisa menemukannya di sekolah ini, itu tandanya Winter tidak sedang berada di sekolah ini"


"Apa?! Itu tidak mungkin! Dia bilang padaku, akan berada di perpustakaan seharian"


"Kau bisa mengeceknya kesana kalau tidak percaya padaku" Peach berlalu pergi begitu saja, gadis penyihir itu berjalan kembali menuju kamarnya.


Peach berniat untuk mendandani Winter di acara pesta malam ini, tapi berhubung dia tidak bisa menemui Winter maka Peach akan membantu Pink untuk berdandan. Di lain sisi, Arthur segera pergi mencari Winter namun sesuai dengan apa yang Peach katakan, gadis itu tidak ada dimanapun, tentunya Arthur tidak mencari di ruang latihan penyihir.


"Mungkinkah dia berada di hutan buatan?" Gumam Arthur.


Malam itu, Justin mengenakan jas pemberian ayahnya yang sudah lama ia simpan, Vampir itu semakin terlihat keren dengan rambut yang tertata rapi.


"Wah, apa dari dulu aku memang se-tampan ini?" Puji Justin di depan cermin.


BERSAMBUNG!!!


Halo, terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk klik Like, Favorit, Vote dan komentar, jangan lupa untuk Follow profil Author! ☺️🙏♥️