THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
GELANG



"Baunya enak" ucap Winter, ketika kedua tangan mendekatkan piring berisi daging panggang penuh lemak ke arah hidung mancungnya.


"Tentu saja enak!" Sahut Justin dari jauh. "ini resep daging panggang yang ditulis oleh para penyihir saat lomba antar sekolah beberapa tahun yang lalu"


Kedua mata Winter membulat, seketika ada sebuah pertanyaan yang menyerang isi kepalanya. Gadis cantik itu lantas menghentikan aksi makannya dan menatap Justin dengan bingung.


"Tunggu, kalian bilang bahwa sekolah kalian sering melakukan pekan olahraga dan berbagai macam lomba antar sekolah kan?" Tanya Winter dengan raut wajah yang tak mengerti. "Lalu bagaimana cara kalian agar tidak ketahuan? Maksudku di sekolah manusia mungkin mereka akan lulus dengan normal, apakah tidak ada yang mencurigai sekolah kalian karena muridnya hanya itu-itu saja? Bahkan diantara kalian ada yang berumur puluhan tahun"


"Itu...." Odd mencoba memberikan jawabannya kepada Winter, namun kedua tangan Justin mengisyaratkan padanya untuk diam. Pria itu hanya bisa menghela nafas panjang dan membiarkan Justin yang menjawab.


"Apa kau lupa? Ada berapa Vampir di asrama?"


"Eh??" Winter bengong, lalu menatap ke arah Odd.


"Kami bangsa Vampir, bisa menghapus ingatan seseorang dengan mudah" ucap Justin santai. "Apa kau lupa? Saat pertama kali kami mengira bahwa kau adalah manusia, kami berusaha menghapus ingatanmu. Kemampuan kami tidak berlaku untuk menghapus ingatan sesama makhluk supernatural"


"Maaf, Winter benar-benar tidak ingat" gadis cantik itu tersenyum sangat manis untuk mengakui kelupaan nya terhadap sesuatu.


"Sudah-sudah, cepat kalian habiskan makanan kalian! Besok kita harus mulai melakukan tujuan kita untuk datang ke kota ini"


"Oke bos!!" Gurau Justin sambil tersenyum penuh pesona.


***


Sesuai rencana, keesokan paginya Odd dan Justin pergi untuk mencari informasi kepada para manusia yang tinggal di kawasan tersebut. Sedangkan untuk Winter, dia lebih banyak menghabiskan waktu di pantai. Entah mengapa Landon menyuruhnya untuk datang ke pantai itu, profesor itu bilang bahwa kemungkinan Winter akan bertemu Tribrid itu semakin besar jika dirinya datang ke pantai.


Kedua mata Winter memandang hamparan laut di depannya, pantai itu benar-benar sepi. Tidak ada seorangpun yang mengunjunginya, hembusan angin laut yang segar terasa aneh di wajah Winter. Seolah-olah ada seseorang yang sedang menunggunya datang ke tempat itu, siapa sebenarnya dirinya? Kenapa lautan itu tak begitu asing untuknya?


...Zring!...


Gelang yang digunakan Winter mengeluarkan kilauan cahaya hijau yang lembut, gadis itu bingung dengan reaksi gelangnya. Segera Winter berlari mendekati bibir pantai dan mencari sesuatu disana, memangnya apa yang ia harapkan? Seekor duyung? Dia bahkan belum pernah melihat putri duyung seumur hidupnya.


"Ryn??" Panggil Winter lirih. "Winter tidak tahu siapa itu Ryn, tapi profesor bilang nama dari Tribrid yang akan Winter temui adalah Ryn"


Tidak ada sahutan, hanya suara semilir angin yang semakin kencang. Winter memilih untuk duduk diatas pasir pantai, sudah setengah jam ia duduk. Gadis itu memilih untuk berbaring disana, menikmati hembusan angin yang seolah memanggil dirinya.


Kalau melamun seperti ini, Winter jadi mengingat ciuman Arthur dan Pink - Winter.


_______________________________________


"APA??!!!" Teriak Arthur kencang. "Apa kau bilang??"


"Itu benar!" Peach menutup buku yang ia baca dengan santai, Penyihir itu lantas berjalan mendekati Arthur yang masih terkejut. "Winter menghindarimu, karena dia melihat kau berciuman dengan Pink"


"Tapi kapan aku...."


"Sshh!" Peach menutup bibir Arthur dengan jari telunjuknya, gadis itu menganggukkan kepala pelan. "Kau memang tidak pernah melakukannya, itu hanya kesalahpahaman"


"........"


Peach mengambil sebuah prisma yang digunakan Pink waktu itu, bibir gadis itu mulai membacakan sebuah mantra. Arthur yang dibuat bingung seketika dibuat terkejut dengan kehadiran dirinya yang lain di tempat itu, bahkan dia sampai jatuh terjungkal dari tempat duduknya.


"A--apa ini??"


"Siapapun yang memiliki kristal prisma ini bisa memanggil seseorang yang dia inginkan, meskipun orang itu sudah tiada" jelas Peach menerangkan.


"Hah??"


Pink menyukaiku? - Arthur.


"Ini bukan salah Pink, dia tahu kau tidak menyukainya" imbuh Peach. Penyihir itu memohon pada Arthur agar tidak membenci saudari kembarnya. "Maka dari itu, dia berbicara padamu lewat prisma ini"


"Itu konyol!" Ledek Arthur kesal. "Sekarang bagaimana caranya aku menerangkan hal ini kepada Winter?? Aku harus mencari Winter saat ini juga"


"Dia tidak ada di sekolah ini"


Belum selesai dia melangkah, dia sudah dibuat berhenti oleh kalimat Peach. Arthur menoleh menatap ke arah Peach, dia terdiam sejenak sebelum menanyakan maksud Peach.


"Winter, Odd dan Justin dikirim ayahku untuk pergi ke kota Mermaid Fall's"


Arthur mendelik kaget. "Apa? Kenapa?"


"Entahlah, aku rasa ada hubungannya dengan ingatanmu dan ingatan Winter yang terkunci"


"Lalu kenapa meminta Justin yang pergi dan bukannya aku??" Arthur menunjuk dirinya sendiri, pria itu tidak terima dengan keputusan Landon yang tidak melibatkan dirinya.


"Wah, aku suka ini" ucap Peach sambil tersenyum senang. "Apa kau mau pergi bersamaku?"


"........."


"Kita susul mereka" usul Peach yang disambut tatapan dingin dari Arthur. "Bagaimana??"


•••••


Sore hari itu, Peach dan Arthur bertemu disebuah halte bus. Arthur tak mengenakan atribut konyol miliknya, karena dia ingin mengakui siapa dirinya sebenarnya pada Winter. Pria itu lantas melambaikan tangan ke arah Peach yang baru saja tiba di lokasi. Penyihir berwajah suram itu hanya menatap aneh ke arah Arthur, di dalam bus pun Peach memilih untuk duduk di dekat jendela. Peach memang tidak pantai bergaul dengan para manusia, sejujurnya Peach membenci sangat manusia. Mengingat para manusia adalah sumber masalah di dunia ini.


"Kita akan melakukan perjalanan jauh" gumam Arthur lirih.


"Aku tidak bilang pada ayah bahwa kita akan pergi"


Arthur mengangkat bahunya tidak peduli. "Bagus, kalaupun kita meminta ijin belum tentu profesor akan mengijinkan"


Peach memandang pada Arthur, di lain sisi dia seperti tidak suka jika ada siswa yang menentang peraturan ayahnya. Tapi di sisi lain, dia adalah salah satu siswa yang menentang peraturan tersebut.


"Apa tujuanmu?" Tanya Arthur tanpa memperhatikan gadis di sampingnya.


"Apa maksudmu?"


"Kalau tujuanku memang untuk Winter, tapi kau... Apa tujuanmu?"


"Anggap saja aku adalah orang baik yang berusaha menolong sepasang kekasih" jawab Peach dengan sangat tenang. "Sebenarnya jika dalam waktu dekat ingatan kalian yang terkunci masih belum bisa disembuhkan, aku ada opsi lain"


"Opsi lain??" Arthur mengerutkan dahinya bingung.


"Yahh, aku akan memukul kepala kalian berdua dari belakang sampai ingatan kalian kembali"


"Astaga! Bagaimana kau bisa setenang itu mengatakan kalimatnya?!"


Peach tersenyum kecil, ini pertama kalinya Arthur melihat gadis itu tak berwajah datar. Peach memang sungguh penyihir gelap yang baik, meskipun dari luar di kelihatan sering tidak acuh tapi sebenarnya dia sangat memperdulikan orang-orang terdekatnya. Beruntung sekali Pink yang memiliki kembaran seperti Peach.


BERSAMBUNG!!


Maafkan Author yang menghilang tiba-tiba, bukannya saya tidak mengingat kalian. Tapi, ada suatu kendala di dunia nyata yang harus Author hadapi 🙏🙏 Sekali lagi, maafkan saya...