
"TIDAK!"
Odd berjalan cepat mengikuti langkah Arthur yang berlalu pergi meninggalkan dirinya, Pria berstatus Peri itu kerepotan membawa sejumlah selebaran dan beberapa kantong plastik berisikan baju-baju.
"Ayolah! Aku tidak ada kandidat lainnya lagi selain kau Arthur!"
Arthur berhenti, ia berbalik memandang Odd dan menatapnya amat tajam. "Kau ingin aku menjadi piala hidup untuk acara kontes itu?"
"Benar! Hanya untuk satu malam" jawab Odd sambil mengangguk. "Kau tak perlu lakukan apapun, dengan wajah tampanmu itu pasti banyak para gadis dari setiap makhluk yang ingin berdansa denganmu"
"Oke, jelaskan rules nya!" Arthur tetap melanjutkan langkah kakinya, diikuti Odd yang masih saja berharap, bahwa Arthur akan menuruti permintaannya.
"Begini, siapapun gadis yang menang dalam kontes kecantikan itu dia berhak untuk berdansa denganmu malam itu" jelas Odd, Peri itu tersenyum, seolah sesuatu yang ditawarkannya adalah hal terindah di bumi. "Mereka pasti senang, saat mengetahui bahwa kau adalah pangerannya malam itu"
"Maaf Odd, aku tidak tertarik"
"Oh, ayolah... Ku mohon!" Odd berlari mendahului langkah Arthur. Pria itu berdiri tepat di depan Arthur dan memandangnya dengan tatapan memelas. "Hanya kau yang bisa menyelamatkan acara ini"
"Lalu siapa yang akan menyelamatkan aku dari Winter?" Tanya Arthur kesal, pria itu berkacak pinggang menatap Odd. "Jika aku menyetujui rencana bodoh mu itu, maka Winter akan membunuhku malam itu juga"
"Tidak akan, aku yang akan bicara pada Winter" Odd bersungguh-sungguh, pria itu menyerahkan selebaran dan meminta Arthur untuk menandatangani nya. "Mau kan?"
Kedua mata Arthur menyipit, ia memandang kertas yang dibawa oleh Odd dengan tatapan kurang menyenangkan. "Bicarakan dulu pada Winter"
______________________________________
"Uuaaakkkhhh!!!"
Teriakan seorang pria terdengar begitu kencang di lorong utama asrama itu. Odd berlari sekencang mungkin menghindari sesosok binatang berbulu yang tengah mengejarnya.
Sosok anjing besar itu terlihat marah dan ingin menghajar Odd habis-habisan, Serigala berbulu abu dan bermata cokelat keemasan itu melompat, menghalangi Odd langsung di depannya. Binatang itu berbalik dan menggeram memandang pria berstatus Peri itu.
"Ggggrrrr...."
"Oke, oke! Aku minta maaf" Odd berlutut, mengatupkan kedua jemari nya dan memohon untuk di ampuni.
Dari arah mereka datang, terdengar suara beberapa langkah kaki seseorang yang sedang berlari menyusul mereka. Arthur dan Peach tiba tepat waktu, untung saja Odd belum babak belur di hajar oleh Winter.
Dengan sedikit mantra, Peach membuat Winter mengerang kesakitan, serigala berbulu abu itu langsung jatuh ke lantai dan memekik, menahan rasa sakit yang ditimbulkan dari sihir Peach.
"Hei, hentikan Peach!" Buru-buru Arthur menghampiri Winter dalam wujud binatangnya. Pria Phoenix itu lantas melepas jaket yang ia kenakan dan memakaikan nya pada tubuh Winter yang hendak berubah kembali menjadi manusia.
"Hah... Hah..." Nafas Winter terengah-engah, gadis cantik itu menutup kedua telinganya yang masih berdengung. "Itu sakit, Peach!!"
"Maaf Winter, aku sungguh minta maaf" ujar Peach saat membantu Odd berdiri. "Aku tahu, emosi mu tidak dapat di kontrol saat dalam wujud itu, aku tidak ingin kau akan menyesalinya dikemudian hari"
Arthur tertawa, ia menatap meledek ke arah Odd yang masih ketakutan dan bercucuran keringat dingin. "Hahaha, sudah aku bilang kan?! Kau saja yang meminta ijin hampir mati sia-sia, bagaimana jika itu aku, yang tanpa seijinnya menerima tawaranmu begitu saja?"
"Hei, itu berbeda! Kau kan Phoenix, kau masih bisa hidup lagi" sahut Odd ketus. "Oke, lupakan jadi pangeran nya, bagaimana kalau hanya Juri??"
"Juri??" Tanya Arthur heran, pria itu menutup resleting pada jaket yang dikenakan Winter, kekasihnya.
"Yaa... Hanya memberi nilai kepada para peserta" ucap Odd seadanya. "Bagaimana Winter? Apa kau masih ingin membunuh ku?" Odd melotot menatap Winter, gadis itu langsung menatap Odd dengan pandangan yang sama.
Winter berdiri dari duduknya, ia menghela nafas panjang. "Itu, terserah Arthur saja"
"Baiklah, aku setuju!" Jawab Arthur enteng. "Ngomong-ngomong, kenapa bukan Justin saja yang menjadi pangeran nya? Vampir itu juga populer di sekolah ini"
"Kenapa tidak boleh?" Winter bertanya dengan polosnya, gadis itu memeluk tubuhnya sendiri. Ia berusaha keras menutupi tubuhnya yang telanjang dengan jaket Arthur.
"Ah, itu... Aku rasa Justin tidak akan mau"
"Kita kan belum bertanya kepadanya" sanggah Odd dengan tegas. "Terima kasih Arthur atas ide mu, aku akan ke kamar Justin sekarang. Apa kalian mau ikut?"
Winter menggeleng, ia tidak mau berjalan-jalan di asrama tanpa busana yang benar. Sedangkan Arthur juga masih ada kesibukan lain, ia berjanji pada Pink akan membantunya membereskan gudang, mencari beberapa pakaian yang di simpan disana.
"Baiklah!" Ujar Odd senang. "Sampai nanti, teman-teman"
"Sampai nanti Odd" Winter melambaikan tangannya, mengantar kepergian Odd.
Peach diam saja, tatapan matanya terlihat kurang enak. Penyihir dengan sihir gelap itu menatap Arthur dengan amat tajam, setelah beberapa detik, gadis itu melangkah menyusul Odd. Sebelum itu, Peach mendekati Arthur dengan wajah jengkel.
"Terima kasih burung kecil!!" Ucap Peach ketus.
"Hah? Kau ini kenapa sih?" Jawab Arthur yang kebingungan, dia melihat punggung Peach yang semakin berjalan menjauh, menyusul Odd.
Winter menepuk bahu Arthur dengan lembut. "Kalau begitu, Winter akan kembali ke kamar"
"Ah! O-oke"
••••
BRAKKK!!!
Justin jatuh terjungkal ke belakang, ia sedang asyik membaca komik saat tiba-tiba pintunya meledak seperti terkena badai, Vampir itu buru-buru berdiri dan melihat ada gerangan apa yang membuat pintu kamarnya hancur berkeping-keping.
"Peach?" Ujar Justin kemudian ketika mendapati sosok Peach melangkah memasuki kamar Justin.
"Ya Tuhan, Peach!!" Maki Justin kesal. "Apa kau tidak tahu caranya mengetuk pintu?"
"Jangan menyetujui permintaan Odd" Peach menatap kedua mata Justin dengan lekat. "Jangan terima tawaran nya!"
Gadis penyihir itu lantas pergi begitu saja meninggalkan kamar Justin, Vampir itu kebingungan, ia diam melongo mencoba memahami kata-kata dari Peach yang sama sekali tak ia mengerti.
"Apa sih? Dia itu kenapa?" Justin menyentuh kedua pipinya sendiri, ia lantas kembali merapikan kursi dan buku-buku nya yang berserakan. "Bisa-bisanya pergi begitu saja tanpa memperbaiki pintu kamarku" omel Justin kesal.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan di sisa-sisa kayu pintu yang masih menempel membuat Justin berbalik badan dan menatap siapa lagi yang datang ke kamarnya.
"Odd??"
"Oh, hai Justin!" Odd tersenyum dan melambaikan tangannya. "Apa kau sedang melakukan renovasi?"
BERSAMBUNG!!!
Halo, terima kasih sudah membaca cerita saya! Jangan lupa klik tombol Like, Ikuti, Favorit, Vote dan Komentar ya? Dukungan dari kalian sangat berarti buat saya ☺️🙏♥️