THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
PURNAMA HARI KE-2




Bulan purnama ke-2


"Gggrrrr...."


"Gggrrrr...."


Kedua mata Winter nampak bercahaya, gadis itu menatap Peach seolah-olah ingin memangsanya. Peach datang ke tempat Winter malam ini hanya untuk memberi gadis itu makan, Peach membawa seember daging sapi di tangan kirinya dan mulai melemparkannya satu persatu ke dekat Winter.


"Makanlah Winter" pinta Peach lembut. "Sabarlah sebentar lagi, bulan purnama akan hilang dikemudian lusa"


"Gggrrrr...."


Winter tak menjawab ucapan Peach karena kini dia dalam wujud binatangnya. Serigala berbulu abu-abu itu lantas memakan daging yang dilemparkan Peach di dekat dirinya, caranya memakan sungguh sangat mengerikan. Seperti hewan buas yang benar-benar kelaparan.


Sorot mata Peach teralihkan memandang sebuah gelang karet di kaki kiri bagian depan Winter. Gelang yang waktu itu Peach katakan terbuat dari darah Tribrid tersebut, secara ajaib menyesuaikan bentuk mengikuti ukuran tubuh Winter yang telah berubah.


"Sebenarnya kenapa kau bisa memiliki darah Tribrid itu sebagai gelang?" Gumam Peach lirih.


Penyihir cantik namun berwajah suram itu mendekati gundukan pasir di sisi kanan Goa, dengan telaten Peach membersihkan pasir Winter, dia tidak ingin Winter menjadi tidak nyaman akibat bau yang dihasilkan oleh dirinya sendiri. Bagaimanapun juga, Peach kini seperti sedang memiliki binatang peliharaan.


"Wah..." Peach tersenyum memandang Winter yang sibuk memakan daging mentah. "Kau harus banyak berterima kasih kepadaku Winter"


"Lihatlah!!" Peach menenteng kantong plastik berukuran besar, yang berisi kotoran dikedua tangannya. "Aku sudah mengurus dirimu dengan baik!"


Gadis itu tetap tertawa senang meskipun tak mendapat jawaban dari Winter. Peach sangat menyadari hal itu, karena pikiran Winter saat ini sedang dikendalikan oleh bulan dan sifat binatangnya.


Selang beberapa waktu, Peach membawa ember kosong keluar dari Goa. Gadis itu berjalan pergi meninggalkan tempat Winter dan hendak kembali ke asramanya. Di tengah perjalanan, Peach melihat Arthur di tepi danau buatan.


Segera Peach bersembunyi di balik pohon, ia mengawasi Arthur dari kejauhan. Penyihir cantik itu sama sekali tak berniat untuk menampakkan diri di depan Arthur.


"Apa Phoenix itu akan bunuh diri lagi??" Gumam Peach lirih.


Arthur melempar kerikil-kerikil kecil ke danau, pria itu terlihat seperti seseorang yang sedang patah hati. Sorot matanya menatap lurus ke arah kerikil yang ia lempar secara sembarangan.


Saat ini bulan purnama, bagaimana dengan Winter ya?? Apa dia baik-baik saja? - batin Arthur.


...Krak!...


Kedua mata Peach melotot ketika tanpa sengaja kakinya menginjak ranting yang telah kering. Mau tak mau, Peach jadi harus pura-pura berjalan dan pura-pura tidak tahu ada Arthur di tempat itu.


"Peach!!" Arthur melambaikan tangannya pada Peach yang pura-pura tak melihatnya.


Tetap pura-pura tidak lihat dan terus jalan!! - Peach.


"HEI!! KAU AKAN BUTA BENERAN LOH!!" Teriak Arthur kencang.


Peach yang jengkel, membanting ember kosong tepat di depannya. Gadis itu melotot menatap Arthur seolah berkata 'Kenapa memanggil namaku?'


"Kenapa kau membawa ember malam-malam??" Arthur berjalan mendekati Peach. Pria itu mengambil ember yang terjatuh dan memberikannya pada Peach.


"Kenapa kau ingin tahu?"


Pertanyaan dibalas dengan pertanyaan itulah Peach, penyihir cantik itu hanya tersenyum menyeringai lantas menyabet ember yang dibawa Arthur dan bergegas pergi.


Ya Tuhan! Apa dia benar-benar membenciku? Apa salahku padanya ya?? - Arthur.


Pria itu berjalan-jalan menyusuri hutan yang gelap, beruntung dirinya terlahir sebagai Phoenix jadi kedua matanya dapat berfungsi dengan baik di malam hari. Arthur menendang setiap ranting dan batu yang menghalangi jalannya, pria itu sungguh dibuat galau karena terlalu mengkhawatirkan Winter. Arthur sudah mencoba datang ke dekat sekolah untuk mencari Winter, namun dia tidak menemukan gadis itu dimanapun. Bagaimana mau menemukannya? Arthur sudah keduluan dengan Peach.


Arthur merebahkan tubuhnya di atas dedaunan kering, ia menggunakan sebuah batu untuk menyanggah bagian kepalanya. Pria itu tersenyum manis menatap langit malam yang sangat indah dipenuhi bintang.


Jika aku benar reinkarnasi dari Densha, lalu siapa reinkarnasi dari gadis itu? - Arthur.


"Jujur saja, aku sudah sedikit tertarik kepada Winter! Jika Fuu atau siapapun itu tidak muncul juga, aku rasa aku akan memilih Winter sebagai pasanganku"


Phoenix itu cengengesan sendiri seperti seseorang yang tidak waras. Ia cekikikan membayangkan wajah cantik Winter yang cemberut ketika topinya hilang beberapa hari lalu.


"Uuuuu....."


Arthur beranjak bangun dari rebahannya. Pria itu kaget setengah mati ketika mendengar lolongan serigala. Kedua matanya menatap sekeliling, takut kalau-kalau salah satu murid serigala yang dikurung oleh keluarga profesor berhasil lepas.


Semua penghuni asrama tahu mengenai sikap manusia serigala ketika bulan purnama telah tiba, jika dulu Arthur pernah tewas di terkam manusia serigala karena dia tidak mengetahui hal tersebut. Dia tidak ingin hal itu terulang lagi, dia sangat beruntung karena dia adalah Phoenix jadi seberapa sering dia mati maka dia akan hidup kembali.


Kenapa ada suara lolongan di sekitar sini?? - Arthur.


Dilain tempat, Winter mencium aroma tubuh seseorang yang begitu memabukkan dirinya. Aroma tubuh orang itu terbawa hembusan angin dan membuat Winter semakin ganas, dia berusaha melepaskan diri dari ikatan rantai di ke empat kakinya.


Gadis itu tidak tahu bahwa itu adalah aroma tubuh Arthur, ini pertama kalinya bagi Winter untuk merasakan aroma yang begitu memabukkan seperti sekarang ini.


KLANG!!


KLANG!!


KLANG!!


Ptas!


Arthur berjalan mengendap-ngendap, ia memberanikan diri untuk mencari si sumber suara meskipun rasa takut pada dirinya begitu amat besar. Jika benar ada serigala yang lepas, dirinya tinggal berlari sekencang mungkin untuk memberitahu Landon.


•••••


Beberapa menit berjalan, Arthur menemukan sebuah Goa berukuran kecil. Pria itu celingak-celinguk kesana-kemari untuk melihat sekeliling. Merasa ada yang aneh dengan tempat itu, Arthur malah melangkahkan kakinya untuk memasuki Goa tersebut.


Langkahnya begitu pelan, kedua mata Arthur terbuka lebar ketika mendapati beberapa rantai yang telah terputus di dalam Goa. Pria itu juga menemukan potongan kecil dari daging mentah bercecaran di sana.


"S-siapa yang ada di tempat ini?"


Buru-buru Arthur melarikan diri dari dalam Goa tersebut. Phoenix itu ingin mengadukan penemuannya ini kepada profesor Shagasemi, namun sayang! Sepertinya hal itu tidak akan mudah bagi Arthur. Baru saja ia keluar dari dalam Goa, dirinya sudah dikejutkan dengan sosok serigala berbulu abu-abu yang menjulurkan lidah kepadanya.


"Ya Tuhan...."


Arthur merasa bahwa Serigala itu ingin mencicipi dagingnya yang mungkin saja enak. Dengan kedua kaki yang gemetaran, Arthur mengambil ancang-ancang untuk lari. Pria itu melesat secepat mungkin dan berusaha menghindari kejaran dari binatang itu.


"Gggrrrr...."


Nafas Arthur semakin tak beraturan di dinginnya malam hari itu, ia masih terus berlari menghindari kejaran dari sang Serigala. Langkah binatang itu semakin mendekati Arthur dan bahkan hampir meraih tubuh pria itu.


SRAK!!!


...Bersambung!!...


Halo pembaca tercinta! Plis, jangan lupa untuk Like cerita ini jika kalian suka! Saya lihat jumlah favoritnya semakin banyak loh, ada sekitar 200 orang. Masa sih jumlah Like gak sampai 100?? Tolong deh, jika tidak ingin berkomentar setidaknya beri Author semangat dengan Like kalian!! 😘🙏 Tinggal pencet doang loh! Jadi, aku mohon! Jangan LUPA untuk LIKE!! 😉