
Angin malam yang dingin menerpa tubuh mungil seorang gadis, gadis cantik itu tertunduk lesu menatapi jemari kakinya yang tak mengenakan alas kaki.
Hati dan perasaannya seketika hancur ketika tahu bahwa pria yang ditakdirkan untuk dirinya bukanlah pria yang ia sukai. Dia sungguh salah menduga, bagaimana bisa dia menyukai pria tersebut sedangkan hati dan jiwanya sudah tertuju pada pria lain.
"Kau disini?"
Suara Peach yang lembut membuyarkan lamunan Winter. Penyihir dengan sihir gelap itu tersenyum ketika menemukan Winter yang sedang meratapi hidupnya. Peach menepis tangan kiri Winter, lalu duduk tepat di sebelahnya. Lucunya, Peach ikut menirukan cara Winter saat duduk.
"Peach mengenakan rok, tak seharusnya duduk seperti itu" ujar Winter ketika tanpa sengaja kedua matanya melirik ke arah Peach.
"Tak masalah!" Peach menggeleng. "Tidak ada siapapun disini"
Winter menghela nafas panjang, ia kembali menunduk sambil menyembunyikan wajahnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Bujuk Peach, dan berharap hal tersebut akan di respon baik oleh Winter. "Apa Densha mengganggumu?"
"Benar"
Suara lirih Winter terdengar jelas di kedua telinga Peach, penyihir itu jelas terkejut dengan jawaban dari Winter. Peach menduga, bahwa Winter kemungkinan besar tak mengenali Arthur jika tidak mengenakan kaca mata bulat besar dan gigi tonggos nya.
"Siapapun pasti terganggu dengan pria tampan seperti itu" ucap Peach sembari tersenyum.
Peach tak benar-benar bersungguh-sungguh dalam mengatakan hal itu, karena sejatinya Peach tidak pernah tertarik kepada pria manapun di dalam asrama. Bukan karena dia tidak memiliki hati dan perasaan, namun Peach belum menemukan pria yang cocok untuk dirinya selama hampir 100 tahun.
"Peach benar!" Winter menengadahkan kepalanya. "Winter sangat terganggu!!"
Kedua mata Peach membulat lebar, saat dia tanpa sengaja melihat perubahan warna pada kedua mata Winter. Gadis cantik itu akan mengalami perubahan warna mata jika di dalam tubuhnya terdapat suatu emosi, hal itu di pelajari oleh Peach pada 'bab manusia serigala' pada buku di perpustakaan.
"Apa yang membuatmu terganggu?!"
"Winter tidak menyukai pria itu!!" Sahut Winter cepat. "Sangat tidak suka"
"Kenapa? Bukankah dia tampan?" Peach mengedipkan sebelah matanya. "Kau bilang, kau pernah melihat Densha. Apa wajahnya setampan reinkarnasinya??"
"Itu...." Rona merah menyembul dikedua pipi Winter. "Dia sangat tampan, Densha ataupun pria itu sama-sama tampan. Tapi pria itu tidak mirip dengan Densha"
"Karena dia adalah reinkarnasinya" ujar Peach menerangkan. "Justru kau lah yang sangat mengagumkan, kau dan Fuu sangat mirip! Itu yang dikatakan ayahku. Karena aku belum pernah bertemu Fuu sebelumnya"
"Densha juga pernah bilang begitu"
Winter kembali menunduk lesu, gadis itu mengepalkan kedua tangannya dengan amat erat. Melihat hal itu, Peach segera menggenggam jemari Winter dan membacakan mantra sihir untuk menenangkan emosi manusia serigala di sampingnya itu.
Jadi benar, bahwa kau tidak mengenali Arthur pada wujud nya yang sekarang? - Peach.
Peach memutar kedua bola matanya dengan kesal, ia sungguh tak menyangka bahwa Winter sebodoh ini. Dia tidak bisa mengetahui dua pria yang jelas-jelas sebenarnya hanya satu orang itu.
Di tempat lain, Pink berjalan dibelakang tubuh Arthur yang sepertinya tengah linglung. Entah apa yang sedang di pikirkan pria tampan tersebut sehingga membuat dirinya seperti orang mabuk.
Astaga! Apa aku sedang bermimpi?? Gadis yang aku sukai, ternyata adalah Fuu?? Aku dan Winter ternyata berjodoh? - Arthur.
Sudah pasti akan begitu kan? Arthur sendiri pernah satu sekolah dengan Winter ketika berada di sekolah manusia, banyak sekali pria yang menyukai Winter dan mencoba untuk berkencan dengan gadis itu, tetapi mereka semua berakhir dengan penolakan yang mana artinya Winter tidak menyukai pria karena ketampanannya.
"Ini berarti Winter tidak menyukaiku, dia hanya menyukai Arthur...." Gumam Arthur lirih.
"A-apa maksudmu??" Pink menyahuti ucapan Arthur, gadis cantik itu segera menyamakan langkah kakinya agar selaras dengan Arthur. "Kau kan Arthur??"
"T-tidak!" Arthur menggeleng pelan.
"Winter tidak mengenali wajah ini" imbuh Arthur sambil menunjuk wajahnya sendiri. "Winter hanya mengenali wajah Arthur yang idiot"
Pink mengernyitkan dahi tanda tak mengerti, gadis itu mengangkat bahunya agar Arthur lebih banyak memberikan dirinya penjelasan.
"Aku pernah menunjukkan wajah ini sekali kepada Winter, dan dia tidak tahu bahwa itu adalah aku" terang Arthur singkat. "Karena selama ini, saat kami bertemu! Aku selalu mengenakan atribut konyol itu"
Wah, ini bagus!! - Pink.
Arthur mengacak-acak rambutnya dengan gemas, pria itu mendapati Pink yang senyum-senyum sendiri memperhatikan dirinya.
"Kenapa kau tersenyum begitu?"
"Ah!!" Pink menepuk kedua pipinya gemas. "Tidak kok, aku tersenyum karena melihat tingkah mu yang lucu"
Phoenix itu berpamitan pada Pink ketika mereka sudah sampai di pertigaan sebuah lorong di asrama. Mereka harus berpisah disana karena letak kamar yang berbeda, Pink menunggui Arthur hingga pria itu masuk ke dalam kamarnya. Setelah bayangan Arthur menghilang dibalik pintu, Pink segera pergi menuju kamarnya.
Di tengah jalan, Pink bertemu dengan Peach yang sedang berjalan menuju kamar. Kedua mata Pink mendelik, karena Peach tidak sendirian kala itu. Saudari kembarnya membawa seseorang bersama dengan dirinya, yang tak lain adalah Winter.
"Ada apa Pink? Kenapa melotot seperti itu?" Tanya Peach dengan datar.
"Mau kau bawa kemana serigala ini??" Pink menatap Winter dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Apa kita akan pesta piyama??"
Ucapan Pink memanglah sebuah ledekan, namun Peach tidak pernah menanggapi kalimat ledekan yang dilontarkan oleh saudari kembarnya.
"Bukan pesta piyama, aku hanya ingin mengajak Winter untuk tidur di kamarku"
"Cih! Kamarmu??" Pink melotot tajam. "Ingat Peach, tempat itu juga kamarku!!"
"Di sana ada dua ranjang Pink, aku tidak akan merebut ranjang tidurmu!" Peach melengos dan langsung berjalan melewati Pink. "Aku akan membagi tempat tidurku dengan Winter, tanpa mengganggu batasan mu"
Mendengar ucapan Peach, Pink tentu saja marah dan hanya bisa memandang kesal ke arah saudaranya itu. Peach menarik lengan Winter dan mengajak gadis itu untuk memasuki kamar, kedua remaja itu tidak tahu bahwa Pink kini tengah mengawasi mereka dengan pandangan yang kurang menyenangkan.
Dengan amat terpaksa, Pink ikut masuk ke dalam kamar. Dia melihat saudarinya tengah merapikan ranjang untuk tamu yang ia ajak menginap malam ini.
Tidak berguna - Pink.
...BERSAMBUNG!!!...
Halo, terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk terus mendukung Author dengan cara klik Like, Komentar, Follow, Favorit dan Vote ya?? Oh iya, kemarin itu karena ada masalah pada aplikasi jadinya Author gak bisa update. Maafkan saya!! 🙏🙏🙏